Mutiara Bumi: Sang Kucing Putih dan Sang CEO
Bai Xue adalah makhluk asing berwujud kucing berbulu putih cantik yang datang ke Bumi bersama empat temannya. Misi mereka adalah mengumpulkan Mutiara Energi untuk menyelamatkan planet asal mereka yang terancam punah. Mereka semua bisa berubah wujud menjadi manusia kapan saja.
Di Bumi, Bai Xue berubah menjadi gadis cantik berusia 20 tahun yang mungil, ceria, dan baik hati. Takdir mempertemukannya dengan Xiao Chen, seorang CEO muda kaya raya yang jenaka, tengil, agak ceroboh, dan memiliki keunikan: ia sangat alergi terhadap kucing.
Awalnya pertemuan mereka penuh insiden konyol, namun lama-kelamaan Xiao Chen mengetahui rahasia Bai Xue dan mulai jatuh hati padanya. Bersama teman-teman alien dan orang-orang kepercayaannya, mereka berusaha mengumpulkan energi sambil melawan musuh yang ingin mencuri kekuatan para alien dan menghancurkan perusahaan Xiao Chen.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kawaichanopi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden Di Trotoar
Sore itu, matahari mulai condong ke barat, memancarkan cahaya keemasan yang hangat menyelimuti seluruh kota. Jalanan utama di depan Gedung Grup Perusahaan Xiao semakin ramai, dipenuhi oleh orang-orang yang pulang bekerja, kendaraan yang berlalu-lalang, dan suara hiruk-pikuk kehidupan yang menggema ke mana-mana.
Di antara keramaian itu, berjalanlah lima sahabat penjelajah dari bintang jauh. Mereka kini tampak sepenuhnya seperti manusia biasa, sehingga tidak ada satu pun yang curiga akan asal-usul mereka. Bai Xue berjalan paling depan dengan langkah ringan, matanya yang besar berkeliling tak henti mengagumi segala hal yang ada di sekelilingnya. Ia menatap kagum pada papan iklan besar yang berwarna-warni, tersenyum ramah pada anak-anak yang berlari, dan sesekali berhenti sebentar hanya untuk menyentuh permukaan bangunan atau pagar pembatas jalan.
"Hebat sekali manusia bumi ini," gumam Bai Xue penuh kekaguman. "Mereka bisa menciptakan segala sesuatu yang indah dan megah hanya dengan kekuatan tangan dan akal pikiran mereka. Rasanya aku tidak akan pernah bosan melihat-lihat tempat ini."
Di sebelahnya, Tu Zi yang berwujud gadis remaja ceria melompat-lompat kecil sambil memegang sebatang es krim yang baru saja dibelinya. Ia dengan antusias mencicipi segala makanan yang dijual di pinggir jalan, menganggap bahwa menjelajah dunia sama artinya dengan mencicipi segala rasa yang ada di sana.
"Benar sekali! Makanan mereka juga luar biasa enak! Rasanya manis, dingin, dan meleleh di mulut. Di Xing Yun kita tidak punya hal seindah ini," seru Tu Zi dengan mulut penuh, membuat Wu Gui yang berjalan di belakangnya sambil berwujud kakek tua bijaksana hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum kecil.
"Nikmatilah selagi bisa, anak-anak. Tapi ingat tujuan utama kita. Sistem X-9 mendeteksi bahwa sumber energi terbesar di wilayah ini berpusat tepat di gedung tinggi yang ada di depan sana," kata Wu Gui sambil menunjuk ke arah gedung pencakar langit milik keluarga Xiao.
Feng Huang yang berjalan dengan gaya gagah dan sedikit sombong, mengamati gedung itu dengan tatapan tajam. "Aku bisa merasakannya juga. Getaran energinya sangat kuat, bercampur dengan sejarah, kekuasaan, dan emosi yang sangat besar. Dan... di dalam sana, gelombang energi yang paling mencolok adalah milik manusia itu. Xiao Chen."
Mendengar nama itu disebut, mata Bai Xue langsung berbinar. Ia kembali menatap gedung tinggi itu dengan rasa penasaran yang makin memuncak. "Xiao Chen... Jadi manusia yang alergi kucing itu bekerja di sana ya? Aku penasaran sekali, seperti apa sebenarnya dia di tempat kerjanya. Apakah tetap sama tengil dan cerewetnya seperti tadi di pinggir hutan?"
