Dua puluh tahun lalu sebuah praktek satanisme gagal. Ijah diringkus lalu dibakar hidup-hidup oleh masa sebab dianggap petaka.
Lima orang dipanggil kembali oleh satu sosok yang datang di dalam cermin. Mereka diberitahu untuk menuju ke salah satu tempat yang sempat mereka tinggali dahulu.
Tempat itu sudah lama ditutup. Huruf arab ditempelkan dibanyak pohon hutan sebelum menuju bangunan itu.
Huruf arab itu konon katanya adalah sebuah ayat sebagai penghalang apa yang ada dibangunan itu supaya tidak keluar dari dalam sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stanalise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 012 : Mereka Sampai dan Tanahnya Menyambut Kami
Dua puluh tahun lalu, sebuah kampung yang sangat makmur berada jauh di ujung belantara.
Belantaranya sangat luas nan panjang. Pepohonan tinggi yang rapat adalah ciri khas milik belantara itu. Desa itu dikenal dengan nama desa P.
Sebuah desa yang kekayaan alamnya melimpah. Hasil panennya selalu bagus. Desa itulah tempat di mana Farah, Rifki, Haikal, Aldi dan Desta terikat oleh satu mimpi.
Beberapa jam lalu, mereka baru saja turun dari dalam kereta. Sekarang, langkah kaki mereka sudah memasuki area perhutanan. Di mana di sana, mereka kini melewati jalanan setapak yang cukup sunyi.
"Ini masih jauh, ya?" tanya Rifki yang berada tepat di belakangnya Ardin dan Farah yang berada di depannya.
Sembari berjalan, Ardin pun mengangguk menanggapi apa yang Rifki tanyakan. Desanya memang terpencil. Perlu upaya rasanya untuk menjangkaunya.
Kali ini yang dituju mereka adalah desanya Ardin. Sebuah desa yang berada di seberang juga. Desa Ardin dan desa terkutuk itu dipisahkan oleh belantara panjang.
"Kenapa kita gak langsung ke desa itu, Mas?" tanya Aldi kini yang berada di barisan keempat.
"Karena, tidak sembarang orang bisa masuk ke sana dan kembali dengan selamat!" jawab Ardin. Jawaban itu membuat Rifki mengernyitkan keningnya.
Tidak hanya Rifki yang bingung dengan jawabannya Ardin. Tetapi yang lain pun sama.
"Kenapa memangnya dengan tempat itu?" tanya Rifki penasaran. Ardin terdiam sejenak. Sepertinya dia harus menceritakan segalanya.
"Aku udah lama banget gak pulang kemari. Sejak..."
Ucapan Ardin terpotong. Dia terdiam sejenak sebelum memulai lagi perkataannya. Farah memperhatikannya sejenak.
Ada sebuah kesedihan yang tersirat jelas dalam wajah Ardin. Farah memilih menyentuh pergelangan tangan Ardin.
Sebuah tindakan yang membuat Ardin terkejut dan menoleh tepat ke arahnya. Sehingga kini tatapan mata mereka bertemu.
"Ceritakan, Kak!" seru Farah meminta padanya.
Ardin mengangguk. Kisah kelam dahulu sepertinya lembarannya harus dibuka kembali.
"Sejak ayahku menghilang di hutan itu waktu berburu!" jawab Ardin.
Deggg
Farah terkejut mendengar itu. Dia mencoba melogika apa yang Ardin katakan. Rasanya tidak mungkin jika seorang pemburu yang sering pergi ke hutan akan tersesat semudah itu.
"Tapi, jika ayah kamu sering berburu. Seharusnya dia udah sangat mengenal hutan, kan?" tanya Farah pada Ardin.
"Ya, tapi... Bukan hanya Ayahku yang menghilang di sana. Banyak, orang-orang hilang di sana. Orang yang pergi berburu, masuk ke dalam hutan itu. Mereka hilang dan tidak pernah kembali!" jelas Ardin sembari menatap Farah.
Sekarang, baik Farah dan yang lainnya pun tahu betapa sangat berbahayanya hutan itu. Sejenak suasana kembali sunyi setelah percakapan itu.
Kini yang tersisa menemani mereka hanyalah suara-suara hewan di hutan. Serta suara rumput dan daun kering yang mereka pijaki di tanah.
Dalam perjalanan tanpa sepatah kata itu. Aldi menoleh sesekali ke kanan dan ke kiri. Hutan ini cukup rapat pepohonannya. Beberapa kali Aldi memperhatikan sekitar.
Hingga ketika mereka hampir sampai di desa Ardin. Sebuah pasak-pasak kayu yang diletakkan di sisi-sisi jalanan setapak menyita perhatiannya.
"Huruf Pegon?" lirih Aldi ketika melihatnya.
Huruf Pegon adalah huruf Arab yg dipakai untuk menuliskan teks dalam bahasa Jawa. Hurufnya identik tidak berharokat.
"Ini, bukannya sama seperti.." ujar Aldi lagi. Setelah menoleh ke kiri. Sorot matanya dalam sekejap menoleh ke depan.
Pada saat bersamaan. Ketika bola matanya menatap ke depan. Tepat ke arah gerbang masuk.
Gapura dari kayu yang menandakan perjalanan mereka ke desa Ardin sudah usai. Lima orang ini, terbelalak.
Mereka terdiam sambil berdiri. Ada sesuatu di depan sana. Sesuatu yang cukup membuat mereka tercengang.
"Ini desaku, kita udah sampai!" ucap Ardin, dia tersenyum bangga menatap ke arah gapura tempat keluar masuk orang-orang desa.
Ketika dia menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya Ardin melihat kelima temannya yang baru saja datang itu terpaku. Wajah mereka tercengang.
