NovelToon NovelToon
Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Gagal Terus, Tapi Makin Suka!

Status: sedang berlangsung
Genre:Anime / Diam-Diam Cinta / Idola sekolah
Popularitas:454
Nilai: 5
Nama Author: HAMZAHikhsan

Raka—sosok cowok yang santai—bersiap memulai lembaran baru di jenjang SMA Negeri Garuda. Awalnya, ia hanya ingin menjalani kehidupan sekolah yang wajar; bergaul, bermain, dan menikmati masa mudanya.

​Namun, ekspektasi santai itu mendadak buyar. Tak disangka, Raka justru bertemu dengan teman-teman yang super jahil, serta Alya—gadis dingin yang ternyata menyimpan masalah yang sangat rumit di balik senyumnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HAMZAHikhsan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17: SANG KAKAK DATANG!

Hari Minggu akhirnya tiba. Harusnya, ini menjadi hari libur nasional yang sakral bagi semua umat manusia untuk beristirahat.

​Tak terkecuali bagi Raka. Di saat ibunya sedang tidak ada di rumah, ia memanfaatkan momen emas ini untuk bersantai sepenuhnya. Dengan posisi selonjoran di sofa, Raka sibuk mengulik ponselnya sembari mengunyah camilan kesukaannya.

​"Wah... mantap. Enak banget begini," gumam Raka menikmati kesendiriannya. "Lihat anime dulu kali ya..."

​Namun, baru saja Raka hendak memiringkan layar ponselnya ke posisi horizontal...

​Knock! Knock!

​Suara ketukan pintu depan mendadak merusak kedamaian harinya.

​"Siapa sih... ganggu kesenangan orang aja," gerutu Raka malas.

​Ia terpaksa beranjak dari sofa dan melangkah berat menghampiri pintu. Tapi begitu gagang pintu diputar dan daun pintu terbuka, bola mata Raka seketika membelalak.

​Di hadapannya, berdiri sosok paling menyebalkan dalam sejarah hidupnya: Reina, kakak perempuannya!

​"Halo! Adikku yang manis!" sapa Reina dengan senyum lebar penuh kemenangan.

​Raka menatap Reina datar selama tiga detik, lalu memutar badannya santai. "Ohh... gak ada orang rupanya. Mungkin cuma perasaan gue aja."

​Cklek.

​Tanpa dosa, Raka menutup kembali pintunya rapat-rapat dan melangkah santai menuju sofa.

​Namun, belum sempat Raka mendaratkan bokongnya, pintu depan mendadak terdorong kuat dari luar. Reina menerobos masuk dengan raut wajah cemberut.

​"Aduh! Kenapa pintunya malah ditutup sih?!" protes Reina mengelus hidungnya.

​Raka menoleh dengan muka polos tanpa rasa bersalah. "Hah? Apa? Oooh... monyet toh ini? Gue kira tadi angin."

​Reina langsung mengerucutkan bibirnya. "Jangan gitu lah! Nanti aku nangis nih!"

​"Eh, eh! Jangan lah! Berisik tahu!" potong Raka cepat, ngeri membayangkan kehebohan yang bakal terjadi.

​Reina seketika tersenyum jahil. "Nah, gitu dong! Jangan sampai kamu lupa sama kakak kesayanganmu ini!"

​"Kesayangan apanya..." gumam Raka memutar bola matanya malas. "Kalau disebut kakak paling menyebalkan, nah itu gue baru setuju."

​Reina mendesah pelan dengan raut wajah dramatis. "Duh... kamu masih teringat kejadian di masa lalu ya? Bukannya Kakak udah minta maaf?"

​Raka menghela napas panjang, malas memperpanjang perdebatan masa lalu. "Haaah... yaudah lah. Terus Kakak mau ngapain ke sini?"

​"Ya... pulang lah! Masa ke rumah sendiri gak boleh?" sahut Reina santai sambil melempar tasnya ke meja.

​"Oh."

​"Cuek banget sih," cibir Reina. Ia kemudian mendudukkan diri di sebelah Raka dan melirik layar ponsel adiknya. "Ngomong-ngomong, kamu lagi nonton anime apa tuh?"

​"Anime isekai," jawab Raka singkat.

​"Gak bosen apa nonton anime isekai mulu?"

​Raka mendengus. "Ya terserah gue lah! Kakak kok malah ngatur-ngatur?"

​Mendengar tanggapan sewot adiknya, menyunggingkan senyum jahil di wajah Reina.

