seorang pria dingin yang terjebak di situasi tak terduga. Pria itu di nikah paksa oleh warga setempat, menikahi gadis sma kelas 3 bernama Rara Sephyra. Dalam hitungan detik statusnya berubah menjadi seorang suami.
Namun di sisi lain dia juga memiliki tunangan seusianya.
Bagaimanakah kisah mereka selanjutnya.
Apakah si pria akan mempertahan pernikahannya?
Atau akan memilih tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon "Emy", isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33
"Tiga tahun lalu, Athur dan Sintya memang mengalami cekcok hebat di markas utama. Tapi tahu kenapa mereka bertengkar? Karena Sintya sendiri yang datang memohon untuk mengakhiri hubungan pertunangan mereka. Kakakmu mengaku secara jujur pada Athur kalau dia sudah hamil duluan dengan seorang pria kenalannya di dunia malam, dan pria itu kabur melarikan diri meninggalkan kakakmu yang depresi berat.
"Tuan Ganesha melangkah maju, mencengkeram rahang Daren dengan cengkeraman kuku besi yang sangat kuat, memaksanya menatap fakta jahanam itu.
"Athur menanggung semua rasa malu itu sendirian di depan publik demi melindungi nama baik kakakmu, Daren! Dia menyembunyikan Sintya di tempat pengobatan terbaik agar kau bisa tetap fokus kuliah dan bekerja tanpa menanggung aib keluarga kalian! Tapi malam ini... kau justru membayar seluruh kebaikan anakku dengan sebuah tusukan pisau di pinggangnya karena kau lebih memilih percaya pada hasutan dan umpan seks bebas dari pelacur seperti Jesika ini!"
Bugh!
Tuan Ganesha melepaskan cengkeramannya lalu melayangkan satu pukulan maut yang sangat keras tepat ke arah wajah Daren hingga kursi kayu itu terbalik menghantam lantai semen. Daren menangis histeris di atas lantai, bukan karena sakit fisik akibat pukulan Tuan Ganesha, melainkan karena seluruh dunia dendamnya runtuh seketika saat menyadari bahwa ia telah mengkhianati dan hampir membunuh satu-satunya pria yang selama ini diam-diam telah menyelamatkan hidup kakak kandungnya sendiri.
Jesika yang menyaksikan terbongkarnya fakta jahanam itu dari atas kursinya langsung kencing di celana karena saking ketakutan melihat bagaimana cara keluarga Hermawan akan menghabisi sisa hidup mereka malam ini tanpa belas kasihan sedikit pun.
Suasana di dalam ruangan beton markas bawah tanah itu terasa semakin pekat dan mencekam. Sebelum Tuan Ganesha melepaskan rantai besi yang mengikat tubuh Daren, Alden yang sejak tadi diam di belakang dengan napas memburu mendadak melangkah maju. Seluruh rasa frustrasi, rasa bersalah, dan kepedihan di hatinya meledak tak terkendali.
"Bang Daren tega!! Kau tahu bagaimana tulusnya Bang Athur terhadapmu selama ini?!" raung Alden dengan urat-urat leher yang menegang sempurna.
Bugh!
Satu pukulan mentah dan sangat keras mendarat telak di wajah Daren hingga kepalanya terhempas ke samping. "Ini untuk Bang Athur karena kau sudah berkhianat!" bentak Alden gila.
Bugh!
Pukulan kedua kembali melayang tanpa ampun. "Ini untuk Mama yang menangis histeris melihat anaknya terbaring di ranjang rumah sakit dengan kondisi kritis!"
Bugh!
Hantaman ketiga mendarat lebih telak, merobek sudut bibir Daren. "Ini untuk Rara karena secara tidak langsung kau sudah membuatnya menderita dan terluka parah!"
Dan sebelum ada yang sempat mencegahnya, Alden menarik kerah baju Daren lalu melayangkan hantaman terakhir dengan seluruh sisa tenaganya.
Bugh!
"Dan pukulan terakhir ini dari gue, sebagai adik yang meluapkan seluruh kekesalannya!" napas Alden memburu kencang, tangannya bergetar hebat setelah menumpahkan emosinya.
Tuan Ganesha segera melangkah maju, tangan kekarnya yang kokoh menekan bahu Alden dengan berat. Ganesha tahu betul, pukulan-pukulan brutal anaknya tadi bukan sekadar amarah karena pengkhianatan Daren. Jauh di dalam lubuk hati anaknya, Ganesha tahu Alden sebenarnya sedang patah hati seancur-ancurnya karena harus merelakan gadis impiannya menjadi kakak iparnya sendiri.
