NovelToon NovelToon
Cegil Andara: Mencintai Kakak Angkatku

Cegil Andara: Mencintai Kakak Angkatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Abi, tolong lamarin Kak Kafa untuk aku."
"Dara, kamu sadar gak kalau kamu itu perempuan?"
"Sadar, kenapa memang?"
"Ya mana ada perempuan yang meminta ayahnya untuk melamar seorang laki-laki untuk dirinya sendiri seberani itu?"
"Ada, dan itu aku."

***

"Kak Kafa, nikah yuk!"
"Kamu belum capek?"
"Tidak akan pernah capek."

Andara (20) si gadis cegil yang selalu terang-terangan mengatakan bahwa ia mencintai Kafa (30). Ia tidak akan berhenti sampai mendapatkan cinta sang Kakak.
Kafa adalah anak angkat dari Azzam dan Aira, orang tua kandung Andara.
Apakah Andara bisa mendapatkan hati dan cinta Kafa?
Awalnya tidak, namun takdir memihak Dara.

***

"Abi, aku akan menikahi Andara. Aku akan menyembuhkan segala traumanya."
Baca terus kisah mereka... Novel ini spin off dari buku 'Penawar Luka Aira'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lamaran Kafa

"Soalnya besok saya sama Kafa lamaran. Jadi masih banyak yang harus disiapkan."

Deg!

Senyum Andara tetap terpasang. Namun dadanya kembali terasa sesak.;Ucapan itu seperti mengingatkannya sekali lagi bahwa laki-laki yang telah ia cintai selama sepuluh tahun benar-benar akan menjadi milik orang lain.

Meski begitu, Andara tetap tersenyum tulus. "Masya Allah. Selamat ya, Bu. Semoga acara lamarannya besok lancar. Dan semoga Allah mudahkan sampai hari pernikahan."

Giska tersenyum hangat. "Aamiin. Terima kasih ya, Andara."

Sementara itu, Kafa sama sekali tidak menyentuh minuman di hadapannya. Tatapannya diam-diam tertuju pada Andara. Ia ingin melihat bagaimana reaksi gadis itu.

Namun yang ia lihat hanyalah senyum. Senyum yang begitu tenang. Padahal entah mengapa, justru senyum itulah yang paling membuat dadanya terasa sesak.

"Yaudah, Bu. Kami duduk dulu ya."

"Iya, silakan."

Andara mengangguk kecil, lalu menoleh ke arah Tristan. "Ayo, Kak Tristan."

"Oh, iya."

Mereka pun berjalan menuju meja yang telah disiapkan pelayan. Setelah semua duduk, masing-masing mulai melihat buku menu. Tak lama kemudian, pelayan datang mencatat pesanan mereka.

Usai memesan makanan, Nuha langsung memajukan tubuhnya sedikit ke arah Andara. Dengan suara pelan agar tidak terdengar meja sebelah, ia berbisik,

"Dar... Ini seriusan? Kak Kafa besok lamaran sama Bu Giska?"

Zuleykha ikut menatap Andara. "Iya, Dar. Kok lo nggak pernah cerita sih?"

Andara hanya tersenyum kecil. "Ssst... Sekarang kan kalian udah tau jadi ya udah."

Jawabannya justru membuat kedua sahabatnya saling berpandangan.

Nuha kembali berbisik, "Terus lo gimana, Dar?"

Andara mengangkat alis. "Gimana apanya?"

"Ya... hati lo."

Andara terdiam sesaat. Lalu ia mengembuskan napas pelan.

"Masih sakit. Tapi gue lagi belajar ikhlas. Kalau memang bukan jodoh gue, mau dipertahanin sekuat apa pun juga tetap nggak akan jadi milik gue."

Mendengar itu, Zuleykha langsung menggenggam tangan sahabatnya di bawah meja. Nuha pun ikut mengusap pelan punggung tangan Andara.

"Jangan sedih ya."

Andara tersenyum tipis. "Udah, gue baik-baik aja. Jangan bahas beginian terus. Nggak enak, di depan kita ada tiga laki-laki."

Ucapan itu membuat Nuha dan Zuleykha refleks melirik ke depan. Benar saja. Di hadapan mereka duduk Tristan, sementara Sam dan Doni berada di meja sebelah sambil menikmati kopi dan tetap mengawasi keadaan.

