NovelToon NovelToon
SANG PENUAI NYAWA

SANG PENUAI NYAWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

Dibuang dan dicap sebagai ancaman oleh militer korup karena membangkitkan Morthas—Malaikat Maut Kelas Misterius yang arogan dan ditakuti sejarah—Kael Ardyn diselamatkannya oleh guild terlarang di luar dinding peradaban. Bersama tiga jiwa abnormal lainnya, Kael harus melatih ranah jiwanya di Lapisan Kedua yang mematikan. Ini adalah kisah persekutuan empat jiwa yang siap mengguncang hukum dunia yang korup!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PACUAN WAKTU DAN GEMURUH DI UJUNG TAKDIR

BAB 19: PACUAN WAKTU DAN GEMURUH DI UJUNG TAKDIR

​BOOOOM! BRAAAKKK!

​Dentuman dahsyat bergaung hebat membelah benua, disusul oleh getaran tanah yang merayap bagaikan gelombang gempa hingga belasan kilometer ke arah barat.

​Udara malam yang semula membeku mendadak terdistorsi.

​Dari jarak yang masih cukup jauh, Kapten Gareth, Kael Ardyn, Elena, Ren, Hugo, dan Suna mendadak menghentikan ritme langkah mereka sejenak.

​Asap hitam pekat membumbung tinggi di ufuk timur, merobek langit fajar. Gumpalan jelaga itu membawa hawa panas membara yang langsung menguapkan kelembapan udara di sekitar mereka.

​"Tidak mungkin secepat ini!" jerit Kapten Gareth seraya mempercepat pergerakan kakinya, mementalkan kerikil dan debu di atas tanah.

​Wajah veteran milik sang kapten menegang drastis. Urat-urat di lehernya bermunculan saat ia memacu seluruh aliran energi Ranah Emasnya untuk memangkas jarak secara ekstrem.

​Di posisi tepat di belakang Kapten Gareth, Kael berlari dengan ritme langkah yang sangat konstan.

​Meski raut wajah pemuda itu terlihat sedatar lapisan es tanpa ekspresi panik sedikit pun, otak analitis di dalam benaknya bekerja ekstra keras membelah waktu.

​Kael terus menghitung jarak tempuh yang tersisa, mengalkulasi gesekan kecepatan angin, serta memprediksi limitasi stamina rekan-rekannya. Ia menakar probabilitas bertahan hidup: apakah sisa waktu yang mereka miliki cukup untuk tiba sebelum benteng Volcania rata dengan tanah, atau mereka hanya akan berlari menuju kuburan massal.

​Namun, jarak yang masih sangat jauh, dipadu oleh tebalnya kabut luar dinding dan pekatnya asap, membuat mereka berenam sama sekali tidak mampu mengidentifikasi bentuk ancaman sesungguhnya di garis depan.

​Siapa atau Beast peringkat apa yang sedang mengamuk di gerbang utama?

​Apakah itu sekelompok Beast Peringkat Tinggi, atau bahkan ancaman Anomali purba yang jauh lebih mengerikan dari sekadar eksperimen biologis biasa?

​"Elena!" panggil Kapten Gareth dengan suara berat tanpa memalingkan wajahnya dari jalur lurus di depan.

​"Terbanglah lebih tinggi! Amati situasi dari udara sekarang juga!" perintah sang Kapten tegas.

​"Baik, Kapten!" sahut Elena cepat, menyapu keringat di pelipisnya.

​WUSSS!

​Sayap api ilusi milik Phoenix Pyrael meledak membelah udara dari balik punggung Elena.

​Cahaya keemasan dan merah menyala memercikkan bara ke segala arah. Gadis itu melesat tegak lurus menembus langit fajar, mencoba mencari titik buta untuk menembus jarak pandang dari ketinggian.

​Namun sayang, visibilitasnya terhalang teramat rapat.

​Perpaduan kabut tebal luar dinding yang basah dan gumpalan asap hitam hasil ledakan membubung terlalu masif, menciptakan tembok polusi tak kasat mata di udara.

​Aroma jelaga yang menyengat langsung memenuhi indra penciumannya, membuat mata merah Elena memanas dan perih.

​"Saya tidak bisa melihat apa pun dari sini, Kapten!" seru Elena dari udara, suaranya terdistorsi oleh deru angin malam dan kepakan sayap api.

​"Jarak pandang saya sangat terbatas! Semuanya tertutup asap beracun dan kabut tebal!"

​"Kembalilah ke formasi!" perintah Kapten Gareth melantang menembus angin.

​"Jangan memisahkan diri dari rombongan sedetik pun!"

​Wush!