​"Wah... udah berani ngelawan ya sekarang?" goda Reina sambil merenggangkan jemarinya. "Sini Kakak gelitikin sampai ampun-ampun!"

Tanpa aba-aba, jemari Reina langsung bergerak lincah meraba-raba area pinggang dan perut Raka.

​"Aduh! Jangan gitu lah, Kak! Geli, hahahaha!" Raka langsung menggeliat kegelian, berusaha menghindar sambil menahan napas. "Udah, woi! Hahaha... please!"

​Reina menghentikan serangannya sejenak, menatap adiknya dengan tawa puas. "Hahahahaha! Dari dulu ternyata kamu gak berubah ya, masih tetep gelian!"

​"Apalah!" seru Raka sambil mengusap perutnya yang masih berdesir. "Gantian sini!"

​Reina yang paham bahaya langsung pasang posisi siaga. "Ehh... gak mau! Sini kejar kalau bisa!"

​"Sialan! Sini Lo!"

​Tanpa membuang waktu, Raka langsung melompat mengejar Reina. Suasana rumah yang tadinya sunyi seketika berubah riuh. Reina bergerak lincah menghindar dari jangkauan jemari Raka yang berniat membalas dendam, sementara Raka sendiri kewalahan mengejar gerak-gerik kakaknya yang licin bak belut. Rumah sederhana itu mendadak dipenuhi gelak tawa dan aura kebahagiaan—bawaan dari kejahilan Reina yang sukses menyulut kekesalan sekaligus nostalgia bagi sang adik.

​Hingga akhirnya, napas Reina mulai terengah-engah. Tanpa komando, ia langsung menjatuhkan dirinya ke atas karpet lantai.

​"Uhh... udah lah, Dik... Kakak lelah," cetus Reina sambil mengibarkan bendera putih.

​Raka berkacak pinggang, napasnya ikut memburu. "Yaudah, gue juga lelah ngejar."

​Reina memosisikan duduknya lalu menunjuk ke arah dapur. "Minum dulu gih di dapur. Kakak mau lanjutin kerjaan yang belum selesai nih."

​Raka menaikkan sebelah alisnya. "Lah? Gak istirahat aja dulu?"

​Reina tersenyum tipis, sorot matanya mengisyaratkan kelelahan yang disembunyikan. "Gak apa-apa. Ini juga demi keluarga."

​"Tapi—"

​"Ssst! Udah, Kakak mau ke kamar dulu," potong Reina cepat sebelum Raka sempat memprotes lebih jauh. Ia berdiri lalu melangkah menuju kamar.

​Raka menatap punggung kakaknya yang menghilang di balik pintu. Ia mendesah pelan. "Haaa... inilah yang paling gue benci dari Lu, Kak..."

​Raka geleng-geleng kepala, mencoba mengusir suasana canggung. "Ahh, sudahlah. Mending gue lanjut nonton anime isekai tadi."

​Ia kembali mengambil ponselnya di meja dan berbaring santai di sofa. Dalam sekejap, kekesalannya menguap. Raka kembali tertawa terbahak-bahak menikmati keabsurdan tingkah tokoh utama di anime yang ia tonton, sampai-sampai ia lupa waktu.

​Ketika Raka melirik jam dinding, jarum jam sudah menunjukkan pukul empat sore.

​"Wah, gak kerasa... gue nonton sampai jam segitu," gumamnya kaget. "Mandi dulu lah."

​Raka beranjak dari sofa dan berjalan menuju kamarnya untuk mengambil handuk. Namun, begitu kakinya menginjak ambang pintu kamar, benaknya mendadak teringat kembali pada perkataan kakaknya tadi.

​Reina selalu berusaha keras menghidupi keluarga. Bahkan, kakaknya itu sebenarnya ingin menanggung seluruh beban keuangan rumah tangga sendirian. Beruntung, Ibu mereka menolak niat tersebut. Sang Ibu memiliki usaha kebun jeruk yang hasilnya cukup melimpah untuk menghidupi keluarga mereka dengan baik. Tapi tetap saja, melihat kerja keras Reina membuat Raka merasa tersentil.

​"Haaa... mungkin gue harus mulai cari pekerjaan juga ya? Mumpung gue bisa gambar... tapi kayaknya nanti deh, soalnya draf gambar gue masih jelek," gumam Raka pada dirinya sendiri.

​Detik berikutnya, Raka menepuk jidatnya sendiri. "Hahaha! Sial, rasanya aneh banget ngomong sendiri kayak gitu."

