NovelToon NovelToon
Suami Super Cool Berseragam Loreng

Suami Super Cool Berseragam Loreng

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Perjodohan / Menikahi tentara
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fitria Susanti Harahap

Sarif adalah lelaki yang diajukan sebagai calon suami Ratna dalam perjodohan keluarga, tetapi karena ia menolak, akhirnya dialihkan pada sepupunya Tara.

Gadis yang baru satu tahun lulus SMA itu menerima dengan suka cita sebab ia menghindari dikirim keluar kota untuk kuliah.

Tara: Jodoh itu misterius, dia yang tenang untuk aku yang darderdor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27

Bagi Tara yang sebelumnya hanya seorang gadis kampung dengan keseharian mengajar les bahasa Inggris dan membantu usaha katering ibunya, semua itu merupakan pengalaman yang sama sekali baru. Ia menyadari bahwa menjadi istri perwira bukan sekadar menikmati fasilitas atau status sosial, melainkan juga memikul tanggung jawab untuk menjadi teladan, menjaga hubungan baik dengan seluruh anggota, serta mendukung terciptanya kekompakan di lingkungan keluarga besar satuan.

Karena itu, Tara memilih banyak belajar dari para senior, mengamati cara mereka memimpin dengan santun dan rendah hati, sambil terus mempersiapkan diri agar kelak mampu menjalankan setiap amanah dengan baik tanpa kehilangan kepribadiannya yang ceria, sederhana, dan mudah bergaul.

Menjadi istri perwira membuat Tara semakin sering terlibat dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan yang diselenggarakan organisasi istri prajurit. Selain menghadiri pertemuan rutin, ia juga ikut aktif dalam kegiatan bakti sosial, kunjungan kepada keluarga anggota, pembinaan keterampilan bagi para istri prajurit, hingga pelayanan di posyandu yang menjadi salah satu program pembinaan keluarga.

Awalnya Tara mengira dirinya hanya akan membantu di belakang layar, seperti menyiapkan konsumsi atau mendata kehadiran peserta. Namun suatu hari, para senior justru mempercayainya untuk menjadi koordinator sekaligus memimpin kegiatan posyandu. Mendengar keputusan itu, senyum Tara langsung membeku.

Di depan para ibu ia masih berusaha terlihat tenang, tetapi begitu tiba di rumah, ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke sofa sambil memegangi kepala. "Hahahaha... Abang... tolong aku," keluhnya di sela tawa panik.

Baginya, mengajar murid les bahasa Inggris jauh lebih mudah daripada memimpin sebuah kegiatan yang melibatkan banyak orang. Ia khawatir salah berbicara, salah mengatur acara, atau lupa urutan kegiatan.

Sarif yang melihat kepanikan istrinya hanya tersenyum sabar. Malam itu, setelah makan malam, ia duduk menemani Tara membuka buku catatan dan menjelaskan satu per satu tugas yang akan dihadapinya.

Sarif membantu menyusun alur kegiatan, menjelaskan cara berkoordinasi dengan para kader, mengingatkan hal-hal yang perlu dipersiapkan, hingga memberi semangat agar Tara tidak meragukan kemampuannya sendiri.

Tara mendengarkan dengan sungguh-sungguh, sesekali mencatat, sesekali kembali panik lalu membuat lelucon yang mengundang tawa mereka berdua. Kesabaran Sarif perlahan mengubah rasa takut itu menjadi keberanian. Ia meyakinkan Tara bahwa menjadi pemimpin bukan berarti harus mengetahui segalanya, melainkan mau belajar, mau mendengar, dan mampu merangkul orang lain.

Dukungan itu membuat Tara kembali percaya diri. Ia pun bertekad menjalankan amanah tersebut sebaik mungkin, karena kini ia mengerti bahwa di balik setiap tugas seorang istri prajurit, selalu ada kesempatan untuk memberi manfaat bagi keluarga besar satuan dan masyarakat di sekitarnya.

Hari-hari Tara sebagai istri prajurit semakin padat. Setelah kegiatan posyandu selesai, pekerjaannya ternyata belum berakhir. Bersama para ibu lainnya, ia masih harus mengunjungi rumah warga atau keluarga prajurit yang berhalangan hadir untuk memastikan keadaan mereka sekaligus menyampaikan informasi yang mungkin terlewat.

Setibanya di rumah, Tara kembali membuka buku catatannya untuk menyusun laporan kegiatan bulanan dengan rapi, mendokumentasikan jalannya acara, jumlah peserta, hingga berbagai evaluasi yang nantinya akan disampaikan dalam pertemuan berikutnya. Belum selesai sampai di situ, ia juga ikut berdiskusi menyusun rencana kegiatan bulan depan, mulai dari pembagian tugas, jadwal, hingga berbagai persiapan yang diperlukan agar semua program berjalan lancar.

