Tidak ada perempuan yang bermimpi menikahi suami kakaknya sendiri.
Namun itulah takdir yang harus diterima Aisyah.
Demi mempertahankan garis keturunan keluarga Adhitama, ayahnya memaksa Aisyah menggantikan sang kakak, Salsa, yang divonis mandul untuk memberi penerus kepada keluarga Adhitama. Semua orang menganggap itu adalah jalan keluar terbaik.
Tidak ada yang pernah bertanya apakah Aisyah menginginkannya. Aisyah memasuki pernikahan dengan harapan sederhana. Meski menjadi istri kedua, ia percaya waktu akan melahirkan kasih sayang. Namun semua harapannya hancur pada malam pertama.
Di hadapan perempuan yang baru saja sah menjadi istrinya, Ammar Adhitama mengucapkan kalimat yang merobek harga dirinya.
"Aku menikahimu hanya untuk memenuhi keinginan keluargaku. Hatiku hanya milik Salsa. Jangan pernah berharap aku akan mencintaimu apalagi menyentuhmu. Mulai malam ini, kau hanya akan menjadi istri di atas kertas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12
Suasana terasa semakin hening. Ammar tersenyum getir.
"Lucu sekali, bukan? Orang yang paling Papa sakiti, justru orang yang paling menjaga kehormatan Papa."
Kalimat itu membuat Ratih perlahan menundukkan kepalanya. Bahkan untuk pertama kalinya, wajah Pak Wira tampak sedikit berubah. Namun hanya sesaat, tak lama kemudian raut wajahnya kembali datar.
"Itu memang seharusnya dia lakukan." Jawaban itu membuat Ammar mematung. "Karena dia menantu keluarga Adhitama."
Ammar mengembuskan napas panjang.
"Papa masih belum mengerti."
"Tidak." Pak Wira menggeleng. "Justru kamu yang tidak mengerti keinginan papa." Pria paruh baya itu melangkah perlahan mendekati putranya. "Papa bukan sedang membenci Salsa."
"Kalau begitu apa?"
"Papa sedang memikirkan masa depan keluarga ini." Pak Wira menatap Ammar tanpa berkedip. "Kamu anak satu-satunya di keluarga ini, Ammar. Kamu pewaris seluruh aset keluarga Adhitama. Kalau nanti Papa meninggal, siapa yang akan meneruskan semuanya?"
Ammar langsung menjawab.
"Itu urusan nanti."
"Justru karena nanti, Papa harus memikirkannya dari sekarang." Pak Wira menghela napas panjang. "Kamu hanya melihat dari sudut pandang suami. Sedangkan Papa..." Pria itu menepuk dadanya sendiri. "Harus melihat dari sudut pandang kepala keluarga."
Ammar menggeleng.
"Jadi demi seorang pewaris," Ia tertawa pahit.
"Papa rela menghancurkan hati seorang istri?"
Pak Wira menatap Salsa. Beberapa detik kemudian ia berkata dengan nada yang jauh lebih tenang.
"Salsa perempuan yang baik." Salsa mengangkat wajahnya perlahan. "Papa yakin,"
Pak Wira kembali berkata. "Dia pasti bisa mengerti apa yang Papa rasakan."
Ammar mengernyit.
"Mengerti?"
"Iya." Pak Wira mengangguk mantap. "Karena rasa sakit kehilangan kesempatan menjadi ibu, tak akan jauh berbeda dengan rasa sakit seorang ayah yang melihat garis keturunannya berhenti."
Kalimat itu membuat Ammar benar-benar kehilangan kata-kata. Ia menatap ayahnya sangat lama seolah berharap masih ada sedikit belas kasih di dalam hati laki-laki yang berdiri di hadapannya. Namun, Ia tidak menemukannya. Yang ia lihat hanya keyakinan keras tentang nama besar keluarga yang perlahan membuat Ammar menggeleng.
Senyumnya tipis namun penuh luka.
"Ammar benar-benar tidak menyangka."
Pak Wira mengangkat alisnya.
"Apa?"
Ammar menatap tepat ke dalam mata ayahnya.
"Karena papa masih tetap tidak punya hati."
Ruang keluarga itu mendadak sunyi, membuat Ratih langsung memejamkan matanya.
"Ammar."
Namun Ammar tidak lagi memedulikannya.
"Papa selalu mengajarkan Ammar tentang kehormatan. Tentang harga diri, tentang menjaga perempuan. Tapi hari ini," Suara Ammar mulai serak. "Papa sendiri yang menginjak semua ajaran itu."
Pak Wira mengepalkan rahangnya.
"Sudah selesai ngomongnya?"
Ammar mengangguk pelan.
"Iya. Karena Ammar sadar," Ia tersenyum pahit. "Sekeras apapun Ammar bicara dan membuat papa mengerti, tidak akan mengubah hati Papa."
Keheningan kembali turun. Tak ada seorang pun yang berani membuka suara hingga perlahan Salsa melangkah mendekati Ammar.
Tangannya yang dingin menggenggam jemari suaminya.
"Mas."
