Dia memulai perjalanannya dari dasar Akademi Master Jiwa Junior dengan tongkat besi biasa yang dianggap sampah. Bertahan hidup dalam diam, dia menunggu saat yang tepat untuk memicu sistemnya. Kini, setiap langkah yang ia ambil adalah bayangan kegagalan bagi musuhnya—karena apa yang mereka miliki, akan menjadi miliknya dalam sekejap.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10.Grandmaster di Persimpangan Takdir
Sadar sepenuhnya akan situasi yang berbalik arah, penjaga gerbang itu akhirnya merasakan hawa dingin yang menjalar cepat hingga ke tulang sumsumnya. Ia sama sekali tak menyangka, niat awalnya yang hanya ingin sedikit memeras uang atau mencari keuntungan kecil dari orang-orang desa yang dianggapnya polos, miskin, dan mudah ditindas, malah berbalik menempatkannya dalam posisi yang penuh bahaya. Di hadapannya, ternyata berdiri seorang anak muda yang masih belia, namun memiliki ketegasan, wibawa, dan kecerdasan yang jauh melampaui usianya.
Perubahan sikapnya terjadi seketika, berputar seratus delapan puluh derajat dalam sekejap mata. Wajah yang tadinya penuh ejekan dan penghinaan kini berubah drastis menjadi senyum kaku, gemetar, dan penuh rasa hormat yang dipaksakan ketakutan.
"Adikku... aku... aku benar-benar minta maaf," ucapnya terbata-bata sambil membungkuk berulang kali hingga pinggangnya hampir patah. Keringat dingin mulai membasahi punggungnya. "Tadi aku salah, aku yang terlalu sombong, aku yang tak tahu diri dan buta melihat kualitas kalian. Tuan... eh, Adikku, tolong maafkan aku ya? Aku salah paham sepenuhnya. Kalian silakan masuk, silakan masuk sekarang juga! Jangan ragu sedikit pun!"
Tanpa menunggu jawaban atau izin lebih lanjut, ia bergegas menarik gerbang kayu berat itu hingga terbuka lebar-lebar, lalu berdiri menyamping dengan tubuh membungkuk rendah seolah sedang menyambut tamu kehormatan negara atau bangsawan tinggi.
"Xiao Xuan..."
Kakek Jack menggeleng pelan sambil menatap pemuda itu dengan tatapan campur aduk, heran melihat perubahan drastis dari arogan menjadi penurut yang nyaris menjilat. Tangan tuanya yang kasar dan berkerut mengusap puncak kepala cucu angkatnya itu dengan penuh kasih sayang, namun terselip sedikit rasa tak berdaya.
Tadinya ia sudah bersiap untuk berdebat, mencari petugas Balai Roh di dalam sana demi menuntut keadilan dan membela nama baik desanya, namun ia tak menyangka cucu angkatnya ini mampu menyelesaikan masalah yang rumit itu sendiri dengan begitu tegas, cepat, dan tuntas.
Bukan hanya Kakek Jack yang terkejut hingga tak bisa berkata-kata. Di samping itu, Tang San juga menatap Xiao Xuan dengan sorot mata yang tak lepas sedikit pun, seolah sedang mencoba menembus ke dalam jiwa anak itu. Di dalam hatinya, ia melakukan perhitungan yang cermat dan mendalam.
Pukulan yang mampu memecahkan tanah keras hingga retak sejauh itu... batin Tang San bergumam. Ia mengakui, bahkan jika dirinya sendiri yang melakukannya dengan sepenuh hati, menggunakan kekuatan penuh dari Tangan Giok Misterius yang ia warisi, ia tetap akan merasa sangat berat, sulit, dan tak mungkin menampilkannya dengan wajah setenang itu.
Apakah ini sekadar kebetulan? Apakah ini sekadar kekuatan fisik mentah semata? Atau... Xiao Xuan benar-benar telah menyembunyikan kekuatan aslinya, menyimpan kemampuan hebat di balik sikapnya yang selalu tampak biasa saja dan rendah diri?
