Sinopsis: Kembalinya Sang Dewa (Zeus Is Back)
Tiga tahun lalu, dunia siber internasional diguncang oleh kematian mendadak "Zeus", sang Raja Hacker legendaris yang mampu membobol sistem keamanan Pentagon dan bank dunia dalam hitungan detik. Tak ada yang tahu bahwa Zeus dikhianati oleh rekannya sendiri demi uang dan kekuasaan.
Demi bertahan hidup, Zeus memalsukan kematiannya dan menyamar sebagai Kenji, seorang pemuda biasa yang bekerja di toko servis komputer kecil yang kumuh. Dia hidup miskin, dihina oleh tetangga, dan diremehkan oleh semua orang. Kenji rela mengubur masa lalu kelamnya demi kehidupan yang tenang bersama adik perempuan satu-satunya, Hana.
Namun, ketenangan itu hancur saat Hana dijebak oleh Megacorp—korporasi raksasa yang korup—atas tuduhan pencurian data rahasia. Hana diancam hukuman seumur hidup dan denda miliaran rupiah yang tak masuk akal hingga membuatnya jatuh koma karena tekanan mental. Saat hukum bisa dibeli dengan uang dan kekuasaan, Kenji sadar bahwa dunia tidak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang yang Mengental
Lantai delapan puluh delapan Menara Narendra melayang di antara kabut tipis sisa hujan semalam dan kepulan polusi Jakarta yang mulai merayap naik. Dari balik dinding kaca masif yang membentang dari langit-langit hingga ke lantai, kota di bawah sana terlihat seperti maket raksasa yang bergerak lambat—ribuan mobil merayap di atas aspal seperti semut-semut logam yang terjebak dalam labirin beton.
Di dalam ruangan bernuansa minimalis dengan dominasi warna abu-abu abu dan kayu gelap itu, keheningan terasa begitu pekat, jenis keheningan yang biasa mendahului datangnya badai besar.
Nadia Narendra berdiri mematung, menatap lurus ke arah jalan protokol di bawah sana. Jemarinya yang ramping mengetuk-ngetuk permukaan meja marmer dengan ritme yang tidak
beraturan, mengkhianati ketenangan wajahnya yang biasanya sedingin es. Di belakangnya, tiga monitor OLED berukuran besar masih menyala, menampilkan visualisasi jaringan intervensi yang menyelamatkan lumpuhnya sistem Narendra Group dua puluh empat jam yang lalu.
"Kau yakin dengan apa yang kau lihat, Genta?" suara Nadia terdengar rendah, hampir menyerupai bisikan, namun memiliki ketegasan yang menuntut kepatuhan mutlak.
Genta, yang berdiri dua langkah di belakang kursi kerja Nadia, menundukkan kepalanya sedikit lebih dalam. Pria dengan tinggi badan hampir seratus sembilan puluh sentimeter dan setelan jas hitam tanpa lipatan itu tampak seperti patung batu yang bernapas.
"Sangat yakin, Nona," jawab Genta dengan suara berat yang tertata. "Seluruh perimeter Sektor G di pulau reklamasi semalam membeku selama tiga puluh menit. Jaringan enkripsi milik mendiang Pluto tidak sekadar ditembus—itu dihapus dari dalam, seolah-olah seseorang menekan tombol pembersih masif dari jarak jauh. Dan yang paling krusial... jejak digital terakhir yang tertinggal di sana memiliki tanda tanda taktis yang persis sama dengan yang menyelamatkan ruang server kita."
Nadia membalikkan tubuhnya perlahan, membiarkan cahaya pagi yang pucat menerangi separuh wajahnya. Matanya yang tajam menyipit saat menatap selembar kertas fisik yang tergeletak di atas meja—sebuah kontradiksi di tengah ruangan yang dipenuhi teknologi mutakhir. Kertas itu berisi profil singkat, foto buram, dan alamat sebuah bengkel loak di pinggiran Jakarta Barat.
"Seorang montir," gumam Nadia, sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sulit diartikan. "Dunia bawah tanah Eropa Timur sedang berguncang, bursa saham Singapura hampir runtuh karena perang data, dan pelakunya adalah seorang pemuda yang sehari-hari membersihkan karburator mobil tua dengan tangan telanjang?"
