NovelToon NovelToon
Falling In Love With My Ex Wife

Falling In Love With My Ex Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Teen
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.

pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.

setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.

yuk simak kisahnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

memergoki

Sejak Sera bertemu dengan Delara dan dirinya mulai menghindari Dikta, laki-laki itu tak lagi terlihat disekitarnya.

Ada rasa kehilangan dihati Sera sebenarnya namun berusaha dia tepis.

Arga pun sama.

Laki-laki itu sudah beberapa hari ini tak juga terlihat baik dikampus ataupun berkunjung ke rumahnya.

"Seraphina, kau dipanggil oleh rektor keruangannya..." ucap salah satu rekan Sera begitu dirinya selesai dengan kelasnya.

Kening Sera mengernyit kebingungan.

Pasalnya, seingat Sera, dirinya tak ada masalah atau hal yang perlu dibahas bersama rektor kampus.

Sera berjalan ke ruangan rektor.

"Silahkan nona Seraphina... Duduklah...." ucap pria paruh baya bernama Agung Septiadi yang merupakan rektor dari kampus tempat Sera mengajar.

Sera duduk di kursi tepat dihadapan Agung.

Pria itu mengeluarkan sebuah map biru dan mendorongnya kehadapan Sera.

"Bukalah... Didalamnya ada undangan seminar di Jakarta dan kami sepakat, Andalah yang akan jadi perwakilan dari pihak kampus. Mengingat Anda cukup kompeten dalam hal ini... " ucapnya.

Sera membukanya.

"Lusa... Bukankah saya ada outing diluar pak...Bagaimana dengan mahasiswa saya jika saya pergi...?"

"Ada dosen lain yang bisa menggantikanmu... Ini kesempatan baik untuk Anda. Apalagi saya dengar dari Pak Arga, jika Bu Sera ingin sekali melanjutkan ke S2. Saya harap, Anda tidak menyia-nyiakan kesempatan emas ini...."

Sera diam sejenak.

Kepalanya berputar-putar antara menyetujui atau menolak. Tapi kesempatan tidak datang dua kali bukan?

Sera menarik nafas dalam.

"Baiklah pak... Saya akan pergi... Terimakasih atas kepercayaan yang telah diberikan kepada saya...." ucap Sera kemudian.

Agung mengangguk kecil. "Saya percaya pada kemampuan Anda, Bu Seraphina... Kalau begitu, anda bersiaplah... Dan semoga sukses...."

Sera pamit undur diri.

...****************...

Lampu gantung kristal di ballroom hotel itu memantulkan cahaya keemasan ke seluruh ruangan. Musik instrumental mengalun lembut dari sebuah pengeras suara, menyapa para tamu undangan yang berbaur di antara meja-meja berhias bunga putih. Sera hadir di sana mewakili lembaga tempatnya mengajar, belum menyangka akan berpapasan dengan siapa pun dari masa lalunya.

Setelah acara seminar yang cukup melelahkan, kini tiba saatnya untuk para peserta menikmati hidangan makan malam yang telah disediakan oleh pihak panitia.

Saat ia berjalan menuju meja prasmanan untuk mengambil segelas air, langkahnya tiba-tiba terhenti. Di sudut ruangan yang agak sepi atau didekat lorong lobi hotel, berdiri Dikta. Dan di sampingnya, sangat dekat, hingga bahu mereka nyaris bersentuhan.

Sera menahan napas.

Dirinya cukup penasaran kenapa laki-laki super sibuk seperti Dikta bisa berada disini dan bersama dengan seorang perempuan.

Ia tak bermaksud menguping sebenarnya, tapi hanya ingin memastikan sesuatu yang bisa dia jadikan pertimbangan nantinya.

Dan tubuh Sera menegang ketika suara lembut itu mulai mengudara.

Jantung Sera seperti diremas tangan tak kasat mata.

Itu suara Delara, mantan Dikta, sekaligus perempuan yang menghancurkan rumahtangganya.

"Pak Hendrik sangat puas dengan kemajuan ini," suara Delara terdengar lembut, namun dengan nada yang sengaja dibuat manis. Tangannya bergerak menyentuh lengan lengan Dikta seolah tak sengaja. "Apalagi kalau kita tetap bekerja sama dengan baik, bukan hanya soal bisnis."

Dikta tampak berusaha menjaga jarak, meski tak menepis sentuhan itu secara kasar. "Kita fokus pada kontraknya saja, Delara. Itu yang paling penting."

"Tentu saja," sahut Delara tersenyum, matanya berbinar penuh arti. "Tapi siapa tahu, setelah proyek ini selesai, kita bisa melanjutkan ke hal yang lebih pribadi. Bukankah dulu kita pernah begitu dekat? Apa kau tidak merindukanku Dikta?"

Darah Sera terasa berdesir di pelipis.

Dan posisi keduanya jika dilihat dari sudut yang berbeda, seperti mereka sedang berdiri pada posisi int*m.

Sera tak mendengar jawaban Dikta, tak perlu pun rasanya. Hanya dengan melihat kedekatan mereka saja, hatinya sudah terasa diperas pelan. Ragu yang selama ini ia pendam kembali menganga lebar. Apakah Dikta benar-benar sudah berubah? Atau ia hanya sedang terjebak di antara dua pilihan?

Sera buru-buru memalingkan wajah, berniat pergi sebelum terlihat. Namun sepatunya tak sengaja menggeser vas bunga kecil di tepi meja lewat.

Klik.

Suara halus itu nyaris tenggelam oleh musik, tapi cukup untuk membuat Dikta menoleh.

Pandangan mereka bertemu.

Wajah Dikta seketika berubah, kaget, lalu berusaha menjelaskan sesuatu yang belum sempat terucap.

Delara pun ikut menoleh, dan senyum kemenangan tipis terukir di bibirnya saat melihat Sera yang terpaku di tempat.

"Sera…" panggil Dikta pelan, melangkah maju seolah ingin mendekat.

Sera menggeleng pelan, menahan diri agar suaranya tak bergetar. "Maaf. Aku tidak bermaksud mengganggu. Sepertinya kalian sedang sibuk membahas sesuatu yang sangat penting...."

"Sera, bukan begitu...."

"Silahkan dilanjut, aku pamit dulu," potong Sera singkat, lalu berbalik dan melangkah cepat menuju pintu keluar. Ia tak menoleh lagi, meski mendengar Dikta memanggil namanya di belakang.

Di lorong hotel yang lebih sepi, langkah Sera melambat. Ia menekan dadanya yang terasa sesak. Logika bilang mungkin itu memang urusan pekerjaan. Tapi hatinya tak bisa berbohong, melihat mereka berdua begitu dekat, seolah tak ada jarak di antara mereka, membuatnya kembali terasa sesak.

Sera merasa dejavu.

Dulu, ketika dirinya dan Dikta masih menikah, Sera pernah memergoki mereka sedang berpelukan mesra tepat ketika Sera hendak mengunjugi Dikta di kantornya untuk mengantar makan siang.

Sera berjongkok.

Hatinya kembali sakit dan lucunya dilakukan oleh orang yang sama dan kejadian yang sama persis.

bersambung....

 

1
Dewi Andayani
Aku mampir lagi di karyamu, ya Thor😍...
Ditunggu crazy up nya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!