Banyak sekali yang harus dilakukan Ananta Shakira sebagai bukti baktinya pada orang tuanya. Demi mendapatkan simpati publik, papanya memasukkannya sebagai tenaga pengajar di sebuah Taman Kanak Kanak.yang sudah terkenal dedikasinya dalam menelurkan anak anak pintar yang berbakat.
Kemudian dia juga harus mau dijodohkan dengan Arsen Angkasa, pewaris pengganti yang sedang naik daun, karena pewaris sebelumnya meninggal akibat kecelakaan lalu lintas.
Pewaris pengganti itu butuh power keluarganya yang merupakan pengusaha lokal dan salah satu wakil ketua dewan yang terhormat untuk memperkuat posisinya. Sedangkan keluarganya membutuhkan pewaris ini untuk bisa sejajar di kalangan bisnis dengan menjadikannya sebagai menantu keluarga konglomerat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahma AR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyesalan Emma
Sudrajat lebih dulu kembali ke meja mereka. Dia heran karena tidak melihat keberadaan istrinya.
"Istriku kemana, ya?" tanyanya dengan melemparkan segaris senyum pada kedua perempuan muda yang ada di dekatnya.
"Katanya ke toilet, pak." Sita yang menyahut.
"Ooh, iya. Pak Darya dan Pak Arsen juga belum kembali, ya?" tanyanya ketika menyadari kalo kedua rekannya juga belum kembali.
"Belum, pak," jawab Ananta ngga tenang.
Mereka ketemuan, ya? Benaknya dilanda perasaan curiga yang berlebihan.
Sudrajat menganggukkan kepalanya.
"Bagaimana kabar, papa kamu? Kami sudah cukup lama tidak pernah bertemu," tanya Sudrajat sambil menatap Ananta.
"Baik, om."
"Katanya sekarang jadi anggota dewan, ya."
"Iya." Ananta tersenyum setelah menjawabnya.
Sudrajat balas tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
"Itu Pak Arsen." Ananta agak berseru saking leganya melihat penampakan calon suaminya itu.
Sudrajat dan Sita menoleh.
"Ya, dia memang sesibuk itu. Pak Darya malah belum terlihat," kekeh Sudrajat.
Istri bapak juga, batin Sita.
"Ada beberapa klien yang sepertinya menghubunginya. Maaf, pak, atas ketaknyamanannya," ucapnya kemudian tapi dalam hatinya ngga merasa yakin.
"Tidak apa apa. Saya cukup mengerti dengan kesibukan mereka."
Arsen sekarang sudah mendekat.
"Maaf, ada sedikit masalah, jadi agak lama telponnya." Arsen merasa kasian dengan Sudrajat. Istri yang sudah dia manjakan dengan kemewahan harta benda, tadi malah berusaha keras merayunya.
"Tidak apa apa, Pak Arsen. Saya juga baru kembali."
Arsen tersenyum tipis.
"Pak Darya juga belum kembali," sela Sita memberitau.
"Ooh ...." Arsen menyembunyikan keheranannya. Dia tadi sempat melihat Darya saat pergi dari kejaran Emma.
Dia mampir kemana?
Arsen mengalihkan tatapnya pada Ananta. Ada yang aneh dengan cara gadis itu memandangnya.
"Maaf, sayang," ucapnya spontan.
Pipi Ananta merona tipis mendengar panggilan yang tak biasa itu. Dia mencoba memaklumi alasan Arsen, tapi dia tetap merasa kesal.
"Bu Ananta, anda harus lebih sabar menghadapi Pak Arsen yang super sibuk," canda Sudrajat sambil tertawa lepas.
Arsen merasa tersindir.
Seandainya dia tau sebagian karena ulah istrinya.
*
*
*
Emma yang masih terpaku karena kecewa sudah diabaikan Arsen, terkejut saat ada satu tangan yang menariknya setengah berlari menjauh dari tempatnya berada.
"Arsen," gumamnya dengan perasaan bahagia yang berkecamuk di dalam hatinya.
Dia bahagia, Arsen akhirnya kembali padanya.
Tapi dia terkejut ketika menengadah dan melihat Pak Darya yang ternyata menarik tangannya. Bukan Arsen.
"Darya. Apa yang kamu lakukan?" marahnya sambil berusaha memberontak.
Pak Darya nekat membawanya masuk ke dalam toilet wanita dan mengurungnya di sana.
"Dar emmhh ....." Protesnya dibungkam oleh ci-um@n penuh h@srat Darya. Wanita yang menjadi dambaannya akhirnya bisa dia temukan juga celahnya.
"Balas, atau aku akan melaporkan perbuatanmu pada Sudrajat," perintahnya sambil menarik segenggam rambut terurai Emma ke belakang agar wanita itu menengadah. Leher jenjangnya terlihat memabukkan di mata Darya.
Emma tercekat.
Dia lihat?
"Memangnya aku melakukan apa emmmhh ...."