"Hehe iya juga ya," gumam Nuha pelan.

Sementara itu... Tristan yang sedang bermain dengan ponselnya juga ikut mendengar meski samar.

"Kak Kafa... Lamaran..."

"Masih sakit... Belajar ikhlas..."

Alisnya berkerut tipis. Ia memang tidak mendengar semuanya. Namun cukup untuk membuatnya bertanya-tanya.

"Kenapa teman-teman Andara membicarakan Kafa seperti itu? Dan kenapa mereka menanyakan keadaan hati Andara setelah mendengar kabar lamaran Kafa?"

Perlahan sebuah dugaan muncul di benaknya. "Apa mungkin.. Andara menyukai Kafa?"

Tristan segera menggeleng pelan. "Aneh... Bukankah Kafa kakaknya?"

Ia tidak ingin berspekulasi terlalu jauh. Namun rasa penasarannya mulai tumbuh. Begitu nanti kembali, ia memutuskan akan meminta Max mencari informasi mengenai hubungan sebenarnya antara Kafa dan Andara.

Karena firasatnya mengatakan hubungan keduanya tidak sesederhana yang terlihat di permukaan.

***

Beberapa menit kemudian, makanan mereka pun habis. Andara menyandarkan punggungnya ke kursi sambil mengusap perutnya.

"Alhamdulillah kenyang."

Nuha ikut mengangguk. "Fix. Seblak lain kali aja."

Di meja sebelah, Kafa dan Giska juga baru saja menyelesaikan makan malam mereka.

Giska berdiri lebih dulu. "Kalau begitu, kami pamit dulu ya."

"Iya, Bu. Hati-hati."

Andara tersenyum sopan. "Semoga besok acaranya lancar ya, Bu."

"Aamiin. Terima kasih, Andara."

Kafa hanya mengangguk kecil ke arah Andara. "Hati-hati di jalan."

"Iya, Kak."

Tak lama kemudian, Kafa dan Giska meninggalkan restoran.

Melihat mereka sudah pergi, Zuleykha ikut berdiri. "Pulang yuk!"

"Ayo."

Andara lalu menoleh. "Kalian tadi ke sini naik apa?"

"Taksi, Dar," jawab Nuha.

"Oh, oke. Kalau gitu hati-hati ya."

"Iya."

Zuleykha memeluk Andara sebentar. "Jangan lupa kabarin kalau udah sampai rumah."

"Siap."

Nuha ikut melambaikan tangan. "Bye, Dara."

"Bye."

Mereka pun berpisah. Kini yang tersisa hanya Andara, Tristan, serta Sam dan Doni yang berdiri tak jauh dari mereka.

Tristan tersenyum kecil. "Asyik juga ya teman-teman kamu."

Andara mengangguk bangga. "Iya dong. Mereka udah kayak keluarga buat aku."

Lalu senyum jahil muncul di wajahnya. "Kenapa? Kak Tristan naksir salah satu di antara mereka?"

Tristan tertawa pelan. "Tidak."

"Lalu?" Andara mengangkat sebelah alis.

Tristan menatapnya beberapa detik. Kalimat berikutnya keluar begitu saja. "Kalau yang saya sukai kamu, bagaimana?"

"Eh?" Mata Andara langsung membulat.

Wajahnya berubah kaku. Beberapa detik ia hanya menatap Tristan tanpa berkedip.

Lalu...

"Hahaha!" Andara tertawa canggung. "Kak Tristan lucu banget. Bisa aja bercandanya."

Namun Tristan tidak ikut tertawa. Tatapannya tetap tenang mengarah pada Andara. "Saya tidak sedang bercanda."

Senyum di wajah Andara perlahan memudar. Jantungnya kembali berdetak lebih cepat.

Ia tidak menyangka ucapan yang awalnya ia kira hanya candaan. Ternyata diucapkan Tristan dengan wajah yang begitu serius.

Melihat wajah Andara yang mendadak membeku, Tristan justru tertawa kecil.

"Haha... Jangan dipikirkan."

Andara masih menatapnya dengan bingung. "Hm?"

"Saya hanya bercanda. Saya hanya senang berteman dengan gadis yang ceria dan pemberani seperti kamu."

Andara mengernyitkan dahinya. "Pemberani?"

