Keira Khiu bukan tipe sekretaris yang kamu lihat di drama.
Dia gemuk, biasa-biasa saja, dan lebih suka makan bakso pinggir jalan daripada makan malam di restoran mewah. Tapi di balik penampilannya yang sederhana, Keira adalah orang yang paling dipercaya oleh Rayhan Kie — Direktur Utama Gemilang Group, konglomerat properti terbesar di kota ini.
Rayhan tampan, kaya, dan terbiasa mendapatkan apa pun yang dia inginkan. Wanita datang dan pergi dari hidupnya tanpa meninggalkan bekas. Tapi Keira? Dia berbeda. Dia menolak semua godaannya. Dia menamparnya ketika dia mencoba memeluknya. Dia bahkan pernah mematahkan tangan seorang pria yang menyentuhnya tanpa izin.
Selama bertahun-tahun, Rayhan menganggap Keira hanya sebagai asisten terbaiknya. Sampai dia menyadari — dia tak bisa hidup tanpanya.
Tapi Keira punya lukanya sendiri. Cinta pertamanya, Arya, memilih wanita lain setelah sepuluh tahun kebersamaan. Dan di balik kemewahan keluarga Kie, tersembunyi rahasia gelap: istri Rayhan, Sanya, mengandung anak pria lain. Adik tirinya, Selene, merencanakan segalanya dari balik bayangan. Dan Kevin — sepupu Keira sendiri — terjerat di tengah-tengah semuanya.
Ketika kebenaran terungkap, hanya satu orang yang bisa dipercaya Rayhan.
Dan orang itu justru ingin pergi meninggalkannya.
**"Aku mencintaimu, Rayhan. Tapi aku tak bisa menjadi burung dalam sangkar emasmu."**
---
*Sebuah kisah tentang wanita biasa yang menolak menjadi milik siapa pun — kecuali dirinya sendiri.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10
Bab 10: Nona Selene
Keira menutup mata.
Di seberang telepon, Arya menunggu. Suara napasnya samar, tetapi cukup untuk menyeret Keira kembali ke malam-malam lama ketika ia selalu kalah oleh satu kata lembut dari Mas Arya.
"Aku tidak bisa," kata Keira akhirnya.
"Karena pacarmu?"
"Karena aku tidak mau."
Kalimat itu membuat teras rumah Khiu mendadak sunyi. Keira sendiri kaget mendengarnya. Tujuh tahun lalu, ia mungkin akan mencari alasan yang lebih halus, lebih aman, lebih tidak menyakiti Arya. Malam itu, ia hanya lelah.
Arya diam cukup lama.
"Baik," katanya pelan. "Kalau kamu belum mau, aku tunggu."
Keira ingin berkata jangan tunggu. Tapi sebelum lidahnya bergerak, Arya sudah menutup telepon.
Minggu berikutnya, Rayhan terbang ke Singapura untuk urusan investor. Keira berharap tiga hari tanpa Pak Direktur membuat lantai dua puluh enam sedikit lebih manusiawi. Harapan itu mati ketika Ci Lien meletakkan satu map tipis di mejanya.
"Tugas khusus dari Pak Rayhan."
Keira menatap map itu curiga. "Kalau isinya jadwal rapat tambahan, aku pura-pura pingsan."
"Bukan rapat. Adiknya pulang."
"Ko Darren?"
"Selene Kie."
Nama itu membuat beberapa staf yang sedang mengetik langsung melambat. Selene Kie bukan nama yang sering disebut, tetapi setiap kali disebut, suasana berubah seperti ada pintu gudang keluarga yang terbuka sedikit.
Isi map itu sederhana: dampingi Selene selama Rayhan tidak ada, bantu pilih pakaian yang pantas untuk makan malam keluarga, pastikan ia tidak membuat masalah di kantor.
"Aku sekretaris direktur, Ci, bukan pengasuh anak konglomerat."
"Tulis protesmu ke Pak Rayhan."
Keira membayangkan wajah Rayhan saat membaca protes itu, lalu menutup map. "Baik. Aku jadi pengasuh sementara."
Selene Kie datang ke Gemilang menjelang siang dengan kacamata hitam, rambut cokelat gelap, celana kulit, dan sepatu boots yang membuat lantai marmer terdengar seperti panggung. Ia melepas kacamata di depan meja Keira.
"You are Keira?"
"Iya. Selamat datang, Nona Selene."
"Jangan panggil Nona. Aku bukan tante-tante acara amal."
"Baik, Selene."
Selene menatap Keira dari atas ke bawah tanpa menyembunyikan penilaian. "Ko Rayhan menyuruhmu mengurusku?"
"Mendampingi."
"Same thing."
Keira tersenyum sopan. "Kalau begitu, hari ini kita beli pakaian, makan siang, lalu saya antar ke vila."
"Kamu selalu setenang ini?"
"Tidak. Saya hanya dibayar untuk terlihat begitu."
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Selene bergerak sedikit.
Di mall kawasan Senayan, Selene menolak tiga butik pertama karena "terlalu ibu-ibu", "terlalu anak baik", dan "terlalu mirip istri politikus". Keira tidak memaksa. Ia ingat pesan Mama Lina saat mendengar tugas itu.
"Jangan merasa harus mendidik anak orang kaya. Ajak makan, ajak jalan, dengarkan kalau dia bicara. Orang yang banyak duri biasanya pernah ditinggal di tempat dingin."
