NovelToon NovelToon
MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

MENIKAHI MUSUH BEBUYUTAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Romansa Fantasi / Bad Boy
Popularitas:752
Nilai: 5
Nama Author: yurisii

Alena dan Elio adalah musuh bebuyutan di sekolah. Setiap hari mereka tak pernah akur dan selalu saling adu mulut. Namun, hidup mereka berubah ketika kedua kakek mereka mengumumkan bahwa mereka telah dijodohkan sejak kecil.
Menolak bukanlah pilihan. Kini, mereka harus menjalani hari-hari sebagai calon pasangan, meski saling membenci.
Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta? Atau perjodohan ini justru membuat mereka semakin menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yurisii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Suasana sore itu terasa hangat dengan sinar matahari yang mulai meredup, menyebarkan cahaya keemasan di sepanjang jalan raya. Begitu keluar dari gerbang sekolah, Elio segera membukakan pintu mobil untuk Alena sebelum melangkah masuk ke sisi kemudi. Selama perjalanan pulang, suasana di dalam kendaraan tidak terasa sunyi, namun justru dipenuhi dengan ketegangan lembut yang membuat jantung keduanya berdebar kencang.

Elio tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Alena. Sesekali ia melirik sekilas dari kaca spion, lalu sesekali menoleh langsung, menatap gadis itu dengan tatapan yang dalam dan penuh perasaan. Perhatian yang berlebihan itu membuat Alena merasa tidak nyaman namun juga tersanjung. Wajahnya terus memerah, dan ia tidak tahu harus meletakkan pandangannya ke mana—jika menatap ke luar jendela, ia merasa terlihat menghindar, namun jika membalas tatapan Elio, rasanya napasnya akan terhenti seketika.

“Kenapa… kenapa terus menatapku begitu? Ada yang salah dengan penampilanku?” tanya Alena akhirnya, memecah keheningan dengan suara yang sedikit bergetar. Ia memegang ujung rok seragamnya, merasa semakin salah tingkah di bawah tatapan tajam namun lembut itu.

Elio tersenyum tipis, senyum yang terlihat menggoda namun tulus. Ia menggerakkan setir dengan tenang sambil menjawab, “Tidak ada yang salah. Justru aku sedang berpikir, betapa cantiknya kamu sore ini. Sejak kejadian tadi di koridor, aku terus memikirkanmu—rasa bangga, rasa khawatir, dan rasa sayang itu bercampur menjadi satu, membuatku ingin terus melihatmu sampai puas.”

Kata-kata itu membuat wajah Alena memerah padam sampai ke telinga. Ia memalingkan wajah dengan cepat, mencoba menyembunyikan senyum yang tidak bisa ia tahan. “Kamu ini… bisa saja bicara manis. Sejak kapan kamu pandai merayu seperti ini?”

“Sejak aku sadar bahwa aku mencintaimu, dan tidak ingin menyembunyikan perasaanku lagi,” jawab Elio dengan nada tenang namun tegas, membuat detak jantung Alena semakin kencang.

Perjalanan dilanjutkan dengan suasana yang terasa semakin hangat. Setiap kali pandangan mereka bertemu, keduanya akan tersenyum malu-malu, seolah ada percikan api yang melompat di antara mereka. Mobil bergerak perlahan menyusuri jalanan yang tidak terlalu ramai, seolah waktu pun sengaja melambat untuk menemani momen indah itu.

Tak lama kemudian, mobil memasuki halaman rumah Elio yang luas dan asri. Begitu mematikan mesin, Elio segera turun dan membukakan pintu untuk Alena. Saat mereka melangkah masuk ke dalam rumah, suasana terasa sangat sunyi. Tidak ada suara langkah kaki, tidak ada obrolan, bahkan suara televisi pun tidak terdengar.

“Sepertinya rumah sepi sekali,” gumam Alena sambil melihat sekeliling ruang tamu yang rapi.

