Bagi Adrian, Dira hanyalah seorang gadis jalanan yang pernah ia selamatkan. Namun bagi Dira, Adrian adalah alasan ia bertahan hidup, bangkit dari kemiskinan, dan mengubah takdirnya.
Malam itu, ia bertekad mengubah dirinya bukan sebagai gadis jalanan lagi, melainkan wanita yang siap melakukan apa saja demi memiliki pria yang telah menguasai hatinya.
"Sekecil apapun kesempatan itu, akan ku manfaatkan sebaik mungkin!" (Dira)
#CintaRomantis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29
Suaranya mulai bergetar. "Aku sudah mencoba bertanya, tapi Adrian selalu bilang dia sedang banyak pekerjaan. Mungkin memang benar... tapi sebagai perempuan, aku bisa merasakan kalau ada sesuatu yang berubah. Cara dia memandangku tidak lagi sama seperti dulu." Air mata mulai mengalir di pipinya. "Aku takut, Bu. Aku benar-benar takut kehilangan dia. Aku sudah membayangkan masa depanku bersama Adrian. Aku sudah menganggap keluarga ini seperti keluargaku sendiri. Jadi ketika dia mulai menjauh, aku panik. Aku berpikir... apa ada perempuan lain yang membuatnya berubah? Atau mungkin aku sudah tidak cukup baik lagi untuknya?" Mayang menundukkan wajahnya lagi, membiarkan air matanya jatuh tanpa berani menatap Adrian. Semua kalimat yang ia ucapkan bukan sepenuhnya kebohongan. Ia memang takut kehilangan Adrian. Ia memang mencintainya. Namun ia sengaja menyembunyikan bagian terpenting dari cerita itu bahwa kerenggangan hubungan mereka bukan muncul begitu saja, melainkan berawal dari kecurigaan Adrian terhadap kesetiaannya. Ia memilih menceritakan rasa takutnya, tetapi tidak menceritakan penyebab mengapa rasa takut itu muncul.
Di seberang meja, Adrian hanya terdiam. Tatapannya tetap tenang, tetapi jauh di dalam hatinya ia menyadari bahwa Mayang masih belum benar-benar jujur, bahkan di hadapan ibunya sendiri.
Mayang akhirnya berpamitan lebih dulu. "Bu, Adrian... aku pulang dulu."
Ibu Adrian tersenyum hangat dan menggenggam kedua tangan Mayang. "Hati-hati di jalan, Nak."
"Iya, Bu." Mayang sempat melirik Adrian, berharap lelaki itu akan menawarkan diri mengantarnya seperti dulu.
Namun Adrian hanya menganggukkan kepala. "Hati-hati." Hanya itu. Tidak ada kalimat, "Aku antar." Tidak ada pula tatapan penuh perhatian yang dulu selalu ia dapatkan.
Mayang tersenyum tipis menutupi rasa kecewanya sebelum berbalik meninggalkan restoran. Tak lama kemudian, mobil yang dikemudikan sopir pribadinya perlahan keluar dari area parkir.
Adrian memandang mobil itu hingga menghilang. Kemudian ia kembali duduk. Kini restoran yang tadi terasa ramai mendadak sunyi. Pelayan datang mengambil piring-piring yang sudah kosong. Sebuah teko teh hangat kembali diletakkan di atas meja.
Setelah pelayan pergi, Ibu Adrian menuangkan teh ke dalam dua cangkir. Beliau tidak langsung berbicara. Tangannya mengaduk teh perlahan sambil sesekali memperhatikan wajah putranya. Sejak Adrian kecil, ia selalu tahu. Anaknya bukan tipe yang pandai menyembunyikan beban. Semakin diam Adrian, semakin besar masalah yang sedang dipikirkannya. "Adrian."
"Iya, Bu."
Ibu Adrian meletakkan sendoknya. "Tadi di depan Mayang, Ibu sengaja tidak bertanya terlalu jauh. Karena Ibu tahu, kalau memang ada masalah, kamu tidak akan membicarakannya di depan orang yang bersangkutan."
Adrian hanya diam.
"Tapi sekarang..." Beliau menatap putranya dengan penuh kesungguhan. "...ceritakan semuanya. Apa yang sebenarnya terjadi?"
Ruangan kembali hening. Adrian memandang keluar jendela. Lampu-lampu kota mulai menyala. Beberapa mobil berlalu-lalang tanpa henti. Ia mengembuskan napas panjang. "Aku....mencurigai Mayang berselingkuh."
Kalimat itu membuat tangan Ibu Adrian yang sedang memegang cangkir berhenti di udara. "Apa?" Beliau benar-benar terkejut. Selama ini, Mayang selalu terlihat sopan, anggun, dan berasal dari keluarga terpandang. Tidak pernah terlintas sedikit pun di pikirannya bahwa gadis itu bisa melakukan hal seperti itu. "Kamu yakin dengan ucapanmu?"