Hu Die berjalan perlahan di samping Bai Xue, wajahnya yang lembut memancarkan ketenangan. "Hati manusia itu sangat rumit, Bai Xue. Meski luarnya terlihat kasar atau rewel, belum tentu hatinya begitu. Seperti yang kukatakan tadi, aku merasakan ada kebaikan tersembunyi di dalam dirinya. Nanti kita pasti akan mengetahuinya lebih dalam."
Saat mereka sedang berjalan menyusuri trotoar yang cukup lebar itu, pintu kaca otomatis gedung perusahaan besar itu terbuka lebar. Keluarlah sekelompok orang berpakaian rapi dan berwibawa. Di barisan paling depan, berjalanlah seorang pemuda dengan langkah cepat dan tegap, dagu sedikit diangkat tinggi, wajahnya berkerut seolah sedang menanggung beban berat atau kekesalan yang besar.
Itu adalah Xiao Chen.
Di belakangnya berjalan Chen Li, sekretaris setianya, sambil membawa berkas-berkas dan berusaha mengimbangi langkah cepat majikannya yang tergesa-gesa.
"Tuan Xiao Chen, tolong kurangi kecepatan berjalan Anda sedikit. Saya tidak bisa mengimbangi langkah panjang Anda ini," keluh Chen Li sambil terengah-engah, berusaha menjaga keseimbangan tumpukan dokumen di tangannya.
Namun Xiao Chen seolah tidak mendengar. Ia berjalan terus sambil terus mengomel sendiri, tangannya sesekali mengacak-acak rambutnya yang rapi karena kekesalan.
"Sialan! Guo Feng benar-benar keterlaluan! Berani sekali dia memamerkan kemenangannya di depan umum begitu saja. Dasar manusia tidak tahu diri! Tunggu saja, lain kali aku akan buat dia menyesal telah lahir ke dunia ini. Kurang ajar, membuatku harus pulang lebih awal dan kehilangan waktu istirahatku!"
Sifat ceroboh dan tergesa-gesanya benar-benar muncul habis-habisan saat ini. Matanya menatap lurus ke depan, dipenuhi amarah dan pikiran yang kacau, sehingga ia sama sekali tidak memperhatikan keadaan di sekitarnya, apalagi orang-orang yang berjalan berpapasan dengannya.
Chen Li yang ada di belakang sudah mulai gelisah. "Tuan, hati-hati! Di depan ada banyak pejalan kaki..."
Terlambat.
Xiao Chen berjalan begitu cepat hingga saat ia sampai di tikungan trotoar yang agak sempit, ia tidak sempat mengerem langkahnya. Dan di saat yang sama, Bai Xue yang sedang asyik menoleh ke arah etalase toko di sisi lain jalan, juga bergerak selangkah ke depan tanpa melihat ke depan.
Dua tubuh itu saling mendekat dengan cepat.
"Hei, minggir! Jalan ini milik siapa saja, tahu!" seru Xiao Chen dengan suara keras, masih dalam mode marah-marahnya. Ia mengayunkan tangannya ke samping seolah hendak menyingkirkan penghalang, namun karena terlalu terburu-buru dan ceroboh, kakinya sendiri malah tersandung pada tepian trotoar yang sedikit tidak rata.
"Ah—!"
Xiao Chen kehilangan keseimbangan. Tubuh tinggi besarnya itu terhuyung ke depan, tepat ke arah Bai Xue.
Bai Xue yang kaget, hanya sempat membelalakkan mata indahnya, refleks ia mengangkat kedua tangan mungilnya mencoba menahan atau menyeimbangkan sesuatu. Namun, karena gaya dorong Xiao Chen yang cukup kuat, keduanya sama-sama terguncang. Xiao Chen terpleset sepenuhnya dan jatuh terduduk di atas aspal trotoar yang keras, sementara Bai Xue terdorong mundur beberapa langkah hingga akhirnya bisa berdiri tegak kembali dengan selamat, meski wajahnya pucat karena kaget.
Suasana seketika hening. Beberapa orang yang lewat menoleh kaget melihat insiden itu.