Tak ada satu pun kata lolos dari bibir mereka. Keringat dingin keluar dari dahi mereka. Ardin yang tahu ada hal yang tidak beres di sini. Segera menepuk pelan bahu mereka.
"Kalian kenapa?" tanya Ardin syok.
Pukkk
Ardin menepuk bahu Rifki.
Brukkk
Seketika, Rifki pun terjatuh dan pingsan. Ardin menaikkan salah satu alisnya. Aneh! satu kata yang kini tersemat di dalam isi kepala Ardin.
Kali ini Ardin mencoba melakukan hal yang sama pada Farah. Hal serupa pun juga terjadi padanya. Satu persatu dari mereka Ardin coba sadarkan. Tetapi nihil! Mereka berlima pingsan tepat di depan gapura masuk desa.
Melihat hal itu, tentu saja Ardin takut sekali. Dia segera berlari masuk ke dalam desa. Mengandalkan ingatannya semasa masih berada di sini.
Dia menuju satu rumah. Satu rumah yang terletak di ujung. Rumah itu adalah rumahnya sesepuh di sini.
Dia masih ingat betul. Setelah berlari cukup jauh dengan hati yang kalut. Ardin banyak menyadari satu hal.
Bahwa desa ini tidak berubah tata letaknya sekalipun bertahun-tahun sudah dia pergi dari sini. Saat itu beberapa penduduk di sana memperhatikan Ardin yang berlari.
Beberapa ada yang mengikutinya. Hingga ketika dia tiba tepat di depan rumah Sesepuh dengan nafas yang terengah-engah. Ardin mendongak,
"Mbah!" panggil Ardin.
Ya, Sesepuh sudah berdiri tepat di depannya kini. Sambil memegangi tongkat untuk menopang tubuhnya sendiri yang mulai bungkuk.
Seorang lelaki tua dengan rambut ubannya yang cukup panjang. Matanya menyipit tatkala melihat ke arah Ardin.
"Kamu pulang, nak?" ujar Sesepuh itu pada Ardin.
"Mbah, tolong... tolong temanku di gerbang desa! Mereka semua tiba-tiba saja pingsan!" jelas Ardin.
Beberapa penduduk yang tadi mengikuti Ardin pun terkejut mendengar itu. Terkecuali Sesepuh. Dia kini hanya tersenyum. Tanpa sepatah katapun.
Dia berjalan mendekati Ardin. Sementara Ardin, dia memperhatikannya. Ketika jarak berdiri Sesepuh itu cukup dekat dengan Ardin. Sesepuh itu pun berkata,
"Tolong bawa mereka berlima kemari!" pinta Sesepuh pada para penduduk yang ada di belakangnya Ardin.
"Baik, Mbah!" jawab mereka serentak. Sekejap, mereka pun memutar badan lalu mulai melangkah pergi dari tempat Ardin dan Sesepuh berdiri.
"Bagaimana anda tahu jika aku membawa lima orang teman kemari?" tanya Ardin. Ya, dia terkejut sekali rasanya.
Dia bahkan tidak menceritakan apapun. Tetapi, orang tua di depannya ini sudah tahu. Sesepuh kembali menatapnya sekarang. Dia tersenyum ke arahnya Ardin.
"Belantara ini yang memanggil mereka, nak! Belantara ini, mengundang mereka datang untuk menyelesaikan tugas mereka. Sebuah keadilan yang belum diungkap. Jika tulang belulang itu ditemukan. Baik warga dan mereka berlima akan menemukan kejayaan. Tetapi, ceritanya akan berbeda lagi setelah mereka masuk ke desa ini. Hal yang mereka lihat di depan sana. Akan mengubah mereka dalam hitungan menit, dimulai dari sekarang!" jelas Sesepuh ada Ardin.
Ardin menaikkan salah satu alisnya.
"Mbah, tapi apa yang merubah mereka itu gak akan ngancam nyawa mereka, kan?" tanya Ardin pada Sesepuh.
Dia khawatir sungguh. Pasalnya dia sudah berjanji untuk menjaga Farah selama mereka pergi. Sungguh, dia tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri jika sesuatu yang buruk terjadi pada Farah.
Sesepuh itu memperhatikan raut wajah Ardin. Dia bisa membaca dengan jelas ketakutan yang tersirat di dalam wajah Ardin.
"Sudah takdirnya mereka, anakku! Kita hanya bisa memberi mereka berlima petanya. Tetapi, aku yakin mereka pasti bisa menyelesaikannya!" jelas Sesepuh.
Tiap perkataan yang keluar dari mulutnya seolah-olah seperti dia tahu banyak hal. Padahal apa yang dikatakan belum terjadi.
"Wanita di dalam cermin itu. Memiliki ikatan kuat dengan mereka. Wanita itu adalah inti dari segala hal yang terjadi di desa seberang. Desa yang sudah dikutuk tanahnya!" jelas Sesepuh lagi.
Ardin mengigit bibir bawahnya. Sungguh, dia benar-benar tidak mengerti. Kenapa lima orang temannya itu terhubung secara kental dengan desa terkutuk itu.
Di sela ucapan Sesepuh yang membuatnya frustasi. Suara rombongan kaki manusia perlahan menyita perhatian Ardin.
Ya, itu adalah para penduduk yang kini datang sambil membawa lima orang temannya. Sesepuh tersenyum melihat itu.
"Masukkan mereka ke dalam dan baringkan!" ujar Sesepuh pada para penduduk yang membantu membawa tubuh lima orang teman Ardin.
Tanpa membantah ucapan Sesepuh. Mereka pun mengangguk. Kemudian membawa mereka berlima masuk ke dalam kediaman Sesepuh. Mereka dibaringkan di dalam sebuah kamar yang cukup luas.
ternyata dia lebih tua dari aku🤣