"Cukup, Alden," ucap Tuan Ganesha dengan suara berat dan dalam. Ia menatap lekat sepasang mata anak bungsunya yang mulai berkaca-kaca.
"Sebagai papamu, sekarang Papa tahu betul apa yang sedang kamu rasakan saat ini. Lepaskan dia... dan hilangkan rasamu pada Rara. Duniamu masih sangat panjang, Nak."
Alden tersentak, ia mendongak dengan wajah pucat menatap ayahnya.
"Papa... tahu?"
Tuan Ganesha hanya tersenyum miring yang sangat tipis. Mana mungkin seorang Ganesha Hermawan tidak tahu? Pria paruh baya itu selalu bergerak dengan begitu rapi dalam melangkah dan mengawasi setiap gerak-gerik anak-anaknya dari balik layar sejak awal.
"Pulanglah. Hari sudah sangat larut, tenangkan pikiranmu," perintah Tuan Ganesha lembut namun tegas.
Namun, alih-alih menuruti perintah ayahnya untuk pulang ke mansion mewah dan beristirahat, Alden yang hatinya sedang hancur lebur justru memacu motor sportnya menembus dinginnya malam. Ia tidak sanggup pulang ke rumah yang terasa asing. Tujuan motornya malam itu melaju kencang menuju ke rumah Roy, satu-satunya teman yang tahu awal dari seluruh benang kusut kesalahpahaman ini, tempat di mana Alden ingin menumpahkan seluruh rasa frustrasi dan patah hatinya yang tak tertahankan.
Malam semakin larut ketika raungan motor sport Alden berhenti mendadak di depan teras rumah Roy. Tanpa mengetuk pintu, Alden menerobos masuk ke dalam kamar sahabatnya itu. Roy yang sedang duduk di tepi kasur langsung melompat kaget melihat penampilan Alden yang berantakan, napasnya memburu, dan buku-buku jarinya pecah-pecah berlumuran sisa darah Daren.
"Den?! Lu kenapa lagi, Den?!" pekik Roy pucat, ketakutan jika kedatangan Alden membawa masalah baru dari jaringan mafia yang mengancamnya kemarin malam.
Alden tidak menjawab. Ia melangkah lunglai, lalu ambruk terduduk di lantai kamar Roy yang dingin, menyandarkan punggungnya pada dinding kayu. Detik itu juga, pertahanan ego remaja Alden runtuh total. Ia menangkupkan kedua tangan di wajahnya, dan isak tangis yang sejak sore ditahannya di rumah sakit akhirnya pecah menjadi sebuah tangisan pilu yang sangat menyayat hati.
"Gue hancur, Roy... Gue bener-bener hancur," lirih Alden di sela-sela tangisnya, suaranya terdengar sangat parau.
"Hancur?" tanya Roy bingung.
"Pria misterius yang selama ini jagain Rara... pria yang gue tuduh om-om brengsek... ternyata....." Alden menjaga ucapanya lidahnya seakan kelu dengan semua fakta nyata ini.
"Ternyata dia siapa ... Den?" Roy begitu penasaran karena Alden menggantung ucapan.
"Dia ... dia Athur Louise Kaelan. Kakak kandung gue sendiri, Roy."
Roy membelalakkan matanya sempurna, terkejut setengah mati mendengar fakta jahanam tersebut.
"M-maksud lu... Kakak lu sendiri?!"
"Pria yang di grebek warga dan di paksa nikah dalam kondisi sekarat itu.... kakak lo?" Roy tanpa sadar membuka kebenaran yang di simpannya rapat-rapat karena Alden sendiri sudah tahu, jika dia mengatakan itu pasti tidak akan ada yang menyakitinya.
"Iya! Dan yang paling bikin dada gue mati rasa... Rara sekarang sudah sah jadi Kakak Ipar gue, Roy. Cewek yang gue sayang setengah mati ternyata istri dari Abang gue sendiri," raung Alden frustrasi, memukul lantai semen kamar Roy berkali-kali untuk meluapkan rasa patah hati terbesarnya.
Melihat kerapuhan sahabatnya yang begitu mendalam, Roy akhirnya ikut duduk bersila di lantai. Ia menepuk-nepuk pundak Alden yang gemetar hebat, membiarkan cowok populer sekolah itu menumpahkan seluruh air mata cinta pertamanya yang layu sebelum berkembang di tempat tidur yang asing.
"Den, masa depan kita masih panjang. Jangan terlalu bersedih oleh perasan Lo. Banyak di luar sana cewek yang mau sama lo." Roy berusaha menghibur sahabatnya sebisa mungkin.