Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Yang Berbahaya
"Pokoknya tidak mau, tidak mau, tidak mau! Kalau Ibu berusaha memaksaku, aku akan kabur dari rumah. Aku akan menjadi petani, menanam sayuran untuk dimakan sendiri. Atau aku bisa menjadi pedagang bunga! Aku ahli dalam hal menanam!"
Begitu tirai tenda keluarga Winter tertutup rapat, suara Elisa langsung menggema memenuhi ruangan. Para pelayan yang berjaga di luar bahkan saling melirik, lalu diam-diam menjauh agar tidak ikut terseret masalah keluarga bangsawan itu.
Tuan Winter memijat pelipisnya. Kepalanya semakin berdenyut. Seumur hidup menjadi bangsawan, belum pernah ia menghadapi persoalan serumit ini. Seandainya putrinya bersikap seperti Nandikara yang dulu, mungkin semuanya akan jauh lebih mudah.
Diam-diam pria itu memperhatikan perubahan anak tirinya sejak beberapa waktu terakhir. Sejak gadis itu pingsan, sifatnya berubah drastis. Dulu Nandikara adalah gadis yang selalu bersemangat setiap kali melihat pria tampan. Sedikit saja ada bangsawan muda berwajah rupawan, matanya pasti langsung berbinar. Ia juga terkenal manja dan gemar menghadiri pesta demi bertemu para pemuda.
Namun sekarang, Nandikara justru menjadi gadis yang tenang. Ia lebih sering menghabiskan waktu berjalan-jalan bersama pelayannya, menikmati taman, membaca buku, atau merawat bunga. Bahkan orang-orang yang dulu paling ia hindari, para pelayan, kini justru menjadi teman mengobrolnya.
Perubahan itu terlalu besar hingga terkadang membuat Tuan Winter merasa asing melihat putrinya sendiri. Karena itulah, sejak lamaran Pangeran Erlan diumumkan, ia sudah menduga apa jawaban Nandikara. Dan dugaannya benar.
"Pelankan suaramu, Kara!" tegur Nyonya Winter sambil menoleh ke arah pintu tenda."Kalau ada yang mendengar, kita semua bisa mendapat masalah."
Beliau menarik napas panjang sebelum kembali berbicara."Kau mendapatkan lamaran yang begitu luar biasa. Itu Putra Mahkota, Kara! Jika kau menikah dengannya, suatu hari kau akan menjadi ratu kerajaan ini. Berapa banyak wanita yang rela melakukan apa pun demi berada di posisimu? Hanya orang idiot yang akan menolak kesempatan emas ini."
Tatapan wanita itu jatuh pada putrinya dari ujung kepala hingga kaki."Yang membuatku bingung justru satu hal, bagaimana bisa Pangeran Erlan menyukaimu?" Nada suaranya terdengar meremehkan.
Elisa mengembuskan napas kesal."Ya, berarti aku orang idiot yang Ibu maksud." Dia mengangkat bahu tanpa merasa bersalah sedikit pun."Aku akan menolaknya. Aku akan bicara langsung kepada Pangeran Erlan."
"Nandikara!" Suara Nyonya Winter meninggi.
Wajahnya memerah menahan emosi. Ia benar-benar tidak habis pikir. Putrinya yang dulu selalu mengejar perhatian pria bangsawan kini justru menolak Putra Mahkota. Atau jangan-jangan...
Wanita itu menyipitkan mata."Apa kau masih mengharapkan bocah sombong itu? Setelah ditolak mentah-mentah, kau masih menunggunya?"
Elisa mengerjap bingung."Apa sih, Bu? Siapa lagi itu?"
"Leonardo Snow, Kara." Kali ini Suri yang membuka suara. Sejak tadi dia dan ayahnya hanya menjadi penonton pertengkaran ibu dan anak itu.
Elisa langsung menarik napas panjang."Astaga," dia mengusap wajahnya pelan."Aku tidak menunggu siapa pun. Aku juga tidak menyukai Leonardo lagi." Jawabannya begitu tegas. "Aku hanya belum siap menikah. Ya ampun, apalagi menikah dengan Pangeran Erlan."
Dia menggeleng cepat berkali-kali."Aku benar-benar tidak mau, Bu."
Nyonya Winter masih belum menyerah."Kalau memang belum siap, kita bisa meminta waktu. Kita bisa..."
"Sudahlah." Suara Tuan Winter akhirnya memotong perdebatan yang semakin memanas.
Semua langsung menoleh kepadanya.
"Berdebat seperti ini tidak akan menyelesaikan apa pun." Pria itu bangkit dari kursinya, lalu menatap istri dan kedua putrinya bergantian.
"Pertama-tama, mari kita berpikir dengan kepala dingin." Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan."Kita harus memikirkan jawaban apa yang akan kita berikan nanti malam."
"Katakan saja kalau aku menolak, Ayah." Elisa segera menghampiri ayah tirinya dengan wajah penuh harap.
"Tidak semudah itu, Kara." Tuan Winter tersenyum pahit."Kau pikir siapa yang sedang kita hadapi?"
"Pangeran Erlan." Nyonya Winter langsung menyambung ucapan suaminya sambil ikut mendekati Elisa."Dia calon raja yang akan menggantikan Raja Simon."
"Siapa pun dia, aku tetap punya hak untuk menolak, Bu."
Suasana kembali memanas. Elisa bersikeras, sementara Nyonya Winter semakin sulit mengendalikan emosinya.
Melihat keadaan itu, Tuan Winter kembali mengambil alih."Kau benar, Nandikara."
Kalimat itu membuat semua orang terdiam.
"Kau memang memiliki hak untuk menolak."
Elisa menatap ayahnya dengan sedikit harapan.
"Tetapi..."
Satu kata itu membuat harapannya kembali mengempis.
"Karena yang akan kita hadapi adalah Pangeran Erlan, kita tidak bisa asal berbicara." Tuan Winter menatap putrinya dengan serius."Kita harus mencari alasan yang tepat. Alasan yang cukup baik agar beliau tidak merasa dipermalukan." Ia menghela napas pelan."Pangeran Erlan dikenal sebagai orang yang berdarah dingin." Nada suaranya berubah semakin berat."Kita harus berhati-hati."
Ucapan itu membuat Elisa akhirnya terdiam. Ia menjatuhkan tubuhnya ke kursi terdekat sambil menopang dagu. Kenapa semuanya harus menjadi serumit ini?
Menjadi bangsawan saja sudah dipenuhi aturan yang membuatnya pusing. Sekarang, dia malah harus dihadapkan pada kemungkinan menjadi Putri Mahkota.
Tidak.
Bagi Elisa, ini sama sekali bukan keberuntungan. Ini adalah musibah.