"Iya berani melawan dua preman pada malam itu."

Mendengar kata itu, bayangan tentang batu yang dilempar ke jendela kamarnya beserta secarik kertas berisi ancaman tiba-tiba kembali terlintas di benaknya.

"Kamu gadis yang berani... dan itu membuatku marah."

Jantungnya sempat berdegup lebih cepat.

Namun ia segera menggeleng pelan dalam hati.

"Apa sih, Andara. Kenapa malah nyambungin ucapan Kak Tristan sama surat ancaman itu? Jangan berpikiran aneh-aneh."

Ia pun mengembuskan napas pelan, berusaha mengusir bayangan tersebut.

"Oh iya. Harus berani dong, Kak. Walaupun sebenarnya waktu itu aku juga takut."

Andara tersenyum kecil. "Untung Kak Tristan datang tepat waktu. Kalau enggak, mungkin ceritanya bakal beda."

Tristan menggeleng pelan. "Yang terpenting sekarang kamu baik-baik saja."

Andara mengangguk. "Iya. Alhamdulillah."

***

Azzam dan Aira baru saja mendapat kabar bahwa acara lamaran Kafa dimajukan menjadi besok malam. Orang tua Giska ternyata sudah lebih dulu kembali ke Indonesia.

Sejak mengetahui bahwa Kafa adalah putra keluarga Malik, mereka langsung menyetujui lamaran tersebut tanpa banyak pertimbangan. Siapa yang akan menolak berbesanan dengan keluarga Malik?

Meski begitu, selama ini banyak orang mengira putra keluarga Malik hanyalah Azra, karena kini dialah yang memimpin perusahaan. Tidak banyak yang mengetahui bahwa Kafa juga merupakan putra Azzam.

Di ruang keluarga, Aira mengembuskan napas pelan.

"Mas... Besok kita harus ngomong apa sama Dara?"

Azzam menoleh. "Kenapa?"

Aira tampak cemas. "Kafa besok lamaran. Dara memang kelihatan sudah ceria lagi. Tapi aku takut dia cuma menyembunyikan semuanya. Dia baru saja pulih, Mas. Aku takut dia sakit lagi."

Azzam mengusap pelan wajahnya. "Itu juga yang sedang aku pikirkan. Sebesar apa pun Dara berusaha terlihat baik-baik saja tetap saja dia mencintai Kafa selama bertahun-tahun."

Tanpa mereka sadari, Andara yang baru pulang dari mall sudah berdiri di dekat ruang keluarga. Langkahnya terhenti ketika mendengar percakapan kedua orang tuanya.

Ia menarik napas panjang, lalu berjalan menghampiri mereka sambil tersenyum. "Kenapa harus mikirin Dara, Bunda?"

Azzam dan Aira langsung menoleh bersamaan. "Dara..."

Andara duduk di samping bundanya. "Dara nggak apa-apa kok. Kalian nggak perlu khawatir."

Aira menggenggam tangan putrinya. "Tapi, Nak..."

Andara menggeleng pelan. "Dara sudah tau kalau besok Kak Kafa lamaran."

Aira dan Azzam saling berpandangan. "Kamu... sudah tau?"

Andara mengangguk. "Iya. Bukan karena tadi nggak sengaja dengar pembicaraan Abi sama Bunda. Tapi karena tadi di mall Dara ketemu Kak Kafa sama Bu Giska. Mereka sendiri yang cerita."

Suasana mendadak hening.

Andara lalu tersenyum kecil. "Besok pun Dara nggak masalah kalau harus datang. Kita ini keluarga Kak Kafa kan? Mana mungkin Dara nggak hadir di hari bahagiannya."

"Dara..." lirih Aira. Perempuan itu memeluk putrinya dengan erat. "Kalau memang berat, Nggak usah dipaksa datang."

Andara balas memeluk bundanya sambil menggeleng pelan. "Nggak, Bunda. Dara mau datang. Mungkin ini memang cara Allah mengajarkan Dara untuk benar-benar ikhlas. Pelan-pelan Dara pasti bisa."

Azzam menatap putrinya dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Ia tau putrinya sedang berusaha terlihat tegar.

Namun sebagai seorang ayah, ia juga tau bahwa senyum yang kini ditunjukkan Andara bukanlah senyum yang lahir tanpa rasa sakit.

