Sejak ibunya menikah lagi, Aria terpaksa tinggal serumah dengan kakak tirinya, Lucien Ashford, pria yang nyaris sempurna di mata semua orang. Tampan, sopan, dan selalu hadir saat Aria membutuhkan bantuan.
Awalnya, Aria mengira Lucien hanya menjalankan perannya sebagai seorang kakak.
Sampai ia menyadari satu hal.
Lucien selalu tahu ke mana ia pergi.
Selalu muncul di waktu yang tepat.
Dan perlahan, semua orang yang mencoba mendekatinya mulai menghilang dari hidupnya.
Saat Aria berusaha mencari jawaban, ia justru menemukan rahasia yang jauh lebih mengerikan.
Lucien ternyata telah mengenalnya jauh sebelum mereka menjadi keluarga.
Kini Aria harus memilih, tetap tinggal di rumah yang perlahan berubah menjadi sangkar, atau melarikan diri dari seseorang yang tidak pernah berniat melepaskannya.
"Di rumah ini, tidak ada yang lebih berbahaya daripada seseorang yang mengaku ingin melindungimu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fatimah Azzahra Al-aini Sarabiti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Keheningan di pulau Karibia pasca badai rupanya hanyalah ketenangan semu sebelum badai lain yang jauh lebih berbahaya datang menyerang.
Di ruang kerja vila yang berdinding kaca tebal, Kenzo berdiri menatap tiga layar monitor besar yang menampilkan radar maritim dan citra satelit terkini. Lampu indikator merah berkali-kali berkedip di sudut layar, menandakan adanya pergerakan sebuah kapal pesiar mewah tak dikenal yang melintasi batas perairan internasional, hanya berjarak lima mil laut dari pulau pribadinya. Suara langkah kaki kepala pengawal pribadi terdengar tergesa-gesa memasuki ruangan.
"Tuan Kenzo, kami berhasil mengidentifikasi sinyal pemancar kapal tersebut,"
ujar Kevin dengan wajah tegang.
"Itu adalah kapal milik konsorsium Leon Group. Diego Leon ada di atas kapal itu."
Rahang Kenzo mengeras tajam. Manik matanya yang gelap berubah menjadi sangat dingin dan mematikan. Diego Leon. Pria asal Spanyol yang merupakan rival abadi keluarga Kenzo dalam perebutan jalur logistik dan bisnis properti mewah internasional. Pria berdarah dingin yang tidak pernah ragu menggunakan cara-cara kotor untuk menghancurkan musuhnya.
"Bagaimana dia bisa melacak keberadaan pulau ini?"
tanya Kenzo dengan suara rendah yang mengintimidasi.
"Diego menyewa peretas tingkat atas untuk mengunci jejak transaksi bahan bakar jet pribadi Anda saat mendarat kemarin,"
jawab Kevin ragu-ragu.
"Dan... Tuan, ada hal lain yang kami temukan dari peretasan sinyal frekuensi radio mereka."
Kevin menyodorkan sebuah tablet digital. Di layarnya, terlihat tangkapan layar berupa foto hasil lensa telephoto jarak jauh yang diambil dari kapal Diego. Foto itu memperlihatkan sosok Clara yang sedang berdiri menatap lautan di dek vila Karibia kemarin sore, gaun sutra hitamnya berkibar diterpa angin, memperlihatkan kecantikan wajahnya yang pucat dan anggun di bawah pendaran sinar matahari.
Di bawah foto tersebut, terdapat pesan singkat yang dikirimkan Diego kepada tangan kanannya.
"Wanita di dek itu bukan sekadar peliharaan biasa Kenzo. Wajahnya seperti dewi. Cari tahu siapa dia. Aku menginginkannya di atas kapalku sebelum minggu ini berakhir."
PRANG!
Gelas kristal di tangan Kenzo hancur berkeping-keping dalam genggamannya. Darah segar menetes dari telapak tangannya, namun Kenzo bahkan tidak mengedipkan mata. Aura pembunuh yang teramat pekat menyebar memenuhi seluruh ruangan kerja tersebut.
Obsesi Diego tidak lagi hanya tentang bisnis atau dendam lama. Diego pria kejam yang dikenal suka mengoleksi barang-barang mewah dan wanita cantik, kini menargetkan Clara.
"Tingkatkan status keamanan pulau ke tingkat Merah,"
perintah Kenzo dengan suara yang bergetar akibat menahan kemarahan yang membakar dada.
"Perintahkan seluruh pengawal bersenjata di perimeter pantai untuk menembak mati siapa pun yang mencoba mendekat. Kirim helikopter tempur kita untuk bersiap di pulau utama."
"Baik, Tuan!"
Kevin membungkuk cepat lalu bergegas keluar ruangan.
Kenzo mengusap darah di tangannya dengan kain saputangan, lalu melangkah lebar keluar dari ruang kerja menuju kamar utama.
Clara sedang duduk di tepi tempat tidur, mengusap pergelangan tangannya yang kini kembali dilingkari gelang perak gelap. Demamnya sudah berangsur turun, namun kondisinya masih belum sepenuhnya pulih.