​Ia menggelengkan kepala cepat-cepat sambil meraih handuk. "Yaudah lah, daripada banyak bacot mending gue jalan ke kamar mandi. Udah bau banget nih badan gue."

​Begitu melangkah mendekati kamar mandi, Raka tanpa membuang waktu langsung masuk dan memutar kran. Segarnya siraman air dingin membasahi tubuhnya, membuang rasa lengket dan gerah yang menempel seharian. Ia membalur tubuhnya dengan sabun, keramas menggunakan sampo, tak lupa menggosok giginya hingga bersih.

​Begitu selesai dan melilitkan handuk di pinggangnya, Raka keluar dari kamar mandi. Pandangannya langsung bertabrakan dengan sosok wanita paruh baya yang baru saja melangkahkan kaki menembus pintu depan. Ibunya sudah pulang!

​"Loh, Ibu baru pulang?" tanya Raka heran. "Ibu tadi pergi ke mana aja?"

​Ibunya tersenyum tipis sembari meletakkan tas belanjaannya di meja. "Ibu tadi ada kesepakatan sama pembeli hasil panen jeruk, jadi pulangnya agak lama."

​"Ohh..." Raka mengangguk-angguk paham.

​Ibunya terkekeh pelan melihat adiknya yang hanya berbalut handuk. "Ngomongnya udahan dulu. Tuh pakai bajumu dulu sana, nanti masuk angin!"

​"Ohh, oke, Bu!"

​Raka mempercepat langkah kakinya dan langsung melesat menuju kamar pribadi.

​Sesampainya di dalam kamar, ia mengeringkan badan dan segera mengenakan pakaian santainya. Namun, tepat saat Raka selesai mengancingkan baju, sudut matanya menangkap sesuatu di atas tumpukan kardus di pojok ruangan.

​Kardus itu sudah lama berdebu dan nyaris terlupakan. Isinya adalah kumpulan mainan masa kecil Raka saat masih berusia lima tahun. Di selipan kardus tua itu, terselip sebuah bingkai foto jadul yang sudah agak memudar.

​Raka melangkah mendekat, mengusap debu tipis di atas kaca foto tersebut.

​Kenangan masa lalu seketika berputar di benaknya. Di usia lima tahun itu, keluarganya masih utuh dan penuh hangat. Raka teringat betul momen manis sekaligus menyakitkan di hari itu—hari di mana ia berhasil meraih penghargaan Juara 1 lomba menggambar.

​Dengan dada membusung bangga dan senyum lebar, Raka kecil berlari pulang ke rumah untuk menunjukkan piala dan sertifikatnya kepada sang Bapak. Namun, sesampainya di rumah, kebahagiaan itu runtuh seketika. Sang Bapak mendadak terkulai dan harus dilarikan ke rumah sakit secara darurat... dan hari itu menjadi embusan napas terakhir bagi sosok pahlawan dalam hidupnya.

​Raka menatap lekat-lekat senyuman Bapaknya di dalam foto jadul tersebut.

​"Haah... andai saja Bapak masih ada, pasti kualitas gambar Raka gak bakal menurun kayak sekarang..." gumamnya pelan, mengelus permukaan foto dengan jemarinya.

​Raka mendesah halus, lalu mengumbar senyum tipis yang tegar. "Tapi yaudahlah... yang penting gue udah berusaha."

​Ia meletakkan kembali bingkai foto itu ke dalam kardus dengan hati-hati. Cahaya matahari sore yang berwarna jingga keemasan mengintip dari balik celah tirai jendela, menyinari debu-debu tipis yang menari di udara kamarnya.

 Suasana rumah yang tadinya riuh oleh suara tawa dan kejahilan Reina, kini membaur dalam keheningan senja yang damai. Raka menarik napas panjang, meresapi kehangatan masa lalunya, sebelum akhirnya menutup kardus tua itu dan melangkah menyambut hari esok.

1
☕︎⃝❥kinataa💤
tmpt incaran semua kaum. jarang bngt tmpt pojok itu kosong. meski cuma telat 5 menit masuk kelas, pasti udh di tandai org duluan🗿🗿
☕︎⃝❥kinataa💤
jgn ya gess ya, itu bukan buat adick² kelas 10, oke?! tidak baiq/Smile/
☕︎⃝❥kinataa💤
halah, takdir matamu. othornya sja itu nyari sensasi/Scream/
Zyren Vale: wkwkw, makasih udah mampir 🥰
total 1 replies
☕︎⃝❥kinataa💤
capslok aja, biar puas maknya jerit/Curse//Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!