"Tandatangani ini dan pergilah dari rumahku! Anak haram di rahimmu itu bukan darah dagingku!"Devan Mahendra, CEO dingin penguasa bisnis kota, melempar surat cerai tepat di wajah Anya. Terhasut oleh fitnah kejam, Devan mengusir Anya yang sedang hamil tua di tengah badai malam. Anya pergi membawa luka sedalam lautan dan dianggap tewas dalam kecelakaan tragis
Lima tahun berlalu. Devan hidup dalam penyesalan setelah kebenaran terungkap. Namun, dalam sebuah perjamuan bisnis kelas atas, sosok wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya muncul. Dia bukan lagi Anya yang miskin dan penurut, melainkan Anastasia Wijaya, putri tunggal pewaris takhta keluarga terkaya nomor satu, didampingi sepasang anak kembar yang berwajah sangat mirip dengan Devan
Saat Devan berlutut memohon ampun, Anya hanya tersenyum dingin, "Maaf, Tuan Mahendra. Anda salah orang."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Finus Ina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
------------------------------
## Bab 34: Kembalinya Sang Nyonya Tua
Brak!
Suara hantaman keras pada pintu elektronik ruang isolasi steril itu memecah kesunyian pagi dengan sentakan yang teramat kasar. Sistem pengunci magnetik (magnetic-lock) yang beberapa menit lalu dikunci oleh Sekretaris Hendra berderak hebat, memancarkan lampu indikator peringatan berwarna merah yang berkedip cepat di atas kusen dinding.
"Buka pintunya! Otoritas kejaksaan agung membawa surat eksekusi resmi!" sebuah suara bariton yang asing dan sarat akan keangkuhan berteriak lantang dari balik lorong luar, diiringi oleh derap langkah kaki tegap beberapa pria berjas hitam.
Di dalam ruangan, Anastasia Wijaya tidak bergeming satu senti pun dari posisinya. Ia melangkah tegap, berdiri tepat di depan ranjang Devan Mahendra, menjadikan tubuh rampingnya sebagai barikade pertahanan pertama untuk melindungi mantan suaminya. Di belakang daster sutranya, Alta dan Arka berdiri dalam keheningan yang mencekam; Arka mendekap erat bonekanya dengan mata bulat yang berkaca-kaca, sementara Alta menatap pintu dengan kilat netra elang yang sangat dingin.
"Hendra, buka kuncinya. Biarkan rubah-rubah tua itu masuk," perintah Anastasia, suaranya merendah hingga ke titik beku, memancarkan kembali dominasi mutlak seorang ratu bisnis Wijaya Corps.
Klik.
Hendra menekan tombol sensor dinding. Pintu kaca tebal bergeser terbuka secara manual, memunculkan sosok pria paruh baya bertubuh tegap dengan setelan jas abu-abu premium buatan Eropa. Wajah pria itu memiliki struktur yang sangat tegas, dengan sepasang mata yang memancarkan kecerdasan licik tingkat tinggi. Dia adalah Arthur Mahendra.
Namun, bukan kehadiran Arthur yang membuat atmosfer ruangan medis itu mendadak mendingin, melainkan sosok wanita tua yang melangkah masuk di sampingnya sembari bertumpu pada tongkat perak berkepala elang.
Dia adalah Nyonya Tua Martha Mahendra. Mantan nyonya besar dinasti Mahendra yang selama lima tahun ini diasingkan di Swiss, kini telah kembali dengan gurat kepuasan yang teramat kejam di wajah keriputnya.
"Lama tidak berjumpa, Devan Mahendra... atau haruskah aku memanggilmu dengan nama anak haram tanpa marga?" suara Martha terdengar parau, pecah, namun sarat akan racun intimidasi yang menusuk ulu hati. Ia menghentakkan tongkat peraknya ke atas lantai marmer dengan ketukan yang mantap. "Sungguh pemandangan yang menjijikkan melihat seonggok anak buangan rahim Saraswati masih berani menduduki ranjang mewah ini menggunakan uang perusahaanku."