Pintu kamar mendadak terdorong terbuka dengan keras. Kenzo melangkah masuk dengan napas memburu dan raut wajah yang begitu mengerikan, sebuah ekspresi yang belum pernah dilihat Clara sebelumnya. Pria itu tampak seperti iblis yang siap membumihanguskan apa saja di sekitarnya.
"Kenzo? Ada apa..."
Sebelum Clara sempat menyelesaikan kalimatnya, Kenzo sudah menerjang maju, meraih bahu Clara dan menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya dengan cengkeraman yang teramat erat, hampir membuat Clara kesulitan bernapas.
"Kenzo! Sakit, kau kenapa?!"
seru Clara, mencoba mendorong dada bidang pria itu.
Kenzo tidak menjawab. Pria itu menyusupkan wajahnya ke leher Clara, menghirup aroma tubuh gadis itu secara dalam dan beringas, seolah ingin memastikan bahwa Clara masih sepenuhnya berada dalam penguasaannya. Pria itu mengecup leher Clara dengan tekanan yang kasar dan dominan.
"Kau milikku, Clara. Hanya milikku!"
gumam Kenzo dengan suara parau yang sarat akan paranoia dan cemburu gila.
"Tidak ada pria lain yang boleh menatapmu, tidak ada yang boleh menyentuhmu!"
Clara tertegun merasakan tubuh Kenzo yang bergetar oleh amarah yang pekat.
"Apa yang terjadi? Siapa yang melihatku?"
Kenzo melepaskan dekapan pada leher Clara, memegang kedua pipi gadis itu dengan kasar, memaksa Clara menatap matanya yang memerah.
"Diego Leon ada di perairan pulau ini. Bajingan itu berani mengintaimu. Dia menginginkanmu, Clara."
Nama itu terdengar asing di telinga Clara, namun melihat reaksi Kenzo yang mendadak hilang kendali seperti ini, Clara menyadari bahwa situasi di luar sana sangat berbahaya.
"Siapa Diego?"
bisik Clara.
"Seorang iblis yang jauh lebih berbahaya daripada apa pun yang bisa kau bayangkan,"
potong Kenzo dingin.
"Pria yang akan menghancurkanmu jika dia berhasil menyentuhmu."
Kenzo berdiri bangkit, lalu berjalan menuju lemari tersembunyi di sudut kamar. Pria itu menarik sebuah senjata api jenis pistol taktis hitam, memeriksa magasinnya dengan gerakan terlatih, lalu menyelipkannya di balik pinggang celananya.
Mata Clara membelalak melihat senjata api tersebut.
"Kenzo... kau mau apa?!"
Kenzo membalikkan badan, menatap Clara dengan pandangan posesif yang tidak lagi mengenal batas kewarasan.
"Aku akan memastikan Diego membusuk di dasar laut Karibia sebelum dia sempat menginjakkan kakinya di pulau ini,"
ujar Kenzo datar.
"Dan untukmu, kamu tidak akan pernah keluar dari kamar ini lagi sampai aku sendiri yang membawakan kepalanya di depanmu."
KLIK!
Kenzo menutup tirai otomatis jendela kaca raksasa, membuat kamar utama tersebut menjadi gelap gulita hanya diterangi pendaran lampu dinding. Pria itu melangkah keluar dan mengunci pintu kamar dari luar dengan sistem pengunci manual berteknologi tinggi.
Clara terduduk kaku di atas tempat tidur di dalam kegelapan kamar. Jantungnya berdegup kencang secara tak beraturan. Di luar sana, suara deru mesin helikopter dan sirine pengaman pulau mulai mengudara.
Clara merasakan ketakutan yang berbeda. Bukan lagi ketakutan akan dominasi Kenzo, melainkan ketakutan akan ancaman berdarah dari luar yang siap mengubah pulau isolasi ini menjadi medan pertempuran mematikan.
DAAAM!
Suara ledakan keras bergemuruh dari arah garis pantai selatan, menggetarkan lantai kamar hingga membuat pajangan kristal di atas meja jatuh berkeping-keping. Pendaran lampu merah darurat di plafon kamar berkedip-kedip cepat, menyertai suara deru mesin speedboat berkecepatan tinggi yang membelah ombak di bawah tebing vila.
Clara mencengkeram selimutnya dengan jemari yang gemetar hebat, menatap pintu kamar yang terkunci rapat. Ia menyadari bahwa pertempuran berdarah antara Kenzo dan sang rival telah pecah di luar sana dan dalam permainan gila dua pria iblis ini, dirinyalah yang menjadi taruhan utamanya.
Langkah kaki panik para pengawal bersenjata yang berlarian di lorong luar terdengar kian memburu, diselingi suara tembakan pertama yang memecah malam di Karibia. Clara memejamkan mata rapat-rapat di tengah kegelapan kamar, menyadari bahwa apa pun yang terjadi di luar sana, takdir hidupnya tidak lagi hanya berada di tangan Kenzo, melainkan di tengah ancaman kematian yang nyata.