Jadi Keira membiarkan Selene memilih jaket yang menurutnya terlalu mahal dan dress hitam yang setidaknya masih sopan. Saat makan siang, Selene menusuk salad tanpa selera.
"Kamu tahu aku anak siapa?" tanyanya tiba-tiba.
"Putri Pak Hendrik."
"Dan bukan putri Ibu Meilan."
Keira tidak menjawab.
Selene tertawa hambar. "Semua orang di keluarga Kie hebat sekali berpura-pura. Papa membawa ibuku, Yuli, seperti rahasia yang bisa disimpan di rumah kecil. Saat urusan terbongkar, ibuku yang dipukul, ibuku yang diusir, lalu aku dikirim jauh supaya tidak mengganggu foto keluarga."
"Selene..."
"Jangan pasang wajah kasihan. Aku benci."
"Aku tidak kasihan. Aku sedang mendengar."
Selene menatapnya, sedikit kehilangan kalimat.
Ponsel Selene berbunyi. Nama di layar terlihat sekilas sebelum ia membaliknya: Sanya.
Keira pura-pura tidak melihat.
"Teman lama?" tanyanya santai.
"Teman di luar negeri." Selene memasukkan ponsel ke tas. "Lebih enak daripada keluarga sendiri."
Keira mencatat itu dalam kepala. Sanya Yong dan Selene Kie saling mengenal. Dalam keluarga seperti Kie dan Yong, tidak ada pertemanan yang benar-benar polos kalau muncul tepat sebelum makan malam penting.
Beberapa menit kemudian, saat Selene pergi ke kasir, ponselnya yang tertinggal di meja menyala lagi. Keira tidak menyentuhnya, tetapi layar depan cukup terang untuk menampilkan potongan pesan.
Sanya: Jadi kamu sudah bertemu sekretaris Ko Rayhan?
Balasan Selene yang belum terkirim masih terbuka di kolom ketik.
Gemuk, tapi tidak bodoh.
Keira memalingkan wajah sebelum Selene kembali. Ia tidak tersinggung oleh kata gemuk. Yang membuatnya waspada adalah cara Sanya menyebut dirinya. Bukan "Keira", bukan "sekretaris itu", melainkan sekretaris Ko Rayhan, seolah posisi Keira sudah masuk daftar orang yang perlu dihitung.
Selene duduk kembali dan menyambar ponselnya. "Kamu lihat?"
"Layar ponselmu menyala sendiri."
"Good. Berarti kamu tahu aku tidak suka orang bodoh."
"Sayangnya aku juga tidak suka dijadikan bahan laporan."
Selene menatapnya, lalu tertawa kecil. "Kamu benar-benar sekretaris Ko Rayhan."
Setelah belanja selesai, mereka melewati butik bridal di lantai atas. Keira seharusnya terus berjalan. Namun ia berhenti karena melihat sosok di dalam.
Arya.
Ia berdiri di samping sofa putih, memakai kemeja krem, wajahnya lembut. Di depannya, Nadia keluar dari ruang ganti dengan gaun pengantin sederhana. Jilbab putihnya tertata rapi, mata petugas butik bersinar memuji.
Nadia tersenyum kepada Arya. "Bagaimana?"
Arya tidak langsung menjawab. Ia menatap Nadia, lalu entah kenapa menoleh ke arah kaca.
Mata mereka bertemu melalui pantulan etalase.
Keira tidak sempat kabur.
Arya terlihat terkejut. Nadia mengikuti arah pandangnya dan senyumnya memudar sedikit.
Selene, yang sejak tadi bosan, tiba-tiba tertarik. "Drama?"
"Tidak," jawab Keira terlalu cepat.
Arya keluar dari butik. "Keira."
Nadia berdiri di belakangnya, masih memakai gaun pengantin.
"Aku sedang menemani Nadia fitting," kata Arya, seolah perlu menjelaskan sesuatu yang sebenarnya sudah jelas.
"Bagus," kata Keira. Suaranya ringan, hampir sempurna. "Gaunnya cantik."
Nadia tersenyum sopan. "Terima kasih."
Arya menatap Keira seolah ingin mengatakan banyak hal, tetapi di sebelah Keira, Selene sudah melipat tangan dengan ekspresi menikmati.
"Kita masih ada jadwal," kata Keira.
"Keira, tunggu."
"Selamat fitting, Mas Arya."
Ia pergi sebelum air matanya punya kesempatan turun di tempat umum. Di toilet mall, Keira mengunci diri di bilik paling ujung. Ia tidak menangis keras. Hanya dua tetes air mata jatuh ke punggung tangannya, cepat sekali, lalu ia menghapusnya.
Ketika keluar, Selene bersandar di dekat wastafel.
"Kamu nangis karena pria yang fitting nikah sama perempuan lain?"
"Aku alergi parfum butik."
"Liar."
"Pakai bahasa Indonesia, Selene."
Selene tertawa pendek. "Kamu lumayan menarik, Keira."
Malam itu, setelah mengantar Selene ke vila di BSD City, Keira pulang dengan kepala berat. Mama Lina sedang menyiangi sayur di dapur ketika ia masuk.
"Keira," kata Mama, nadanya hati-hati.
"Jangan bilang Tante Meihua telepon lagi."
Mama Lina berhenti memotong wortel.
Keira memejam. "Ada apa?"
"Pernikahan Arya dan Nadia dibatalkan."
Keira membuka mata.
Mama Lina melanjutkan, lebih pelan, "Dan Arya membeli unit apartemen di atas tempat tinggalmu."