Vanya yang mabuk parah dan ditinggal pacarnya malam itu, berjalan sendirian. Lalu didatangi oleh dia orang begal yang hendak memperkosanya, untungnya ada Reyhan soerang pengemudi ojol yang melihat mereka, Reyhan menolong vanya yang pingsan dari begal itu. Namun setelah Vanya sadar dan teriak warga memergokinya dan di fitnah berbuat mesum.
Vanya dan Reyhan dipaksa untuk dinikahkan, dan ayah Vanya yang merasa harga dirinya jatuh menyetujui pernikahan itu dan kemudian memberi syarat kontrak satu tahun kepada Reyhan yang memberatkan Reyhan.
Vanya menganggap bahwa Reyhan bagian dari begal itu, sehingga Vanya membencinya.
namun karena kebaikan Reyhan dan kekonyolannya Vanya akhirnya vanya merasa salah dengan prasangkanya, setelah bukti-bukti terkuak.
Setelah habis kontrak satu tahun itu Reyhan pergi, dan Vanya menyesal dan kehilangannya lalu mencarinya sampai seperti orang gila...
bagaimana kisah mereka, dan bagaimana akhir mereka??
kisah CHICK-LIT ROMANCE
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Katumbiri Lazuardi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: SUPIR GANTENG, JEALOUSY PARTY, DAN TANDA MISTERIUS
Pagi itu, Vanya coba iseng melongok ke arah gudang belakang. Ia terpaku di ambang pintu. Gudang yang tadinya apek dan penuh sarang laba-laba, kini berubah drastis. Reyhan memasang beberapa rak kayu minimalis, mengganti sprei dengan warna earth tone, dan meletakkan sebuah lampu meja dengan cahaya warm white.
Punya selera juga nih si gembel, batin Vanya takjub. Namun, gengsinya segera menarik kembali pujian itu.
"Hey, Begal! Eh, Gembel! Kamu ikut aku, jadi supirku sekarang! Aku mau jalan-jalan, temani aku!" teriak Vanya dengan gaya bosnya yang khas.
Reyhan yang sedang merapikan buku di mejanya menoleh tenang. "Apa Nona Manja tidak merasa malu? Jalan-jalan dengan seorang gembel seperti saya?"
"Ihh!!" Vanya menghentakkan kaki. "Baik, Tuan Reyhan... aku minta tolong sama kamu. Antar aku jalan-jalan!"
"Kenapa tidak sendirian saja?"
"Eh... kamu jangan ngatur-ngatur aku ya! Kamu masih terikat kontrak denganku selama satu tahun!"
Reyhan mendekat, mengikis jarak hingga Vanya bisa mencium aroma maskulin yang mulai akrab. "Terus, kalau aku suamimu, apa pantas seorang istri bicara kasar dan menghina suaminya seperti itu?"
"Kalau kamu masih melawan... aku telepon Papa!"
"Telepon saja. Paling ancamannya aku masuk penjara karena dia merasa punya kuasa," sahut Reyhan santai. "Aku tahu kenapa kamu mengajakku. Biar nanti kalau Pak Bram marah karena kamu keluyuran, kamu bisa menyalahkan aku sebagai suami yang tidak becus, kan?"
Vanya terkesiap. Kok dia bisa tahu?! "Baiklah... Suamiku... tolong... istrimu ingin jalan-jalan. Bisakah suamiku mengantarnya?"
"Hihihi!"
Suara tawa dari balik pintu membuat keduanya menoleh. Melly, ibu tiri Vanya, berdiri di sana sambil menutup mulutnya.
"Ibu! Kenapa ada di sini?" Vanya salah tingkah.
"Nyonya, maaf," ucap Reyhan sopan sambil sedikit menunduk.
"Oh, tidak apa-apa. Ibu hanya mau berterima kasih. Nak Reyhan tadi sudah bantu Ibu memasangkan gas dan membenarkan kompor. Bi Isah sampai pusing karena tidak bisa masak, untung ada Nak Reyhan," ujar Melly dengan tatapan lembut.
Vanya menyipitkan mata. Ibu benar-benar sudah terkena sihir si gembel! Baik apanya? Dia ini hampir memerkosaku—eh, atau aku yang salah lihat? Wajahnya pura-pura polos dan pura-pura ganteng, padahal dia psikopat! batin Vanya geram melihat ibunya membela pria itu.