​Elena menukik turun dengan elegan. Ia mengepakkan sayap apinya sekali lagi untuk memecah momentum, lalu mendarat mulus sejajar di samping barisan Kael tanpa mengurangi kecepatan larinya.

​Melihat kebuntuan dari pengamatan udara, Suna yang bergerak sangat lincah di sisi kiri barisan langsung mengangkat suaranya.

​"Kapten, izinkan saya melesat ke sana lebih dulu!" pinta Suna penuh ketegasan, tangannya mencengkeram erat gagang senjatanya.

​"Dengan kelincahan kinetik Anima Cheetah yang saya miliki, saya bisa sampai di gerbang Volcania jauh lebih cepat daripada formasi lambat ini!"

​Namun, belum sempat Kapten Gareth merespons proposal taktis yang logis dari Suna, Ren yang berada di sisi lain langsung menyela.

​Sepasang mata pemuda berambut merah itu berapi-api. Gairah bertarung yang meluap-luap membakar dadanya seolah ia kebal terhadap rasa takut.

​"Biar aku saja yang menerobos duluan sebagai barisan depan, Kapten!" potong Ren bersemangat, melompati sebuah bongkahan batu purba di jalurnya.

​"Meskipun kecepatanku tidak secepat Suna, tapi aku bersumpah... aku pastikan sebelum kalian semua sampai di sana, area itu sudah aman terkendali dan rata dengan tanah!" seru Ren penuh bualan percaya diri.

​Hugo yang berlari dengan napas memburu di barisan belakang hanya bisa tertawa terkekeh melihat tingkah sang kawan yang tak kenal situasi.

​"Hahaha... kau ini asal bicara saja, Ren. Ketemu Beast Puncak lagi baru tahu rasa kau," gumam Hugo santai meski dadanya naik turun meraup oksigen.

​Sementara itu, Kapten Gareth hanya menggelengkan kepalanya pelan menanggapi celotehan Ren.

​Pria veteran itu memiringkan kepalanya sedikit, menatap lurus Suna yang masih menunggu keputusan resmi atas usulannya.

​"Suna, tidak bisa dipungkiri bahwa di kelompok ini, pergerakanmu adalah yang tercepat," ujar Kapten Gareth dengan nada yang terukur dan penuh wibawa komandan.

​"Tapi sebagai komandan di sini, aku memintamu untuk tetap berada di dalam barisan. Jangan memecah kekuatan kita."

​Kapten Gareth kembali melemparkan pandangannya jauh ke depan, mengunci fokus ke arah gulungan asap panas yang menyelimuti benteng Volcania.

​"Kita memang ditugaskan oleh Grand Master Alden untuk membantu Kerajaan Volcania..." Kapten Gareth memberikan penekanan berat pada setiap kata.

​"Tapi di mataku, keselamatan nyawa kalian tetap jauh lebih penting dari apa pun yang ada di benteng itu!"

​Kael yang berlari tanpa suara di dekat Suna menganggukkan kepalanya perlahan, menyetujui keputusan dingin sang komandan secara absolut dan logis.

​"Suna, dengarkan Kapten. Kita harus realistis," ucap Kael pelan, namun nadanya sedingin baja yang memotong keraguan di udara.

​"Saat ini kita semua sudah berlari dengan kecepatan penuh yang menguras Ranah Jiwa. Usaha kita menempuh jarak ini sudah lebih dari cukup untuk membuktikan iktikad kita membantu mereka."

​Kael melirik Suna dari sudut matanya, "Jika kau maju sendirian dan mati dikeroyok ratusan Beast, kematianmu tidak akan mengubah apa pun selain menambah beban kami."

​Suna mengatupkan bibirnya rapat-rapat, mencerna ucapan brutal namun teramat taktis dari Kael dan instruksi pelindung dari Kapten Gareth.

​Rasa cemasnya perlahan surut, berganti dengan pemahaman rasional yang matang.

​"Baiklah... aku mengerti. Aku akan mempertahankan formasi ini," sahut Suna akhirnya.

​Mereka berenam terus melesat bagai enam anak panah maut yang terlepas dari busurnya.

​Menembus daratan berdebu dengan kecepatan konstan, saling menjaga jarak presisi antar-anggota, dan mengasah seluruh insting demi mengantisipasi potensi bahaya yang mengintai di balik kabut.

​Sementara itu, beberapa kilometer di depan mereka... kondisi di gerbang utama Kerajaan Volcania telah benar-benar terjerumus ke dalam jurang kehancuran total.

​BRAKKK! CRINGGG! TRANK!

​Suara benturan logam, robeknya daging, dan hancurnya perisai Anima bergaung memekakkan telinga.

