Saat ajalnya tiba di tengah kobaran api dan puing Suku Serigala, Yana diberi kesempatan kedua oleh Dewa Binatang.
Ia terbangun di usianya yang ke-16—tepat dua bulan sebelum tragedi berdarah itu merenggut nyawa ayahnya dan meratakan tanah kelahirannya.
Namun, ancaman terbesar bukanlah monster, melainkan seorang gadis dari dunia lain yang mengaku sebagai "Wanita Suci". Berkedok kemajuan modern, ide-idenya justru merusak keseimbangan alam dan memicu perang antarsuku.
Siapakah sebenarnya sang Wanita Suci pilihan Dewa Binatang yang sesungguhnya? Mampukah Yana menyembunyikan identitasnya demi menyelamatkan sukunya tepat waktu?
Ikuti perjuangan Yana menembus batas takdir dan selamatkan dunia binatang sebelum semuanya terlambat! Baca selengkapnya sekarang di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Roditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 4 — Jejak di Hutan
Matahari mulai memanjat lebih tinggi, memancarkan Sinar keemasan yang menembus celah-celah kanopi daun yang lebat. Udara di perbatasan utara terasa jauh lebih menusuk tulang dibanding area pemukiman Suku Serigala itu sendiri.
Kelompok berburu yang dipimpin oleh Aron melangkah dengan sigap dan hati-hati. Terdiri dari sepuluh prajurit veteran pilihan, mereka bergerak tanpa suara seperti bayangan di antara pepohonan raksasa Hutan Hitam. Masing-masing memegang senjata dengan cengkeraman erat, mata mereka yang tajam terus menyapu sekeliling.
Namun, tidak ada satu pun dari prajurit berpengalaman itu yang menyadari bahwa puluhan meter di belakang mereka, seorang gadis muda melangkah dengan ketelitian yang luar biasa.
Yana mengikuti mereka seperti hantu.
Setiap pijakan kakinya diperhitungkan secara cermat. Ia memanfaatkan tumpukan daun kering untuk menyamarkan bunyi langkah, bersembunyi di balik batang pohon besar setiap kali ada prajurit yang berhenti untuk mengecek situasi, dan memanfaatkan arah angin agar bau tubuhnya tidak tercium oleh penciuman tajam prajurit suku serigala.
'Tubuhku yang sekarang memang belum selincah di kehidupanku yang lalu,' batin Yana sambil menahan napas di balik batang pohon cemara raksasa. 'Tapi pengalaman dan teknik menyelinap bertahun-tahun di masa pembuangan, tidak akan pernah hilang!'
Yana menyapu pandangan ke arah rombongan ayahnya. Aron berada di posisi paling depan, memegang tombak kayu berujung batu tajam. Di sampingnya, Paman Bimo—pria kekar bersenjata kapak ganda—sedang mengendus udara.
"Kepala Suku," bisik Paman Bimo pelan, menghentikan langkahnya. "Ada bau embun darah dan serasah tanah yang terganggu di celah tebing bawah. Sepertinya ada kelompok Babi Hutan Berduri atau Rusa Tanduk Batu yang baru saja lewat sana."
Aron menunduk, mengamati jejak tanah yang sedikit ambles. Ia mengangguk pelan. "Jejaknya masih segar. Kalau kita menyusuri celah tebing bawah ini, kita bisa mengepung mereka sebelum mereka sampai ke sumber air."
Mendengar percakapan itu dari jarak jauh, mata Yana seketika membelalak.
'Celah tebing bawah! Itu dia!' jerit Yana dalam hati, ketakutan hebat segera membakar dadanya.
Di kehidupan sebelumnya, inilah kesalahan fatal yang membuat kelompok ayahnya hancur! Celah tebing bawah itu bukanlah tempat berburu yang bagus, melainkan jebakan alami. Di sana terdapat sarang utama kawanan Babi Hutan Berduri. Begitu rombongan berburu masuk ke celah sempit itu, puluhan Babi Hutan Berduri yang mengamuk akan mengepung dari dua arah, membuat para prajurit tidak punya ruang untuk menghindar dari duri-duri beracun mereka!
'Aku harus menghentikan mereka sekarang! Tapi bagaimana caranya tanpa membuat Ayah tahu aku mengikutinya?' pikir Yana cepat, otak cerdasnya berputar keras.
Jika ia muncul begitu saja di depan rombongan, ayahnya pasti akan marah besar dan langsung menyuruh dua prajurit untuk mengawalnya kembali ke desa. Dan Bencana itu, pasti akan tetap terjadi!
Aron baru saja memberi isyarat tangan kepada para prajuritnya untuk bersiap membelok ke arah celah tebing yang sempit dan gelap di sebelah kiri.
Yana tidak punya waktu lagi.
Ia segera memungut sebuah kerikil batu tajam di dekat kakinya, lalu menyayat telapak tangannya sendiri tanpa ragu.
Darah segar berwarna merah pekat menetes membasahi tanah basah.
Tanpa membuang waktu, Yana mengusapkan darahnya ke sebongkah batu besar di tepi jalur kanan—jalur memutar menuju puncak bukit yang jauh lebih aman—kemudian melempar batu berdarah itu ke semak-semak tebal di jalur kanan dengan sekuat tenaga!
Krasak!
Suara semak-semak yang terhantam batu berdarah bergema cukup keras di tengah kesunyian hutan utara.