Xiao Chen duduk diam di jalanan, celana jas mahalnya kini sedikit kotor terkena debu, rambutnya makin berantakan, dan wajahnya... wajahnya berubah merah padam bukan karena marah, melainkan karena rasa malu yang luar biasa. Ia, CEO besar yang disegani seluruh kota, anak pertama keluarga kaya raya yang sangat dibanggakan, malah jatuh terduduk di jalanan seperti anak kecil yang tidak hati-hati.
Chen Li yang ada di belakang langsung berlari mendekat dengan panik. "Tuan Xiao Chen! Anda tidak apa-apa?!"
Xiao Chen mengabaikan sekretarisnya. Ia mengangkat kepalanya dengan kasar, siap untuk meluapkan kemarahannya pada siapa saja yang dianggapnya penyebab kecerobohannya ini. Mulutnya sudah terbuka lebar untuk mengeluarkan kata-kata ketus dan galak.
"Kau ini berjalan bagaimana sih?! Tidak punya mata apa? Berjalan seenaknya saja di jalan! Kau tahu siapa aku—"
Namun, kalimat itu terhenti mendadak di tenggorokannya.
Pandangan Xiao Chen bertemu dengan sepasang mata besar yang bening, indah, dan penuh kekhawatiran yang tulus. Mata itu menatapnya tepat dari atas, dibingkai oleh wajah manis dan kulit seputih susu yang sangat dikenalnya.
Itu dia. Gadis itu. Gadis berpakaian putih yang dilihatnya tadi sore dari dalam mobil.
Bai Xue menundukkan tubuhnya sedikit, wajahnya penuh rasa bersalah dan kekhawatiran. Ia sama sekali tidak terlihat takut dimarahi, malah ia mengulurkan tangan kanannya yang halus dan mungil ke arah Xiao Chen, berniat menolongnya bangun.
"Maafkan saya, Tuan. Saya yang kurang hati-hati melihat ke arah lain. Anda tidak apa-apa kan? Apakah ada yang sakit?" tanya Bai Xue dengan suara lembut, manis, dan terdengar sangat tulus.
Suara itu... nada bicaranya... bahkan tatapan matanya...
Jantung Xiao Chen yang tadinya berdebar karena marah, kini berubah berdebar kencang karena alasan lain yang sama sekali berbeda. Tubuhnya yang kaku karena amarah mendadak menjadi lemas. Mulutnya yang tadi siap mengeluarkan makian, kini tertutup rapat, tak mampu berkata apa-apa.
Ia menatap wajah gadis itu lekat-lekat. Sekali lagi, rasa familiar itu muncul dengan kuat. Rasanya ia pernah melihat wajah yang persis sama, dengan tatapan mata yang sama, namun dalam wujud yang berbeda. Sesuatu yang kecil, berbulu putih, cantik, tapi... sesuatu yang sangat ia takuti dan alergi.
Dan saat itu juga, ingatan Xiao Chen melompat kembali ke kejadian di pinggir hutan tadi pagi. Makhluk berbulu putih itu... kucing cantik itu... dan gadis di depannya ini. Ada benang merah yang samar namun sangat kuat menghubungkan keduanya.
Namun, yang paling membuat Xiao Chen tertegun dan bingung luar biasa adalah satu hal: Tidak ada rasa gatal.
Bai Xue berdiri begitu dekat dengannya. Baju gadis itu berwarna putih bersih, rambutnya jatuh indah berkilauan, dan ia memancarkan kehangatan serta kelembutan yang luar biasa. Biasanya, jika ada orang lain yang memakai baju berbulu atau ada hewan berbulu di dekatnya, hidung Xiao Chen akan langsung gatal, mata berair, dan bersin tak henti. Tapi sekarang? Tidak ada apa-apa. Udara di sekitar gadis ini terasa sejuk, bersih, dan sangat nyaman untuk dihirup.
"Kamu..." gumam Xiao Chen pelan, matanya berkedip-kedip bingung. Ia bahkan lupa untuk bangun dari posisi duduknya itu.
Bai Xue masih mengulurkan tangannya, tersenyum sedikit canggung namun tetap manis. "Mari saya bantu berdiri, Tuan. Jangan duduk di jalanan begini, nanti kotor pakaian bagus Anda."
