Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Taman Terlarang dan Janji yang Terbelah
*"Jangan pernah mengira bahwa kedamaian ini adalah hadiah, Julius. Kedamaian di tempat seperti ini hanyalah sebuah penjara dengan pemandangan yang lebih indah, di mana kita dipaksa untuk melupakan bahwa di luar sana, dunia sedang membusuk karena ketamakan manusia akan sihir."*
Aku berdiri di ambang pintu taman, menatap dunia di luar pagar yang tampak seperti lukisan yang belum selesai. Langitnya bukan lagi dua bulan yang membara, melainkan gradasi ungu dan perak yang tenang, namun tanahnya retak, seolah-olah menanggung beban dari sesuatu yang terpendam jauh di bawah sana. Julius berada tepat di belakangku. Aku bisa merasakan kehadirannya—bukan lagi sebagai bayangan gelap, melainkan sebagai sosok yang nyata dan hangat. Namun, kehangatan itu tidak cukup untuk memadamkan keraguan yang mulai tumbuh di dalam kepalaku.
*"Marie,"* suaranya rendah, nyaris seperti embusan napas di dekat telingaku. *"Kita telah berjanji untuk tidak mencari masalah lagi. Bukankah itu alasan mengapa kita berada di sini? Kita telah memutus rantai itu. Kita tidak lagi terikat oleh kontrak, tidak lagi diburu oleh Dewan Langit, dan tidak lagi terjebak dalam siklus pengulangan."*
Aku berbalik, menatapnya tajam. *"Kau menyebut ini bebas? Lihatlah tanganmu, Julius. Lihatlah caramu memegang buku itu seolah-olah kau sedang bersiap untuk merapal mantra pertahanan. Kita mungkin telah lepas dari kontrak sistem, tapi kita belum lepas dari sifat asli kita. Kita adalah penyihir. Dan dunia ini... dunia ini sedang memanggil kita."*
Gadis yang berdiri di dekat gerbang—entitas yang merupakan manifestasi dari ingatanku—tersenyum tipis. Wajahnya tidak lagi kekanak-kanakan, melainkan menyimpan kebijaksanaan yang menyakitkan. *"Kalian berdua adalah 'anomali' dalam semesta yang sedang mencari keseimbangan. Taman ini memang aman, tapi keamanan hanyalah ilusi bagi mereka yang memiliki kekuatan untuk mengubah realitas. Kalian bisa tinggal di sini dan menua sebagai manusia biasa, atau kalian bisa melangkah keluar dan menghadapi konsekuensi dari perbuatan kalian di masa lalu yang tak pernah benar-benar mati."*
Aku menoleh ke arah dunia luar sekali lagi. Di kejauhan, aku melihat kepulan asap hitam yang naik ke langit. Itu bukan api biasa. Itu adalah tanda dari *Sihir Retak*—sihir yang tidak memiliki pemilik, yang mengamuk dan menghancurkan apa pun yang disentuhnya. Seseorang atau sesuatu sedang mencoba menguasai aliran sihir di dunia ini, persis seperti yang dilakukan pria berjubah putih di kota yang terbakar itu.
*"Siapa yang melakukan itu?"* tanyaku pada gadis itu.
*"Sisa-sisa dari mereka yang kau sebut 'Dewan Langit', namun dalam bentuk yang berbeda. Mereka menyebut diri mereka 'Para Penjaga Keseimbangan'. Mereka ingin memusnahkan semua sihir murni agar tidak ada lagi orang seperti kalian yang bisa mengguncang tatanan alam semesta,"* jawabnya dingin.
Aku mendengus sinis. *"Penjaga Keseimbangan? Kedengarannya seperti kelompok fasis yang mencoba menghapus eksistensi penyihir agar mereka bisa memonopoli kekosongan."*
Julius melangkah maju, meletakkan bukunya di meja kayu. Dia tampak lelah, namun ada kilatan tekad yang kukenal dengan sangat baik—tekad yang sama yang dia miliki saat dia siap mempertaruhkan nyawanya untuk melindungiku di Oakhaven. *"Jika mereka mencoba menghapus sihir, maka mereka adalah musuh kita, Marie. Bukan karena kita ingin menguasai dunia, tapi karena sihir adalah bagian dari kita. Jika mereka menghapus sihir, mereka menghapus keberadaan kita sendiri."*
*"Dan jika kita keluar dari sana?"* tanyaku lagi. *"Apa yang akan terjadi dengan taman ini? Dengan kedamaian ini?"*
*"Taman ini akan musnah,"* sahut gadis itu tanpa ragu. *"Kalian tidak bisa memiliki keduanya. Kalian tidak bisa memiliki kedamaian pribadi sekaligus menyelamatkan tatanan sihir dunia. Pilihannya sederhana: ego kalian atau tanggung jawab kalian."*
Aku menatap Julius. Dia menatapku kembali, seolah sedang membaca setiap inci dari jiwaku. Di matanya, aku tidak lagi melihat pria yang memanipulasiku. Aku melihat seorang pria yang, terlepas dari segala kesalahannya, telah menjadi satu-satunya orang yang benar-benar memahami beratnya menjadi 'wadah' bagi kekuatan yang terlalu besar untuk ditampung oleh jiwa manusia.