***

Keesokan malamnya...

Kafa sudah bersiap menuju rumah Giska. Ia berdiri sejenak di depan cermin, merapikan jas yang dikenakannya. Tatapannya tertuju pada pantulan dirinya sendiri. Ia menarik napas panjang.

"Semoga jalan yang aku pilih ini benar."

Setelah memastikan semuanya siap, ia segera mengambil kunci mobil dan berangkat.

Sebelumnya, Azzam sudah menelepon Kafa. Mereka sepakat untuk langsung bertemu di rumah keluarga Giska.

Di rumah Giska, suasana mulai ramai. Giska sudah tampil anggun dengan balutan gamis dan hijab berwarna krem. Meski berusaha tenang, sesekali ia menggenggam kedua tangannya karena gugup menunggu kedatangan keluarga Malik.

Sekitar tiga puluh menit kemudian...

Dua mobil berhenti hampir bersamaan di depan rumah. Kafa turun dari mobilnya. Di saat yang sama, Azzam, Aira, Azra, dan Andara juga baru saja turun dari mobil mereka.

Begitu mengangkat kepala, tatapan Kafa langsung bertemu dengan Andara yang berdiri di samping Azra.

Andara tersenyum lebih dulu. Senyum yang berusaha terlihat setulus biasanya.nIa melangkah mendekat beberapa langkah.

"Gugup ya, Kak?"

Kafa tersenyum tipis. "Sedikit."

Andara mengangguk pelan, lalu mengacungkan kedua jempolnya. "Semangat ya. Insya Allah semuanya lancar."

Kafa menatap gadis itu beberapa saat. "Terima kasih, Dara."

Andara mengangguk. "Iya. Ayo masuk."

Ia kemudian berbalik berjalan menyusul Aira dan Azra memasuki rumah.

Sementara Kafa masih berdiri sesaat di tempatnya. Entah kenapa ucapan sederhana dari Andara justru membuat dadanya terasa semakin berat. Karena di balik senyum gadis itu, ia tau ada hati yang sedang belajar merelakan.

***

"Terima kasih banyak, Pak Azzam. Hantaran yang dibawa benar-benar banyak. Saya sungguh tidak menyangka ternyata anak-anak kita sudah saling mengenal."

Azzam tersenyum ramah. "Iya, Pak Hirawan. Mereka sudah saling mengenal sejak kuliah."

"Oh, begitu?" Pak Hirawan mengangguk pelan.

"Terus terang, saya selama ini mengira putra Pak Azzam Malik hanya Azra. Soalnya, seperti yang kita tau, selama ini yang menggantikan Bapak memimpin perusahaan adalah Nak Azra."

Azzam mengangguk. "Iya. Kafa memang memilih membangun usahanya sendiri."

Pak Hirawan menoleh kepada Kafa dengan tatapan kagum. "Masya Allah. Idaman sekali, Nak Kafa. Tidak menggunakan nama besar keluarga Malik untuk membangun usahanya."

Kafa tersenyum rendah hati. "Betul, Om. Saya ingin mandiri. Saya ingin membangun usaha dengan kemampuan saya sendiri dan membanggakan orang tua saya. Saya sangat bangga memiliki Abi dan Bunda seperti mereka."

Pak Hirawan kembali mengangguk. "Bagus sekali. Tapi..."

Ia tampak ragu sejenak sebelum melanjutkan. "Saya heran. Kenapa nama Nak Kafa tidak memakai nama Malik di belakangnya?"

"Papa..." Giska langsung menegur pelan ayahnya.

Azzam sudah memahami ke mana arah pertanyaan itu. Ia sempat ingin menjelaskan, tetapi Kafa lebih dulu membuka suara.

"Tidak apa-apa, Gis."

Kafa menatap Pak Hirawan dengan tenang. "Memang benar, Pak. Saya bukan anak kandung Abi dan Bunda. Saya adalah anak yatim piatu yang alhamdulillah, Allah takdirkan menjadi anak mereka. Sejak hari pertama menjadi bagian dari keluarga ini, Abi dan Bunda tidak pernah membedakan saya dengan anak-anak mereka yang lain."

Pak Hirawan tampak tertegun. "Maksudmu... Kamu bukan anak kandung Pak Azzam?"

