Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-
Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.
Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.
Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM 10. Mengantar Pulang
Bulan sudah menampakkan wajah kala Awan melajukan motornya sepulang dari kantor. Hari ini ia pulang sedikit larut dari biasanya. Acara makan-makan yang sudah disiapkan oleh Mega baru saja usai. Tentunya satu acara untuk merayakan diangkatnya Awan sebagai wakil direktur utama .
Wajah Awan berbinar terang layaknya sang rembulan yang berada di atas kepala. Entah mimpi apa ia semalam bisa mendapatkan rezeki nomplok seperti ini. Menjadi seorang wakil direktur yang seumur hidupnya tidak pernah ia bayangkan sama sekali.
"Sepertinya mimpiku untuk memiliki mobil akan segera terealisasi. Dengan menjadi wakil direktur otomatis gaji dan tunjanganku akan semakin banyak kan? Aku akan ambil kredit mobil agar mobilisasiku jauh lebih nyaman."
Pikiran Awan sudah jauh berkelana. Membayangkan bagaimana lembar-lembar rupiah itu memenuhi dompet ketika jadwal gajian tiba. Dan dengan menjadi wakil direktur utama, ia tidak perlu lagi dipusingkan dengan target bulanan yang ditentukan oleh kantor. Karena, tanpa target pun gajinya sudah sangat besar.
"Loh, loh, loh, ini kenapa? Kok motorku seperti mau mogok seperti ini?"
Awan yang sedang membayangkan kehidupan yang serba enak dan nyaman setelah menjadi wakil direktur utama tiba-tiba bayangan itu buyar. Gas yang ia tarik terasa sangat berat hingga pada akhirnya membuat mesin motornya mati. Awan mencoba untuk menekan stater berkali-kali namun sama sekali tidak menyala. Kemudian ia ganti mengengkol tuas yang berada ada di bawah menggunakan kaki dan hal itu juga sama sekali tidak membuahkan hasil. Akhirnya lelaki itu terduduk lemas di pinggir jalan.
"Haahh sial! Sepertinya motor ini kehabisan oli karena sudah lama aku tidak mengganti oli mesin."
Awan mengumpat sembari mengacak rambutnya frustrasi. Entah apa yang menjadi kesibukan lelaki itu sampai perkara penting seperti mengganti oli motor saja luput dari ingatan. Alhasil motor miliknya mogok di tengah jalan yang sepi di malam hari seperti ini.
Pandangan Awan mengedar ke sekeliling. Sepi sangat sepi. Bahkan nampak begitu gelap karena lampu penerangan jalan banyak yang dibiarkan mati. Sehingga membuat para pengendara kendaraan yang lain memilih jalan lain.
Mata Awan memicing kala sorot lampu sebuah mobil mengenai korneanya. Ia bangkit dari posisi duduknya. Mencoba untuk meminta bantuan kepada seseorang yang kebetulan melewati jalanan ini. Tangan Awan terulur, memberi satu isyarat kepada pengemudi mobil itu agar bersedia untuk berhenti. Benar saja, mobil itu berhenti di belakang motor Awan yang mogok.
"Loh pak Awan?" pekik seorang wanita yang suaranya terdengar tidak asing di telinga Awan.
"Bu Mega?"
Mega keluar dari mobil. Ia menghampiri Awan yang nampak begitu lelah.
"Motornya kenapa Pak?"
"Sepertinya kehabisan olie Bu, jadi mogok."
"Duh lalu bagaimana sekarang? Apa mungkin ada bengkel yang masih buka di jam sekarang ini?"
"Sepertinya sudah tidak ada bengkel yang buka Bu. Karena biasanya mereka buka hanya sampai jam lima sore."
"Emmm.. Terus bagaimana ya Pak?" tanya Mega sedikit kebingungan mencari solusi. "Rumah pak Awan apa masih jauh?"
"Masih lumayan jauh Bu. Paling setengah jam lagi."
"Lumayan lama juga ya?" Mega nampak berkutat dengan pikirannya sendiri. Mencoba mencari jalan keluar untuk Awan. "Ah begini saja Pak. Coba kita cari rumah yang ada di sekitar sini. Kita titipkan untuk sementara motor Bapak di situ. Nah besok baru kita panggilkan orang bengkel untuk membawa motor Bapak. Sedangkan nanti Pak Awan pulangnya saya antar."
"Apa tidak merepotkan Bu kalau Anda mengantar saya pulang?"
Mega tersenyum manis hingga memperlihatkan barisan gigitnya yang putih dan rapi seraya menggeleng pelan.
"Tentu saja tidak Pak. Ayo jangan banyak berpikir lagi agar Pak Awan bisa segera beristirahat di rumah."
Awan membalas senyuman manis Mega. Lelaki itu juga turut menganggukkan kepala pelan pertanda menyetujui usulan yang ditawarkan oleh Mega.
***
"Terima kasih banyak ya Bu. Saya tidak tahu apa yang terjadi kalau tadi Anda tidak lewat di jalan ini."