Ammar menoleh dan membuat tatapan mereka bertemu. Salsa menangis lagi. Tangis yang sejak tadi berusaha ia tahan akhirnya kembali pecah.
"Mas..." Ia menggenggam tangan Ammar semakin erat. "Sudah hentikan." Kalimat sederhana itu membuat Ammar membeku sementara Salsa menundukkan wajahnya.
"Aku capek terus melihat keluarga kita bertengkar. Aku capek melihat Mas bertengkar dengan Papa. Aku capek melihat rumah ini setiap hari dipenuhi keributan." Ia menarik napas panjang yang terasa berat.
"Aku cuma ingin hidup tenang." Air matanya kembali jatuh. "Cuma itu." Salsa mengangkat wajahnya. Tatapannya terlihat penuh permohonan.
"Aku ingin hidup tenang bersamamu. Aku ingin kita berhenti saling menyakiti. Aku ingin Papa berhenti memaksamu. Aku ingin semua ini selesai." Tangan Salsa bergetar hebat. "Mas." Suaranya nyaris hilang. "Tolong Terima permintaanku."
Ammar mematung dan merasa dunia seolah berhenti berputar ketika ia melihat perempuan yang paling ia cintai. perempuan yang selama ini selalu meminta hal-hal sederhana. Tak pernah meminta perhiasan mahal, tak pernah meminta rumah mewah, tak pernah meminta apa pun. Namun hari ini, perempuan itu meminta sesuatu yang justru menghancurkan hatinya sendiri. Dan ironisnya itu juga menghancurkan hati Ammar. Perlahan Ammar memejamkan kedua matanya. Napasnya panjang, di dalam kepalanya berputar semua kenangan bersama Salsa.
Hari pernikahan mereka. Tangis bahagia Salsa saat melihat suaminya selesai mengucapkan ijab qobul, Janji yang pernah ia ucapkan untuk menjaga perempuan itu seumur hidup. Lalu kini, ia justru diminta menikahi perempuan lain. Bahkan perempuan itu adalah adik kandung istrinya sendiri. Rasanya begitu tidak masuk akal. Namun, Ia juga melihat wajah Salsa. Wajah yang sudah terlalu lelah. Wajah yang seolah kehilangan semangat hidup.
Ammar sadar, Kalau ia terus menolak, peperangan ini tidak akan pernah selesai dan yang paling menderita tetaplah Salsa. Perlahan, Ammar membuka matanya. Tatapannya kosong seolah baru saja kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Ia menggenggam tangan Salsa dengan lembut lalu mengangguk sangat pelan.
"Baik."
Hanya satu kata namun cukup membuat seluruh ruangan terdiam sementara Salsa membelalakkan matanya.
"Mas?"
Ammar tersenyum tipis. Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan kebahagiaan.
"Aku akan melakukannya. Aku akan menikahi Aisyah." Air mata kembali menggenang di pelupuk matanya. "Bukan karena Papa." Tatapannya beralih kepada Pak Wira.
"Bukan juga karena keluarga Adhitama." Lalu ia kembali memandang Salsa. "Tapi karena kamu." Suara Ammar mulai bergetar. "Mas tidak tahan melihatmu terus menangis seperti ini." Ia mengusap pelan air mata di pipi istrinya. "Kalau ini benar-benar bisa membuat hidupmu lebih tenang," Ammar menelan ludah. "Maka aku akan menikahi Aisyah."
Kalimat itu meluncur begitu pelan namun rasanya seperti vonis yang menghancurkan tiga hati sekaligus. Hati Ammar, hati Salsa dan tanpa mereka sadari, jauh di tempat lain, ada hati Aisyah yang juga perlahan sedang bersiap memasuki takdir yang sama menyakitkannya. Keheningan memenuhi ruang keluarga kediaman Adhitama. Tak ada lagi suara perdebatan. Tak ada lagi bentakan ataupun sanggahan, hanya napas-napas berat yang memenuhi ruangan setelah Ammar mengucapkan satu kalimat yang mengubah segalanya.
"Aku akan menikahi Aisyah."
Kalimat itu masih menggantung di udara. Pak Wira yang sejak tadi berdiri dengan wajah tegang perlahan mengembuskan napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak pembicaraan itu dimulai, gurat ketegangan di wajah pria paruh baya tersebut sedikit mengendur. Rahangnya yang sejak tadi mengeras mulai melemas.
"Syukurlah."
Hanya satu kata itu yang keluar dari bibirnya.
Ratih yang berdiri di samping suaminya juga menundukkan kepalanya. Entah merasa lega atau justru sedih, bahkan ia sendiri tidak mampu membedakannya. Pak Wira kemudian melangkah mendekati Ammar.
"Nanti malam." Ammar sama sekali tidak mengangkat wajahnya. "Kita akan datang ke rumah orang tua Salsa." Baru kali itu Ammar menoleh perlahan. Pak Wira melanjutkan ucapannya tanpa sedikit pun mengubah nada bicaranya. "Kita akan membicarakan pernikahanmu dengan Aisyah secara resmi."