NovelToon NovelToon
Terpikat Mas Preman

Terpikat Mas Preman

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Menikahi tentara
Popularitas:511
Nilai: 5
Nama Author: Akira Fan

Kamila Larasati, seorang gadis cantik yang pintar, kritis, keras kepala dan punya pendirian kuat persis seperti ayahnya yang seorang Jendral TNI. Kamila menentang perjodohan yang dilakukan ayahnya dengan bawahannya. Dia tidak ingin mengikuti jejak kakaknya yang kehidupan pernikahannya terlalu banyak aturan.

Kamila masih sangatlah muda. Dia masih ingin bebas menikmati masa mudanya dengan berbagai pengalaman yang bermakna.

Sampai pada suatu hari, dia bertemu dengan Mahardika Pratama yang seorang preman kampung. Kejadian yang tak terduga menjadi awal pertemuan mereka hingga seiring berjalannya waktu tumbuhlah rasa cinta diantara mereka. Tapi ada sebuah rahasia yang sempat menggoyahkan perasaan Kamila. Apakah akhirnya cinta mereka akan bersatu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Akira Fan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Bertemu kembali

Sekitar setengah jam memeriksa kondisi motor Veni, akhirnya pemuda itu berhasil menemukan penyebab motor Veni mogok. Akhirnya berhasil nyala juga setelah pemuda itu bisa memperbaikinya.

"Ini businya mbak yang bermasalah, untung saya punya serep jadi bisa buat ganti sementara. Tapi habis ini mending ganti baru aja biar nggak mogok-mogok lagi," kata pemuda itu dengan sopan. Walau penampilannya urakan seperti preman ternyata sikapnya malah sebaliknya.

"Oh iya, makasih ya mas. Kalau boleh tahu nama mas siapa? Sepertinya bukan sekali ini mas nolongin kita," ucap Veni diikuti anggukan oleh Kamila.

"Saya Dika," jawab pemuda itu singkat dengan senyum ramah tanpa mengulurkan tangan karena merasa kotor.

"Saya Veni dan ini teman saya Kamila," balas Veni sedikit canggung karena uluran tangannya tidak bersambut.

"Salam kenal mas Dika," Kamila membalas senyuman Dika tadi.

"Oh iya maaf, nggak bisa salaman. Tangan saya kotor. Nanti tangan kalian ikutan kotor lagi," Dika merasa nggak enak dengan sikapnya tadi. Takut dianggap sombong.

"Nggak apa-apa mas, santai saja," jawab Kamila cepat.

"Kalian bukan orang sini ya? Kayaknya saya baru lihat?," tanya Dika penasaran.

"Saya sebenarnya asli sini mas, tapi lama merantau di Surabaya dan jarang pulang. Kalau ini teman saya dari Surabaya," terang Veni. Walau baru beberapa kali bertemu mereka bisa langsung terlihat akrab.

"Oh pantesan, ya udah hati-hati. Saya mau lanjut dulu ya? Masih ada urusan," Dika pamit untuk melanjutkan perjalanannya yang sempat terhambat karena menolong mereka berdua.

Veni dan Kamila kompak menganggukkan kepalanya, kemudian mereka pun kembali melaju mengendarai motor Veni. Kali ini bukan untuk melanjutkan perjalanan tetapi mereka memutuskan untuk kembali pulang karena siangnya mereka ada acara kondangan dirumah saudara Veni.

"Kayaknya Dika itu malaikat yang dikirim Allah buat kita deh Mil, sejak kemaren lho nggak sengaja pas kita kesulitan yang muncul pasti dia," Veni bersemangat membuat asumsi tentang sosok Dika.

"Kebetulan mungkin Ven, walau begitu kita harus tetap waspada lho. Kita kan baru kenal dia, kita nggak tahu aslinya dia kayak apa kan?," Kamila belum bisa langsung menyimpulkan bahwa Dika itu orang baik atau jahat.

Melihat dari penampilannya yang mirip preman, pasti kehidupannya keras selama ini. Ketika orang seperti itu bisa bersikap sopan bukankah itu hal yang patut dicurigai? Siapa tahu awalnya baik buat narik simpati aja, nanti lama kelamaan akan muncul sifat aslinya. Pikiran Kamila belum bisa menerima kenyataan itu sepenuhnya.

"Tapi kelihatannya dia jujur kok Mil, ya walaupun penampilannya urakan," timpal Veni mulai sedikit mempertimbangkan.

"Ya tetep aja dia orang asing Ven, kita nggak bisa langsung percaya seratus persen kan?," Kamila masih kekeh dengan pendapatnya.

"Iya iya, maaf. Insting anak jendral emang beda ya. Sudah terlatih nggak gampang percaya sama orang asing kayaknya," goda Veni pada Kamila.

"Ya jelas dong, apalagi kita perempuan. Walau secara fisik kita kalah dari laki-laki tapi kita harus cerdas dan paham situasi," balas Kamila dengan bangganya.

"Siap komandan," jawab Veni spontan seperti tentara saja, membuat mereka tertawa bersama.