Xiao Chen menatap tangan mungil itu, lalu perlahan, seolah digerakkan oleh kekuatan tak terjelaskan, ia menyentuhnya. Kulit Bai Xue terasa halus, hangat, dan sangat lembut. Saat sentuhan itu terjadi, ada aliran rasa hangat yang mengalir dari ujung jari hingga ke seluruh tubuh Xiao Chen, membuatnya merasa sangat tenang, damai, dan anehnya... sangat bahagia.
Dengan bantuan tangan kecil itu, Xiao Chen akhirnya bangkit berdiri. Ia mengibaskan debu dari celananya dengan kikuk, wajahnya masih memerah padam, tapi kali ini bukan karena marah, melainkan karena rasa malu dan rasa kaget yang bertumpuk.
"Sa... saya... eh, tidak apa-apa. Saya yang salah. Saya berjalan terlalu cepat dan tidak melihat ke depan. Saya yang ceroboh," kata Xiao Chen tergagap-gagap, sifat tengil dan sombongnya lenyap seketika, digantikan oleh sikap kaku dan canggung yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya, termasuk Chen Li.
Chen Li yang berdiri di samping sampai melongo tak percaya. Tuan Xiao Chen... meminta maaf? Mengakui kesalahannya sendiri? Pada orang asing? Apa dunia sudah terbalik?
Bai Xue tersenyum lebar, senyum yang cerah dan tulus hingga membuat suasana di sekitar mereka terasa makin hangat. "Syukurlah kalau begitu. Kalau begitu saya lega. Hati-hati di jalan ya, Tuan."
Bai Xue mengangguk sopan, lalu berbalik hendak kembali bergabung dengan teman-temannya yang berdiri agak di belakang, mengamati kejadian itu dengan senyum-senyum penuh makna.
Namun, secepat kilat, Xiao Chen mengulurkan tangannya dan menahan lengan baju Bai Xue pelan, mencegah gadis itu pergi. Ia sendiri terkejut dengan tindakannya yang tiba-tiba itu, tapi ia tidak sanggup membiarkan gadis itu pergi begitu saja tanpa tahu siapa namanya.
"Tunggu!" seru Xiao Chen sedikit keras, lalu melembutkan nadanya saat Bai Xue menoleh kembali dengan tatapan bingung. "Ka... kamu... siapa namamu? Aku... aku belum pernah melihatmu di kota ini sebelumnya. Kamu orang asing?"
Bai Xue menatap tangan yang masih menahan lengan bajunya itu, lalu menatap kembali ke mata Xiao Chen. Ia tersenyum manis, matanya berbinar jenaka karena tahu betul siapa orang di depannya ini.
"Namaku Bai Xue. Ya, saya baru datang ke kota ini hari ini. Saya sedang... berkeliling dan melihat-lihat tempat baru."
Xiao Xue mengangguk-angguk pelan, mencoba mengingat nama itu. "Bai Xue... Bai Xue..." Ia mengulanginya pelan, seolah ingin menanamkan nama itu jauh di dalam ingatannya. "Saya Xiao Chen. Pemimpin... eh, saya bekerja di gedung itu." Ia menunjuk ke arah gedung tinggi megah di belakangnya, dengan sedikit bangga namun masih terlihat kaku.
"Saya tahu," jawab Bai Xue polos, membuat Xiao Chen terkejut lagi.
"Kamu tahu?"
"Iya. Gedung itu sangat terkenal, kan? Semua orang pasti tahu gedung milik Grup Perusahaan Xiao."
Xiao Chen tersenyum bangga sedikit, tapi rasa penasaran di hatinya belum puas. Ia ingin bertanya lebih banyak. Ia ingin tahu dari mana asalnya, di mana tinggalnya, apa kegemarannya. Ada begitu banyak pertanyaan yang meluap-luap, tapi sifat ceroboh dan tengilnya kembali muncul sedikit saat ia bertanya sembarangan.
"Kamu... kamu itu punya saudara kembar tidak? Atau... pernah berubah wujud menjadi hewan putih yang berbulu?" tanyanya tiba-tiba, pertanyaan yang keluar begitu saja dari mulutnya tanpa dipikir panjang.