Di balik sepasang mata ungunya yang tajam dan waspada, benih rasa curiga perlahan mulai tumbuh, berkecambah menjadi keraguan yang besar.
Namun, Xiao Xuan sama sekali tak mempedulikan tatapan tajam, penuh selidik, atau rasa curiga yang dilontarkan Tang San. Ia punya prinsip sendiri yang kokoh dan tak tergoyahkan. Memang ia berniat untuk tidak terlalu menonjolkan diri selama masa-masa awal ini demi keamanan dan kerahasiaan. Tapi, tidak menonjolkan diri bukan berarti ia harus menjadi penurut, menjadi alas kaki orang lain, atau membiarkan harga diri diinjak-injak.
Penjaga gerbang itu telah menghina desanya, menghina Kakek Jack yang ia anggap kakek kandung sendiri, dan merendahkan harga diri mereka di depan umum. Jika saat ia memiliki kemampuan untuk bertindak dan melindungi, ia malah diam saja, membiarkan orang tersayangnya dipermalukan demi ketenangan sesaat, lalu untuk apa kekuatan Tongkat Besi ini ia miliki?
Apakah ia harus menahan amarahnya sekarang, menelan penghinaan itu, lalu berniat membalas diam-diam di kemudian hari hanya demi menghindari perhatian Tang San? Belum lagi apakah penjaga gerbang rendahan itu pantas mendapatkan tempat dalam daftar balas dendamnya di masa depan atau tidak, ada satu hal yang ia yakini sepenuh hati: Keadilan yang tertunda, sama saja bukan keadilan. Itu hanyalah alasan penenang hati bagi mereka yang tak berdaya saat kejadian berlangsung.
Jika kamu punya kekuatan untuk melindungi keluargamu di saat itu juga, di tempat itu juga, mengapa harus menunggu sampai semuanya terlambat atau rusak?
Dan soal perhatian Tang San... biarkan saja ia curiga, biarkan saja ia bertanya-tanya. Paling-paling, Xiao Xuan hanya perlu sedikit lebih berhati-hati, bersembunyi lebih teliti lagi nantinya, dan menghapus jejak keraguan itu perlahan-lahan.
Dengan pikiran yang tenang dan mantap, Kakek Jack menghela napas panjang, lalu kembali memimpin jalan masuk ke dalam halaman akademi yang luas dan bersih, diikuti kedua anak itu di belakangnya. Xiao Xuan pun menyimpan kembali rohnya, cahaya putih itu memudar dan lenyap, lalu berjalan tenang di belakang lelaki tua itu seolah tak terjadi apa-apa.
Baru saja melewati gerbang besar dan melangkah masuk ke wilayah inti akademi, sosok lain muncul perlahan dari arah koridor samping yang teduh. Seorang pria bertubuh kurus, berpakaian rapi dengan jubah hitam yang pas di badan dan penuh tulisan emas kecil, berjalan menghampiri mereka dengan langkah pelan namun penuh wibawa.
Begitu berhadapan tepat di depan mereka, pria itu tersenyum tipis—senyum yang terasa kaku, buatan, namun sopan—lalu berbicara dengan nada lembut namun datar.
"Tuan yang terhormat, bolehkah saya melihat surat rekomendasi dan buku panduan dari Balai Roh untuk kedua anak ini?"
Kakek Jack menatap sosok itu sekilas. Hanya dengan satu pandangan, instingnya sebagai orang tua yang bijak dan berpengalaman tahu bahwa orang di hadapannya ini bukanlah penjaga biasa atau guru pengajar sembarangan, melainkan seorang Master Roh yang sesungguhnya. Aura yang samar namun menekan itu tak bisa disembunyikan. Dengan hormat, ia menyerahkan kedua buku panduan milik Xiao Xuan dan Tang San.
Xiao Xuan diam-diam mengamati pria itu dari ujung kepala hingga kaki. Orang ini muncul tepat di waktu dan tempat yang sama persis seperti dalam ingatanku... batinnya bergumam dingin. Tak ada keraguan lagi, ini pasti dia—Yu Xiaogang, sang Grandmaster, orang yang kelak akan menjadi guru, pembimbing, dan penentu jalan hidup Tang San selamanya.