"Aku melihatmu merayu Arsen. Kamu tertarik dengannya? Bukannya ada aku yang bisa memuaskanmu?" Dengan ganas, ci-uman Darya turun ke leher Emma hingga suara lenguh@nnya terdengar.
Beberapa kali tiap ada Emma bersama Sudrajat dalam pertemuan mereka, Darya selalu memancing gairah wanita pirang yang sangat cantik ini.
Wanita itu memang membalas tapi biasanya hanya berupa ci-um@n singkat. Emma selalu menolak tiap Darya mengundang ke hotel atau apartemennya untuk menghabiskan malam.
Tapi sekarang dia sudah punya kartu asnya.
Dia tertawa melihat Arsen mengabaikannya, padahal dia setengah mati mendamba wanita yang sangat dia puja sejak awal mereka bertemu.
"Hentikan Darya hemmmhh ....." Di tengah amukan nafsu dan h@sratnya, Emma mengangkat lututnya dan menemdang bagian sensitif Darya yang sudah menegang. Laki laki itu melenguh keras karena merasa sakit dan ngilu.
Emma segera mendorong hingga Darya terduduk di toilet dan segera membuka pintu toilet untuk kabur. Dia berjalan agak cepat sambil menuju mobilnya.
Penampilannya yang agak berantakan, ngga memungkinkan dia kembali menemani Sudrajat. Apalagi melihat Arsen yang pastinya akan bermesraan dengan Ananta. Dia akan merasa tertampar berkali kali.
Emma segera menelpon suaminya.
"Ada apa? Masih di toilet?"
"Aku merasa ngga enak badan. Aku menunggumu di mobil. Kamu rapat aja, aku ngga apa apa," ucapnya sambil merapikan rambutnya seadanya agar supirnya tidak merasa curiga.
"Baiklah. Ngga apa apa. Aku akan segera menyusulmu."
"Oke." Emma memutuskan komunikasi mereka. Kejadian tadi sangat mengejutkan sekaligus mendebarkan.
Salahnya selalu memancing h@srat Darya. Sekarang laki laki itu merasa bisa menguasainya setelah mengetahui sedikit rahasianya.
Emma memang bibir dan mengusap lehernya. Panasnya ci-um@n laki laki itu masih terasa.
*
*
*
Sudrajat menyimpan ponselnya setelah istrinya memutuskan percakapan mereka.
"Aku harus melihat keadaan istriku. Katanya dia merasa ngga enak badan."
"Perlu saya panggilkan dokter, pak?" tawar Sita, sementara Ananta terus memperhatikan wajah Arsen. Apakah ada kekhawatiran terganbar di sana? Tapi tetap saja yang terlihat di sana hanyalah wajah datarnya.
Sudrajat tersenyum.
"Tidak perlu. Saya yang akan membawanya ke dokter." Sudrajat tersenyum tapi melihat sekelilingnya.
"Pak Darya kemana, ya?" Dia sungkan untuk langsung pergi sementara rekan bisnisnya belum kembali.
"Ngga apa apa, pak. Keadaan istri anda lebih penting." Kali ini Arsen mengeluarkan suaranya.
Ananta tau ucapan itu basa basi atas dasar kesopanan belaka. Tapi karena yang mengatakannya Arsen, dia merasakan ada makna lain di dalamnya yang membuat hatinya kesal.
"Lebih baik Pak Sudrajat melihat keadaan Bu Emma." Walau ngga suka, Ananta terpaksa ikut menunjukkan perhatiannya. Itu adalah aturan etika yang tidak tertulis. Lagi pula Pak Sudrajat teman papanya.
"Tentang Pak Darya, jangan dipikirkan pak. Mungkin urusannya belum selesai," lanjut Sita cepat.
Sudrajat menganggukkan kepalanya. Di wajahnya ada guratan cemas dan juga lega. Dia bangkit dari duduknya.
"Terimakasih atas pengertiannya. Kalo begitu saya pergi dulu."
Arsen dan dua perempuan yang ada di depannya menganggukkan kepalanya.
"Sama sama, pak," balas Sita dan Ananta bersamaan.
Arsen juga merasa kalo mereka harus pergi. Dia harus menghadiri meeting di kota lain.
"Bu Sita, kami pamit juga, ya. Saya harus meeting lagi." Arsen memberi kode pada Ananta.
"Oh, tidak apa apa, pak. Nanti akan saya sampaikan pada Pak Darya," sahut Sita memaklumi.
"Maaf, ya, Bu Sita," pamit Ananta juga.
"Ngga apa apa, Bu Ananta. Santai saja." Sita tersenyum manis melepas kepergian calon pasangan pengantin yang akan menikah satu minggu lagi.
Sita kemudian menelpon bosnya.
"Pak, Anda di mana? Teman teman bapak sudah pergi semua," lapornya.
"Saya masih di toilet. Uuuggghh ....wanita sialan itu," umpat Darya sambil mengelus kesayangannya.
Sita bingung mendengarnya.
"Bapak sedang apa?"
"Kamu tunggu aja di sana. Sebentar lagi saya akan datang."
semangat😉
cerita keluarga baru apa?