Kafa mengangguk pelan. "Betul, Om. Saya memang bukan anak kandung mereka. Tapi kasih sayang yang saya terima tidak pernah berbeda sedikit pun."

Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Senyum yang sejak tadi menghiasi wajah Pak Hirawan perlahan memudar.

Ia benar-benar tidak menyangka. Selama ini ia menyetujui hubungan Giska dan Kafa karena meyakini bahwa Kafa adalah putra kandung Azzam Malik.

Dalam benaknya, menjadi bagian dari keluarga Malik berarti memiliki latar belakang keluarga yang sangat terpandang.

Sementara sejak dulu, Pak Hirawan selalu memegang teguh prinsip bibit, bebet, dan bobot dalam memilih calon suami untuk putrinya. Baginya, pasangan harus berasal dari keluarga yang dianggap sepadan.

Bahkan, tidak sedikit lamaran yang pernah datang kepada Giska ia tolak hanya karena merasa calon tersebut tidak cukup "setara" dengan keluarganya.

Karena itulah, ketika Giska mengatakan bahwa Kafa adalah putra Azzam Malik, Pak Hirawan langsung memberikan restunya tanpa banyak pertimbangan.

Namun malam ini, setelah mengetahui bahwa Kafa merupakan anak angkat, pikirannya mulai dipenuhi berbagai pertanyaan. Bukan karena ia meragukan kemampuan Kafa membangun usahanya sendiri. Melainkan karena prinsip yang selama ini ia pegang berbenturan dengan kenyataan yang baru saja ia ketahui.

Ruangan kembali hening. Semua orang saling berpandangan. Mereka dapat menangkap perubahan raut wajah Pak Hirawan.

Tatapannya yang semula penuh antusias kini berubah menjadi sulit ditebak, seolah menyimpan kekecewaan yang berusaha ia sembunyikan.

Pak Hirawan mengulas senyum kembali, meski kali ini tidak setulus sebelumnya.

"Oh, begitu. Baiklah. Silakan dinikmati dulu hidangannya, Pak."

Tanpa menunggu jawaban, ia berdiri lalu menggandeng tangan istrinya.."Mari. Kita ke belakang sebentar."

"Iya, Mas."

Keduanya berlalu meninggalkan ruang tamu. Keheningan seketika menyelimuti ruangan. Keluarga Malik saling berpandangan. Azzam menangkap perubahan sikap Pak Hirawan, tetapi ia memilih untuk tetap tenang.

Belum sempat mereka menyampaikan maksud kedatangan secara resmi, tuan rumah justru meninggalkan mereka. Namun demi menjaga adab, mereka tetap menikmati hidangan yang telah disuguhkan.

Giska yang merasa tidak enak segera mencoba mencairkan suasana. "Ayo Om, Tante, Azra, Dara, Kafa... Silakan dimakan."

Aira tersenyum lembut. "Iya, Nak."

Andara yang sejak tadi lebih banyak diam akhirnya berdiri. "Bu, boleh Dara izin ke toilet?"

Giska langsung mengangguk. "Tentu, dari sini lurus saja, nanti belok kanan."

"Baik, Bu terima kasih."

Andara pun berjalan meninggalkan ruang tamu. Baru beberapa langkah, suara percakapan dari ruangan belakang membuat langkahnya terhenti. Tanpa sengaja, ia mendengar suara Pak Hirawan.

"Kamu dengar sendiri, kan? Kafa ternyata bukan anak kandung Azzam Malik. Saya mengizinkan Giska karena saya pikir dia benar-benar putra kandung Pak Azzam. Ternyata dia hanya anak yatim piatu yang bahkan kita tidak tau asal-usul keluarganya."

Andara sontak mengepalkan kedua tangannya. Dadanya mendadak terasa sesak.

Suara Mama Giska terdengar pelan. "Tapi, Mas... Kafa sudah punya usaha yang bagus. Akhlaknya juga baik."

Pak Hirawan menggeleng. "Aku tau tpi tetap saja. Dalam keluarga kita, bibit, bebet, dan bobot itu penting. Giska dan Kafa tidak sederajat."

"Lalu kita harus bagaimana? Kalau nanti mereka menanyakan kelanjutan lamaran ini?"

