NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Malam di penthouse itu terasa jauh lebih sunyi dibandingkan heningnya perkebunan teh. Di sini, kesunyian dibalut oleh lapisan kemewahan yang dingin—lantai marmer yang mengkilap, pencahayaan ambient yang temaram, dan aroma pengharum ruangan otomatis yang berbau kayu gaharu mahal.

Arlan duduk di meja makan panjang berbahan kayu ek, matanya tidak lepas dari layar tablet yang menampilkan grafik saham yang fluktuatif. Namun, fokusnya sebenarnya tidak di sana. Telinganya justru menangkap setiap bunyi yang berasal dari arah dapur terbuka di hadapannya. Bunyi denting pisau yang beradu dengan talenan kayu, desis minyak yang bertemu dengan daging, dan gerakan lincah seorang wanita yang kini menjadi pusat gravitasi dunianya.

"Tuan, makan malam sudah siap."

Suara Gita—atau Bianca—memecah keheningan. Ia melangkah mendekat, membawa piring besar berisi Beef Wellington dengan saus red wine reduction yang aromanya seketika memenuhi ruangan. Visual makanannya sempurna; lapisan pastry yang cokelat keemasan, daging yang merah muda di tengah, dan penataan yang menyerupai standar restoran bintang lima.

Arlan menatap hidangan itu, lalu beralih menatap wajah Bianca yang masih terlihat tenang meski ada butiran keringat tipis di pelipisnya.

"Aku memintamu memasak makanan Barat karena Meta bilang koki pribadiku sedang cuti," ujar Arlan, suaranya rendah dan menyelidik. "Tapi aku tidak menyangka seorang pelayan desa bisa mengeksekusi Beef Wellington dengan tingkat kematangan medium rare yang sepresisi ini. Bahkan teknik duxelles-nya sangat halus."

Bianca tetap berdiri tegak, tangannya bertaut di depan. "Saya hanya mengikuti resep yang saya temukan di rak buku dapur Anda, Tuan. Lagipula, memasak adalah soal ketelitian, bukan soal latar belakang."

Arlan tersenyum miring, sebuah senyum yang tidak sampai ke mata. Ia meraih botol anggur Chateau Margaux yang sudah didekantasi sebelumnya.

"Kalau begitu, tuangkan anggurnya untukku, Gita."

Bianca bergerak maju. Ia meraih botol itu dengan gerakan yang begitu alami. Tanpa sadar, ia memegang leher botol dengan satu tangan sementara tangan lainnya menyangga bagian bawah dengan posisi jempol yang masuk ke dalam cekungan botol—sebuah teknik pouring profesional yang hanya diketahui oleh penikmat anggur kelas atas atau mereka yang terbiasa hidup dalam jamuan formal.

Saat menuangkan, Bianca secara tidak sengaja melirik gelas kristal yang digunakan Arlan.

"Kristal Baccarat seri Harcourt... pilihan yang sangat maskulin untuk ruangan ini," gumamnya sangat lirih, hampir seperti bicara pada diri sendiri.

Gerakan tangan Arlan yang hendak meraih gelas terhenti seketika. Matanya menyipit tajam.

"Bagaimana kamu tahu itu Baccarat? Dan seri Harcourt?"

Bianca tersentak, menyadari kekeliruannya. Ia segera menunduk, mencoba menyembunyikan kilatan panik di matanya. "Saya... saya pernah melihatnya di majalah dekorasi rumah yang ada di villa, Tuan. Maaf kalau saya lancang."

"Majalah desa tidak membahas kristal seharga ribuan dollar per set, Gita," desis Arlan. Ia berdiri, membuat kursi yang ia duduki bergeser dengan suara decitan yang tajam. Ia melangkah mendekati Bianca, memangkas jarak hingga wanita itu bisa mencium aroma red wine dan parfum maskulin Arlan.

"Siapa kamu sebenarnya? Pelayan desa tidak punya indra perasa yang begitu tajam terhadap kemewahan."

Bianca mundur selangkah, namun punggungnya justru tertahan oleh pinggiran meja dapur yang dingin. "Saya hanya orang yang banyak membaca, Tuan. Anda terlalu curiga."

"Curiga adalah caraku bertahan hidup," balas Arlan, tangannya bergerak menyentuh helaian rambut Bianca yang lolos dari ikatannya.

Karena gugup dan ingin segera mengakhiri konfrontasi itu, Bianca berbalik cepat ke arah kompor untuk mengambil sisa saus. Namun, tangannya yang gemetar menyentuh pinggiran panci tembaga yang masih sangat panas.

"Akh!" Bianca memekik pelan, menarik tangannya dengan cepat. Tiga jari tangan kanannya memerah seketika, melepuh terkena panas logam.

Melihat hal itu, raut wajah dingin Arlan seketika runtuh, digantikan oleh gurat kecemasan yang tulus. Tanpa bicara, ia menyambar pergelangan tangan Bianca dan menariknya menuju wastafel. Ia menyalakan keran, membiarkan air dingin mengalir membasahi luka bakar itu.

"Bodoh. Kenapa tidak hati-hati?" gerutu Arlan, namun nada suaranya justru terdengar sangat protektif.

"Saya bisa sendiri, Tuan—"

"Diam," potong Arlan mutlak.

Setelah dirasa cukup dingin, Arlan menuntun Bianca duduk di sofa ruang tengah. Ia mengambil kotak P3K dari laci meja. Arlan berlutut di lantai, di depan Bianca yang duduk terpaku. Dengan sangat teliti dan lembut, Arlan mengoleskan salep luka bakar pada jari-jari Bianca.

