Punya ijazah S1 Akuntansi dengan predikat Cum Laude ternyata tidak berguna di hadapan tagihan rumah sakit yang mencapai ratusan juta. Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Arini terpaksa membuang gengsinya dalam-dalam dan melamar menjadi kepala pelayan di penthouse mewah milik Adrian—seorang CEO muda kaya raya yang terkenal sedingin es kutub utara.Kerja keras Arini yang super rapi dan cerdas perlahan menarik perhatian sang Kakek pemilik takhta konglomerasi. Salah paham pun terjadi. Demi mempertahankan posisinya sebagai pewaris tunggal, Adrian terpaksa berbohong dan mengenalkan pelayannya itu sebagai calon istri.Sebuah kontrak pernikahan satu tahun akhirnya disodorkan di atas meja marmer.Gaji ratusan juta, seluruh utang lunas, dengan satu syarat mutlak: Dilarang saling jatuh cinta.Mampukah Arini bertahan menghadapi sikap dingin sang konglomerat di bawah satu atap yang sama? Ataukah pernikahan pura-pura ini justru akan mencairkan hati sang es kutub utara yang selama ini membeku?
Bab 21 (Bayang-Bayang Dendam)
Kabar mengenai kehamilan Arini menyebar dengan cepat di kalangan internal keluarga besar Wijaya Group. Pengumuman resmi yang dilakukan oleh Kakek Wijaya di hadapan dewan komisaris seolah mengunci mati posisi Adrian sebagai CEO tunggal yang tidak akan pernah bisa digoyahkan lagi. Namun, di sudut lain kota Jakarta, kabar bahagia itu justru menjadi pemantik api dendam yang membakar habis sisa-sisa kewarasan seseorang.
Di sebuah apartemen mewah yang tampak berantakan di kawasan Jakarta Selatan, Baskoro duduk di tepi sofa dengan botol minuman keras yang setengah kosong di atas meja. Matanya merah, menatap lurus ke arah layar gawai yang menampilkan artikel berita bisnis mengenai kehamilan Nyonya Muda Wijaya.
"Pewaris sah..." desis Baskoro dengan suara serak, cengkeraman tangannya pada gelas kaca mengeras hingga buku jarinya memutih. "Satu bulan skorsing, dan sekarang mereka sudah menyiapkan pengganti untuk menyingkirkanku selamanya?"
Pintu apartemen terbuka, menampilkan Natasha yang melangkah masuk dengan gaun mini hitamnya. Wajah model internasional itu tampak kesal. Ia melempar tas bermerek miliknya ke atas meja, lalu menatap Baskoro dengan pandangan meremehkan.
“Kamu hanya bisa duduk dan minum di sini, Baskoro? Sementara pelayan murah itu sekarang diperlakukan seperti ratu oleh Kakek Wijaya?" Natasha mendengus sinis, menyilangkan kedua tangannya di dada. "Jika anak itu lahir, kita berdua tidak akan pernah mendapatkan satu persen pun dari aset Wijaya Group. Kamu tahu itu, kan?"
Baskoro berdiri dengan tubuh yang sedikit limbung karena pengaruh alkohol, namun kilatan amarah di matanya tampak sangat tajam dan berbahaya. "Anak itu tidak boleh lahir, Natasha. Aku tidak akan membiarkan Adrian menang semudah ini."
Natasha mengernyitkan dahi, sedikit terkejut dengan nada bicara Baskoro yang terdengar sangat dingin. "Apa yang mau kamu lakukan? Adrian menyewa tim keamanan tingkat tinggi untuk menjaga penthouse dan mengawal Arini ke mana pun. Kamu tidak akan bisa menyentuhnya."
Baskoro menyeringai licik, mematikan layar gawainya dengan kasar. "Adrian mungkin bisa menjaga penthouse-nya seperti benteng militer. Tapi dia lupa... Arini masih memiliki titik lemah yang sangat mudah dihancurkan. Ibunya."
Sementara itu, di penthouse Sudirman, atmosfer pagi terasa begitu hangat dan intim. Sejak dokter menyatakan Arini hamil, Adrian menjelma menjadi sosok suami yang luar biasa protektif dan posesif.
Pagi ini, Adrian bahkan menolak untuk membiarkan Arini turun dari tempat tidur. Pria itu sendiri yang membawa nampan berisi bubur ayam hangat dan segelas susu khusus kehamilan ke dalam kamar utama.
"Mas, ini berlebihan. Usia kandunganku baru beberapa minggu, aku masih bisa berjalan ke meja makan," protes Arini sembari berusaha duduk, menyandarkan punggungnya pada bantal tebal yang sudah disiapkan Adrian.
"Tidak ada bantahan, Sayang," ucap Adrian datar namun sarat akan kelembutan. Pria itu meletakkan nampan di atas nakas, lalu duduk di tepi ranjang. Ia mengambil mangkuk bubur, meniupnya perlahan sebelum mengarahkannya ke depan bibir Arini. "Buka mulutmu, Baby."
Arini menghela napas pasrah, namun senyuman manis tidak bisa disembunyikan dari sudut bibirnya. Ia menerima suapan pertama dengan patuh. "Kamu tidak pergi ke kantor hari ini, Mas?"
“Semua rapat penting sudah kupindahkan ke ruang kerja di sini. Yudha yang akan mengurus operasional di gedung pusat," jawab Adrian tenang, kembali menyuapi istrinya dengan sabar. "Aku tidak akan membiarkanmu sendirian di rumah dengan pelayan harian baru itu. Aku harus memastikan sendiri kamu memakan nutrisimu dengan benar."
Arini memegang pergelangan tangan Adrian yang besar dan hangat, menatap dalam ke manik mata elang suaminya. "Terima kasih ya, Mas. Tapi tolong jangan terlalu cemas. Aku dan anak kita baik-baik saja di sini."
Adrian meletakkan mangkuk buburnya, lalu mengulurkan tangannya untuk mengusap lembut pipi Arini yang perlahan mulai kembali merona segar. Ia menundukkan kepalanya, mendaratkan sebuah kecupan yang sangat dalam dan hangat di kening Arini, lalu turun dan menempelkan dahi mereka bersama.
“Aku kehilangan banyak hal di masa laluku karena kecerobohanku sendiri, Arini," bisik Adrian rendah, suaranya terdengar serak penuh ketulusan emosional yang mendalam. "Tapi kali ini, saat Tuhan menitipkanmu dan anak kita di dalam hidupku... aku bersumpah akan mempertaruhkan seluruh takhta dan hartaku demi memastikan tidak ada satu pun bahaya yang bisa menyentuh kalian."
Jantung Arini berdesir hebat mendengar komitmen mutlak dari sang suami. Ia merangkul leher kokoh Adrian, membiarkan tubuh mereka saling mendekat dalam dekapan yang menenangkan di pagi hari. Namun, jauh di lubuk hatinya, sebuah firasat buruk mendadak melintas pelan, seolah-olah ketenangan dan kebahagiaan mereka saat ini hanyalah jeda singkat sebelum badai besar yang sesungguhnya datang menerjang.