Sudut bibir Xiao Xuan sedikit terangkat membentuk senyum miring yang tak terlihat siapa pun. Hehe, sepertinya hari ini aku berkesempatan menyaksikan langsung kejadian terkenal yang mengubah takdir Tang San selamanya. Sungguh pemandangan langka.
Saat pandangannya tertuju lekat-lekat pada Yu Xiaogang, samar-samar tulisan bercahaya kembali muncul di hadapan matanya, melayang di udara, menampilkan panel atribut lengkap sang Grandmaster.
【📜 Data Sasaran: Yu Xiaogang】
【Takdir: Sang Guru / Pembimbing Utama Sang Protagonis】
【Roh Bela Diri: Luo San Pao! (Roh Bermutasi Unik)】
【Kekuatan Roh: Tingkat 29! (Batas Ambang Tanpa Harapan)】
【Atribut & Sifat yang Dimiliki:】
• Batas Bawah Kehidupan (PUTIH) 📉
• Roh Bermutasi Terhambat (PUTIH)
• Paman Paruh Baya yang Tak Berkutik (PUTIH)
• Pengetahuan Roh Mendalam & Luas (BIRU) 📚
• Daya Tarik Khusus bagi Orang Berbakat (UNGU) ✨
• Putra Kepala Sekte Naga Tirani Petir Biru (UNGU) 🏛️
Melihat deretan atribut yang sama sekali tak ada yang berwarna merah—tanda kehebatan mutlak—itu, Xiao Xuan hampir tak sadar memutar bola matanya dalam hati. Sungguh perbandingan yang sangat jauh dan menyedihkan. Dulu saat melihat panel Tang Hao, deretan sifat merahnya hampir menyilaukan mata dan membuatnya iri. Sedangkan Yu Xiaogang... sungguh keadaan yang menyedihkan. Tanpa bertemu Tang San dan memegang teori-teori canggihnya, dengan kondisi fisik dan kekuatan yang terjebak selamanya di tingkat 29 ini, mungkin hidupnya hanya akan aman-aman saja berkat status keluarganya, tanpa pernah mencapai puncak.
Di sisi lain, Yu Xiaogang yang kini memegang kedua buku panduan itu sama sekali tak menyadari tatapan tajam dan pemikiran kritis Xiao Xuan. Seluruh perhatiannya kini tertuju sepenuhnya pada isi dokumen di tangannya, matanya bergerak cepat membaca setiap baris tulisan.
Saat membaca data milik Xiao Xuan—Roh: Tongkat Besi, Tingkat Kekuatan: 1—ia hanya melirik sekilas lalu menggesernya ke samping dengan ekspresi datar dan tak berubah. Baginya, ini hanyalah anak biasa dengan roh senjata biasa, masa depannya terbatas. Namun, saat matanya jatuh pada data milik Tang San... Roh: Rumput Perak Biru, Tingkat Kekuatan: 10 (Penuh Bawaan)... mata Yu Xiaogang melebar seketika hingga nyaris keluar dari kelopak. Napasnya tersendat di tenggorokan, dan tubuhnya sedikit gemetar karena kegembiraan yang tertahan kuat-kuat.
Ia segera menoleh ke arah Kakek Jack dengan tatapan yang berkilauan penuh harap dan antusiasme yang tak bisa disembunyikan lagi. Suaranya sedikit bergetar.
"Tuan tua... jika Anda bersedia mempercayakan keduanya kepadaku, biar saya yang mengantar mereka masuk, mengurus pendaftaran, dan mengurus segala kebutuhan mereka. Saya akan menjamin keselamatan dan pendidikan mereka sepenuhnya," ucapnya cepat dan bersemangat.
Mendengar seorang Master Roh yang terlihat berpendidikan, sopan, dan berwibawa berbicara demikian, Kakek Jack merasa sangat tersanjung dan lega. Ia mengangguk berulang kali dengan senyum bahagia yang mengembang lebar.
