NovelToon NovelToon
Aku Kembali

Aku Kembali

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Balas Dendam / Hantu
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: UmakAy

Fitnah keji dan pengkhianatan merebut segalanya dari Nina, seorang gadis desa yatim piatu yang dituduh berzina dan dibuang ke hutan bersama putri kecilnya, Gendis. Di bawah naungan sihir hitam dan racun dendam mertua serta kakak iparnya, Roni, suami yang dulu sangat mencintainya, tega membiarkan mereka ..
Kini, dari kegelapan hutan belakang desa, Nina kembali. Satu per satu, mereka yang terlibat dalam kematian tragisnya akan membayar hutang darah ini dengan nyawa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon UmakAy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Hana berjalan cepat menerobos gelap malam. Langkahnya yang makin dekat ke gubuk tempat dukun langganannya tinggal. Langit tanpa bintang menambah suasana yang kelam, seolah malam itu pun menyetujui niat jahat yang berkecamuk di dadanya.

Setibanya di sana, ia mengetuk pintu kayu yang lapuk dengan kasar. Tak lama, dukun tua itu muncul. Wajahnya penuh kerutan yang tampak makin mengerikan dalam sorotan cahaya lampu minyak yang redup. Mbah Jarwo mengibaskan tangannya, menyuruh Hana masuk.

Tanpa basa-basi, Hana langsung berbisik dengan suara dingin namun sarat akan ketegasan. "Aku tidak bisa menunggu lebih lama lagi, Mbah. Mengapa aku belum juga mendengar nenek tua itu mati. Nek Nilam harus disingkirkan malam ini juga. Kalau wanita tua itu masih bernapas, rencanaku menghancurkan mereka akan selalu terhalang."

Mbah Jarwo mengangguk pelan. "Baik. Aku akan mengerahkan seluruh kemampuanku sekarang juga."

Di dalam ruangan remang-remang yang dipenuhi kepulan asap kemenyan, Mbah Jarwo memulai ritualnya. Mantra-mantra dalam bahasa Jawa kuno bergema serak, memanggil aura kegelapan yang pekat.

"Malam ini. korbanmu akan merasakan penderitaan hebat yang merenggut nyawanya!" desis Mbah Jarwo sembari melemparkan serbuk kemenyan ke dalam bara api.

Hana tersenyum puas di balik kepulan asap yang membuat kepalanya sedikit pening. Baginya, melenyapkan benteng perlindungan Nina adalah harga mutlak, tak peduli meski jiwanya sendiri sudah terperosok ke dalam kubangan dosa yang paling hitam.

Sementara itu di desa, suasana malam mendadak berubah sangat tidak biasa. Nina merasakan dadanya berdebar kencang saat suara burung gagak mendadak terdengar tepat di atas atap rumah Nek Nilam. Gagak hitam itu rupanya telah bertengger di atap rumah sejak semburat jingga senja menghilang.

Krakk... Krakk... Krakk...

Suara nyaring burung malam itu memecah keheningan desa yang mencekam. Nina menghentikan kegiatannya melipat pakaian Gendis , menatap jendela kayu dengan rasa takut yang merayap dingin ke seluruh tubuhnya. Orang desa selalu percaya, bertengger dan bernyanyinya burung gagak di atas atap adalah pertanda datangnya kabar buruk.

Dengan langkah gemetar, Nina melangkah menuju kamar tempat Nek Nilam beristirahat. Sejak sore, kondisi neneknya memang memburuk, namun malam ini udara di dalam kamar terasa jauh lebih berat dan mencekam, seolah ada makhluk asing yang tak kasat mata sedang merayap di balik bayang-bayang dinding.

"Nenek. apa yang Nenek rasakan?" tanya Nina pelan saat melihat Nek Nilam gelisah di atas ranjang.

Nek Nilam membuka matanya yang mulai meredup dengan susah payah. Peluh dingin mengucur deras membasahi kerutan di wajahnya. "Panas, Nduk... Tubuh Nenek terasa seperti dibakar dari dalam..." bisiknya parau.

Nina makin cemas. Ia bergegas mengambil kain basah untuk menyeka dahi sang nenek, namun rasa panas yang terpancar dari kulit Nek Nilam sama sekali tidak alami. Di luar, suara burung gagak terdengar makin liar dan memekakkan telinga.

Tepat saat tengah malam tiba, angin kencang bertiup menghantam pepohonan di luar rumah, membawa bisikan dingin yang menusuk tulang.

Di gubuknya, Mbah Jarwo sedang memusatkan seluruh kekuatan mistisnya untuk menghantam jiwa Nek Nilam. Energi teluh yang ganas meluncur membelah kegelapan malam, menghantam tepat ke sasaran.

Aarrghhh!

Nek Nilam mendadak mengerang hebat. Tubuh rentanya meliuk tegang di atas ranjang, kakinya menendang-nendang udara, dan matanya membelalak mendelik ke atas. Nina yang berjaga di sampingnya seketika panik setengah mati. Roni yang sedang siaga di ambang pintu bergegas masuk dengan raut wajah pucat pasi.

Nek Nilam terbatuk-batuk hebat, dadanya naik turun dengan napas tersengal-sengal, sebelum akhirnya... CUAARRK!