"Secara logika sipil, itu mustahil, Nona," Genta menyahut, matanya tetap tertuju pada lantai. "Namun, dalam dunia siber, identitas hanyalah sekumpulan piksel yang bisa ditukar kapan saja. Sinyal yang kami tangkap tidak bisa berbohong. Pemuda bernama Kenji itu... dia adalah pusat dari seluruh pusaran air ini."
Nadia melangkah mendekati meja, lalu mengambil kertas profil tersebut. Matanya tertuju pada foto Kenji—pemuda berwajah kuyu dengan jaket hoodie pudar dan pandangan mata yang tampak kosong, seolah-olah hidup telah merenggut seluruh energinya. Namun, Nadia tahu cara membaca manusia. Di balik pandangan kosong itu, ada sejenis kedalaman yang hanya dimiliki oleh mereka yang telah melihat dasar dari neraka digital.
"Panggil dia ke sini," perintah Nadia, meremukkan kertas di tangannya menjadi gumpalan kecil sebelum membuangnya ke tempat sampah.
"Gunakan alasan apa saja. Kontrak perawatan armada eksekutif kita, atau tawarkan renovasi total untuk bengkel kecilnya. Aku ingin dia berada di ruangan ini sebelum matahari tepat di atas kepala."
"Saya sudah mengirim tim untuk mengundangnya secara halus, Nona," kata Genta. "Namun, ada hal lain yang perlu Anda ketahui. Satelit pengawas internal kami mendeteksi pergerakan tiga paspor Eropa Timur yang baru saja melewati
pemeriksaan imigrasi di Soekarno-Hatta dua jam yang lalu. Mereka menggunakan identitas samaran sebagai konsultan finansial, tetapi dari postur dan rekam jejak biometrik yang berhasil kami curi dari database bayangan... mereka adalah unit pemukul dari Volkov Syndicate."
Nadia tidak terkejut. Aliansi Hitam bukan sekelompok orang yang akan menerima kekalahan dengan lapang dada. Setelah hilangnya Pluto dan hancurnya faksi Iron Byte di Rusia dalam hitungan menit, mereka pasti akan mengirim algojo fisik untuk menyelesaikan apa yang tidak bisa diselesaikan oleh kibor.
"Biarkan mereka masuk," kata Nadia dingin.
"Jakarta adalah rumah kita. Di sini, serigala dari Eropa pun akan kehilangan taringnya jika mereka tidak tahu cara berjalan di atas tanah berawa."
Sementara itu, di pinggiran Jakarta Barat yang bising oleh suara knalpot angkutan kota yang batuk-batuk, Kenji sedang duduk di atas ban bekas di sudut bengkel Pak Jaka. Sebuah botol air mineral dingin berembun berada di genggaman tangan kanannya, sementara tangan kirinya memutar-mutar obeng berkarat dengan gerakan yang sangat anggun—sebuah kebiasaan refleks yang muncul setiap kali kepalanya sedang menyusun algoritma pertahanan.
Di depannya, sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik terparkir di tepi jalan yang berdebu, sangat kontras dengan lingkungan sekitar yang dipenuhi tumpukan besi tua dan oli bekas. Dua orang pria berbadan tegap dengan kemeja safari rapi berdiri di dekat mobil, menatap Kenji dengan pandangan yang mencoba bersikap ramah namun gagal menyembunyikan kecanggangan mereka.
"Jadi, bos kalian ingin aku datang ke Menara Narendra hanya untuk memeriksa sistem kelistrikan mobil pribadinya?" Kenji bertanya tanpa menoleh, matanya tetap tertuju pada obeng yang terus berputar di jemarinya.
"Benar, Mas Kenji," salah satu pria berkemeja safari melangkah maju satu langkah, suaranya dibuat seprofesional mungkin. "Nona Nadia Narendra mendengar dari beberapa relasi bahwa Anda memiliki keahlian khusus dalam menangani mobil-mobil langka Eropa. Beliau bersedia membayar sepuluh kali lipat dari tarif biasa jika Anda bersedia datang sekarang."