"Baik, baik, kalau begitu aku serahkan sepenuhnya pada Tuan Guru. Terima kasih banyak, terima kasih. Xiao Xuan, Tang San... kalian harus mendengarkan dan menuruti semua perkataan Guru ini ya. Belajarlah dengan giat, rajinlah, jangan nakal. Kakek pulang dulu ya. Nanti kalau libur sekolah atau ada waktu luang, Kakek akan datang menjemput kalian."
Setelah memberikan pesan singkat itu, lelaki tua itu berjalan tertatih meninggalkan halaman akademi, bertumpu pada tongkat kayunya yang sederhana.
Xiao Xuan menatap punggung Kakek Jack yang menjauh dan mulai mengecil, lalu dengan cepat berlari kecil menyusulnya. Saat berpapasan dan Kakek Jack berhenti sejenak, tangan Xiao Xuan bergerak sangat gesit, memasukkan selembar Jimat Langkah Angin ke dalam saku baju lelaki tua itu tanpa ada yang menyadarinya.
Di saat yang sama, ia menyalurkan sedikit kekuatan rohnnya untuk mengaktifkan jimat itu secara diam-diam. Bagi tubuh orang biasa seperti Kakek Jack, energi yang tersimpan di sana cukup untuk membuat perjalanan pulang yang jauh dan menanjak menjadi jauh lebih ringan, seolah dibawa angin, dan aman, tanpa membuatnya kelelahan berlebihan atau merasa sakit.
"Kakek, hati-hati di jalan ya, jangan memaksakan diri kalau lelah," bisik Xiao Xuan pelan di telinga lelaki tua itu, matanya berbinar tulus. "Aku pasti akan belajar sekeras-kerasnya. Suatu hari nanti, meski berhadapan dengan Master Roh tingkat tinggi sekalipun, Kakek tak perlu lagi menunduk atau membungkuk hormat demi kami. Kita akan berdiri tegak sendiri, berdiri sejajar dengan siapa saja."
Kakek Jack tertawa bahagia, menepuk bahu cucu angkatnya dengan penuh kebanggaan, lalu melanjutkan langkahnya pulang. Sepanjang jalan, tanpa ia sadari, tubuhnya terasa jauh lebih ringan dari biasanya. Seolah-olah ada angin sepoi-sepoi yang menopang setiap langkahnya, membuat perjalanan jauh itu terasa singkat dan tak melelahkan sama sekali.
Setelah memastikan Kakek Jack aman keluar gerbang dan menghilang di keramaian, Xiao Xuan segera kembali ke sisi Yu Xiaogang dan Tang San. Yu Xiaogang melihat adegan perpisahan yang menyentuh hati tadi, dan dalam hatinya mengangguk puas, berpikir bahwa Xiao Xuan adalah anak yang sangat berbakti, sopan, dan berhati lembut—meski bakatnya biasa saja.
Kemudian, mereka bertiga berjalan masuk lebih dalam melewati koridor akademi yang panjang dan bersih. Sesampainya di sebuah persimpangan jalan yang bercabang dua, Yu Xiaogang menunjuk ke arah sebuah bangunan bertingkat lima di kejauhan yang tampak megah dan ramai, lalu menyerahkan kembali buku panduan milik Xiao Xuan.
"Itu gedung pendaftaran umum. Kamu bisa ke sana sendiri, letaknya dekat saja, tinggal lurus lalu belok sedikit ke kanan. Di sana ada petugas yang akan membimbingmu selanjutnya," katanya dengan nada sopan namun jelas bermaksud memisahkan mereka.
Xiao Xuan hanya mengangguk tenang dan menerima bukunya kembali. Ia paham betul alasan di balik perlakuan berbeda ini. Yu Xiaogang sudah menemukan "mutiara" sejatinya—Tang San. Tak ada lagi alasan baginya untuk membuang waktu lebih lama, tenaga, atau perhatian dengan anak lain. Bagi sang Grandmaster, waktu adalah emas, dan emasnya ada di sebelahnya saat ini.