*"Kau tahu, Marie,"* Julius akhirnya bicara, suaranya tenang. *"Aku sudah lelah menjadi budak takdir. Tapi aku lebih lelah melihat dunia dihancurkan oleh mereka yang berpura-pura menjadi pahlawan. Jika kita harus mati lagi, biarkan kita mati sebagai orang yang menentukan nasib kita sendiri, bukan sebagai tumbal dari sistem yang tak terlihat."*
Aku mengambil napas dalam-dalam. Udara di taman ini terasa manis, aroma bunga yang mekar tanpa henti, namun aroma itu kini terasa hambar dibandingkan dengan aroma petualangan yang memanggil di luar sana. Aku melangkah keluar dari pagar taman. Begitu kakiku menyentuh tanah gersang di luar, aku merasakan guncangan hebat. Taman itu mulai memudar, berubah menjadi debu yang tertiup angin, seolah-olah ia tidak pernah ada.
Julius menyusulku. Dia menggenggam tanganku erat, sebuah isyarat bahwa kali ini, kami benar-benar sendirian—tidak ada kontrak, tidak ada instruksi dari pria bertopeng, tidak ada pengulangan yang dipaksakan.
Kami berjalan menuju sumber asap hitam itu. Semakin dekat kami, semakin aku merasakan getaran sihir yang liar. Ini bukan sihir murni yang tenang; ini adalah sihir yang menjerit, penuh dengan rasa sakit dan kemarahan.
*"Lihat itu,"* bisik Julius sambil menunjuk ke sebuah lembah di depan kami.
Di tengah lembah, terdapat sebuah menara batu besar yang melayang beberapa meter di atas permukaan tanah. Ribuan orang bersimpuh di sekeliling menara itu, mengenakan jubah abu-abu yang identik. Mereka sedang melantunkan mantra—bukan untuk memanggil sihir, tapi untuk *menekan* sihir. Mereka menciptakan zona vakum sihir yang sangat luas.
Di puncak menara, seseorang sedang berdiri. Pria itu tampak familiar—dia mengenakan pakaian yang mirip dengan pria bertopeng burung hantu, namun wajahnya terbuka. Itu adalah wajah yang pernah kulihat di salah satu pengulangan hidupku sebelumnya. Dia adalah mantan penasihat kerajaan Vance yang dulu mengkhianati ayah Marie.
*"Jadi, dia berhasil sampai di sini juga,"* bisik Julius, tangannya refleks mencari senjata yang tidak ada.
*"Kita harus menghentikannya sebelum dia mengaktifkan 'Vakum Agung' itu,"* kataku, memusatkan energiku. Karena aku bukan lagi Marie Vance yang terikat kontrak, aku bisa merasakan sihir dengan cara yang lebih murni. Aku tidak lagi 'meminta' sihir; aku 'memerintahnya'.
*"Julius, ingat teknik sinkronisasi kita? Kita tidak bisa menggunakan sihir secara terpisah di sini. Jika kita melakukannya, zona vakum itu akan menyedot tenaga kita sampai habis dalam sekejap."*
Julius mengangguk, dia memahami maksudku. Kami harus bekerja sebagai satu entitas.
Kami melangkah keluar dari balik bukit, berdiri di hadapan ribuan orang yang sedang melantunkan mantra itu. Mereka berhenti sejenak, menatap kami dengan tatapan dingin, seolah-olah kami adalah serangga yang tak berarti.
Pria di atas menara menatap kami dan tertawa. *"Pewaris Vance dan Sang Pengkhianat Syndicate. Kalian selalu muncul di saat yang paling tidak tepat. Apakah kalian belum bosan dengan siklus kehancuran ini?"*
*"Kami tidak di sini untuk mengulang siklus,"* teriakku, suaraku menggetarkan udara di sekitar lembah. *"Kami di sini untuk mengakhiri apa yang kalian sebut sebagai keseimbangan!"*
Pria itu mengangkat tangannya, dan ribuan orang di bawahnya serentak berdiri, mengarahkan tangan mereka ke arah kami. Gelombang energi penekan—sebuah gelombang yang bisa memadamkan sihir apa pun—meluncur ke arah kami seperti dinding baja yang tak terlihat.
Julius menarik tanganku, kami memejamkan mata, dan menyatukan napas kami. Kami tidak mencoba melawan dinding energi itu dengan sihir. Kami mencoba *menjadi* dinding itu. Kami membiarkan energi mereka masuk ke dalam diri kami, namun alih-alih menyimpannya, kami membiarkannya mengalir melalui tubuh kami seperti air yang melewati batu.
