NovelToon NovelToon
Korban Dua Cinta

Korban Dua Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Teen / Cintapertama
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Bp. Juenk

Alya yang baru tamat SMA harus menerima takdir perjodohan kakak kandungnya yang mengakibatkan Alya harus mengubur mimpi dan menerima perlakuan kasar dari Suaminya sendiri yang merupakan Pacar kakak kandungnya.
Namun takdir membawa Alya bertemu dengan Trainer Aerobik yang memiliki kepedulian melebihi kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengumuman yang Memalukan

Langit sore itu berwarna jingga kemerahan, seperti sedang terbakar oleh matahari yang perlahan tenggelam di ufuk barat.

Aroma bunga kenanga dari pohon besar di halaman rumah ikut masuk menerobos celah-celah jendela yang terbuka lebar.

Angin sore yang sejuk membawa kertas-kertas kecil berwarna-warni—sisa konfeti dari acara wisuda tadi pagi—berterbangan di lantai teras.

Alya duduk bersila di atas karpet biru tua ruang tamu, kedua matanya berbinar-binar memandangi tumpukan brosur universitas yang tersebar di depannya.

Rambut hitam panjangnya yang dikepang dua masih dihiasi pita putih sisa upacara wisuda. Gaun putih polos dengan bordir bunga kecil di ujung lengan masih ia kenakan, meskipun acara telah usai beberapa jam lalu.

Ia belum ingin melepasnya. Baginya, gaun itu adalah simbol dari satu babak yang baru saja selesai, dan ia sedang bersemangat memasuki babak berikutnya.

"Mama, lihat ini!" seru Alya sambil mengangkat satu brosur dengan gambar kampus bergaya Eropa. "Universitas Sriwijaya punya program Sastra Inggris. Ini lho, yang aku impikan dari dulu!"

Ibunya, Salma, duduk di sofa tua berwarna coklat di sudut ruangan. Sebuah selimut tipis menutupi pangkuannya, sementara tangan keriputnya sibuk merajut benang merah menjadi pola yang belum jelas bentuknya.

Wajahnya yang tampak tua dengan kerutan halus di sekitar mata itu menoleh pelan, tersenyum lembut pada putri bungsunya.

"Iya, Nak. Mama doakan yang terbaik untukmu," suara Salma lirih, hampir seperti bisikan.

Alya tersenyum lebar. Ia meraih brosur lain—yang bergambar kampus modern dengan mahasiswa berjas almamater.

"Atau mungkin jurusan Psikologi di sini? Kata teman-teman, prospek kerjanya bagus. Tapi aku juga suka Hubungan Internasional, Ma. Wah, pusing sendiri jadinya!"

Gadis berusia delapan belas tahun itu tertawa kecil. Kepolosannya masih begitu kental terpancar dari setiap gerak-geriknya.

Matanya yang bulat dan bening, pipinya yang tembem dengan lesung pipit kecil di sisi kanan saat tersenyum, serta suaranya yang masih terdengar seperti anak kecil—semuanya menunjukkan bahwa ia adalah anak yang sangat terlindungi selama ini.

"Alya," Salma memanggil dengan nada yang sedikit ragu. "Kak Gita belum pulang, ya?"

Alya menggeleng sambil tetap fokus pada brosur-brosur di tangannya.

"Belum, Ma. Katanya ada urusan kantor sampai sore. Tadi pagi dia sempat ke acara wisudaku kan, cuma sebentar terus langsung pergi lagi. Tapi setidaknya dia datang. Aku seneng banget, Ma! Kakak datang meskipun sibuk."

Salma hanya mengangguk, namun sorot matanya menyimpan sesuatu yang tak terucap. Tangannya yang merajut sedikit gemetar, tapi Alya terlalu asyik dengan dunianya sendiri untuk menyadarinya.

Satu jam kemudian, langit mulai gelap. Lampu-lampu jalan di depan rumah perlahan menyala satu per satu.

Alya sudah berganti pakaian dengan kaos oblong longgar berwarna abu-abu dan celana pendek kain. Ia sedang membantu ibunya menyiapkan teh manis di dapur ketika suara mobil terdengar masuk ke halaman.

"Itu pasti Kak Gita!" Alya bergegas ke pintu depan dengan langkah kecil berlompatan.

Mobil hitam berwarna gelap dengan kaca film gelap berhenti tepat di depan teras. Pintu pengemudi terbuka, dan seorang wanita muda berusia dua puluh lima tahun keluar dengan gerakan yang anggun namun tegas.