Pak Hirawan menjawab tanpa ragu. "Terima saja dulu. Nanti kalau mereka bertanya kapan hari baiknya bilang saja kita akan mengabari."

Mama Giska menghela napas pelan. "Ya sudah kalau memang itu keputusanmu."

Percakapan itu berakhir.

Sementara di balik dinding, Andara masih berdiri mematung. Rahangnya mengeras. Kedua tangannya terkepal kuat hingga kuku-kukunya menekan telapak tangan sendiri.

Baginya... Tidak ada yang lebih menyakitkan daripada mendengar seseorang merendahkan Kafa hanya karena asal-usulnya.

"Anak yatim piatu..."

"Tidak sederajat..."

Kalimat-kalimat itu terus terngiang di kepalanya. Andara memejamkan mata sejenak, menarik napas panjang agar emosinya tidak meledak saat itu juga.

"Kalau Abi sampai dengar beliau pasti sangat kecewa. Dan Kak Kafa... Dia pasti lebih terluka lagi."

Perlahan Andara membuka matanya.nSorot matanya berubah.

Bukan karena benci. Melainkan karena tekad.

"Aku nggak boleh ngomong sekarang. Ini malam lamaran Kak Kafa. Aku nggak akan bikin keributan di depan semua orang."

Ia membalikkan badan, mengurungkan niatnya pergi ke toilet. Dengan wajah yang kembali ia paksa tenang, Andara melangkah menuju ruang tamu. Namun jauh di dalam hatinya, ia membuat sebuah janji.

"Pak Hirawan... Kalau Bapak menganggap nilai seseorang ditentukan oleh garis keturunannya. Suatu hari nanti, Bapak akan tau bahwa kemuliaan seseorang tidak pernah ditentukan oleh siapa orang tuanya. Dan saat hari itu tiba, saya ingin Bapak sendiri yang menyesali ucapan Bapak malam ini."

1
Aidil Kenzie Zie
padahal Giska takut Kafa yg akan berulah e e e ternyata bapaknya yang nyari 3B 🤭🤭🤭
Syti Sarah
kok Willy jdi sprti itu ya .anak2 yg gak brdosa yg. mnjdi kroban nya
syora: ulh yg gmna nih takutnya udh yg dibuat over dosis,bikin kita trauma 🤭🤭🤭🤭
total 4 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh kasian nasib keluarga yang anaknya diculik
cutegirl
sok deh bapak bapak
Syti Sarah
mungkin ini lh nanti pnyebab Giska sama Kafa gak jdi mnikh kli ya.org tua Giska trllu mrndahkn org lain yg di anggap nya tidak setara dgn nya .jngan trllu mrndahkn org lain nnti akan nyesel sndiri pak
Syti Sarah: kata aku dong Thor 🤭🤭🤣🤣🤣
total 2 replies
Syti Sarah
yg kuat ya dar 🥺
Aidil Kenzie Zie
kamu masih berharap Dara ngejar???😡😡 sakit kamu Kaf🤣🤣🤣🤣
Syti Sarah
mulai deh Tristan bikin ulah


mntapkn hti kamu dar,kamu juga brhak bhgia
cutegirl
bagus dar lanjutkan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kayaknya sekarang giliran kafa yang mendekati
Syti Sarah
Bru Mrsa khilngan kn kamu kaf ,itu lh juga yg dara rasakan
Ayudya
mampir kak
cutegirl
up lgi dong ka😋
Syti Sarah
ciiie,ada yg lgi cmburu tuh 🤭🤭

selicik itu mmang Tristan ya ,dia lbih dulu mngmbil hati Azzam untuk mlncarkn rncan nya .smoga aja sellu DLAM lindungan Allah SWT 🥰
Nifatul Masruro Hikari Masaru
yang cemburu gantian
Anak manis
ikut sedih🥲
Shabrina Darsih
jd ukut sedih
Syti Sarah
ikhlasin aja dar,Toh nanti ujung2 nya Kafa sndiri yg mngjar kamu.biar dia MRSA apa yg kamu rasain dar.mncintai seseorang tpi tak bisa untuk menggapai nya
Aidil Kenzie Zie
nggak usah dipedulikan lagi Dar cuex bebek aja🤣🤣🤣
Syti Sarah
ya udh dar,lupain aja .kamu juga hrus bhgia dara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!