Nadira Sasmita selalu mengira suaminya adalah lelaki yang paling mengenalnya.
Rendra Kalyana tahu jadwalnya, siapa yang menemaninya, ke mana ia pergi, bahkan siapa yang berada di sekelilingnya ketika ia tidak menyadarinya. Nadira mengira semua itu adalah bentuk perlindungan.
Sampai ia menemukan sebuah buku berisi daftar nama orang-orang terdekatnya.
Di samping setiap nama terdapat jumlah uang.
Sahabat. Sopir. Psikolog. Rekan kerja. Orang-orang yang selama ini ia percaya.
Mereka dibayar oleh suaminya.
Rendra tidak menyangkalnya. Ia hanya mengatakan satu hal: semua dilakukan agar Nadira tetap aman.
Tetapi semakin banyak rahasia yang terbuka, semakin sulit Nadira membedakan cinta dari pengawasan, perlindungan dari kendali, dan perhatian dari kepemilikan.
Ketika rahasia keluarga Kalyana mulai terungkap, Nadira akhirnya dihadapkan pada pilihan yang paling menyakitkan dalam hidupnya:
tetap bersama lelaki yang mencintainya dengan cara yang salah, atau pergi dan kehilangan satu-satuny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 — Jangan Hentikan Dia
BAB 6 — Jangan Hentikan Dia
Nadira pergi tujuh menit setelah mengatakan akan mengajukan cerai.
Aku melihat jam di dinding ruang depan berkali-kali selama kami berdiri saling berhadapan, sama-sama tidak menemukan kalimat yang tidak akan memperburuk keadaan. Buku abu-abu sudah masuk ke tasnya. Cincin pernikahan kami tertinggal di atas meja, tepat di bawah cahaya lampu yang biasa ia nyalakan ketika pulang lebih dulu.
“Aku akan menginap di kantor,” katanya.
Hal pertama yang ingin kulakukan adalah mengatakan bahwa kantor itu tidak aman untuk dipakai bermalam. Pintu belakangnya pernah macet. Kamera di lorong lantai enam memiliki titik buta. Satpam malam sering meninggalkan meja untuk merokok di parkiran.
Semua alasan itu benar.
Tetap saja, aku menelannya.
“Baik,” jawabku.
Nadira menatapku seolah menunggu lanjutan.
Aku tahu ia menunggu syarat, nama pengemudi, atau kalimat yang akan mengubah persetujuanku menjadi perintah. Ketika tidak ada yang keluar, ia meraih gagang pintu.
“Kamu tidak akan mengikutiku?”
“Tidak.”
“Tidak akan menyuruh orang mengikutiku?”
“Tidak.”
“Tidak akan menelepon kantor?”
Aku sempat diam. Aku tidak ingin berbohong, tetapi sistem keamanan kantor itu kubantu pasang. Bahkan tanpa menelepon siapa pun, aku bisa melihat kapan kartu akses dipakai dan pintu mana yang dibuka.
“Aku tidak akan menghubungi mereka,” kataku.
Nadira terus menatapku. “Itu bukan jawaban yang sama.”
Ia keluar sebelum aku sempat memperbaikinya.
Suara pintu menutup pelan. Tidak dibanting. Nadira selalu menutup pintu dengan hati-hati, bahkan saat marah. Kebiasaan kecil itu membuat rumah terasa lebih kosong daripada seharusnya.
Aku berdiri di tempat yang sama sampai lampu mobil yang dipesannya terlihat di balik gerbang. Mobil berhenti di seberang jalan. Nadira berjalan ke sana tanpa menoleh.
Ponselku sudah berada di tangan ketika mobil itu bergerak.
Satu sentuhan cukup untuk membuka peta. Sistem masih bisa mengenali nomor polisi, membaca arah perjalanan dari kamera kompleks, lalu menyambungkannya dengan jaringan lalu lintas milik vendor keamanan kami. Pelacakan ponselnya memang sudah kumatikan, tetapi aku tidak pernah hanya membangun satu jalan untuk menemukan Nadira.
Jempolku menggantung di atas layar.
Aku mematikan aplikasi.
Bukan menghapus. Hanya menutupnya.
Bahkan sekarang aku masih menyisakan jalan untuk menemukannya.