Pak Jaka, yang baru saja keluar dari kolong mobil tua sambil menyeka keringatnya dengan handuk kumal, langsung melotot mendengar angka tersebut. Dia menyenggol bahu Kenji dengan bersemangat.
"Ambil, Ken! Jangan goblok. Sepuluh kali lipat tarif menara itu bisa buat bayar sewa kos kamu setahun penuh! Lagian, mobil di sini cuma karburator mampet, biar bapak aja yang beresin,
" bisik Pak Jaka dengan logat jawanya yang kental.
Kenji menghentikan putaran obengnya. Dia menatap pantulan wajahnya sendiri di botol air mineral yang berembun. Dia tahu betul ini bukan soal mobil. Nadia Narendra sedang mencoba menariknya keluar dari cangkang penyamarannya. Undangan ini adalah sebuah umpan, sekaligus sebuah ujian.
Jika dia menolak, Nadia akan terus mengirim orang dan membuat perhatian dunia bawah tanah semakin tertuju pada bengkel kecil ini—sesuatu yang sangat dihindari Kenji demi keselamatan adiknya, Hana. Namun jika dia menerima, dia akan melangkah langsung ke dalam episentrum badai yang sedang disiapkan oleh Aliansi Hitam.
Kenji berdiri, mengantongi obengnya ke dalam saku celana jins yang bernoda pelumas hitam.
"Baik. Saya ikut. Tapi saya tidak butuh mobil mewah kalian untuk mengantar. Saya pakai motor sendiri."
Kedua utusan Narendra Group itu saling berpandangan sesaat, tampak ragu, namun akhirnya mengangguk patuh. Mereka tahu, perintah dari Genta adalah membawa pemuda ini dengan cara apa pun, selama dia bersedia datang secara sukarela.
Perjalanan menuju pusat kota memakan waktu hampir satu jam. Kenji mengendarai motor bebek tuanya yang bersuara bising, membelah kemacetan Jakarta dengan ketenangan yang gila. Di balik jaket hoodie murahnya yang sudah pudar, ponsel usangnya bergetar pendek sebanyak tiga kali.
Itu adalah sinyal ping otomatis dari jaringan Olympus OS yang dia pasang di ruko tua kawasan Mangga Dua. Seseorang sedang mencoba mengetuk dinding api (firewall) pemantul yang dia sengaja beri celah semalam.
“Tiga alamat IP dinamis terdeteksi melakukan pelacakan fisik dari area sekitar Bandara Soekarno-Hatta menuju Jakarta Pusat. Faksi Volkov telah mengunci koordinat sekunder.”
Kenji tidak merespons. Dia hanya tersenyum tipis di balik helm halfface-nya yang kacanya sudah baret-baret. Umpannya telah dimakan dengan sempurna. Para serigala Rusia itu mengira mereka sedang memburu seekor kelinci yang ketakutan di dalam labirin digital, tanpa menyadari bahwa mereka sedang berjalan masuk ke dalam ruang jagal yang telah dirancang dengan presisi militer.
Ketika Kenji tiba di lobi Menara Narendra, kontras visual itu semakin terasa nyata. Pemuda dengan celana jins belepotan oli dan sepatu kain yang sudah jebol di bagian ujungnya itu melangkah melewati lantai marmer yang mengkilap seperti cermin. Para karyawan berstelan necis
menatapnya dengan pandangan meremehkan, beberapa bahkan berbisik-bisik, mengira dia adalah kurir barang yang salah masuk pintu.
Namun, semua bisikan itu mendadak senyap ketika Genta sendiri yang turun ke lobi untuk menyambut Kenji. Pria perkasa itu menundukkan kepalanya sedikit—sebuah gestur yang membuat resepsionis menahan napas—lalu mengarahkan Kenji menuju lift khusus eksekutif.
Di dalam lift yang bergerak naik dengan kecepatan tinggi, tidak ada kata yang terucap di antara keduanya. Genta memperhatikan Kenji dari sudut matanya, mencoba mencari celah atau ketakutan dari pemuda di sampingnya. Namun, Kenji hanya berdiri santai, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaket sambil menatap angka lantai yang terus bertambah di layar digital lift.
Ting.
Pintu lift terbuka di lantai delapan puluh delapan. Genta melangkah keluar lebih dulu, membukakan pintu kayu jati masif yang menuju langsung ke ruang kerja Nadia Narendra.