Elio mengangguk sambil meletakkan kunci mobil di atas meja. “Pasti Kakek Baskara pergi ke perusahaannya atau bermain golf bersama teman-temannya. Biasanya dia pulang larut malam kalau sudah keluar seperti ini. Berarti untuk beberapa jam ke depan, hanya kita berdua saja di rumah ini.”

Mendengar kenyataan itu, hati Alena berdebar kencang lagi. Berada sendirian bersama Elio di dalam rumah yang luas membuatnya merasa gugup sekaligus penasaran. Mereka berdua berjalan menuju tangga untuk naik ke lantai dua, tempat kamar mereka masing-masing berada.

Setelah sampai di depan pintu kamar Alena, Elio berhenti sejenak. “Istirahatlah dulu, ganti pakaian dan bersihkan diri. Kalau sudah siap, kita akan turun ke bawah untuk menyiapkan makan malam nanti.”

Alena mengangguk pelan, lalu membuka pintu dan masuk ke dalam kamar sambil menutupnya perlahan. Namun, Elio tidak langsung pergi ke kamarnya sendiri. Ia berdiri di depan pintu itu selama beberapa detik, pikirannya berkecamuk antara ingin menjauh atau tetap mendekat. Rasa rindu dan hasrat yang membara sejak tadi pagi seolah tidak mau diam. Akhirnya, didorong oleh perasaan yang sudah tidak bisa ditahan lagi, Elio memutar gagang pintu dengan sangat pelan dan hati-hati, lalu menyelinap masuk ke dalam kamar tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Ia berniat hanya ingin duduk menunggu atau sekadar melihat dari kejauhan, namun saat ia baru saja membalikkan badan untuk menutup pintu, suara pintu kamar mandi terbuka terdengar jelas. Elio membeku di tempatnya, tangannya masih menggenggam gagang pintu, dan napasnya tertahan seketika.

Di hadapannya, Alena baru saja melangkah keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang basah tergerai bebas menutupi sebagian bahunya, meneteskan air yang membuat kulitnya terlihat semakin bersinar dan lembut. Ia hanya mengenakan celana pendek katun selutut dan kaos dalam tanpa lengan yang ketat, memperlihatkan lekuk tubuhnya yang ramping dan bahu yang halus.

Alena juga terkejut setengah mati melihat Elio sudah ada di dalam kamarnya. Matanya terbelalak lebar, dan tangannya secara refleks menutupi dada meskipun tidak banyak yang tertutupi. Wajahnya seketika memerah padam, bahkan terasa lebih panas dari air panas yang baru saja ia gunakan untuk mandi.

“Elio?! Kamu… kamu masuk diam-diam saja? Apa yang kamu lakukan di sini?” seru Alena dengan suara tergagap, nadanya campuran antara kaget, malu, dan sedikit marah.

Namun, Elio tidak menjawab. Matanya terfokus sepenuhnya pada sosok gadis di hadapannya, seolah terpaku dan tidak bisa bergerak. Darahnya terasa bergejolak, dan jantungnya berdegup begitu kencang sampai ia sendiri bisa mendengar suaranya. Tanpa sadar, kakinya melangkah maju perlahan, mendekati Alena dengan tatapan yang semakin gelap dan penuh gairah yang tidak lagi bisa disembunyikan.

Langkah demi langkah, Elio mendekat hingga jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa sentimeter. Sebelum Alena sempat berbicara lagi, Elio sudah melingkarkan satu lengannya di pinggang gadis itu, menarik tubuhnya mendekat dan mendorongnya perlahan namun pasti mundur kembali menuju pintu kamar mandi yang masih terbuka lebar.

Begitu sampai di dalam ruangan yang sempit dan beraroma sabun wangi itu, Elio menutup pintu dengan satu tangan, lalu menekan tubuh Alena perlahan menempel pada dinding ubin yang dingin. Perbedaan suhu membuat Alena sedikit menggigil, namun rasa dingin itu langsung hilang tergantikan oleh kehangatan tubuh Elio yang menempel rapat padanya.