Ponsel berdering sebelum sempat kumasukkan ke saku. Kepala staf hukum Kalyana Group menelepon untuk menanyakan rapat yang kutinggalkan.
“Saya kirim ulang jadwal untuk besok pagi,” katanya. “Pak Surya meminta penjelasan malam ini.”
“Ayah saya bisa menunggu.”
“Ada hal lain?”
Aku melihat cincin di atas meja.
Ada banyak hal lain.
“Siapkan daftar firma hukum keluarga yang pernah bekerja dengan grup,” kataku.
“Untuk konflik kepentingan?”
Pertanyaan itu muncul terlalu cepat. Ia sudah terbiasa menerima perintah yang tujuannya tidak perlu dijelaskan.
Aku bisa menutup hampir semua jalan Nadira dalam satu malam. Firma besar akan menolak karena pernah menangani perusahaan keluarga. Firma kecil dapat diingatkan bahwa melawan Kalyana berarti kehilangan klien. Media bisa diarahkan untuk menyebut masalah kami sebagai kesalahpahaman pribadi. Berita mengenai perceraian dapat ditahan sampai Nadira lelah menghadapi birokrasi.
Tidak satu pun memerlukan ancaman langsung.
Begitulah cara keluargaku bekerja. Kami tidak menutup pintu di depan seseorang. Kami hanya memastikan setiap pintu mengarah kembali kepada kami.
“Batalkan,” kataku.
“Maaf?”
“Jangan hubungi firma mana pun. Jangan membuat daftar konflik. Jika Nadira Sasmita atau perwakilannya meminta dokumen tentang pernikahan kami, teruskan kepada saya dan Elsa. Tidak ada penundaan, tidak ada tekanan.”
Di ujung sambungan terdengar suara halaman dibalik. “Apakah ini instruksi resmi?”
“Iya.”
“Boleh saya tahu ruang lingkupnya?”
“Semua urusan pribadi saya. Termasuk perceraian.”
Keheningan berlangsung dua detik lebih lama daripada semestinya.
“Saya mengerti.”
“Dan satu lagi. Tidak ada pernyataan kepada media. Kalau ada yang bertanya, jawab bahwa Nadira berhak menentukan kapan dan apakah ia ingin bicara.”
“Pak Surya mungkin tidak setuju.”
“Ayah saya tidak menikah dengannya.”
Aku memutus sambungan.
Setelah itu, aku menghubungi bagian keamanan rumah dan mencabut izin mereka menerima perintah atas nama Nadira dari siapa pun selain Nadira sendiri. Gilang kukirimi pesan serupa. Ia membalas singkat: Baik, Pak.
Semuanya terdengar mudah ketika disusun dalam kalimat. Jangan ikuti. Jangan tahan. Jangan hubungi. Jangan hentikan.
Yang sulit adalah tidak membuat pengecualian saat rasa takut mulai memberi alasan.
Aku mengambil cincin itu dari meja dengan dua jari.
Ketika membelinya, aku membawa tiga pilihan ke toko perhiasan dan meminta mereka menyimpan seluruh ruang privat selama dua jam. Nadira kemudian memilih cincin paling sederhana dari etalase umum, bukan salah satu yang sudah kusiapkan.
“Yang ini enggak membuat tanganku serasa milik orang lain,” katanya sambil tertawa.
Aku sempat kecewa karena rencanaku tidak dipakai, tetapi akhirnya menyukai kenyataan bahwa ia memilih sendiri. Selama bertahun-tahun aku mengulang kenangan itu sebagai bukti bahwa aku selalu memberinya pilihan.
Malam ini aku melihatnya berbeda.
Aku mengatur toko, waktu, kendaraan, dan tiga pilihan yang menurutku pantas, lalu merasa sudah cukup memberinya ruang hanya karena ia boleh memilih satu.
Aku hendak memasukkan cincin itu ke laci meja kerja. Tanganku berhenti sebelum laci tertutup. Menyimpannya terasa seperti menganggap ia akan kembali mengenakannya. Membiarkannya di meja terasa lebih buruk.
Akhirnya, aku meletakkannya di dalam amplop kosong, menulis nama Nadira di bagian depan, lalu menaruhnya di rak terbuka. Cincin itu miliknya.