Nadia masih berdiri di dekat jendela saat Kenji masuk. Begitu pintu tertutup rapat di belakang mereka, Genta langsung mengambil posisi berjaga di depan pintu, memastikan tidak ada satu pun suara yang bisa bocor keluar.
Kenji melangkah maju beberapa tindak, lalu berhenti tepat di tengah ruangan. Dia menatap gadis di depannya tanpa ada rasa canggung atau terintimidasi oleh kemewahan yang mengelilinginya.
"Ruangan yang bagus, Nona Narendra," kata Kenji, suaranya terdengar kasual, jauh dari kesan kaku seorang montir yang sedang menghadap taipan finansial. "Tapi saya rasa kelistrikan mobil Anda tidak membutuhkan montir loak seperti saya untuk naik sampai ke lantai delapan puluh delapan."
Nadia membalikkan badannya, menatap Kenji dengan pandangan yang tajam dan menyelidik. Dia berjalan perlahan mengitari meja kerjanya, lalu berhenti tepat tiga langkah di depan Kenji.
"Mari kita lewati bagian basa-basi yang membosankan, Kenji," kata Nadia, nadanya dingin namun penuh penekanan.
"Siapa kau sebenarnya? Orang yang menyelamatkan seluruh aset keluargaku dalam sepuluh menit, atau orang yang baru saja membuat Interpol menjemput Pluto di pulau reklamasi semalam?"
Kenji tidak langsung menjawab. Dia berjalan menuju salah satu sofa kulit mewah di sudut ruangan, lalu duduk di sana tanpa diminta, meluruskan kakinya yang terasa pegal setelah berkendara jauh. Gestur santai itu membuat Genta di dekat pintu sedikit menegangkan ototnya, namun Nadia mengangkat tangan kanan, memberi isyarat agar pengawalnya tetap diam.
"Aku hanya seorang montir yang suka membersihkan karburator, Nona," ujar Kenji sambil menatap langit-langit ruangan yang tinggi. "Dunia di luar sana terlalu bising. Terlalu banyak orang yang merasa memiliki segalanya hanya karena mereka punya beberapa baris angka di dalam server bank."
"Angka-angka itu yang mengendalikan hidup jutaan orang, Kenji," sahut Nadia, ikut melangkah mendekati sofa dan duduk di seberangnya. "Dan semalam, seseorang dengan lambang petir perak mempermainkan angka-angka itu seperti anak kecil yang bermain dengan pasir di pantai. Aliansi Hitam sedang mengarahkan senjatanya ke Jakarta sekarang. Jika kau mengira bisa terus bersembunyi di balik bengkel loak itu sambil membiarkan kota ini terbakar, kau salah besar."
Kenji menurunkan pandangannya, menatap lurus ke dalam manik mata Nadia. Untuk pertama kalinya, keramahan kasual di wajah pemuda itu lenyap, digantikan oleh sejenis intensitas yang begitu pekat hingga membuat atmosfer di dalam ruangan ber-AC itu mendadak terasa menyesakkan.
"Mereka tidak sedang mengarahkan senjata ke Jakarta, Nadia," kata Kenji, menyebut nama gadis itu tanpa embel-embel formalitas untuk pertama kalinya. "Mereka sedang berjalan menuju kuburan yang mereka gali sendiri. Dan jika kau ingin Narendra Group tetap berdiri tegak saat tanah di bawah kita mulai berguncang... sebaiknya kau pastikan tim keamananmu tidak berada di jalur jalanku."
Sebelum Nadia sempat membalas, lampu gantung di langit-langit ruangan tiba-tiba berkedip pendek sebanyak dua kali. Di atas meja kerja Nadia, layar laptop militer miliknya mendadak menampilkan barisan kode merah yang berkedip dengan kecepatan gila.
Sistem pertahanan luar Menara Narendra baru saja mendeteksi adanya upaya penyusupan fisik skala penuh di lantai dasar. Para serigala dari Eropa Timur telah tiba lebih cepat dari yang diperkirakan, dan mereka tidak datang untuk bernegosiasi. Perang regional yang sesungguhnya telah resmi mengetuk pintu depan.