Devan Mahendra yang masih terbaring lemah dengan alat pacu jantung mekanis di dadanya, mengepalkan rahangnya kuat-kuat hingga urat-urat di leher tegapnya menegang sempurna. Meskipun rasa nyeri yang luar biasa membakar dari jahitan luka perut kirinya kembali mengganas, sepasang netra elangnya berkilat tajam, menatap lurus ke arah wanita tua yang selama tiga puluh tahun ini ia panggil sebagai Ibu.
"Nyonya Martha..." suara bariton Devan terdengar begitu serak dan dalam, namun tetap memancarkan wibawa seorang singa bisnis yang menolak tunduk. "Tiga puluh tahun Anda menyembunyikan kebenaran ini dari saya... dan hari ini Anda membawa pria asing ini untuk merebut apa yang sudah saya bangun dengan darah dan keringat?"
Arthur Mahendra menyunggingkan senyuman tipis yang teramat sinis. Ia melangkah maju dua langkah secara kronologis, mengeluarkan selembar dokumen otentik berstempel emas dari kementerian hukum dan hak asasi manusia, lalu mengempaskannya ke atas meja nakas medis di depan Anastasia.
"Saya bukan pria asing, Tuan Palsu," desis Arthur dengan nada suara yang penuh penekanan mutlak. "Saya adalah Arthur Mahendra. Putra kandung tunggal yang sah dari garis genetika mendiang Hendra Mahendra dan Nyonya Besar Martha. Dokumen ini adalah akta kelahiran otentik dan hasil uji DNA forensik internasional yang diakui oleh pengadilan bursa efek. Berdasarkan hukum tata negara pasal delapan, seluruh hak waris, hak suara dewan komisaris, dan kepemilikan aset Mahendra Group secara mutlak jatuh ke tangan saya detik ini juga!"
Arthur menunjuk ke arah pintu keluar dengan pandangan meremehkan. "Surat perintah pengusiran dari kejaksaan sudah terbit. Turun dari ranjang itu sekarang juga, Devan. Kamu tidak lagi memiliki hak atas sepeser pun fasilitas medis yang dibiayai oleh korporasiku. Keluar dari gedung ini dalam kondisi telanjang kaki, sama seperti saat ibumu mengemis di depan rumah kami tiga puluh tahun lalu!"
"Berani sekali kamu bicara seperti itu di hadapanku, Arthur Mahendra!" Anastasia memotong kalimat Arthur dengan raung amarah yang meledak seutuhnya. Ia melangkah maju satu langkah, menatap Arthur seolah pria di hadapannya adalah makhluk yang paling menjijikkan. "Kamu mengira karena memiliki akta silsilah darah, kamu bisa menginjak-injak harga diri mantan suamiku di properti ini?! Jangan lupakan bahwa dua triliun rupiah sisa likuiditas Mahendra Group saat ini dikendalikan oleh yurisdiksi Wijaya Corps!"
Martha Mahendra tertawa getir, suara tawa kering yang memuakkan memecah kesunyian ruangan. "Anastasia... anak manis yang bodoh. Kamu mengira kekuasaan kakekmu Angga bisa melindunginya? Silakan periksa dokumen perwalian (Trust Fund) yang ditandatangani Devan tiga minggu lalu. Klausul nomor dua belas menyatakan bahwa dana perwalian itu hanya sah jika Devan berstatus sebagai pewaris sah Mahendra Group. Karena status hukum Devan hari ini dinyatakan sebagai anak adopsi ilegal yang cacat hukum, maka seluruh draf pemindahan aset untuk anak kembarmu otomatis menjadi batal demi hukum dan kembali menjadi milik putraku, Arthur!"
Duar!
Kenyataan hukum itu menghantam telak pertahanan mental Anastasia bagaikan ledakan tak kasat mata. Wajah cantiknya seketika pias tanpa darah, jemarinya bergetar hebat menatap lembar dokumen klausul yang ditunjukkan oleh pengacara kejaksaan. Martha dan Arthur ternyata telah mempelajari setiap detail celah hukum dengan teramat matang sebulan ini di Swiss. Mereka tidak menyerang secara fisik, melainkan meruntuhkan seluruh eksistensi legal Devan dan si kembar dalam satu kali ketukan palu hukum.
