NovelToon NovelToon
Cerpen Misteri Dan Horor

Cerpen Misteri Dan Horor

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu
Popularitas:85
Nilai: 5
Nama Author: yani 11

cerita pendek misteri dan horor

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24_Shif malam.

Hujan turun begitu deras sejak sore.

Petir menyambar langit tanpa henti, menerangi bangunan tua yang berdiri di pinggir kota.

Rumah Sakit Harapan Sejahtera.

Rumah sakit itu masih beroperasi, tetapi hanya satu lantai yang digunakan. Tiga lantai di atasnya sudah ditutup sejak kebakaran misterius sepuluh tahun lalu.

Konon...

Semua perawat yang mendapat shif malam selalu mendengar suara bel pasien dari lantai empat.

Padahal...Lantai itu sudah lama kosong.

Malam itu...

Laras, seorang perawat baru, mendapat jadwal shif malam pertamanya. Ia datang dengan senyum gugup.

"Permisi... saya Laras, perawat baru." ucap Laras pelan. Wajahnya tampak gugup, bibirnya tersenyum tipis, sementara kedua tangannya saling menggenggam menahan rasa cemas.

Perawat senior bernama Maya menoleh.

"Kamu benar-benar mau mengambil shif malam?" tanya Maya serius, alisnya berkerut dalam, sementara sorot matanya dipenuhi kekhawatiran.

"Iya, Kak. Memangnya kenapa?" jawab Laras dipenuhi rasa penasaran, kepalanya sedikit miring, sementara matanya terus menatap Maya.

Maya menarik napas panjang.

"Kalau nanti jam dua belas malam...Jangan pernah naik ke lantai empat." ucap Maya lirih. Wajahnya mendadak pucat, bibirnya bergetar pelan, sementara matanya terlihat menyimpan ketakutan yang mendalam.

Laras tertawa kecil.

"Ah... paling cuma cerita orang-orang." katanya. Wajahnya memperlihatkan senyum canggung, tetapi di balik senyum itu tampak sedikit rasa tidak yakin.

Maya langsung menggenggam tangan Laras.

"Dengar aku..." ucap Maya dengan suara berbisik.

"Kalau mendengar bel pasien..." lanjutnya lirih.

"Jangan dijawab." tegasnya.

"Kalau ada yang memanggil namamu..." bisik nya kembali.

"Jangan menoleh." ucapnya dengan suara bergetar.

"Dan..." katanya pelan. Ia menarik napas pelan.

"Kalau melihat pasien memakai baju putih penuh darah..." ucap Maya lirih, matanya membesar.

"Jangan pernah tatap wajahnya." ucap Maya dengan suara berbisik. Wajahnya sangat tegang, matanya membelalak lebar, sementara napasnya terdengar memburu seperti mengingat sesuatu yang mengerikan.

Laras menelan ludah.

"Memangnya... pernah ada yang melihat?" tanyanya lirih. Wajahnya mulai kehilangan warna, bibirnya mengering, sementara matanya dipenuhi rasa takut.

Maya hanya berbisik.

"Semua yang melihat..."ucap nya tertahan. "Tidak pernah bekerja di sini lagi." ucapnya pelan. Wajahnya kosong tanpa ekspresi, tetapi matanya berkaca-kaca seolah menyimpan trauma yang belum hilang.

Tepat pukul...

00.00

Seluruh lorong rumah sakit menjadi sunyi. Hanya suara hujan yang terdengar.

Tiba-tiba...

Ting...

Bel pasien berbunyi. Laras melihat monitor. Kamar 404. Ia mengernyit.

"Lho? Bukannya lantai empat ditutup?" gumamnya. Wajahnya dipenuhi kebingungan, alisnya bertaut rapat, sementara matanya terus menatap layar monitor.

Bel itu berbunyi lagi.

Ting... Ting... Ting...

Telepon di meja perawat tiba-tiba berdering. Laras mengangkatnya.

"Halo?"

Tak ada jawaban. Hanya terdengar suara perempuan menangis.

"Hiks..."

"Hiks..."

"Laras..Tolong aku..." bisik suara itu. Wajah Laras langsung memucat, matanya membelalak lebar, sementara tangannya mulai gemetar hebat memegang gagang telepon.

Klik.

Sambungan terputus.

Satpam bernama Pak Herman datang.

"Kenapa, Mbak?" tanyanya. Wajahnya tampak heran, tetapi sorot matanya mulai waspada melihat Laras yang ketakutan.

"Ada telepon dari lantai empat..." jawab Laras. Wajahnya pucat pasi, bibirnya bergetar, sementara napasnya terdengar tidak beraturan.

Pak Herman langsung diam.

"Lantai empat...Tidak punya sambungan telepon." ucapnya pelan. Wajahnya berubah tegang, matanya membesar, sementara keringat dingin mulai mengalir di dahinya.