Gita mengenakan setelan blazer krem dengan rok pensil hitam selutut. Sepatu hak tinggi berwarna nude menambah tinggi badannya yang sudah proporsional.

Rambut hitamnya disisir rapi ke belakang membentuk sanggul rendah, sementara anting mutiara kecil menghiasi daun telinganya.

Wajahnya benar-benar kontras dengan Alya. Jika Alya masih terlihat polos dan kekanakan, Gita adalah definisi dari wanita dewasa yang percaya diri. Tulang pipinya yang tinggi, alis yang terawat sempurna, serta riasan wajah tipis namun menonjolkan fitur tajamnya membuat siapapun yang melihatnya akan langsung terkesan.

Ia adalah wanita karir yang sukses di sebuah perusahaan properti terkemuka di kota itu—tulang punggung keluarga yang selama bertahun-tahun membiayai hidup mereka bertiga.

Namun, ada yang berbeda sore itu. Dari pintu sebelah penumpang, seorang pria keluar dengan gerakan yang lebih hati-hati.

Pria itu tinggi, sekitar 178 sentimeter, dengan bahu lebar yang terlihat tegas di balik kemeja putih lengan panjang yang ia kenakan. Celana bahan hitam dan sepatu pantofel mengkilap melengkapi penampilannya yang rapi.

Wajahnya tampan dengan rahang yang tegas, hidung mancung, dan mata yang teduh di balik kacamata frame tipis. Ia tersenyum kecil ke arah rumah, dan untuk sesaat, tatapannya menangkap sosok Alya di ambang pintu.

Alya mengernyit. Siapa pria ini?

"Kak Gita, ada tamu?" tanya Alya polos, matanya beralih antara kakaknya dan pria asing itu.

Gita tidak langsung menjawab. Ia merapikan blazernya, menarik napas dalam-dalam, lalu tersenyum. Bukan senyum hangat seperti biasa pada adiknya, tapi senyum yang terukur—senyum yang biasa ia gunakan saat sedang negosiasi deal besar di kantor.

"Alya, panggil Mama ke ruang tamu. Sekarang," perintah Gita dengan nada yang tidak bisa dibantah.

"Mama sedang istirahat, Kak. Mungkin—"

"Sekarang, Alya."

Suara Gita sedikit meninggi, membuat Alya tersentak. Gadis itu buru-buru berbalik dan berlari kecil ke ruang tengah tempat ibunya masih duduk di sofa dengan rajutannya.

"Ma, Kakak Gita pulang. Katanya Mama disuruh ke ruang tamu," ucap Alya sambil membantu ibunya berdiri.

Salma menghela napas panjang. Ada getar di tangannya saat ia menggenggam tangan Alya. "Ayo, Nak."

Mereka berjalan berdua menuju ruang tamu. Suasana yang biasanya hangat dan santai sore itu berubah menjadi sesuatu yang berat dan mencekam. Alya belum mengerti, tapi ia bisa merasakannya—ada sesuatu yang tidak beres.

Di ruang tamu, Gita sudah duduk di sofa panjang. Pria itu duduk di sampingnya, namun dengan jarak yang profesional—tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Saat melihat Salma masuk, pria itu berdiri dan membungkuk hormat.

"Selamat sore, Bu. Perkenalkan, saya Reza Ardiansyah," ucapnya dengan suara yang dalam dan terdengar sopan.

Salma hanya mengangguk pelan. "Selamat sore, Nak Reza."

Gita menepuk sofa di sampingnya. "Mama, duduk sini. Alya, kamu juga duduk."

Alya duduk di sisi lain ibunya, posisi tepat berseberangan dengan Gita dan pria bernama Reza itu. Dari dekat, Alya bisa melihat lebih jelas wajah Reza. Pria itu benar-benar tampan—mungkin terlalu tampan untuk sekadar seorang teman atau rekan kerja kakaknya.

Tapi ada sesuatu di matanya yang membuat Alya tidak nyaman. Saat Reza menatap Gita, ada pancaran yang begitu dalam, begitu hangat. Tapi saat matanya beralih ke Alya, tatapan itu menjadi datar, seperti melihat benda mati yang tidak penting.

"Alya," Gita memulai dengan suara yang dibuat senyaman mungkin. "Kakak ingin bicara sesuatu."

Alya mengerjap. "Apa, Kak?"