Dalam jarak yang sangat dekat itu, Bianca bisa melihat setiap helai bulu mata Arlan, kerutan tipis di dahi pria itu karena konsentrasi, dan merasakan napas hangat Arlan yang mengenai punggung tangannya. Getaran yang sudah sangat lama ia kubur dalam-dalam di balik tembok penjara dan pengasingan desa—getaran sebagai seorang wanita yang merasa dilindungi—kini bangkit kembali dengan kekuatan yang menakutkan.

Arlan mendongak, matanya yang tajam kini melembut, menatap langsung ke dalam manik mata Bianca. Tangan Arlan tidak melepaskan tangan Bianca setelah selesai mengobati; ia justru menggenggamnya perlahan.

"Tangan ini..." Arlan mengusap telapak tangan Bianca yang halus namun memiliki sedikit bekas kapalan di bagian tertentu. "Ini bukan tangan seorang pelayan. Ini tangan seseorang yang pernah menggenggam dunia, namun memilih untuk melepaskannya."

Bianca merasakan tenggorokannya tercekat. Air mata yang sejak tadi ia tahan nyaris tumpah. "Dunia yang saya genggam dulu adalah dunia yang penuh duri, Tuan Arlan. Melepaskannya adalah satu-satunya cara agar saya tidak mati kehabisan darah."

Arlan terdiam, merasakan kejujuran yang pedih dalam kalimat itu. Ia mendekatkan wajahnya, hidung mereka hampir bersentuhan. Posesifitas Arlan kali ini tidak terasa seperti ancaman, melainkan seperti tempat bernaung.

"Kalau begitu, biarkan aku yang menggenggam tanganmu sekarang. Agar kamu tidak perlu lagi memegang duri itu sendirian."

Detik itu, Bianca menyadari satu hal yang paling berbahaya: ia mulai jatuh cinta pada pria yang seharusnya ia hindari demi keselamatan rahasianya.

Tepat sebelum bibir mereka bertemu, suara bel apartemen berbunyi dengan nada yang panjang dan mendesak. Arlan melepaskan tangan Bianca dengan enggan, wajahnya kembali mengeras karena terganggu.

"Tetap di sini," perintah Arlan.

Arlan berjalan menuju pintu dan membukanya. Di sana, berdirilah Stella. Mantan istrinya itu tampil glamor dengan gaun merah ketat dan tas jinjing bermerek, namun wajahnya tampak pucat dan penuh amarah.

"Arlan! Kamu harus jelaskan ini!" seru Stella sambil menyodorkan sebuah amplop cokelat. "Doni mengirimkan surat gugatan balik atas namamu! Kamu ingin memenjarakanku atas tuduhan pemalsuan dokumen?!"

Arlan bersedekap, berdiri menjulang di depan pintu. "Kamu yang memulainya lebih dulu, Stella. Kamu membekukan asetku, maka aku akan membekukan kebebasanmu."

Stella tertawa histeris, namun matanya melirik ke dalam apartemen, menembus bahu Arlan hingga menangkap sosok Bianca yang berdiri di ruang tengah. Mata Stella membelalak, ia mengenali aura wanita itu meski Bianca hanya memakai pakaian sederhana.

"Oh... jadi ini alasannya kamu tidak mau berdamai?" Stella menunjuk ke arah Bianca dengan jarinya yang berkutek merah. "Kamu memungut pelayan desa untuk dijadikan simpanan di sini? Atau jangan-jangan... wanita itu adalah alasan kenapa kamu mendadak jadi sangat berani?"

***

1
ms. yati74
Stella pewangi ruangan cari gara gara....weees cepet di bejek bejek sak Mahendra nya di bikin jadi gelandangan yooo bang Ar
Mukeseh
hajar stella arlan 🤣🤣🤣 q suka list keributan besar pokoke 😂😂😂
Anisa Sudarwanto
lnkut thorr
Mundri Astuti
Kirana coba muncul sama Raditya yak
Verawati Naycyl
Stella kamu salah memilih lawan.....bisa bisa kamu sama Mahendra bakalan di bikin nangis darah
fatmawati (pipit)
stella kamu blm mengenal keluarga adytama, jari lentik seseorang bisa membuka tabir kebusukan mu dan keluarga mu dlm pencurian aset milik arlan
Mundri Astuti
lanjut thor 🙏
Mukeseh
stella belum ae siapa gita ivara 🤣🤣 apalagi kalau mahendra tau apa gak syok dia 🤭
Sri Murtini
Byanka tenang saja blm saatnya kau kembali ke Surabaya
ryuka
adduuhhh duuhh bianca gimana ini 🤭🤭🤭🤭🤭
Mukeseh
lagi thorr
fatmawati (pipit)
stella kau blm mengenal bianca secara seluruhnya, mungkin dia di penjara bukan karna kemauannya karna ada seseorang yg menjebak dia dan keluarga adytama hancur
mungkin juga karna musuh raditya
fatmawati (pipit): yg itu aku lupa🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
fatmawati (pipit)
kau blm mengenal biaca adytama (gita Ivana) kau ingin menjatuhkan bianca maka kau akan berhadapan dengan sisi lainnya bianca
ryuka
aduuhhh bianca kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠🫠🫠
Mundri Astuti
Mahendra minta dikepret ma Kirana dan raditya
Mundri Astuti
jangan harap bisa nyentuh Bianca kaya si bunglon Stella Mahendra, krn da Raditya, Kirana dan Aditama ...
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh
Mukeseh
huuuu 😂😂semoga atrlan bisa mrlindu gi
Verawati Naycyl
gak sabar nunggu kelanjutannya thor....bakalan di apain Bianca sama Arlan..
Verawati Naycyl
lanjut thor..
Mundri Astuti
diihhhh Arlan, Gita atau Bianca ga terus terang itu krn privasinya, emang selama ini dia ngerugiin kamu kaya mantanmu itu...ngga kan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!