Ibu benar-benar sudah terkena sihir si gembel! Baik apanya? Dia ini psikopat!" batin Vanya geram melihat ibunya begitu membela Reyhan.
"Bu, aku bosan. Mau jalan-jalan, boleh ya?" rengek Vanya.
"Boleh sayang, asal jangan mabuk-mabukan lagi ya. Nanti Papamu marah. Nak Reyhan, temani dia ya. Kalau dia macam-macam, bilang sama Ibu."
"Baik, Nyonya," jawab Reyhan patuh.
"Ayo Istriku, bukankah kamu mau jalan-jalan sama suamimu?" goda Reyhan. Ia sudah siap dengan kaos body fit yang mencetak lekuk otot lengannya, ditambah aroma parfum maskulin yang jujur saja, sangat disukai Vanya.
"Apa katamu? Istri?!"
"Jadi bukan ya? Ya sudah, tidak jadi."
"Iya! Iya, baiklah! Tapi awas jangan macam-macam, kita suami istri hanya di atas kertas!"
"Terserah Nona Manja saja. Mau di atas ranjang juga aku terima," bisik Reyhan pelan saat melewati Vanya.
"APA?! Enak saja! Jangan kurang ajar ya!"
Mereka berangkat dengan mobil sport punya Vanya, didalam mobil..
"Eh ..gem...Reyhan melirik kearah Vanya.
Reyhan, kenapa kalau sama ibu kamu nurut..?? Sefangkan sama aku, dan papa kamu kaya terpaksa gitu..!!"
"aku tergantung orang yang memperlakukan aku..!!" kalau dia baik aku bisa lebih baik, kalau dia menjengkelkan aku bisa dia buat mati dalam keadaan cemberut karena kesal.!"
Sebenarnya Vanya merasa dia sudah keterlaluan, namun "menggoda" Reyhan sepertinya punya sensasi tersendiri, hiburan disaat dia bosan.
Mereka pun sampai di sebuah kafe fancy. Vanya langsung disambut oleh teman-temannya.
"Vanya! Ini siapa? Gebetan baru ya? Ganteng banget! Derian mah lewat!" seru Clarissa, salah satu temannya, menatap Reyhan tanpa kedip.
"Bukan... dia gem— supir aku!" seru Vanya cepat.
"Supir?!" Rania hampir tersedak. "Mau dong aku jadi penumpangnya kalau supirnya kayak abang ganteng ini!"
"Reyhan! Kamu jangan keganjenan ya!" bisik Vanya ketat, merasa terancam oleh tatapan lapar teman-temannya.
"Oh, jadi namanya Reyhan... bagus juga kayak orangnya!" goda Rania.
Vanya merasa dadanya panas. "Reyhan, kamu tunggu di mobil saja ya!" Vanya Melotot kepada Rehyan mengusir Reyhan secara halus. Reyhan hanya tersenyum tipis dan berlalu.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. tiga orang pemuda mabuk dari meja sebelah mulai berbuat onar. Mereka mendekati Vanya dan teman-temannya lalu menggodanya hendak melecehkannya
"Wah...ada gadis cantik nih..!! Nona cantik... ikut kita sebentar, ya kita main-main.. Ayo dong, cantik.." ucap salah satu preman itu.
"Jangan kurang ajar yah,, !!" Vanya membentak.
Namun Clarissa dan Rania malah ketakutan.
"Busyet.. Galak bener, sini abang cium dikit.. Biar enak..!!" tangan salah satu pemuda itu memegang bahu Vanya.
gak.. Gak mau..Lepasin!" jerit Vanya.
Reyhan, yang masih belum jauh dari sana
Tiba-tiba, muncul mencengkram tangan itu dengan keras.."Lepaskan tangan kotormu itu..!"
"aw..aw.. Aduh..!!" siapa lu..!" Pemuda itu kesakitan.. ,"cepat hajar orang ini.."
Lalu yang dua orang lagi datang mau menghajar Reyhan, dengan gerakan gesit yang taktis layaknya seperti pendekar, Reyhan mengelak dan langsung menghajar pemuda-pemuda itu itu hingga tersungkur lalu mereka lari terbirit-birit.