“Maafkan aku… tapi aku tidak bisa menahan diri lagi,” bisik Elio dengan suara yang berat dan serak, napasnya terasa panas menerpa wajah Alena. “Sejak tadi sore, aku hanya memikirkanmu. Dan melihatmu seperti ini… aku benar-benar hilang kendali.”

Tanpa menunggu jawaban, Elio langsung menunduk dan mencium bibir Alena dengan sedikit terburu-buru, seolah takut jika ia berhenti sebentar saja, kesempatan ini akan hilang. Berbeda dengan ciuman-ciuman sebelumnya yang lebih lembut dan perlahan, kali ini ciuman itu penuh dengan rasa rindu yang meluap dan gairah yang membara. Bibirnya bergerak dengan cepat namun tetap lembut, menjelajahi setiap sudut bibir Alena, membuat gadis itu langsung terhanyut dan membalasnya dengan semangat yang sama.

Setelah cukup lama menikmati ciuman itu, Elio perlahan melepaskan bibirnya, namun tidak berhenti. Ia menuruni ciumannya ke arah pipi Alena, lalu turun lagi ke leher dan bahu gadis itu. Ia mencium, mengisap, dan menjilat lembut pada kulit halus itu, meninggalkan bekas kemerahan yang samar namun terasa hangat dan berdenyut. Setiap sentuhan membuat Alena merasakan sensasi yang luar biasa, tubuhnya terasa lemas dan hanya bisa bersandar sepenuhnya pada tubuh Elio.

Namun, Alena bukan gadis yang mudah menyerah. Saat ia mulai terbiasa dengan sensasi itu, rasa berani pun muncul dalam dirinya. Tangannya yang tadinya tergantung lemas, kini bergerak naik meraih kerah kaos Elio. Dengan gerakan yang sedikit tergesa namun mantap, ia membuka kancing kaos itu satu per satu hingga terlepas sepenuhnya, lalu meluncurkannya turun melewati bahu dan lengan pemuda itu.

Melihat dada dan perut Elio yang rata, berotot halus dan terlihat kuat, Alena menelan ludahnya sendiri. Tangannya bergerak perlahan mengelus kulit hangat itu, merasakan detak jantung Elio yang berpacu kencang di bawah telapak tangannya. Dengan keberanian yang baru ia temukan, Alena menunduk dan membalas perlakuan Elio—ia mencium leher pemuda itu, mengisap dan menggigit lembut pada kulitnya, meninggalkan bekas kemerahan yang serupa sebagai tanda bahwa laki-laki itu adalah miliknya.

Rasa itu membuat Elio semakin terhanyut. Ia mengerang pelan, memegang pinggang Alena dengan lebih erat, seolah takut gadis itu akan menghilang jika ia melepaskannya sedikit saja. Matanya menatap wajah Alena yang terlihat terengah-engah dan memerah, membuat hasratnya semakin meluap melebihi batas kendali.

“Alena… kamu benar-benar membuatku gila,” bisik Elio dengan suara yang hampir tidak terdengar.

Tangannya yang tadinya memegang pinggang, kini mulai bergerak perlahan naik ke atas. Ia mengelus punggung Alena melalui kain tipis kaosnya, lalu bergerak lebih berani, menyentuh bagian belakang tubuh gadis itu dengan lembut namun penuh rasa ingin tahu. Jari-jarinya menjelajahi setiap lekuk tubuh Alena, membuat gadis itu menggigil hebat dan meremas bahu Elio lebih erat.

Dengan hati-hati namun semakin berani, tangan Elio bergerak maju, menyentuh area yang paling sensitif dan lembut milik Alena melalui kain pakaian yang tipis itu. Sentuhan itu membuat Alena menahan napas seketika, matanya terpejam rapat, dan mulutnya mengeluarkan suara erangan pelan yang tertahan. Seluruh tubuhnya terasa panas, seolah terbakar oleh api gairah yang menyebar ke setiap urat nadinya.