Bel kembali berbunyi.

TING...

TING...

TING...

Pak Herman menatap monitor. Nomor kamar itu terus berkedip.

"Ayo kita cek CCTV." kata Pak Herman. Wajahnya terlihat tegas, meski kedua matanya menyimpan rasa takut yang sulit disembunyikan.

Mereka masuk ke ruang keamanan. Petugas CCTV memutar kamera lantai empat. Lorong itu gelap. Kosong.

Tiba-tiba...

Seorang wanita berambut panjang berjalan perlahan.

Gaunnya putih. Seluruh tubuhnya dipenuhi darah. Ia berhenti tepat di depan kamera.

Lalu...Mengangkat wajahnya. Matanya hitam pekat.Mulutnya robek sampai ke telinga.

Lalu...Ia tersenyum.

Laras menjerit.

"Ya Tuhan! Itu siapa?!" teriak Laras. Wajahnya dipenuhi teror, matanya membelalak hingga hampir keluar, sementara tubuhnya gemetar hebat.

Petugas CCTV ikut mundur.

"Itu...Mustahil..." gumamnya. Wajahnya memucat seperti mayat, bibirnya bergetar hebat, sementara kakinya mulai lemas.

Tiba-tiba...Wanita di layar berkata pelan.

"Aku...Sedang...Melihat...Kalian..." ucapnya lirih. Senyumnya melebar secara tidak wajar, sementara kedua matanya menatap lurus ke arah kamera dengan tatapan yang membuat bulu kuduk berdiri.

Semua orang langsung menoleh ke monitor lain.

Wanita itu...sudah tidak ada.

Tok...

Tok...

Tok...

Suara ketukan terdengar dari pintu ruang CCTV.

Pak Herman berteriak.

"Siapa di luar?!" ucapnya lantang. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras, sementara tangannya menggenggam tongkat dengan erat.

Tidak ada jawaban.

Ketukan kembali terdengar. Lebih keras.

DUK!!

DUK!!

DUK!!

Lalu...Terdengar suara perempuan.

"Pak Herman...Buka pintunya...Aku kedinginan..." bisiknya pelan. Suaranya lirih, tetapi terdengar sangat dekat seolah berasal tepat di balik daun pintu.

Pak Herman langsung membeku.

"Itu...Itu suara istriku..." bisiknya. Wajahnya dipenuhi keterkejutan, matanya berkaca-kaca, sementara seluruh tubuhnya bergetar hebat.

Laras menatapnya.

"Bukankah...Istri Bapak sudah meninggal lima tahun lalu?" tanyanya dengan suara tercekat. Wajahnya semakin pucat, bibirnya bergetar, sementara napasnya terasa sesak.

Pak Herman perlahan menangis.

"Iya...Itu bukan istriku..."ucapnya lirih. Air matanya mengalir deras, wajahnya dipenuhi rasa ngeri dan putus asa.

Tiba-tiba...Pintu terbuka sendiri.

KREEEKKK...

Tak ada siapa-siapa.

Namun...Lantai di depan pintu dipenuhi jejak kaki berdarah.

Jejak itu...Masuk ke dalam ruangan.

Satu...

Dua...

Tiga...

Hingga berhenti...Tepat di belakang Laras.

Pak Herman menatap ke arah belakang Laras dengan wajah penuh kengerian.

"Laras...Jangan bergerak..." bisiknya pelan. Wajahnya pucat membiru, matanya membelalak, sementara napasnya tertahan karena ketakutan luar biasa.

"Ada...Seseorang...Berdiri..Di belakangmu..." ucapnya dengan suara bergetar. Keringat dingin mengucur deras di wajahnya, sementara seluruh tubuhnya gemetar hebat.

Laras meneteskan air mata.

"Apa...Yang harus kulakukan?" bisiknya lirih. Wajahnya dipenuhi kepanikan, bibirnya bergetar hebat, sementara kedua matanya mulai berkaca-kaca.

Terdengar bisikan tepat di telinganya.

"Jangan...Pernah...Mengambil...Shif...Malam."Suara itu diikuti tawa melengking yang menggema ke seluruh rumah sakit.

HIIII... HII... HII... HII...

Keesokan paginya...

Ruang CCTV kosong. Pak Herman ditemukan pingsan.

Namun...Laras...Menghilang tanpa jejak. Yang tersisa hanyalah kartu identitasnya di depan pintu lift menuju lantai empat.

Sejak malam itu...

Setiap perawat baru yang mendapat shif malam selalu mendengar suara seorang wanita berbisik dari lorong gelap.

"Aku sendirian..."

"Tolong..."

"Temani aku..."

Dan anehnya...Suara itu selalu terdengar menggunakan suara Laras.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!