​Barisan depan prajurit kerajaan telah jebol tanpa sisa. Kawanan Beast Peringkat Menengah menyerbu masuk secara brutal bagaikan gelombang tsunami darah yang mengamuk kelaparan.

​Sang Jenderal, Veron, bertarung bak kesatria keras kepala di tengah ladang pembantaian yang memuakkan.

​Aura keemasan dari Anima Serigala Zirah Besi miliknya terus meledak merobek malam. Ayunan pedang besarnya memotong, membelah, dan mencabik puluhan Beast yang merangsek mendekatinya dari segala arah.

​Namun, realitas perang teramat kejam.

​Meskipun Jenderal Veron adalah seorang petarung tangguh di Ranah Emas, menghadapi gempuran ratusan Beast Peringkat Menengah secara bertubi-tubi tanpa sedetik pun waktu untuk bernapas telah memeras stamina fisiknya.

​Fondasi Ranah Jiwanya perlahan terkikis hingga ke batas kering. Pendaran Serigala Zirah Besinya mulai meredup, berkedip layaknya lilin tertiup angin badai.

​Darah kental bercucuran merembes dari luka-luka cabikan baru di lengan dan paha sang Jenderal, menetes membasahi tanah pasir yang telah berubah warna menjadi merah pekat. Napas Jenderal Veron terdengar memburu sengal, matanya memburam menahan sakit.

​ROOOOOOARRRRR!

​Di kejauhan, dari bibir retakan nganga celah utama labirin, sepasang Beast Peringkat Tinggi berwujud beruang raksasa dengan taring beracun memanjang terus meraungkan napas maut mereka.

​Suara gemuruh dari dua monster itu bukan sekadar raungan amarah biasa. Gelombang suaranya menciptakan distorsi frekuensi gaib yang menyayat mental, memanggil dan memaksa seluruh sisa Beast liar dari kedalaman labirin untuk terus merangkak keluar.

​Mereka berniat meremukkan seluruh sisa peradaban manusia di bawah tapak kaki berdarah mereka.

​Garis pertahanan terakhir Kerajaan Volcania kini benar-benar tinggal menghitung ketukan detik sebelum runtuh menjadi lautan abu dan mayat. Sementara itu, gelombang bala bantuan dari Scar Horizon masih terus berpacu melawan takdir yang berlari di balik tebalnya kabut luar dinding.

1
Aegis
punya kekuatan op, punya guru op😎
Aegis
buat selamat, masih harus bergantung pada orang lain🥴
Crimson
Gas pol
Crimson
ku vote ya /Good/
Kausafiksi.id: terimakasih abang kuh
total 1 replies
Crimson
Udah kyk adu pokemon aja /Grin/
Kausafiksi.id: 🤣🙏 siap abang kuh, tiba tiba dapat 👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍👍
total 3 replies
Anonim
cerita yang sangat menarik tidak pasaran
Anonim
cerita sangat menarik dan gak pasaran👍
Kausafiksi.id: terimasih nantikan kelanjutan nya
total 1 replies
WER
semangat kak membuat novel ya 😆👍👍👍
Kausafiksi.id: terimakasih 😁🙏
total 1 replies
Kausafiksi.id
updete sehari 2 kali ya teman teman.
Day Chuk
lanjut thor
Kausafiksi.id: terimakasih 🙏
total 1 replies
Dian Meilani
ceritanya menarik baru bab pertama, nanti kalo senggang aku mampir lagi ya kk.
Dian Meilani: yaa 👍
total 2 replies
Day Chuk
sangat menegangkan
Kausafiksi.id: iyakan 😁
total 1 replies
Day Chuk
chura apa thor
Kausafiksi.id: typo bang
total 1 replies
Day Chuk
di tunggu kelanjutan cerita nya ya
Kausafiksi.id: di usahain bang 🙏 terimaksih
total 1 replies
Day Chuk
kaya nya elena ada persaan salam kael nih 🫢
helena
lanjut thoomr✈️✈️
Kausafiksi.id: 🙏👍 siap kaka
total 1 replies
WER
semangat kak dan novel nya sukses Aamiin
Kausafiksi.id: sama sama suksek kak, aamiin
total 1 replies
WER
Thor apakah ada benih cinta di antara El dan kael pasti seru /CoolGuy/
Kausafiksi.id: Bisa kelihatan sih, sudah ada debar debar kaya nya si el
total 3 replies
WER
sabar El sabar orang sabar di sayang Tuhan 👍😆
Day Chuk: 🤣 galak amat ya cewe nya
total 2 replies
Muhammad Nur Septyawan
keren bang gua suka alur nya lumayan pas dan tidak basa basi👍
Kausafiksi.id: terimakasih bang, di bab 12 kesana baru baku hantam nya 😁
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!