"Ayo mengaku, Mas Sholeh! Kamu bisa lihat aku, kan?! Jangan bohong, bohong itu dosa, nanti masuk neraka loh!"
Bagi Arash, menjadi cowok indigo itu melelahkan. Makanya, dia pakai trik keramat: Pura-pura buta huruf soal hal gaib. Mau ada pocong kayang pun, Arash bakal tetap lempeng.
Strategi itu sukses bertahun-tahun, sampai dia ketempelan sesosok roh cewek misterius yang punya jiwa "cegil" (cewek gila) akut. Bukannya nakutin, roh genit ini malah rusuh mengintil kemana-mana, bahkan nekat narik kerah jaket Arash demi minta perhatian.
Arash mati-matian bertahan demi menjaga iman dan aktingnya. Tapi saat teror mistis yang mengancam nyawanya datang, si hantu cegil justru pasang badan paling depan dengan cara yang paling bar-bar.
Gimana jadinya kalau cowok sholeh berkharisma harus menghadapi musuh gaib bersama hantu cegil yang ternyata... belum sepenuhnya mati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mommy_Ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Sebuah suara gadis yang lembut, sedikit serak, dan terdengar terengah-engah manja mendadak berbisik tepat di lubang telinga kanan Arash.
Embusan napas dari suara itu terasa ghaib dingin, kering, dan membawa aroma wangi bunga kantil yang sangat pekat.
Arash tersentak di dalam diam. Jantungnya kembali berdesir hebat. Dia sangat mengenali warna suara itu.
Nada bicaranya, intonasinya, bahkan cara menyebut namanya terdengar persis seperti Vella, Suara yang sempat membuat teman-temannya bersorak menggoda.
Namun, akal sehat Arash langsung memotong jalur impuls tersebut. Logikanya berteriak keras.
‘Ini bukan Vella, tapi Valak. Yakin Rash, jangan tergoda,’ gumam nya dalam hati, ‘Dia gak mungkin ada disini.’
Ini adalah tengah malam buta, di pedalaman hutan bambu yang terisolasi, bermil-mil jauhnya dari area pemukiman warga, apalagi sekolah.
Ini adalah tipu daya ghaib yang jauh lebih licik. Jika makhluk-makhluk sebelumnya menggunakan jalur teror visual untuk menakuti fisiknya, maka makhluk yang satu ini menggunakan jalur manipulasi psikologis untuk mengguncang batin dan nafsu manusianya.
"Arash, buka matamu... Ini aku, Vella. Aku tersesat di hutan ini, Arash... Dingin sekali di sini. Tolong aku..." bisik suara itu lagi, kini terdengar merintih, seolah-olah sang gadis sedang menangis ketakutan di sampingnya.
Sentuhan dingin itu kian berani.
Kini, sepasang lengan tak kasat mata itu mulai melingkar di leher Arash dari arah belakang.
Arash bisa merasakan ilusi sebuah tubuh yang bersandar di punggung telanjangnya.
Rasa dingin yang ditimbulkan dari jepitan lengan itu mulai membuat otot-otot bahu Arash menegang kaku.
Jiwa remajanya egois berbisik untuk sekadar melirik, memastikan apakah itu benar-benar Vella atau bukan.
Rasa penasaran dan belas kasihan yang semu mulai bergesekan di dalam kepalanya.
Namun, Arash bukanlah anak indigo amatir yang mudah terkecoh oleh tipu muslihat murahan dunia astral.
Dia tahu betul, sekali saja dia membuka kelopak matanya atau membalas ucapan suara itu, maka pertahanan batinnya akan jebol seutuhnya, dan dia akan dinyatakan gagal dalam ujian malam ini.
Arash terus digoda oleh perwujudan wanita yang menyerupai Vella itu.
Suara itu mulai beralih taktik, dari merintih sedih menjadi bisikan-bisikan manis yang memuji ketampanan dan keberanian Arash.
Jemari dingin itu kini mulai mengusap pipi Arash, mencoba memaksa wajah cowok itu untuk menoleh ke samping.