“Elio… itu… terasa aneh tapi… enak sekali,” bisik Alena dengan suara lirih dan terguncang, tidak mampu mengendalikan perasaannya sendiri.

Elio tersenyum samar mendengarnya, lalu mencium telinga dan leher Alena lagi untuk menenangkan sekaligus menggoda lebih lanjut. Gerakan tangannya tetap lembut dan penuh perhatian, tidak tergesa-gesa, hanya ingin memberikan kenikmatan dan kehangatan bagi gadis yang dicintainya itu. Ia sadar batas yang harus dijaga, namun di saat yang sama, ia ingin memuaskan rasa rindu dan keinginan yang telah terpendam begitu lama.

Di dalam ruangan kamar mandi yang sempit itu, hanya terdengar suara napas yang memburu dan suara kecupan lembut yang terputus-putus. Waktu seolah berhenti berjalan, dan dunia di luar sana terasa tidak ada artinya lagi. Hanya ada mereka berdua, saling merasakan kehangatan, saling memuaskan rasa rindu, dan menyatukan jiwa serta tubuh dalam keintiman yang penuh rasa hormat dan cinta.

Setelah beberapa saat yang terasa sangat panjang namun singkat sekaligus, Elio perlahan menghentikan gerakan tangannya. Ia menarik tubuh Alena masuk ke dalam pelukannya, memeluk gadis itu erat-erat seolah ingin menyatukan diri mereka menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Keduanya terengah-engah, dada mereka naik turun dengan cepat, wajah mereka sama-sama memerah dan berkeringat tipis.

Elio menempelkan dahinya di dahi Alena, menatap mata gadis itu dengan pandangan yang penuh rasa sayang dan lembut. “Maafkan aku… aku terlalu berani. Apakah kamu marah?”

Alena menggeleng pelan, lalu tersenyum tipis sambil menyandarkan kepalanya di dada Elio, mendengarkan detak jantung yang sama kencangnya dengan jantungnya sendiri. “Tidak… aku tidak marah. Justru… aku merasa sangat dicintai. Aku juga menginginkannya, Elio. Selama itu bersamamu, aku tidak takut apa pun.”

Mendengar jawaban itu, hati Elio terasa sangat bahagia dan lega. Ia mencium ubun-ubun Alena dengan lembut, lalu mengusap punggung gadis itu dengan gerakan menenangkan. “Kita akan berjalan pelan-pelan saja, sayang. Tidak akan ada yang memaksakan apa pun. Selama kita saling mencintai, semuanya akan terasa indah dan tepat waktunya.”

Mereka berdua tetap berdiri berpelukan di dalam kamar mandi itu selama beberapa menit lagi, menikmati kehangatan dan kedamaian yang hanya bisa didapatkan saat berada di dekat satu sama lain. Perlahan, detak jantung mereka kembali teratur, dan napas mereka pun mulai tenang.

Elio membantu Alena merapikan rambut dan pakaiannya, sementara Alena juga membantu mengenakan kembali kaos Elio yang terlepas. Saat mereka melangkah keluar dari kamar mandi dan duduk di tepi tempat tidur, suasana di dalam kamar itu terasa berbeda—lebih hangat, lebih dekat, dan penuh dengan rasa saling memiliki yang semakin kuat.

Malam itu, meskipun mereka berdua tahu bahwa Kakek Baskara bisa pulang kapan saja, perasaan yang baru saja mereka bagi membuat mereka semakin yakin bahwa jalan yang mereka pilih bersama adalah jalan yang benar. Cinta mereka tumbuh semakin kuat, tidak hanya diucapkan dengan kata-kata, tetapi juga dibuktikan dengan sentuhan, perhatian, dan keintiman yang tulus.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!