Malam harinya, Tara menjatuhkan tubuhnya ke sofa dengan wajah lelah. Rambutnya yang biasanya rapi sudah mulai berantakan. "Ya Tuhan... capeknya jadi istri tentara."

Sarif yang sedang membaca berkas menoleh sambil tersenyum. "Menyesal, Sayang?"

Tara langsung menggeleng cepat. "Nggak. Kalau suaminya kamu, Bang....aku siap. Siap, siap, siap!"

Sarif tertawa pelan melihat semangat istrinya yang kembali muncul. "Yakin?"

"Yakin."

"Besok masih ada kegiatan lagi."

Tara menarik napas panjang, lalu tersenyum lebar. "Nggak apa-apa. Capeknya memang nyata. Tapi kalau dijalani sama orang yang tepat rasanya jadi ringan."

Mendengar jawaban itu, Sarif menutup berkasnya, lalu meraih tangan Tara dengan lembut. Ia semakin yakin bahwa perempuan yang dulu dijodohkan dengannya bukan hanya pandai membuatnya tertawa, tetapi juga mampu tumbuh menjadi pendamping yang kuat.

Sementara Tara sadar, menjadi istri tentara memang tidak mudah. Ada banyak tanggung jawab yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan. Namun selama di sisinya ada Sarif yang selalu sabar membimbing dan menyemangatinya, setiap lelah akan terasa sepadan dengan kebahagiaan yang mereka bangun bersama.

***

Akhir bulan menjadi pengalaman yang tak akan pernah dilupakan Tara. Sore itu, setelah pulang dari batalyon, Sarif masuk ke rumah sambil membawa sebuah amplop dan ponselnya. Tanpa banyak bicara, ia duduk di samping istrinya, lalu menyerahkan seluruh gaji yang baru diterimanya di telapak tangan Tara.."Mulai bulan ini, kamu yang kelola semuanya."

Tara menatap amplop itu beberapa detik. Matanya membulat, lalu bergantian melihat uang di tangannya dan wajah Sarif.."Huaaaa...!".Ia sampai memekik pelan sambil menahan tawa. "Ini pertama kalinya lho aku pegang uang sebanyak ini!".Tangannya bahkan sedikit gemetar saat menghitungnya.

Bagi orang lain, gaji seorang prajurit mungkin terasa pas-pasan. Namun bagi Tara, nominal itu sudah terasa sangat besar. Selama satu tahun setelah lulus SMA, ia bekerja sebagai mentor bahasa Inggris di sebuah tempat les. Setiap akhir bulan, gaji yang ia terima hanya sekitar lima ratus ribu rupiah. Uang itu pun sebagian besar langsung diberikan kepada Bu Nina untuk membantu kebutuhan rumah dan biaya sekolah kedua adiknya. Karena itulah, melihat uang sejumlah itu berada di tangannya membuat Tara merasa seperti sedang memegang harta karun.

Ia tertawa sendiri sambil berkata, "Ya Allah... ternyata beginilah rasanya jadi bendahara keluarga."

Sarif hanya memperhatikan dengan senyum hangat. Baginya, kebahagiaan Tara bukan karena nominal uangnya, melainkan karena rasa syukur yang begitu tulus. Tidak ada tuntutan barang mewah, tidak ada permintaan perhiasan atau tas mahal. Yang pertama kali dipikirkan Tara justru bagaimana membagi uang itu untuk kebutuhan rumah tangga, menabung, membantu ibunya jika sewaktu-waktu diperlukan, dan menyisihkan sebagian untuk sedekah.

Melihat istrinya yang berkali-kali tersenyum sambil menghitung uang dengan begitu hati-hati, Sarif semakin yakin tidak salah memilih pendamping hidup. Perempuan yang pernah merasa gaji lima ratus ribu rupiah sudah cukup membuatnya bersyukur itu, kini dipercaya mengelola seluruh rezeki keluarga. Dan Tara menerima amanah tersebut bukan dengan rasa bangga, melainkan dengan hati yang penuh syukur dan tanggung jawab.

Malam itu, setelah cukup lama sibuk menghitung dan menyusun anggaran rumah tangga di buku catatan barunya, Tara masih menatap tumpukan uang dan kartu ATM yang kini resmi berada di tangannya. Semakin dipikirkan, semakin terasa besar tanggung jawab itu. Selama ini ia hanya mengatur uang hasil mengajar les yang jumlahnya tidak seberapa. Kalau salah mengelola, paling-paling ia harus menahan diri untuk tidak jajan. Namun sekarang yang ia pegang adalah uang belanja satu keluarga.

1
Inde Hara
Inde Hara
InshaAllah ✓
Inde Hara
🤣🤣🤣🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!