Bau amis darah segar yang terbawa angin langsung menyebar tipis di udara.
"Tunggu!" Aron mendadak mengangkat tangannya, menghentikan seluruh anggota timnya yang baru saja hendak melangkah ke celah tebing kiri.
Seluruh prajurit langsung mengambil posisi siaga. Paman Bimo mengendus udara dengan tajam, matanya melebar seketika.
"Bau darah!" bisik Paman Bimo panik sekaligus heran. "Bau darah segar dari arah jalur puncak bukit di sebelah kanan! Bukan darah hewan biasa... baunya sangat manis dan pekat!"
Aron mengerutkan dahi, hidungnya kembang kempis menghirup udara. "Aneh... bau darah ini terasa sangat familiar. Dan baunya sangat baru!"
"Kepala Suku, apakah ada binatang buas berburu di jalur atas?" tanya salah satu prajurit muda dengan cemas. "Jika ada predator besar terluka di jalur atas, mereka bisa menjadi ancaman bagi wilayah pemukiman kita jika dibiarkan!"
Aron menatap ragu ke arah celah tebing kiri yang gelap, lalu beralih menatap jalur kanan yang menanjak ke puncak bukit. Nalurinya sebagai seorang pemimpin suku terpanggil oleh keberadaan darah misterius yang terasa tak asing itu.
"Ubah rute!" perintah Aron tegas. "Kita periksa jalur kanan terlebih dahulu. Pastikan tidak ada predator berbahaya yang terluka mendekati batas suku kita!"
"Baik!" jawab para prajurit serempak.
Rombongan berburu itu pun memutar arah, membatalkan niat mereka untuk memasuki celah tebing kiri yang mematikan, lalu mulai bergerak mendaki jalur kanan yang lebih terbuka.
Di balik semak tebal, Yana menghembuskan napas lega yang panjang. Ia menekan luka di telapak tangannya menggunakan sobekan kain dari mantel kulitnya untuk menghentikan pendarahan. Walau terasa perih, senyuman puas terukir tipis di bibirnya.
'Berhasil... Ayah dan rombongan membatalkan jalur tebing itu!' batin Yana penuh kemenangan.
Namun, kegembiraannya tidak berlangsung lama.
Hanya selang beberapa menit setelah rombongan Aron menjauh dari celah tebing kiri, suara raungan berat yang mengerikan mendadak membahana dari dalam celah tebing yang baru saja tidak jadi dimasuki ayahnya!
GRRRRRR-ROAARRRRR!
BUM! BUM! BUM!
Tanah di sekitar tempat Yana bersembunyi bergetar hebat.
Dari balik celah tebing kiri yang gelap dan sempit, puluhan ekor Babi Hutan Berduri berukuran raksasa tiba-tiba melompat keluar dengan mata merah menyala dan taring tajam sepanjang lengan manusia! Duri-duri hitam berbisa berjejer menakutkan di sepanjang punggung mereka.
Binatang-binatang buas itu tampak mengamuk hebat, saling bertabrakan dan menghancurkan batu-batu besar di celah tebing karena tempat tinggal mereka baru saja tertimpa longsoran batu kecil dari atas tebing.
Jika saja rombongan Aron berada di dalam celah sempit itu beberapa menit yang lalu... mereka pasti sudah remuk dilindas dan tertembus ratusan duri beracun tanpa ada kesempatan untuk melarikan diri!
Di jalur atas, rombongan Aron terhenti seketika.
Mereka menoleh ke bawah dengan wajah pucat pasi menyaksikan kerumunan puluhan Babi Hutan Berduri yang mengamuk liar di celah tebing yang seharusnya mereka lalui.
"D-Dewa Binatang..." bisik Paman Bimo dengan peluh dingin menetes di pelipisnya. Tangannya yang memegang kapak gemetar hebat. "Jika kita tadi masuk ke sana... kita semua pasti sudah mati!"
Aron terpaku di tempatnya.
Jantungnya berdebar kencang saat menyadari betapa tipisnya jarak mereka dari kematian.
Sebagai prajurit veteran, ia tahu betul mereka baru saja selamat dari pembantaian berkat perubahan rute yang mendadak.
Aron segera menatap ke arah tempat batu berdarah itu ditemukan tadi.
Tidak ada binatang terluka di sana, hanya ceceran darah yang kini mengering di atas tanah.
"Siapa..." gumam Aron serak, matanya yang tajam memandangi sekeliling hutan dengan penuh keheranan. "Siapa yang menumpahkan darah di sini dan menyelamatkan nyawa kita?"
Dari kejauhan, Yana menyandarkan tubuhnya di balik batang pohon cemara, mengamati ekspresi ayahnya yang kebingungan.
Telapak tangannya yang terluka memang terasa perih dan berdenyut sakit, tetapi melihat ayahnya dan seluruh prajurit suku berdiri utuh tanpa goresan sedikit pun... rasa sakit itu berubah menjadi kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
'Takdir pertama... berhasil kubalikkan,' bisik Yana dalam hati dengan tatapan berkilat tajam.
Namun, Yana tahu betul, pertarungan untuk mengubah masa depan baru saja dimulai. Ia harus segera menyelinap kembali ke desa sebelum ada prajurit yang menyadari keberadaannya di tempat ini.
Dengan langkah pelan dan tanpa suara, Yana berbalik badan dan mulai bergerak mundur, meninggalkan area Hutan Hitam yang mencekam.
***
Bersambung ....