Setelah kembali dari keliling kampung, mereka langsung memutuskan untuk istirahat. Walau keliling pakai motor tapi karena berada dibawah terik matahari membuat mereka pengen rebahan.

Acara kondangannya dilaksanakan nanti setelah dhuhur. Mereka memanfaatkan waktu yang ada untuk istirahat agar nanti fresh saat acara.

"Huwaa,, aku ngantuk Mil. Tidur dulu yuk! Nanti bangunin ya, takut ketinggalan acara hihihi," Veni merebahkan tubuhnya dikasur busanya.

"Siyapp, awas aja kalau susah dibangunin. Aku siram air entar biar nggak usah mandi lagi," goda Kamila.

"Yah, jangan dong. Kamu tarik aja hidungku biar cepet bangunnya," Veni memberi tahu kelemahannya sendiri pada Kamila. Dia sadar kalau sudah molor pasti sangat susah dibangunin.

"Oke-oke, ayo tidur! Dari pada telat nanti," Kamila mengiyakan. Saat ini tubuhnya juga ingin sekali direbahkan sebelum kembali ada acara lagi.

Saat ini hanya mereka berdua yang dirumah. Bu Minah sudah pergi ke rumah saudaranya sejak pagi karena harus bantu-bantu disana.

Waktu menunjukkan pukul 12.30 siang. Kamila terbangun setelah mendengar bunyi alarm handphonenya. Beda sekali dengan Veni yang masih terlihat asyik dalam mimpinya.

"Ckk, bisa-bisanya dia nggak bangun padahal suara alarm handphoneku udah aku full in. Bener-bener ini anak minta dimandiin ditempat kayaknya," Kamila merasa geram dengan Veni yang masih tidur walau sudah dipasangin alarm yang bunyinya memekakkan telinga itu.

"Ven bangun! Ayo siap-siap, katanya mau ke kondangan saudaramu?," Kamila menggoyang-goyangkan tubuh Veni yang mulai menggeliat.

"Jam berapa emang?," tanya Veni dengan suara serak setengah sadarnya. Matanya masih tertutup sempurna.

"Udah jam setengah satu nih, siap-siap gih. Kamu mau datang ke kondangan dengan tampilan acak-acakan kayak gini?," Kamila masih tak setia membangunkan Veni dengan segala cara.

"Bentar lagi Mil, kalau gitu kamu mandi duluan aja nanti aku habis kamu," ucap Veni mulai memejamkan mata lagi.

"Oke deh, awas entar kalau susah dibangunin lagi," ancam Kamila terus berlalu ke kamar mandi.

Setelah Kamila selesai mandi dia kembali ke kamar untuk membangunkan Veni. Tapi dia kembali susah lagi untuk dibangunkan. Kamila mendengus kesal. Dia memilih membiarkan Veni sebentar dan melanjutkan untuk ganti baju dan make up.

"Ini anak susah banget sih dibangunin, padahal dia lho yang ngajakin ke acara kondangan kenapa justru aku yang repot?," gumam Kamila sedikit kesal.

"Kalau aja yang nikahan tu saudaraku udah aku tinggal ni anak," lanjut Kamila sambil mendengus kasar.

Tak berselang lama Veni mulai menggeliat, mengerjabkan matanya sebentar. Lalu buru-buru mencari sesuatu dibawah bantalnya.

"Ya Ampun jam, Jam berapa ini?," Veni terlihat kelimpungan mencari handphone nya.

"Nih lihat!," Kamila dengan cepat menyodorkan handphone nya di depan wajah Veni.

"Astaga, kenapa nggak bangunin aku sih Mil?," gerutu Veni merasa diabaikan Kamila.

"What? Dari tadi aku udah panggil-panggil kamu Ven. Tapi kamu nggak mau bangun. Gimana sih?," sewot Kamila mendengar ucapan Veni.

"Hehe, iya kah? Maaf deh Mil, jangan marah dong," Veni cengengesan sambil memeluk Kamila yang memasang wajah cemberut.

"Kebiasaan kamu tuh, ya udah cepetan mandi. Keburu kita telat nanti," perintah Kamila bikin Veni kikuk.

"Iya iya, galak amat sih Mil," ledek Veni sambil berlari keluar kamar karena Kamila sudah bersiap melempar Veni dengan bantal.

Setengah jam kemudian mereka sudah siap berangkat dengan dandanan ala orang kondangan. Veni mengeluarkan motor maticnya dan bersiap men-staternya.

"Pegangan Mil," ucap Veni dengan semangat.

"Hati-hati Ven, jangan sampai dandanan kita rusak gara-gara kamu entar," ledek Kamila.

"Ye, enak aja. Udah tinggal duduk manis aja, pasti aman sampai tujuan Non," balas Veni ikut menggoda Kamila.

Saat dipersimpangan tiba-tiba Veni berhenti mendadak. Mereka hampir menabrak seseorang, yang tak lain adalah Dika.

"Awaaass," teriak Kamila dan Veni berbarengan.

1
Fadilah Fadilah
lanjutkan
Akira Fan: Siap kak, terima kasih supportnya 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!