Awan membuka obrolan dengan Mega di sela-sela perjalanan pulang menuju rumahnya. Setelah menitipkan motor ke salah satu rumah yang berada di sekitar sana, Awan dan Mega bersegera pulang mengingat hari sudah semakin malam. Kini posisi Awan yang mengendalikan setir kemudi. Ia melajukan mobil milik Mega dengan kecepatan rendah menembus malam.
"Sudah Pak, jangan berterima kasih melulu. Perasaan Pak Awan sudah berkali-kali mengucapkan terima kasih," ucap Mega mengingatkan. "Oh iya Pak, kalau di luar kantor bisa tidak kalau kita jangan terlalu formal seperti ini?"
"Terlalu formal? Maksud Anda apa Bu?" tanya Awan yang tidak mengerti dengan apa yang menjadi maksud ucapan Mega.
"Bisa tidak kalau kita memanggil masing-masing dengan sebutan lain saja? Bukan saya Anda juga tapi aku kamu? Jadi biar enak di dengar."
"Jadi aku memanggil kamu Mega gitu?" tanya Awan memastikan.
Mega tersenyum simpul. Rasanya sungguh nyaman di telinga ketika mendengar Awan memanggil namanya tanpa diberi embel-embel Bu.
"Nah begitu jauh lebih enak di dengar Mas. Sehingga kita tidak terlalu kaku ketika berkomunikasi."
"Hmmmm.. Tapi aku merasa sangat tidak sopan Meg."
"Biasa saja Mas. Dengan begitu kita bisa semakin akrab." Mega mencoba meyakinkan Awan untuk tidak terlalu mempermasalahkan perihal panggilan itu. "Oh iya, aku dengar kamu baru saja mendapatkan gelar seorang ayah ya? Wah, pasti lagi senang-senangnya berkumpul bersama keluarga di rumah."
"Tidak juga sih," ucap Awan lirih sembari sorot matanya tidak lepas dari jalanan yang dilewati.
"Loh kok bisa begitu Mas? Padahal kan biasanya kalau seorang laki-laki baru saja memiliki anak pasti lebih senang berkumpul bersama keluarganya?"
"Hmmm... Gimana ya menjelaskannya?" lirih Awan seperti kebingungan sendiri. "Aku malah bertambah sumpek kalau ada di rumah. Istriku itu tidak bisa apa-apa."
"Tidak bisa apa-apa? Maksudnya bagaimana Mas?"
"Masa dia tidak bisa nenangin anaknya ketika nangis. Tangisnya malah semakin keras waktu digendong. Sehingga membuat jam istirahatku terganggu. Ditambah dia juga tidak bisa menjaga penampilannya. Selalu kucel dan berantakan yang itu semua membuatku semakin merasa lelah setelah bekerja. Maksud hati ingin melihat penampilan istri yang cantik ketika pulang kerja, ini malah seperti melihat mak Lampir yang berantakan."
"Ahahaha... Kamu ini ada-ada saja Mas. Masa sih kayak mak Lampir?" ucap Mega dengan gelak tawa yang membahana.
"Aku itu bukan termasuk laki-laki yang suka bohong, jadi kalau keadaannya seperti itu yang memang begitu."
"Hmmmm, susah juga sih kalau istri abai dengan penampilannya. Harusnya itu menjadi prioritas agar suami betah di rumah. Padahal bersolek untuk suami itu hanya membutuhkan waktu yang singkat kan?"
"Ya, seharusnya memang seperti itu. Tapi istriku benar-benar aneh. Semakin hari ia semakin tidak peduli untuk membahagiakan suami dengan penampilannya."
"Aku rasa istrimu perlu dikasih pengertian Mas. Apalagi saat ini kamu menjadi wakil direktur yang mana akan sering mendapatkan undangan gala dinner dengan perusahaan lain. Kalau istrimu tidak bisa menjaga penampilannya sama saja itu mempermalukanmu."
"Hmmmm... Betul juga apa katamu Meg. Baiklah, besok aku akan kasih tahu dia."
Awan sedikit mengurangi kecepatan laju mobilnya ketika sudah memasuki kawasan di mana ia tinggal. Hingga akhirnya mobil yang ia lakukan tiba di depan kontrakan.
"Ini kontrakanku Meg," ucap Awan sembari menunjuk ke rumah yang ia tempati. "Kamu mau mampir?" tawarnya pula.
Mega menatap lekat rumah yang menjadi tempat tinggal Awan. Kontrakan yang tidak terlalu besar namun masih terlihat layak untuk ditinggali.
"Memang tidak apa-apa kalau aku mampir Mas?" tanya Mega memastikan. "Nanti istrimu marah lagi."
"Tenang saja, tidak mungkin ia marah. Ayo kalau mau mampir."
Akhirnya dua orang itu turun dari mobil. Mereka berjalan beriringan untuk bisa segera tiba di teras. Awan mengetuk pintu dan tak lama kemudian...
"Loh Mas, kamu pulang sama siapa?" sambut Wulan ketika melihat seorang wanita cantik dan modis berdiri di sisi sang suami.
.
.
.