Di dalam kegelapan pejamannya, radar indigo Arash sebenarnya menangkap wujud asli dari makhluk yang sedang menempel di tubuhnya, sesosok siluman ular betina berkepala wanita cantik namun memiliki lidah yang bercabang dua, dengan bagian pinggang ke bawah berwujud sisik-sisik hijau gelap yang licin.
Meskipun godaan itu terasa begitu nyata dan mengikis fokusnya, Arash tetap memejamkan matanya seerat mungkin. Dia mengunci rahangnya rapat-rapat, menolak mengeluarkan sepatah kata pun untuk merespons suara jahanam tersebut.
Di dalam hatinya, denyut zikir justru dipompa berkali-kali lipat lebih deras dan cepat.
‘Ya Hayyu Ya Qayyum… Ya Hayyu Ya Qayyum… Ya Allah, Ya Hafizh, Ya Muhaimin…’
Setiap kali jemari dingin itu mengusap kulitnya, Arash membalasnya dengan hantaman zikir di dalam pikiran.
Dia memusatkan seluruh kesadarannya hanya pada asma Allah, mencoba menenggelamkan suara bisikan "Vella palsu" itu di bawah gelombang spiritualnya sendiri.
Dia membayangkan sebuah dinding cahaya putih yang tebal menyelimuti setiap jengkal kulitnya yang disentuh.
Merasakan mangsanya sama sekali tidak goyah dan justru memperkuat benteng batinnya, suara lembut yang menyerupai Vella itu mendadak berubah.
Nada manja dan serak basah itu lenyap dalam sekejap, berganti menjadi pekikan kemarahan yang melengking tinggi, khas suara nenek-nenek tua yang mendesis murka.
"Bocah keras kepala! Keras hati!" desis suara itu, kini terdengar sangat parau dan bergetar penuh kebencian.
Cengkeraman di leher Arash mengencang selama beberapa detik, mencoba mencekik jalur napas fisik Arash hingga cowok itu sempat terbatuk kecil.
Namun, Arash tetap tidak menyerah. Dia mempertahankan posisi duduk bersilanya dengan kokoh, bagai batu karang yang dihantam ombak samudera. Fokusnya telah terkunci sepenuhnya pada Sang Pencipta.
Wuuushhh!
Seiring dengan gelombang keimanan dan kepasrahan total yang membuncah dari dalam dada Arash, hawa dingin yang menempel di punggungnya mendadak menguap seperti embun yang terkena sinar matahari.
Sentuhan di leher dan lengannya terlepas paksa. Terdengar suara desisan ular yang kesakitan, diikuti oleh bunyi gesekan semak-semak yang cepat, menandakan makhluk manipulatif itu akhirnya memilih mundur dan kabur kembali ke kegelapan hutan karena tidak kuat menahan panasnya energi zikir murni milik Arash.
Suasana di sekitar pancuran air perlahan-lahan kembali normal.
Angin malam bertiup lembut, dan suara jangkrik yang sempat hilang kini mulai terdengar kembali satu per satu di kejauhan.
Arash perlahan mengendurkan ketegangan di bahunya. Napasnya keluar secara teratur, meninggalkan kepulan uap tipis di udara.
Ujian manipulasi batin dan nafsu telah berhasil dilaluinya dengan kemenangan mutlak.
Dia tetap bertahan di atas batunya, terus berzikir di bawah kucuran air pegunungan yang jernih, menjaga hatinya tetap terjaga hingga garis fajar pertama menyemburat di ufuk timur.
‘Sedikit lagi Rash, sebentar lagi subuh. Tahan, tahan, kamu kuat.’
u benar-benar ya bikin harapan makin palsu aja bukannya benar ekh malah amburadul..
wah wah benar-benar s cengil kocak u ya.. hahahaha
Hayooohhh buruan,,anterin tuh si Poci ke salon Ghoib,,
malah di interogasi dlu🤣🤣🤣