Setelah bertahun-tahun menanti buah hati, badai besar menghancurkan rumah tangga Lani.
Ia diceraikan oleh suaminya, Alex, yang berselingkuh dengan sahabat karib Lani sendiri.
Di tengah usaha menyembuhkan luka hati dan bangkit dari keterpurukan, takdir mempertemukan Lani dengan Afrain—pria berjiwa bebas yang merupakan mantan suami dari kakak Alex.
Sama-sama membawa trauma masa lalu, pertemuan tak sengaja itu perlahan berubah menjadi ikatan emosional yang dalam.
Afrain menjadi tempat bersandar yang memahami kepedihan Lani, dan benih-benih cinta pun mulai tumbuh di antara mereka. Namun, hubungan baru ini berada di lingkaran keluarga yang rumit dan penuh kecanggungan.
Di hadapan restu yang dipertanyakan dan bayang-bayang masa lalu yang saling berkaitan, akankah Lani berhasil melepaskan diri dari jerat trauma dan menemukan kebahagiaan sejatinya bersama Afrain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Bulan madu di Bali berjalan lebih dari sekadar liburan biasa bagi Alex dan Lani; itu adalah momen istimewa yang berhasil mengikat kembali hati mereka yang sempat retak.
Setiap harinya dipenuhi dengan kebahagiaan kecil yang mereka rangkai bersama, menjauhkan mereka dari hiruk-pikuk serta tuntutan kehidupan sehari-hari.
Pagi hari mereka mulai dengan sarapan mewah di balkon kamar hotel yang menghadap langsung ke laut lepas, menikmati hangatnya mentari sambil mendengarkan harmoni deburan ombak.
Lani tertawa riang saat Alex mencoba memasak telur dadar ala Bali di dapur kecil vila mereka.
Meski hasilnya jauh dari kata sempurna dan sedikit gosong. Namun, tawa renyah Lani berhasil menghapus sisa-sisa ketegangan yang selama ini membeku di antara mereka.
Mereka menjelajahi tempat-tempat romantis, berjalan bergandengan tangan di bawah rindangnya pepohonan, menikmati hijau menyejukkannya sawah terasering, hingga menyusuri pantai-pantai tersembunyi yang sepi. Seolah-olah, dunia saat itu hanya milik mereka berdua.
Salah satu momen paling berkesan adalah ketika mereka mengikuti prosesi spiritual lokal.
Pengalaman emosional itu kian memperkuat ikatan batin mereka.
Lani dan Alex merasa seolah langkah mereka diberkati oleh semesta, menumbuhkan rasa syukur yang mendalam.
Waktu tanpa gangguan dari luar ini memberi mereka kesempatan emas untuk membasuh luka lama dan membangun fondasi baru yang lebih kokoh.
Di malam terakhir, saat bintang-bintang berkelip indah di langit Bali, mereka duduk bersisian di atas hamparan pasir hangat, menatap laut malam.
“Semoga perjalanan ini membawa berkah yang indah untuk pernikahan kita, Mas.” ucap Lani.
Alex menatap dalam-dalam ke sepasang mata Lani yang memantulkan cahaya bintang.
Di sana, mereka saling berbagi cerita tentang impian dan harapan masa depan mengenai kehadiran seorang anak.
Merasakan gelombang cinta yang utuh, Alex mengecup punggung tangan istrinya.
"Aku percaya, Lan. Kita akan melewati semua tantangan ini bersama-sama. Aku tidak akan membiarkan apa pun memisahkan kita lagi.”
Ketika waktu kepulangan akhirnya tiba, mereka merasa jauh lebih siap dan tegar untuk kembali menghadapi kehidupan di ibu kota. Namun, mereka tidak menyadari bahwa di seberang pulau, sebuah badai besar yang mengerikan kini tengah mengintai kepulangan mereka.
Sementara Alex dan Lani membawa pulang sisa-sisa kebahagiaan dari Bali, atmosfer di rumah keluarga besar Alex justru berbanding terbalik.
Di ruang tamu yang gerah, Ibu Narti duduk bersama Sisil dan Dimas.
Wajah mereka bertiga memerah, menyiratkan luapan amarah yang tertahan.
“Awas saja kalau mereka sudah pulang nanti!” suara Ibu Narti bergetar hebat, sarat akan dendam.
“Aku sudah capek pura-pura diam dan sabar! Alex, benar-benar makin tidak tahu diri sebagai anak tertua. Bisa-bisanya dia membawa perempuan mandul itu liburan mewah ke Bali, seolah-olah perintah ibunya ini tidak ada harganya! Apa maksudnya ini? Dia sengaja membangkang?!”
Sisil, yang sejak awal menaruh kebencian mendalam pada Lani, menimpali dengan nada suara yang tidak kalah sinis.
"Alex itu berubah drastis sejak menikah dengan Lani, Bu! Dia jadi jauh dari keluarga kita, makin pelit, dan susah sekali diatur. Aku nggak habis pikir, guna-guna apa yang dipakai parasit itu sampai Mas Alex sebodoh ini!”
Dimas mengangguk setuju sambil tersenyum licik, sengaja menuangkan minyak pada api yang kian berkobar.
“Mungkin Mas Alex memang sudah terperangkap rayuan busuk Lani, Mbak. Lani pasti sengaja merengek minta bulan madu supaya Mas Alex tambah lengket dan lupa sama rencana cerai. Tapi tenang saja, aku sudah menyiapkan rencana matang.”