Meski agak kecewa tak bisa melihat langsung momen pengakuan murid yang legendaris itu secara lengkap, Xiao Xuan sama sekali tak berniat ikut campur, bertahan, atau mendekat. Ia tak mau menjadi saksi yang kelak akan membuat Tang San mengucapkan kalimat mengerikan itu: "Kau telah memilih jalan menuju kematian" hanya karena tahu rahasia roh kembarnya. Jarak aman adalah harga mati.
"Diterima, Terima kasih banyak, Guru Yu," jawab Xiao Xuan sopan. Ia mengambil barang bawaannya, lalu melambaikan tangan singkat, berjalan tenang menuju gedung pendaftaran itu tanpa menoleh ke belakang lagi.
Melihat punggung Xiao Xuan yang menjauh dan menghilang di tikungan koridor, Tang San menatap Yu Xiaogang dengan kebingungan yang nyata dan mendalam di wajahnya.
"Guru... apakah ada hal penting yang ingin Guru bicarakan? Kenapa kami dipisahkan? Dan kenapa Guru membiarkan Xiao Xuan pergi duluan, sementara aku tinggal sendirian di sini?"
Mata Yu Xiaogang bersinar terang menatap anak di hadapannya itu. Ia menahan getaran kegembiraan yang meluap-luap di dadanya, lalu perlahan mulai berbicara dengan suara rendah namun penuh arti, penuh emosi yang tertahan.
"Karena... anak muda, kamu berbeda. Kamu berbeda dari semua orang yang pernah kutemui seumur hidupku. Rumput Perak Biru... kekuatan penuh bawaan... ini bukanlah kebetulan. Ikutlah bersamaku. Mulai hari ini, aku akan mengajarimu segala sesuatu yang kuketahui. Aku akan membuatmu menjadi keberadaan terkuat di benua ini."
Tang San terdiam, matanya menyipit. Naluri lamanya sebagai murid Sekte Tang berteriak waspada, namun di sisi lain, rasa ingin tahu dan kebutuhan akan pengetahuan membuatnya tertarik.
"Guru... apa maksud Guru dengan semua itu? Apakah Roh Rumput Perak Biriuku... memiliki keistimewaan tertentu?"
Yu Xiaogang tersenyum misterius, lalu berbalik berjalan menuju bangunan yang lebih sepi dan tersembunyi di sudut akademi, memberi isyarat pada Tang San untuk mengikuti.
"Keistimewaan? Hahaha... kamu belum mengerti betapa beruntungnya dirimu, anakku. Ikutlah. Biar aku buktikan padamu... mengapa di benua ini, segala sesuatu tunduk pada aturan mutlak: Lebih banyak Cincin Roh, lebih besar kekuatan; tingkat yang lebih tinggi, lebih kuat mutlaknya. Dan mengapa... kamu adalah pengecualian dari segalanya."
Sementara itu, di balik dinding gedung pendaftaran yang jauh, Xiao Xuan berhenti melangkah sejenak, menoleh ke arah bangunan tersembunyi tempat Tang San dibawa pergi.
"Selamat menikmati momen kebangkitanmu, Tang San," bisiknya pelan dengan senyum dingin. "Nikmati semua keistimewaan, pengetahuan, dan keuntungan itu. Nikmati posisi sebagai satu-satunya anak emas. Karena ingatlah... di dunia ini, tidak ada cahaya yang hanya bersinar dari satu titik saja. Suatu hari nanti, kita akan bertemu kembali bukan sebagai teman, tapi sebagai saingan. Dan saat itu tiba... aku akan membuatmu sadar, bahwa menjadi protagonis tidak menjamin kemenangan."
Dengan tekad yang semakin membaja, Xiao Xuan berbalik dan melangkah masuk ke gedung pendaftaran. Langkah kakinya ringan, namun meninggalkan jejak tekad yang berat. Di sini, di Akademi Notting, kisah keduanya berjalan beriringan namun di jalur yang berbeda—satu diterangi sorotan cahaya penuh, satu lagi berjalan diam-diam dalam bayang-bayang, menumbuhkan taringnya perlahan namun pasti.