Bai Xue tertegun sejenak, lalu tertawa renyah. Tawa yang indah dan ceria, persis seperti suara lonceng kecil yang bergema.
"Tuan Xiao Chen bertanya pertanyaan yang aneh sekali. Manusia mana yang bisa berubah wujud menjadi hewan? Saya hanya gadis biasa yang suka jalan-jalan saja kok," jawabnya sambil mengedipkan sebelah mata dengan manis, seolah ada pesan tersembunyi di balik kata-katanya itu.
Xiao Chen tertegun lagi, merasa bingung sekaligus terpesona. "Eh... iya... benar juga. Aku... aku bicara melantur maaf ya. Maksudku... kamu terlihat sangat mirip dengan seseorang yang... pernah aku temui."
"Benarkah? Kalau begitu, kita memang ditakdirkan untuk bertemu ya," kata Bai Xue ceria. "Sudah dulu ya, Tuan Xiao Chen. Teman-teman saya sudah menunggu. Sampai jumpa lagi ya! Semoga lain kali kita bertemu dalam keadaan yang lebih... tenang dan tidak jatuh terduduk lagi."
Bai Xue melambaikan tangan kecilnya, lalu berjalan pergi menyusuri trotoar, bergabung dengan Wu Gui, Tu Zi, Feng Huang, dan Hu Die yang tersenyum-senyum melihat kejadian konyol namun manis itu.
Xiao Chen diam terpaku di tempatnya, menatap kepergian gadis itu sampai sosoknya hilang di balik keramaian orang. Hatinya masih berdebar kencang, perasaannya campur aduk antara rasa malu karena jatuh, rasa heran karena tidak alergi, dan rasa penasaran yang semakin besar.
Di sebelahnya, Chen Li berdeham pelan, berusaha menahan tawa. "Tuan Xiao Chen... sepertinya Anda baru saja menemukan sesuatu yang lebih menarik daripada urusan bisnis dan Tuan Guo Feng."
Xiao Chen menoleh tajam ke arah sekretarisnya, namun kali ini tatapannya tidak galak. Malah ada rona merah di pipinya yang membuatnya terlihat jauh lebih muda dan manusiawi.
"Diamlah kau! Aku hanya... aku hanya memastikan saja. Dia terlihat mencurigakan, itu saja! Aku CEO besar, harus waspada pada orang asing!" bantahnya dengan nada yang tidak meyakinkan sama sekali, lalu ia merapikan pakaiannya dan berjalan cepat menuju mobilnya yang terparkir di pinggir jalan, langkahnya kali ini tidak lagi tergesa-gesa karena marah, tapi karena ada hal lain yang memenuhi isi kepalanya.
Di kejauhan, saat berjalan menjauh, Tu Zi menyenggol lengan Bai Xue sambil terkikik. "Bai Xue, Bai Xue... Kau benar-benar pandai memanfaatkan kesempatan ya. Lihat saja, wajah pemuda itu sampai memerah begitu. Dia sama sekali tidak curiga sedikit pun bahwa gadis cantik di depannya itu adalah kucing putih yang dia teriak-teriaki tadi pagi."
Bai Xue tertawa kecil, matanya berbinar penuh rencana. "Dia orang yang unik, Tu Zi. Tengil, ceroboh, gampang marah, tapi hatinya baik. Dan... dia tidak alergi padaku saat begini. Ini pertemuan kedua kita, dan aku yakin... ini baru permulaan saja. Kita akan bertemu lagi dengannya, berkali-kali lagi."
Sistem X-9 kembali berbicara di dalam pikiran mereka, nadanya sedikit gembira. "Analisis hubungan: Keterikatan emosional meningkat pesat. Tingkat penerimaan subjek Xiao Chen terhadap Anda mencapai 95%. Misi pengumpulan Mutiara Energi berjalan sangat lancar. Disarankan untuk semakin mendekat."
Insiden kecil di trotoar itu bukan sekadar kecerobohan biasa. Itu adalah benih yang ditanam takdir, yang perlahan-lahan akan tumbuh menjadi ikatan kuat antara sang penjelajah bintang yang ceria, dan sang CEO kaya raya yang tengil namun penuh rahasia. Di kota yang berisik dan indah itu, kisah mereka mulai berjalan semakin cepat, menuju arah yang tak terduga dan penuh warna.