Di sudut tergelap Distrik Kumuh Oakhaven, Ren bertahan hidup sebagai pelayan di sebuah rumah bordil sekaligus tempat penampungan anak-anak telantar. Di balik fisiknya yang tampak biasa dan otaknya yang encer, Ren menyembunyikan kutukan sekaligus berkah: ia adalah keturunan Vampir terakhir yang murni, terpaksa menahan dahaga darah agar tidak memicu kecurigaan Gereja Suci.
Dunia Ren runtuh ketika sekelompok Ksatria Suci berzirah perak—yang seharusnya menjadi simbol kehormatan—membantai tempat tinggalnya demi menutupi skandal korupsi ordonya. Di ambang kematian, Ren merangkak ke ruang bawah tanah rahasia dan menemukan Crimson, roh pedang kuno yang haus darah. Demi membalaskan dendam dan mengubah takdirnya, Ren memulai jalannya sebagai Sword Master yang tidak biasa: memadukan teknik pedang legendaris dengan kekuatan darah yang terlarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EAGLE EZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.altar jiwa
Gerimis mulai turun, membasahi bebatuan hitam di kompleks Reruntuhan Kuno Gorgona. Di tengah reruntuhan berbentuk lingkaran mirip colosseum kuno, sebuah altar batu berdiri dengan pilar-pilar yang dipenuhi ukiran simbol kelelawar dan untaian rantai besi.
Di atas altar tersebut, sebuah wadah cawan emas kuno memancarkan pendaran cahaya merah pekat yang berdenyut, memuntahkan kabut darah tipis ke udara.
Komandan Kaelen Vance berdiri di depan altar. Jubah putihnya yang biasa bersih kini ternoda oleh simbol-simbol sihir suci yang dipaksakan untuk bersanding dengan energi darah. Di sekelilingnya, lima ksatria elit Ordo Perak berjaga dengan tingkat kewaspadaan penuh.
"Akhirnya..." Kaelen menggumam, matanya yang biasa dingin kini memancarkan ambisi gila. Ia mengulurkan tangannya yang terbungkus sarung tangan besi ke arah cawan. "Dengan esensi darah murni yang dikumpulkan dari distrik kumuh kemarin, artefak ini akhirnya aktif. Ordo Perak akan memiliki kekuatan yang melampaui Kaisar sendiri."
"Sayang sekali, ambisimu harus berhenti di sini, Komandan."
Sebuah suara memotong keheningan malam, bergema di antara pilar-pilar batu.
Kaelen berbalik perlahan. Dari balik kabut merah, dua sosok berjalan maju. Lyra berada di sisi kiri dengan pisau belatinya yang sudah terhunus, sementara di tengah, Ren melangkah dengan jubah hitam yang berkibar. Di tangan kanannya, pedang Crimson sudah bermanifestasi sepenuhnya—bilahnya menyala merah pekat, melepaskan uap panas yang melelehkan rintik hujan sebelum menyentuh besinya.
Kaelen menyipitkan mata, menatap Ren dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Murid akademi? Tidak... hawa membunuhmu terlalu pekat. Potongan gaya bertarung di gua tadi... Kau tikus parit dari Oakhaven yang lolos malam itu."
"Tikus parit?" Ren berhenti sepuluh langkah di depan Kaelen. Ia menurunkan tudung jubahnya, memperlihatkan rambut perak abu-abunya yang basah oleh hujan, dan sepasang mata crimson yang menyala seutuhnya. *Smug* dingin nan berbahaya terukir di wajah tampannya. "Aku adalah hantu dari orang-orang yang kau bantai tanpa kehormatan, Kaelen Vance."
**"Hahaha! Sudah kubilang, Ren! Bajingan ini bahkan tidak menyesali perbuatannya!"** Crimson berteriak girang di kepala Ren. **"Malam ini, kita minum sampai puas!"**
"Sombong sekali," Kaelen mendengus. Ia menarik pedang sucinya dari sarung. Bilah pedang itu seketika dilapisi oleh *Mana Breath* elemen cahaya yang menyilaukan. "Ksatria! Habisi mereka!"
### Bentrokan Dua Kekuatan
Tiga ksatria elit Ordo Perak langsung melesat maju, membentuk formasi trisula untuk menusuk Ren dari tiga titik vital.
"Biar aku yang urus pengawalnya, Ren! Fokus pada Kaelen!" teriak Lyra. Gadis itu melemparkan bom asap dunia bawah, lalu menghilang ke dalam bayangan untuk menyergap salah satu ksatria dari belakang.
Ren tidak bergeming. Saat dua ksatria lainnya mendekat dengan tebasan cahaya yang membelah malam, Ren mengaktifkan *Blood Circulation* ke batas maksimal. Jantungnya berdenyut bagai genderang perang.
*Dug!*
Dunia di sekitar Ren melambat. Menggunakan bentuk pertama dari *Blood-Forged Style: Crimson Flash*, Ren melangkah maju menembus celah di antara kedua pedang suci lawan. Gerakannya begitu cepat hingga meninggalkan bayangan merah.
*SLAAASH!*
Tanpa sempat menyadari apa yang terjadi, kedua ksatria elit itu membeku. Detik berikutnya, pelindung leher zirah perak mereka terlepas, diikuti oleh semburan darah yang langsung tersedot masuk ke dalam bilah pedang Crimson. Mereka ambruk seketika.
Melihat dua anak buah terbaiknya tewas dalam satu kedipan mata, ekspresi tenang Kaelen Vance akhirnya runtuh. "Sihir darah?! Kau... kau adalah monster taring panjang yang tersisa!"
"Aku adalah akhir dari kehormatan palsumu," jawab Ren datar.
*BOOOM!*
Kaelen melompat dari atas altar, menghujamkan pedangnya ke arah Ren dengan seluruh kekuatan *Mana Breath* tingkat tinggi. Benturan antara pedang suci berelemen cahaya dan pedang darah Crimson menciptakan ledakan energi yang menghancurkan lantai batu di bawah mereka.
Ren menahan hantaman itu dengan satu tangan, sementara tangan kirinya menopang punggung bilah Crimson. Kekuatan fisik vampirnya beradu langsung dengan Mana murni Kaelen. Percikan cahaya suci dan kabut darah saling mengikis, mengeluarkan suara mendesis yang memekakkan telinga.
"Mati kau, monster!" Kaelen berteriak, memutar pedangnya untuk mengincar leher Ren.
Namun, kecerdasan Ren jauh di atas Kaelen. Di tengah benturan jarak dekat itu, Ren sengaja melonggarkan genggamannya pada Crimson, membiarkan pedang Kaelen meleset melewati bahunya dan menggores zirahnya hingga robek. Sebagai gantinya, Ren melepaskan satu pukulan telak bermuatan energi darah murni tepat ke arah dada Kaelen.
*KREEEKK!*
Pelindung dada zirah perak milik Kaelen retak seribu. Komandan Ordo Perak itu terlempar ke belakang, terbatuk darah, dan menghantam pilar altar hingga hancur.
Kaelen berusaha bangkit dengan bertumpu pada pedangnya, napasnya memburu, jubah putihnya kini kotor oleh debu dan darahnya sendiri. Ia menatap Ren yang berjalan mendekat dengan langkah santai tanpa luka berarti, karena goresan di bahu Ren sudah menutup kembali berkat regenerasi instan vampir.
Ren mengacungkan ujung pedang Crimson yang berlumuran darah tepat di depan wajah Kaelen yang kini dipenuhi rasa takut. Satu mata merah Ren berkilat intens, memancarkan aura streaks energi yang tajam di kegelapan malam.