Gita menyilangkan kakinya dengan anggun, jari-jarinya merapat di pangkuan. Ia menatap Alya lekat-lekat, seolah sedang menilai seberapa besar kata-katanya akan melukai adiknya nanti.

Tapi di balik tatapan itu, ada tekad yang bulat—tekad seorang wanita yang terbiasa mengambil keputusan tanpa meminta pendapat orang lain.

"Reza adalah rekan bisnis Kakak. Beliau pemilik kontraktor besar yang selama ini menjadi mitra perusahaan Kakak. Keluarganya terpandang, dan Reza sendiri adalah pria yang mapan."

Gita berbicara perlahan, seperti sedang menjelaskan sesuatu yang sangat penting.

"Dan setelah berdiskusi dengan Reza, kami sepakat untuk... menikahkan kamu dengannya. Bulan depan."

Dunia Alya berhenti berputar.

Untuk beberapa detik yang terasa seperti selamanya, tidak ada suara apa pun selain debur jantung yang berdetak terlalu keras di telinga Alya.

Ia menatap kakaknya dengan mata yang membelalak, mulutnya setengah terbuka, kepalanya terasa kosong. Kemudian, perlahan, kata-kata itu mulai meresap—seperti racun yang menetes setetes demi setetes ke dalam kesadarannya.

Apa?

Menikah?

Dia?

Bulan depan?

"Ma... maksud Kak Gita?" suara Alya keluar serak, nyaris tak terdengar. Wajahnya yang sedetik lalu masih berseri karena brosur kuliah kini berubah pucat pasi.

"Aku bilang, kamu akan menikah dengan Reza," ulang Gita dengan nada yang lebih tegas, seolah mengulang instruksi pada bawahan yang kurang cepat memahami.

Alya menoleh ke ibunya dengan tatapan penuh pertolongan. "Ma, ini lelucon, kan? Mama tahu kan besok aku mau daftar ulang ke kampus? Aku sudah mempersiapkan semua berkasnya!"

Salma menunduk. Tangannya yang menggenggam rajutannya kini gemetar hebat. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya yang tua, namun ia tidak mengatakan apa pun. Diamnya itu berbicara lebih keras daripada ribuan kata.

"Kuliah?" Gita tertawa kecil, tapi tawanya tidak sampai ke mata. "Alya, sayang, kamu itu anak perempuan. Kuliah tidak akan membuat hidupmu bahagia. Lebih baik menikah dengan pria kaya dan mapan. Itu kebahagiaan sejati untuk wanita."

"Tapi Kak Gita—"

"Sudah," potong Gita dengan tangan terangkat, gerakan yang biasa ia lakukan saat rapat untuk menghentikan pembicaraan.

"Ini bukan diskusi, Alya. Ini sudah diputuskan. Semua persiapan akan segera dimulai minggu depan."

Alya bangkit berdiri. Tangannya mengepal, kukunya nyaris menusuk telapak tangan. Dadanya naik turun dengan cepat, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa marah—bukan marah biasa, tapi marah yang membakar setiap sel dalam tubuhnya. Matanya yang biasanya lembut kini memancarkan api.

"Aku tidak mau!" teriak Alya, suaranya pecah di akhir kalimat.

"Aku baru lulus SMA, Kak! Aku baru delapan belas tahun! Aku punya mimpi! Aku mau kuliah, aku mau bekerja, aku mau... aku mau hidup!"

Gita tidak bergeming. Ia hanya menghela napas, seperti seorang ibu yang menghadapi anak kecil yang merengek minta permen.

"Kau pikir hidup itu semudah punya mimpi? Siapa yang membiayaimu selama ini, ha? Siapa yang membayar sekolahmu, makanmu, pakaianmu? Aku, Alya! Dan sekarang, saatnya kau membalas budi."

Kata-kata itu seperti tamparan keras di wajah Alya. Ia mundur selangkah, lalu menoleh ke ibunya yang masih diam membatu. "Ma... Mama diam saja? Mama biarkan Kakak melakukan ini?"

Salma mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata. Ada begitu banyak luka di matanya, begitu banyak penyesalan. Tapi yang paling menyakitkan bagi Alya adalah melihat kepasrahan di sana—kepasrahan seorang ibu yang sudah lama kehilangan kuasa di rumahnya sendiri.

"Maafkan Mama, Nak... Mama tidak punya daya," bisik Salma dengan suara yang hancur.

