Bhaskara hanyalah pemuda biasa ... hingga sebuah kecelakaan merenggut hidupnya.
Saat membuka mata, ia telah berada di Jagaddhita—dunia yang perlahan ditelan kegelapan. Sebuah sistem misterius muncul di hadapannya.
《Misi Utama》
-Pulihkan Prisma Kirana.
-Satukan Enam Negeri.
-Selamatkan Jagaddhita.
Untuk menyelesaikan misi itu, Bhaskara harus mencari lima putri pewaris elemen—Anala, Nirmala, Sekar, Samira, dan Vajra.
Namun, menyatukan mereka tidak cukup. Ia harus membentuk Simpul Kirana, ikatan suci yang dapat membangkitkan kembali cahaya dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Y, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : PINDAH DUNIA
"Danu! DANU BANGUN!"
Auman keras yang melengking tepat di samping telinganya membuat Bhaskara terlonjak kaget.
Sesosok pria paruh baya bertubuh gempal, berkumis tebal, dan mengenakan helm proyek kuning yang sudah kusam, tengah menatapnya dengan geram sembari berkacak pinggang.
Bhaskara—atau yang di dunia aslinya dipanggil Danu, nama lengkapnya Danu Bhaskara Buwana—menunduk menatap tubuhnya sendiri. Ia masih mengenakan kaos lusuh berkeringat, rompi proyek warna oranye menyala yang berdebu, serta helm keselamatan yang agak melorot.
Bhaskara tertidur di atas tumpukan karung semen setelah jam makan siang yang terlalu singkat.
"Iya, Pak Mandor..." sahut Danu terbatuk-batuk, buru-buru membetulkan posisi helmnya.
"Ini sudah jam berapa! Mau upahmu saya potong?!" bentak Pak Mandor seraya menunjuk jam tangannya dengan mata melotot. "Kerja!"
"Dih, ancamannya upah potong terus dari kemarin," batin Danu menyumpah dalam hati, meski bibirnya hanya bisa tersenyum canggung meladeni atasan tempatnya mengais rejeki.
"Ayok lanjutkan gali! Proyek pembersihan lahan ini harus selesai akhir bulan ini! Jangan malah enak-enakan molor!" tegas Pak Mandor lagi sebelum berbalik pergi mengawasi pekerja lainnya.
"Iya, Pak," jawab Danu pasrah.
Pemuda berusia 24 tahun itu segera bangkit berdiri, mengibaskan debu semen di celana jins lamanya, lalu meraih sekop besi yang bersandar di dinding seng.
Suasana area proyek pembersihan lahan di pinggiran Jakarta itu begitu riuh dan bising. Suara deru mesin excavator, deru gergaji mesin yang menebang pohon-pohon liar, serta dentuman alat berat pemadat tanah bersahut-sahutan membelah udara sore yang terik dan berdebu.
Di lahan seluas beberapa hektar itulah kelak akan dibangun kawasan apartemen megah. Tapi bagi Danu, tempat ini hanyalah panggung perjuangan hidupnya.
Danu mengusap keringat berlebih di dahinya dengan lengan rompi. Hidup sebagai pejuang rupiah di ibu kota tidak pernah memberikan ia kemewahan untuk bersantai, apalagi berpacaran.
Ibu kandungnya sedang terbaring sakit-sakitan di rumah kontrakan mereka yang sempit. Setiap bulan, biaya pengobatan, resep obat rawat jalan, dan cuci darah sang ibu menelan biaya yang tidak sedikit.
Karena itulah Danu melakoni hidup bagaikan mesin: Ketika fajar menyingsing ia sudah mengayuh sepeda motor lamanya untuk mengantar pesanan katering ke rumah rumah, lalu dari siang hingga malam ia membanting tulang, memeras keringat menjadi buruh kasar di proyek bangunan.
"Uang obat Ibu minggu depan kurang sedikit lagi. Kalau aku lembur malam ini ambil shift ekstra, harusnya cukup," gumam Danu dalam hati, memompa semangatnya sendiri seraya menusukkan mata sekop ke dalam tanah keras.
Matahari perlahan tenggelam, membiaskan warna jingga keperakan di ufuk barat pinggiran Jakarta. Lampu-lampu sorot proyek mulai dinyalakan satu per satu, menggantikan pendar mentari.
Danu mengayunkan sekopnya berulang kali di area sudut lahan yang ditumbuhi akar-akar pohon besar. Namun, saat mata sekopnya menghantam tanah untuk kesekian kalinya—
KREK... BRUK!
Tanah gembur yang diinjaknya mendadak ambrol secara tidak wajar.
"Eh?!"
Belum sempat Danu melompat mundur, pijakannya melayang. Tubuhnya tertarik ke bawah, masuk ke dalam sebuah lubang galian yang mendadak meluas secara aneh.
Danu terjatuh ke dalam kegelapan. Ia mengira dirinya hanya jatuh ke dalam lubang septic tank atau galian pipa sedalam dua-tiga meter. Namun, detik demi detik berlalu, angin kencang justru makin keras menghempas wajah dan helm proyeknya.
Satu detik... tiga detik... lima detik...
Ia terus meluncur turun dalam kegelapan total. Lubang itu sama sekali tidak memiliki ujung!
"HUWAAAGHH! TOLONGGG!" jerit Danu histeris, tangannya menggapai-gapai angin kosong seraya mendekap sekop besinya erat-erat.
Di tengah jeritan dan kepanikannya yang melayang di ruang hampa tanpa dasar, sebuah pendar cahaya keemasan yang teramat silau mendadak menyala dari dasar kegelapan tersebut.