Rian dan Hendra langsung memasang posisi siaga, tangan mereka bergerak halus ke balik jas formal untuk menggapai gagang senjata, sementara para pengawal Arthur di luar juga mulai merangsek masuk mempersempit jarak. Pertempuran hukum ini berada di titik paling kritis di ambang pertumpahan darah fisik seutuhnya.
Tepat di saat keputusasaan taktis itu mulai merayap di dalam rongga dada Anastasia, Devan Mahendra mendadak menarik napas panjang secara perlahan. Pria itu menyunggingkan sebuah senyuman kelam yang teramat dingin dan penuh dengan intrik mematikan dari balik wajah tirusnya—sebuah ekspresi singa bisnis yang justru kian mengerikan saat posisinya sedang tersudut.
"Martha... Arthur... kalian berdua benar-benar rubah tua yang teramat genius di atas kertas," ucap Devan, suaranya yang serak mendadak terdengar begitu tegas, bertenaga, dan menggelegar tenang penuh wibawa mutlak penguasa [Punchy list]. Pria itu perlahan mengulurkan tangan kanannya, meraih gawai darurat milik Rian yang tergeletak di atas nakas.
Devan menatap langsung ke dalam sepasang mata Arthur dengan kilat netra elang yang melontarkan ancaman maut seumur hidup. "Kalian mengira bisa mengusir saya dari rumah sakit ini menggunakan aset Mahendra Group? Kalian melupakan satu fakta fundamental mengenai sejarah kepemilikan tanah di pusat kota Jakarta ini."
Devan mengetuk layar gawainya, membuka sebuah draf dokumen sertifikat tanah digital terenkripsi berskala rahasia negara. "Gedung Rumah Sakit Pusat Jakarta ini... beserta seluruh tanah seluas empat hektar di bawahnya... bukan milik Mahendra Group, dan tidak pernah terdaftar dalam manifes warisan Hendra Mahendra. Tanah ini dibeli oleh saya pribadi secara hukum menggunakan nama samaran siber lima tahun lalu sebelum saya mengusir Anya."
Devan menegakkan sedikit punggung tegapnya, menatap Martha laksana seorang raja catur yang baru saja mengumumkan kata Skakmat. "Detik ini juga, akulah pemilik tunggal yang sah atas seluruh kompleks bangunan ini. Dan berdasarkan hukum hak milik privat... kalian berdualah yang saat ini berstatus sebagai penyusup ilegal yang melanggar batas tanah saya!"
Devan mengacungkan gawainya ke depan wajah pengacara kejaksaan. "Rian! Perintahkan seluruh unit keamanan Mahendra Group yang setia pada saya untuk mengunci lift darurat! Dan jika dalam waktu tiga puluh detik dua orang bajingan Amalia ini tidak membalikkan badan keluar dari ruangan saya... saya sendiri yang akan memerintahkan penembakan di tempat atas tuduhan pelanggaran hak milik privat berskala militer!"
Plot twist ganda mengenai kepemilikan tanah rumah sakit ini seketika membalikkan keadaan seutuhnya dalam satu ketukan detik yang krusial. Wajah Arthur Mahendra yang semula angkuh mendadak pias tanpa darah, sementara Martha mencengkeram tongkat peraknya dengan getaran ketakutan yang amat sangat melihat kemurkaan Devan yang kembali bangkit.
Namun, tepat di saat pintu lift darurat di luar berbunyi klik tanda adanya pergerakan mekanis dari pasukan Devan, gawai milik Arthur di saku jasnya mendadak bergetar hebat memancarkan panggilan video rahasia dari jaringan bawah tanah Swiss, memicu sebuah kejutan besar baru yang menampilkan sebuah visual mengejutkan tentang sosok wanita tua lain yang saat ini sedang disekap di dalam sebuah van hitam di pinggiran dermaga Jakarta oleh sisa-sisa anak buah Arthur—sosok wanita tua yang wajahnya sangat mirip dengan foto lama ibu kandung Devan yang sesungguhnya.
------------------------------
Bersambung.....