Reza yang sejak tadi diam, akhirnya membuka suara. Ia berdiri dan menatap Alya dengan tatapan yang—untuk pertama kalinya—tidak lagi datar. Ada sedikit keraguan di sana, mungkin rasa bersalah. Tapi itu hanya sesaat, lalu lenyap digantikan oleh senyum tipis yang berusaha tampak meyakinkan.

"Alya, aku tahu ini semua tiba-tiba. Tapi aku berjanji akan menjagamu. Kau akan hidup nyaman bersamaku. Tidak perlu kerja, tidak perlu susah-susah kuliah. Semua kebutuhanmu akan aku penuhi," ucap Reza dengan suara yang lembut, tapi terasa kosong bagi telinga Alya.

Alya menatap pria itu dengan pandangan penuh kebencian—kebencian yang lahir dari rasa takut yang sangat dalam.

"Aku tidak butuh janji darimu. Aku tidak kenal kamu. Aku tidak mau menikah denganmu!"

"Alya!" bentak Gita, kali ini suaranya benar-benar keras. Ia berdiri, posturnya yang tegap menambah aura otoriter yang selama ini membuat banyak orang—termasuk adiknya sendiri—mengalah.

"Cukup! Mulai sekarang, kau tidak punya hak untuk menolak. Semua sudah diatur. Surat izin nikah sudah diproses, keluarga besar sudah diberi tahu. Satu-satunya yang harus kau lakukan adalah tersenyum di hari pernikahanmu. Paham?"

Alya menggigit bibir bawahnya hingga hampir berdarah. Dadanya terasa seperti ditekan batu besar yang tak terlihat. Ia ingin berteriak, ingin membanting pintu, ingin lari sejauh-jauhnya. Tapi kakinya terasa lemas, seolah tertanam di lantai.

Maka yang bisa ia lakukan hanyalah menangis. Tangis yang pecah begitu saja, mengalir deras membasahi pipinya yang masih bulat dengan sisa-sisa kepolosan. Tangis yang keluar dari lubuk hati yang paling dalam, dari mimpi-mimpinya yang baru saja diinjak-injak tanpa ampun.

"Kenapa, Kak?" isak Alya di sela tangisnya, suaranya lirih dan hancur. "Kenapa harus aku?"

Gita berjalan mendekat. Ia meraih bahu adiknya, dan untuk sesaat, kekerasan di wajahnya luluh. Ia menatap Alya dengan tatapan yang sulit diartikan—ada kasihan, ada rasa bersalah, tapi juga ada rasa lega yang aneh.

"Karena ini yang terbaik untuk kita semua, Alya. Percayalah pada Kakak," bisik Gita, kemudian memeluk adiknya dengan erat.

Di balik pelukan itu, Alya tidak bisa melihat ekspresi Gita. Tapi jika ia bisa, ia akan melihat senyum kecil di sudut bibir kakaknya—senyum seorang pemenang yang baru saja menyelesaikan satu rencana besar.

Reza menunduk. Ia tidak bisa menatap Alya yang menangis tersedu-sedu di pelukan kakaknya. Tapi bukan karena iba.

Ia menunduk karena matanya tidak bisa berpaling dari Gita—wanita yang sangat ia cintai, yang kini berada begitu dekat, memeluk adiknya, seolah menyerahkannya sebagai tumbal.

Malam itu, di rumah kecil yang biasanya dipenuhi tawa Alya dan suara lembut Salma, hanya ada tangis yang menggema di setiap sudut. Dan di tengah gelapnya malam, seorang gadis polos yang baru saja merayakan kelulusannya dari SMA menyadari bahwa hidupnya tidak lagi menjadi miliknya sendiri.

1
falea sezi
kpn cerai
falea sezi
cpet buat cerai thor najis amat ampe Gita berbagi batangan reza😒
falea sezi
alya goblok🤣mending cerai sekarang lah bloon amat lu di jadiin serep cerai pergi jauh bego
Nihayatuz Zain
🦾
La Rue
ehm mencari celah dari Reza malah ketemu Diana. Tapi ini asumsiku saja, semoga saja tidak seperti apa yang terganbar diotakku 🤔🤭
Halwah 4g
wahhhhh...🤣🤣🤣 kecolongan q
Bp. Juenk: selamat menikmati kk
total 1 replies
M. T🌻
keren banget thor.
jangan lupa mampir yaa🤭
Bp. Juenk: siap. terimakasih
total 1 replies
Key Kastara
😍🔥✨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!