"Aku belum bisa bilang yakin seratus persen." Adrian menjawab tenang. "Tapi terlalu banyak kejanggalan. Aku mendengar beberapa gosip. Ada beberapa kejadian yang sulit dijelaskan. Dan..." Ia terdiam beberapa detik. "...instingku mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan."
Ibu Adrian mengernyit. "Kalau hanya gosip, bukankah itu bisa saja fitnah?"
"Itu sebabnya aku belum mengambil keputusan apa pun. Aku tidak ingin menghukum seseorang tanpa bukti. Ini nggak adil untuk Mayang. Aku hanya memilih menjaga jarak sampai semuanya jelas."
Ibu Adrian memperhatikan wajah putranya. Ia melihat tidak ada amarah di sana. Yang ada justru rasa kecewa. Dan itu membuat hatinya ikut berat. "Kenapa kamu tidak bercerita dari dulu kepada Ibu?"
"Aku tidak ingin membuat Ibu kecewa. Lagipula... Aku masih berharap semua dugaanku salah. Tapi semakin hari... aku semakin sulit mengabaikannya."
Ibu Adrian terdiam cukup lama. Pikirannya melayang. Ia teringat bagaimana selama ini ia begitu menyukai Mayang. Bahkan diam-diam ia sudah membayangkan pesta pernikahan mereka. Ia sering berkata kepada teman-temannya bahwa Mayang adalah calon menantu yang sempurna. Cantik. Pintar. Berasal dari keluarga baik. Dan tampak sangat mencintai Adrian. Namun kini... Semua bayangan itu mulai retak.
Beliau menarik napas panjang. Lalu menggeleng pelan."Ih..." Suara itu terdengar penuh rasa kecewa. "Kalau itu benar..." Beliau memejamkan mata sejenak. "...murahan."
Adrian menatap ibunya.
Beliau melanjutkan, "Perempuan yang sudah memiliki pasangan tetapi masih mencari perhatian laki-laki lain....tidak menghargai dirinya sendiri. Dan juga tidak menghargai orang yang mencintainya." Ruangan kembali sunyi. Beberapa saat kemudian, Ibu Adrian meraih tangan putranya. "Dengarkan Ibu. Jangan pernah mengambil keputusan karena emosi. Cari bukti. Kalau ternyata Mayang tidak bersalah, kamu wajib meminta maaf. Tapi..." Tatapan beliau berubah tegas. "...kalau semua itu benar adanya....Ibu tidak akan memaksamu mempertahankan hubungan ini."
Adrian tampak sedikit lega. "Benarkah?"
Ibu Adrian mengangguk mantap. "Ibu memang menyukai Mayang. Tapi Ibu lebih menyayangi kamu. Calon istri yang baik bukan hanya cantik dan berasal dari keluarga berada. Yang paling penting adalah dia menjaga kepercayaan." Beliau tersenyum tipis. "Karena ketika kepercayaan hilang....rumah tangga sebesar apa pun bisa runtuh."
Adrian menundukkan kepala. "Terima kasih, Bu." Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan memendam keraguan sendirian, ia merasa beban di dadanya sedikit berkurang.
Di luar restoran, hujan mulai turun perlahan. Sementara di dalam, seorang ibu dan anak sama-sama menyadari bahwa hubungan yang selama ini mereka yakini akan berakhir di pelaminan. mungkin sedang menuju akhir yang sama sekali berbeda.
***
Sejak percakapannya dengan sang ibu semalam, pikiran Adrian tak kunjung tenang. Ia mencoba menenggelamkan diri dalam pekerjaan, tetapi setiap kali membuka laptop, fokusnya buyar. Ucapan ibunya terus terngiang.n"Cari bukti. Jangan mengambil keputusan karena emosi."
Adrian memijat pelipisnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, urusan bisnis terasa jauh lebih mudah daripada urusan hati. Sore itu, ia memutuskan keluar dari kantor. Bukan untuk rapat. Bukan pula menemui klien. Ia hanya ingin berjalan-jalan sebentar agar kepalanya lebih jernih.
Mobilnya berhenti di sebuah pusat perbelanjaan premium. Tempat itu tidak terlalu ramai pada hari kerja.
Adrian berjalan tanpa tujuan. Sesekali ia masuk ke beberapa toko, lalu keluar lagi tanpa membeli apa pun. Hingga langkahnya terhenti di sebuah supermarket premium. Di lorong makanan segar, ia melihat seorang perempuan mengenakan kemeja putih sederhana, celana jeans, dan rambut yang diikat rendah.
Perempuan itu sedang serius membandingkan dua merek kopi. Saking seriusnya, ia bahkan tidak menyadari ada seseorang yang berdiri memperhatikannya. Senyum tipis muncul di wajah Adrian. "Dira?"