Tubuh kami terasa terbakar. Rasa sakitnya luar biasa, seolah-olah sel-sel kami sedang dikuliti satu per satu oleh energi vakum tersebut. Namun, kami tidak bergeming. Kami terus berjalan maju, menembus dinding energi yang seharusnya mematikan itu.
Wajah pria di atas menara menegang. Dia tidak percaya melihat kami masih bisa melangkah.
*"Mustahil! Tidak ada yang bisa menahan getaran vakum tanpa hancur menjadi debu!"* teriaknya panik.
*"Itu karena kau menganggap sihir sebagai sesuatu yang harus dikuasai,"* kataku saat kami hampir mencapai kaki menara. *"Sihir bukanlah sesuatu yang bisa dipenjara, dan kau adalah orang bodoh yang mengira bisa mengurung angin dengan tangan kosong."*
Kami sampai di kaki menara. Dengan satu hentakan kaki yang kuat, aku mengirimkan gelombang energi murni ke tanah di bawah menara itu. Bukan untuk menghancurkan, tapi untuk *membangunkan*.
Sihir yang selama ini ditekan di lembah ini bangkit dengan kekuatan yang sepuluh kali lipat lebih besar. Tanah di bawah menara itu mulai terbelah, mengeluarkan akar-akar kristal raksasa yang menyerap sihir vakum tersebut. Menara itu kehilangan keseimbangannya dan mulai miring.
Pria di atas menara itu mencoba melarikan diri, namun ia terkunci oleh akar-akar kristal yang bergerak seperti ular, melilit tubuhnya dan menekan energinya sendiri.
Dia berteriak, suaranya melengking. *"Ini bukan akhir! Keseimbangan akan kembali menuntut tumbalnya! Kalian akan melihat bahwa dunia tanpa sihir adalah dunia yang lebih adil!"*
*"Dunia yang adil tidak dibangun di atas mayat mereka yang berbeda!"* balas Julius, lalu dengan satu tebasan energi dari tangannya, dia memutuskan hubungan antara pria itu dan menara.
Menara itu runtuh, hancur menjadi serpihan batu dan debu. Ribuan orang yang tadi melantunkan mantra jatuh pingsan, sihir yang selama ini ditekan di dalam diri mereka kini meledak keluar secara alami, menciptakan aurora warna-warni yang menerangi langit lembah.
Keheningan kembali menyelimuti lembah. Kami berdiri di sana, di tengah puing-puing, terengah-engah dengan tubuh yang penuh luka.
Aku menatap Julius. Dia terlihat sangat lelah, namun ada senyum kemenangan di wajahnya. Namun, kesenangan itu tidak bertahan lama. Dari balik reruntuhan menara, sesuatu yang lain muncul. Sebuah bayangan—bukan bayangan orang, melainkan bayangan dari dimensi lain yang sepertinya ditarik oleh kehancuran menara ini.
Itu adalah entitas yang lebih besar dari sekadar 'Penjaga Keseimbangan'. Itu adalah entitas yang selama ini bersembunyi di balik layar, entitas yang memakan sihir yang terbuang.
*"Oh tidak,"* bisik Julius, matanya membelalak. *"Marie... kita baru saja membukakan pintu untuk sesuatu yang jauh lebih buruk."*
Bayangan itu mulai mengambil bentuk—bentuk seorang pria dengan jubah perak, dengan mata yang tidak memiliki iris, hanya kegelapan yang tak berujung. Dia menatap kami, dan aku merasa seolah-olah dia bisa melihat seluruh masa lalu dan masa depan kami dalam satu kedipan mata.
*"Kalian berdua,"* suaranya terdengar seperti bisikan di dalam kepalaku. *"Kalian telah merusak tatanan yang sudah kubangun selama ini. Apakah kalian tahu harga dari perbuatan kalian?"*
Aku berdiri tegak, meski kakiku terasa akan tumbang. *"Harga apa pun itu, kami sudah membayarnya dengan siklus yang tak ada akhirnya. Sekarang, giliran kami yang menentukan harga."*
Entitas itu tertawa, suara yang membuat bumi berguncang. *"Kalau begitu, mari kita lihat apakah kalian bisa membayar dengan nyawa kalian sendiri."*
Dia mengangkat satu jari, dan seketika itu juga, dunia di sekitar kami berubah. Lembah itu menghilang, dan kami terjebak di ruang antara dimensi—ruang yang sama tempat aku terbangun sebelumnya. Namun kali ini, tidak ada jalan keluar. Kami dikelilingi oleh ribuan cermin yang memantulkan setiap kesalahan yang pernah kami lakukan, setiap janji yang pernah kami ingkari.