Dimas merapatkan posisi duduknya, menyeringai penuh kemenangan.
“Begitu mereka menapakkan kaki di rumah dari bandara, aku yang akan bicara langsung dan menyudutkan Mas Alex. Kita harus mengambil tindakan nyata yang ekstrem agar masa depan keluarga kita tidak terus-terusan kacau karena wanita itu.”
Ibu Narti mengangguk mantap, menyetujui ide anak bungsunya.
Sorot matanya menghunjam tajam, dipenuhi rencana busuk.
“Kita harus buka paksa mata Alex! Kita tunjukkan di depan mukanya kalau Lani itu tidak lebih dari sebuah beban sial! Anak tidak punya, menjaga nama baik keluarga tidak bisa, masak pun payah! Bulan madu? Huh, hanya buang-buang uang dan memalukan keluarga saja!”
Di ruang tamu itu, mereka bertiga mulai berbisik, menyusun skenario intimidasi dan tekanan psikologis yang masif.
Mereka bertekad menciptakan siksaan emosional yang begitu hebat untuk memaksa Alex mempercayai bahwa pernikahannya adalah kesalahan terbesar yang harus segera diakhiri.
Mereka menghabiskan hari demi hari dalam keluh kesah penuh racun, tanpa mereka ketahui bahwa Alex yang sekarang telah mulai berubah.
Meruntuhkan tembok cinta yang baru ia bangun bersama Lani di Bali, tidak akan pernah sesederhana yang mereka bayangkan.
Di tempat lain, di sebuah kawasan perkantoran elit di pusat kota, Afrain melangkah keluar dari mobilnya.
Pria berjiwa bebas dengan tatapan mata yang dalam itu merapikan kemeja kasualnya yang sedikit kusut.
Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di lingkungan keluarga mantan istrinya, Sisil. Konflik masa lalu dan perceraiannya membuat Afrain memilih menjauh dari lingkaran keluarga yang toksik itu.
Namun, ada satu nama yang belakangan ini terus mengusik pikirannya: Lani.
Afrain selalu mengingat Lani sebagai sosok adik ipar yang tulus, lembut, dan terlalu baik untuk berada di tengah-tengah keluarga berhati dingin seperti keluarga Narti.
Ia tahu betul bagaimana watak mantan ibu mertua dan ipar-iparnya.
"Bagaimana kabarmu sekarang, Lani? Apakah Alex menjagamu dengan baik?" gumam Afrain.
Rasa penasaran dan dorongan insting yang kuat akhirnya membawa langkah Afrain sore itu untuk mengunjungi kediaman Alex dan Lani.
Ia mengingat alamat rumah kontrakan sederhana yang pernah mereka tempati beberapa tahun lalu—tempat yang dulu sering ia kunjungi sebelum badai perceraian menghancurkan hubungannya dengan keluarga itu.
Setelah menempuh perjalanan membelah kemacetan, mobil Afrain berhenti di depan sebuah pagar rumah yang tampak sedikit kusam.
Ia turun dan mengernyitkan keningnya saat melihat suasana rumah itu tampak sepi, dengan papan kecil bertuliskan "Dikontrakan" yang menggantung lesu di pagar besi.
Afrain melangkah mendekat, lalu mengetuk pintu pagar.
"Permisi..."
Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya dari rumah sebelah keluar sambil membetulkan daster yang dikenakannya.
"Cari siapa ya, Pak?"
"Maaf mengganggu, Bu. Saya mencari Alex dan Lani yang tinggal di rumah ini. Apakah mereka sedang pergi?" tanya Afrain sopan.
Wanita itu langsung melambaikan tangan setinggi dada.
"Oalah, Mas Alex sama Mbak Lani? Mereka sudah pindah dari sini, Pak. Sudah lama sekali, ada kalau satu tahun yang lalu."
Afrain tertegun. "Pindah? Kalau boleh tahu, mereka pindah ke mana ya, Bu?"
Tetangga itu menggelengkan kepala. "Wah, kalau alamat pastinya saya kurang tahu, Pak. Waktu itu mereka pindah mendadak, katanya mau cari suasana baru yang lebih tenang. Mbak Lani cuma pamit titip kunci ke pemilik kontrakan. Kasihan Mbak Lani, waktu pindahan kelihatan sering murung."
Perkataan wanita itu bagai hantaman kecil di dada Afrain.
"Pindah mendadak satu tahun yang lalu? Mengapa? Apakah tekanan dari Ibu Narti dan Sisil sudah sekaku itu hingga membuat mereka harus melarikan diri?" gumam Afrain.
"Baiklah, Bu. Terima kasih banyak atas informasinya," ucap Afrain dengan senyum dipaksakan.
Ia kembali ke dalam mobilnya, mencengkram kemudi dengan erat.
Perasaan tidak tenang kian berkecamuk di dalam hatinya.
Ke mana pun Lani pergi, Afrain tahu wanita itu sedang tidak baik-baik saja di bawah bayang-bayang keluarga itu.
Pria itu menghela napas panjang, bertekad dalam hati untuk mencari tahu keberadaan Lani, tanpa menyadari bahwa takdir sedang menuntun mereka ke sebuah titik pertemuan yang tidak terduga.