"Terima kasih, Abang Ganteng!" seru teman-teman Vanya.
Vanya merasa aman, namun dia tetap tidak suka teman-temannya memuji Reyhan.
Ternyata, masalah belum selesai. Si pemuda tadi ternyata preman setempat kini datang lagi membawa rombongan yang lebih besar.
"Hey! Siapa yang telah berani mukulin anak buahku?!" teriak seorang pria besar dengan tato di sekujur lengannya. sepertinya dia Ketua Preman.
Vanya dan teman-temanya gemetar ketakutan dan refleks bersembunyi di balik punggung lebar Reyhan. Tubuh pria itu terasa seperti tembok beton yang kokoh. "Reyhan... gimana ini?" bisiknya ketakutan.
"Aku,.. mau apa??" kata Reyhan tegas, melangkah maju menghadapi gerombolan itu sendirian.
"Bang, jangan bang..!!! Jangan pukulin dia, Bang! Kasihan, dia cuma supirnya Vanya!" teriak Clarissa khawatir dan takut mencoba menengahi, tapi itu malah membuat suasana makin panas.
"Cuma supir pribadi saja belagunya minta ampun! Minggir, atau kamu akan mati!" teriak si ketua preman sambil merangsek maju.
Ketua preman itu langsung melayangkan pukulan mentah ke arah wajah Reyhan. Namun, dengan gerakan yang nyaris tak terlihat mata, Reyhan menangkap tinju itu di udara. Krak! Reyhan memelintir lengan pria besar itu hingga sang preman mengerang kesakitan di atas lantai.
Saat posisi mereka sangat dekat, Reyhan merogoh saku dalamnya dan memperlihatkan sebuah benda kecil ke arah mata si ketua preman—sebuah cincin perak dengan ukiran lambang yang sangat spesifik.
Mata si ketua preman membelalak. Wajahnya yang tadinya beringas mendadak pucat pasi seperti melihat hantu. Tubuhnya gemetar hebat.
"Jadi... Anda...?" suaranya tercekat.
Reyhan menatapnya dengan mata yang begitu dingin, membuat suhu di sekitar kafe seolah turun drastis. "Jangan berani-berani ganggu istriku," ancam Reyhan dengan suara rendah namun penuh otoritas.
Si ketua preman langsung berdiri, membungkuk dalam-dalam hingga kepalanya hampir menyentuh tanah. "ampun! Saya tidak tahu! ampuni saya, bang! Ayo pergi! Bubar semua!" teriaknya pada anak buahnya yang kebingungan. Mereka lari tunggang langgang seolah nyawa mereka sedang dipertaruhkan.
Vanya berdiri terpaku. Ia merasa senang karena selamat, namun rasa herannya jauh lebih besar. Para preman itu takut sama Reyhan? Padahal baru satu orang yang dilawan, dan si bos langsung menyerah hanya karena melihat sesuatu?
"Apa jangan-jangan dia bos mafia ya?" pikir Vanya penuh kecurigaan.
Reyhan berbalik, menatap Vanya yang masih melongo. "Nona... kalau mau tidak diganggu laki-laki, jangan berpakaian seperti ini. Ini bisa menggoda syahwat."
Vanya yang tadinya mau memuji, langsung naik pitam. " Itu mah laki-lakinya saja yang mesum! Oh, jadi otak kamu juga sama mesumnya dengan mereka.Kenapa bajuku yang disalahkan? Dan tadi itu apa? Kenapa mereka takut sama kamu?"
"Mereka cuma takut dipenjara, Nona," jawab Reyhan datar.
"Bohong! Tadi kamu tunjukkan sesuatu! Apa itu?"
""Hanya gantungan kunci bengkel. Saya bilang kalau tidak pergi, saya kunci mulut mereka pakai tang," sahut Reyhan santai.
"REYYYHAAAN! Kamu benar-benar bikin aku kesal!" teriak Vanya sambil menghentakkan kaki, mengikuti suaminya yang penuh rahasia itu. Di dalam mobil, Vanya terdiam. Kata-kata "Istriku" yang diucapkan Reyhan tadi terus terngiang, membuat hatinya mendadak berantakan oleh rasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
cerita drama seorang CEO dan gadis angkuh yang jatuh cinta padanya. dibalut dengan komedi biar tidak membosankan