Cahaya itu membesar dengan cepat, membungkus tubuh Danu yang meluncur deras, sebelum akhirnya jeritannya perlahan memudar...
Gasp!
Sebuah tangan raksasa terbuat dari rakitan murni cahaya itu dengan lembut merengkuh seluruh tubuh Danu yang meluncur deras, menghentikan kejatuhannya secara instan.
Bhaskara memejamkan matanya rapat-rapat, kehangatan yang begitu murni dan asing perlahan merembet dari jemari raksasa itu, mengalir cepat membasahi seluruh sel tubuhnya.
Perlahan, Bhaskara memberanikan diri membuka mata. Ia pun mendapati dirinya mengambang bebas di tengah kegelapan yang tak berujung.
Namun tubuhnya diselimuti pendar aura emas berkilauan—berpendar anggun bagaikan kristal cahaya sejati.
"Apakah... aku sudah mati...?" bisik Bhaskara serak, menatap kedua tangannya sendiri yang memancarkan pendar Prana purba.
WUUUSHHH!
Ruang hampa di sekelilingnya bergetar hebat. Kegelapan itu terbelah oleh kemunculan lingkaran takdir raksasa yang membiaskan pendar mentari abadi. Dari balik cahaya yang menyilaukan itu, sebuah gema suara yang begitu agung, hangat, dan berwibawa mengguncang seluruh jiwa Bhaskara hingga ke relung terdalam.
"Danu Bhaskara Buwana... kau lahir dengan tanda cahaya sejati yang telah tertidur ribuan tahun."
ZAPPP!
Pendar cahaya keemasan dari Dewa Surya Mahasvati meledak mekar. Kesadaran Danu tersedot masuk ke dalam pusaran dimensi yang berputar kencang, melintasi batas antar-dunia, hingga akhirnya sensasi melayang itu sirna berganti tebasan angin dingin yang berembus kencang.
Ugh...
Danu terbatuk-batuk kecil. Indra penciumannya tidak lagi menghirup bau debu semen atau asap kendaraan Jakarta, melainkan aroma rumput basah dan udara pegunungan yang teramat segar.
Danu perlahan membuka matanya. Ia mengerjap beberapa kali seraya meraba tanah di sekitarnya. Bukan hamparan tanah proyek galian apartemen, melainkan padang rumput hijau yang tumbuh di atas tebing batu yang sangat tinggi!
"Nggh... Di mana ini?" gumam Danu seraya berusaha bangkit berdiri.
Ia memegang kepalanya yang sedikit pening, lalu berjalan perlahan menuju tepi tebing. Begitu matanya menatap pemandangan di bawah sana, rahang Danu seketika jatuh. Matanya membelalak lebar bagai mau melompat keluar!
"A-APA-APAN INI?!" jerit Danu histeris, suaranya bergema memantul di antara pegunungan. "Tadi aku lagi di proyek galian Jakarta, kenapa mendadak ada di atas gunung begini?!"
Di bawah tebing batu tempatnya berdiri, terhampar sebuah kota besar bernuansa bebatuan purba yang luar biasa megah.
Bangunan-bangunan megah dari batu berukir dengan atap merah menyala membentang luas. Di tengah kota tersebut, berdiri sebuah istana raksasa menyerupai kelopak bunga teratai merah yang dikelilingi benteng kokoh. Asap tipis membumbung dari permukiman warga, sementara bendera bertekstur kobar api berkibar di setiap penjuru kota.
"I-ini kota apa, banyak api?! Mana gedung-gedung Jakarta?!" Danu memutar tubuhnya panik, menatap rompi proyek oranye dan helm kuningnya yang masih melekat di tubuh. "Aku... aku terlempar ke mana?!"
PING!
Tiba-tiba, sebuah suara denting jernih bergema tepat di dalam kepalanya. Udara hampa di hadapan Danu terbelah, menampilkan sebuah layar papan tipis berpendar emas yang mengambang bebas.
"WAAAAAHHH! A-APA LAGI INI?!" jerit Danu melompat mundur dua langkah seraya mengangkat sekop besinya pasang kuda-kuda panik. "Layar komputer?! Mengambang?!"
Tulisan bercahaya di layar hologram itu berkedip-kedip lembut, menampilkan informasi yang membaca jiwanya:
> [SELAMAT DATANG DI BENUA JAGADDHITA]
> 👤 Pengguna: Bhaskara Danu Buwana (Pewaris Cahaya Kirana)
> 📍 Lokasi: Puncak Tebing Agni, Wilayah Kerajaan Agnivara
> 📜 Takdir Utama: Penyatuan 5 Elemen Negeri Jagaddhita melalui Ikatan Suci.
> 👑 Daftar Pasangan Takdir (5 Putri Jagaddhita):
> Putri Anala (Calon Penguasa Agnivara / Elemen Api Agni)
> [Terkunci] (Putri Penguasa Elemen Air)
> [Terkunci] (Putri Penguasa Elemen Angin)
> [Terkunci] (Putri Penguasa Elemen Tanah)
> [Terkunci] (Putri Penguasa Elemen Petir)
Glek!
Danu menelan ludah berulang kali, membaca baris demi baris teks gaib tersebut.
"B-Benua Jagaddhita? Pewaris Cahaya? Pasangan... LIMA PUTRI?!" Danu memegang dadanya yang berdebar gila-gilaan, kepalanya mendadak pusing tujuh keliling.
"Sistem sialan, jangan bercanda! Aku ini cuma tukang bangunan proyek yang jangankan punya pacar lima, nyapa cewek saja sudah gemetaran!"
...****************...