Di meja, tiga layar masih menyala dari pagi. Kalender, laporan investasi, dan dasbor risiko keluarga memenuhi permukaan. Aku menutup dua layar pertama, lalu membuka arsip yang selama bertahun-tahun tidak pernah kuakses dari rumah.
ADITYA SASMITA — STATUS: DORMAN.
Folder itu tidak memuat foto keluarga atau riwayat pekerjaan biasa. Isinya daftar nama, ancaman yang pernah diterima, pergerakan dokumen, dan orang-orang yang mungkin mencari apa yang ditinggalkan Aditya.
Sebagian besar sudah meninggal, berpindah negara, atau tidak lagi terhubung dengan Kalyana Group. Tiga nama masih aktif. Salah satunya ayahku.
Aku menekan menu pemeriksaan terbaru.
Enam bulan terakhir bersih dari permintaan arsip, perpindahan dana mencurigakan, maupun kontak baru ke Ruang Tengah. Sistem menyimpulkan risiko terhadap Nadira rendah.
Aku membaca kata rendah beberapa kali.
Dulu kata itu cukup untuk membuatku memasang pengemudi tambahan, mengubah rute Nadira, atau meminta Tara memastikan ia tidak sendirian. Aku selalu menganggap bahaya yang belum terlihat sebagai alasan untuk lebih berhati-hati.
Sekarang aku mencoba bertanya dengan cara berbeda.
Apakah ada ancaman nyata malam ini?
Tidak ada bukti.
Apakah Nadira meminta perlindunganku?
Tidak.
Apakah aku tetap ingin mengirim seseorang?
Iya.
Aku menutup folder tanpa mengaktifkan protokol apa pun.
Layar menjadi gelap, menyisakan bayanganku sendiri. Aku tampak seperti ayahku saat muda. Kesadaran itu tidak pernah menyenangkan. Malam ini rasanya lebih buruk.
Surya Kalyana selalu mengatakan bahwa orang tidak membenci kendali. Mereka hanya membencinya ketika sadar sedang dikendalikan. Karena itu, kendali yang baik harus terasa nyaman.
Mobil sudah menunggu sebelum diminta.
Pekerjaan datang pada waktu yang tepat.
Teman selalu ada ketika dibutuhkan.
Aku pernah menganggap ajaran itu kejam. Lalu aku menggunakannya untuk membangun kehidupan Nadira.
Ponselku bergetar lagi. Kali ini pesan dari ayahku.
Datang ke rumah utama. Sekarang. Kita selesaikan urusan rapatmu.
Pesan itu kubiarkan tanpa balasan. Ayah biasa memanggil setiap pembangkangan sebagai urusan yang perlu diselesaikan. Besok ia mungkin mengancam mencabut proyek, memindahkan jabatan, atau mengingatkan bahwa nama Kalyana tidak boleh dipermalukan oleh masalah pribadi.
Malam ini, kemarahannya bukan ancaman paling penting.
Aku membuka ulang dasbor risiko untuk memastikan tidak ada perubahan setelah pemeriksaan terakhir. Tampilan yang tadi menunjukkan tidak ada aktivitas kini memuat satu baris baru. Bukan permintaan arsip. Bukan transaksi.
DETEKSI REPRODUKSI DOKUMEN TERLINDUNGI.
Aku menekan laporan rinci.
Satu halaman buku telah dipindai menggunakan perangkat yang terhubung ke layanan penyimpanan luar. Tanda mikro pada kertas cocok dengan arsip Lingkar Aman. Lokasi perangkat tidak dapat dipastikan karena koneksi dialihkan, tetapi waktu pemindaian tercatat dua belas menit setelah Nadira meninggalkan rumah.
Aku menelepon Nadira.
Nomorku masih diblokir.
Aku hampir menghubungi Tara, lalu teringat janjiku. Hampir memanggil Gilang, lalu menghentikan tangan sendiri.
Jangan hentikan dia.
Seseorang baru saja menyalin bagian dari buku yang dibawa Nadira, dan untuk pertama kalinya malam itu, aku tidak bisa menganggap ketakutan itu sekadar alasan untuk mengendalikannya.
Laporan keamanan memperbarui layar.
Bukan satu halaman.
Tujuh halaman telah disalin, dan salinan pertama baru saja dikirim ke Kalyana Group.