Nek Nilam memuntahkan segumpal darah hitam yang amat pekat ke atas sprei. Di tengah genangan darah kotor itu, tergeletak tiga buah paku berkarat serta gumpalan rambut panjang yang berbau busuk!

Nina menjerit histeris melihat pemandangan mengerikan itu.

"Mas tolong Panggil Ustadz Imam, Mas! Cepat!" jerit Nina terisak-isak.

Roni mengangguk panik dan langsung berlari melintasi pintu depan membelah kegelapan malam desa.

"Nenek! Nenek bertahan, Nek!" tangis Nina pecah. Ia menggenggam jemari Nek Nilam yang terasa panas membakar. Tubuh tua itu gemetar hebat dalam jerat rasa sakit yang tak terbayangkan.

DUARRR! PYUURRR!

Mendadak, suara ledakan keras disertai hantaman pasir terdengar menghantam atap rumah mereka dengan sangat kuat. Suasana kamar kian mencekam, disusul rintihan parau Nek Nilam.

"Nina...," bisik Nek Nilam dengan sisa-sisa napasnya. Tangannya yang gemetar mencengkeram kain baju Nina. "Ada, ada iblis yang sedang merebut nyawa Nenek."

"Tidak, Nek! Jangan bicara begitu! Mas Roni sedang memanggil Ustadz Imam!" tangis Nina makin pecah, mencoba mengusap dahi neneknya dengan air yang telah dibacakan doa. Namun, hantaman teluh Mbah Jarwo dari jauh makin gencar menekan dada wanita tua itu.

"Maafkan nenek nduk." Ucapnya parau.

Tubuh renta Nek Nilam tak mampu lagi menahan kejamnya serangan ilmu hitam tersebut. Wajahnya yang tegang perlahan-lahan mengendur, matanya yang membelalak perlahan terpejam, dan napasnya yang berat makin melemah. Hingga akhirnya, dengan satu embusan napas panjang yang amat lirih, Nek Nilam terkulai lemas tanpa daya.

"Nenek?! Nenek! Bangun, Nek!" jerit Nina mengguncang-guncang tubuh neneknya. Namun, tidak ada lagi hembusan napas. Tubuh yang sangat dicintainya itu perlahan-lahan mulai mendingin.

Tak lama kemudian, Roni tiba bersama Ustadz Imam, seorang pemuka agama berwajah teduh di desa itu.

"Ustadz tolong nenek saya." Nina menangis.

Ustadz Imam melangkah cepat mendekati ranjang, lalu memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan serta leher Nek Nilam.

Ustadz Imam menghela napas panjang, menatap Nina dan Roni dengan pandangan duka yang mendalam. "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un... Yang sabar ya, Mbak Nina, Mas Roni. Allah lebih sayang pada nenek kalian."

Nina lemas terkulai ke lantai "NENEEKKK!" Jeritan tangis Nina pecah menggelegar memecah keheningan malam. Ia merengkuh tubuh dingin neneknya yang telah merawatnya sejak kedua orang tuanya meninggal dunia. Kini, pelindung dan orang tua tunggalnya telah pergi untuk selamanya.

Gendis yang terbangun di kamar sebelah ikut menangis histeris. Roni bergegas merangkul istrinya dan menggendong putri kecil mereka. Air mata Roni menetes deras, dadanya sesak luar biasa kehilangan sosok nenek yang selama ini menjadi pelengkap keluarga kecil mereka.

Saat jiwa Nek Nilam menuju keabadian, suara burung gagak di atas atap mendadak berhenti total. Burung-burung hitam itu terbang mengepakkan sayapnya menjauh, meninggalkan rumah yang kini diselimuti duka nan kelam.

Ustadz Imam yang melirik tumpahan darah hitam berisi paku dan gumpalan rambut di tepi ranjang mengusap dadanya. Pria itu paham betul bahwa Nek Nilam tidak meninggal secara wajar, melainkan telah menjadi korban dari kekejaman teluh ilmu hitam yang amat jahat.

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Oooh... Jadi begitu, ya... Cara licik keluarga Roni...

🤨🤨🤨🤨🤨
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Pengen rasanya masuk ke cerita di BAB ini, terus bantuin Roni buat nonjokin Herman!!! /Determined//Determined//Determined/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Ah, sumpah... Merinding pas baca adegan ini... /Panic//Panic//Panic/
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
MANTAP!!! SAYA SUKA GAYAMU RONI!!!
UDAH, PINDAH AJA KE DESA NINA, RON...

💪💪💪
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kalo saya yang jadi Nina, pasti udah bales ngomong, "Masih mending kangkung yang saya masak, Bu! Tadinya malah pengen saya masakin OSENG PAKU SAMA BAUT!"

🤣🤣🤣🤣🤣
UmakAy: ngakak kak 🤣
total 1 replies
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Duuuh... Sabar ya Nina... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Seru juga ceritanya...

Terus, gimana Ruhi (kakaknya Roni) bisa punya calon suami? Lah wong sikapnya aja seperti itu sama adiknya sendiri...

Dan Nina, karakternya langsung bikin meleleh... 🤭🤭🤭
UmakAy: biasanya jodoh adalah cerminan diri 🤭
total 1 replies
the virtuso
saling support thor
UmakAy: siap 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!