Selama 500 tahun, seorang arwah wanita dikutuk oleh dewa menjadi “Roh Bulan” dan disegel di dalam lukisan kuno di sebuah kuil akibat kesalahan fatal yang dilakukannya di masa lalu. Hidup dalam kesunyian abadi, ia hanya bisa melihat dunia dari balik lukisan tanpa mampu menyentuh siapa pun.
Hingga suatu malam, seorang pria tanpa sengaja membebaskannya dari segel kuno. Semakin lama bersama, arwah wanita itu mulai jatuh cinta padanya. Namun keduanya perlahan menyadari bahwa mereka ternyata telah terikat sejak 500 tahun lalu, dan pria itu mungkin adalah alasan sebenarnya di balik kutukan Roh Bulan yang menghancurkan hidup mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velin Agustiningtias, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
chapter 24 Ungkapan Perasaan 2 Saudara
Putra Mahkota Yudra melangkah cepat memasuki kamar pribadinya begitu festival selesai. Para pelayan yang berjaga langsung menunduk ketakutan melihat wajah sang putra mahkota yang jelas sedang buruk.
Pintu kamar ditutup keras.
Brak.
Ruangan megah itu langsung sunyi.
Yudra berdiri diam beberapa saat sambil menatap lampion festival yang masih terlihat dari jendela kamarnya. Namun yang terus muncul di pikirannya bukan festival itu…
melainkan Arum.
Dan Aruna di sampingnya.
Tatangan Yudra perlahan berubah gelap mengingat bagaimana Aruna menggandeng tangan Arum pergi meninggalkan festival di depan matanya sendiri.
“Kenapa harus dia…”
Suara Yudra terdengar lirih penuh emosi tertahan.
Ia tidak bisa menerima pemandangan itu.
Tidak bisa menerima kenyataan bahwa Arum terlihat begitu bahagia bersama Aruna.
Namun di saat bersamaan…
ia juga tidak bisa menolak keputusan kerajaan.
Pernikahannya dengan Ajeng sudah ditentukan oleh raja dan ratu.
Seluruh kerajaan sudah mengetahuinya.
Dan sebagai putra mahkota, Yudra tidak punya hak hidup sebebas yang diinginkannya.
Ia menundukkan kepala pelan sambil mengepalkan tangannya kuat-kuat.
Untuk pertama kalinya…
ia membenci posisi putra mahkota yang selama ini selalu dibanggakan semua orang.
—
Di sisi lain kerajaan, malam justru terasa jauh lebih hangat bagi Arum dan Ravin.
Ravin membawa Arum menaiki bukit kecil di luar desa. Rumput bergoyang pelan diterpa angin malam sementara langit dipenuhi bintang yang sangat jelas.
Arum memandang langit dengan mata berbinar.
“Cantik sekali…”
Ravin diam memperhatikan wajah Arum yang terkena cahaya bulan.
Entah kenapa…
setiap bersama gadis itu, suasana yang biasanya terasa berat di dadanya perlahan menjadi tenang.
Tidak ada tekanan istana.
Tidak ada perebutan tahta.
Tidak ada beban sebagai pangeran.
Hanya ada ketenangan yang anehnya selalu datang saat bersama Arum.
Arum duduk di atas rumput sambil tersenyum kecil.
“Aku belum pernah lihat bintang sebanyak ini.”
Ravin ikut duduk di sebelahnya.
Beberapa detik mereka hanya diam menikmati angin malam.
Lalu Ravin perlahan mengeluarkan sesuatu dari kantong bajunya.
“Arum.”
“Hm?”
Ravin membuka telapak tangannya.
Sebuah cincin kecil terlihat berkilau terkena cahaya bulan.
Modelnya sederhana dan sedikit kuno, tapi tetap terlihat elegan dan indah.
Arum langsung membeku.
“Ini…”
“Aku beli tadi di pasar.”
Ravin terlihat sedikit canggung untuk pertama kalinya.
“Aku gak tahu kamu bakal suka atau tidak.”
Arum menatap cincin itu tidak percaya.
Jantungnya mulai berdetak semakin cepat.
“Kenapa memberikannya padaku…?”
Ravin terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menatap Arum langsung.
“Karena aku ingin.”
Suasana malam mendadak terasa jauh lebih sunyi.
Angin dingin bertiup lembut melewati mereka.
Arum perlahan menatap Ravin dengan mata yang mulai berkaca-kaca kecil.
Selama ini ia selalu berpikir Ravin masih menyukai Dewi.
Dan dirinya…
hanya seseorang yang kebetulan berada di dekat Ravin sekarang.
Namun malam ini…
cincin itu seperti jawaban dari semua keraguannya.
“Aku kira…” Arum tersenyum malu sambil menunduk kecil. “Kamu masih menyukai Dewi.”
Tatapan Ravin sedikit berubah lembut.
“Aku memang pernah menyukainya.”
Hati Arum sempat terasa kecil mendengar itu.
Namun Ravin melanjutkan pelan—
“Tapi sejak bersama kamu…”
Tatapannya menatap Arum begitu dalam.
“…aku merasa lebih tenang.”
Arum langsung terdiam.
“Aneh ya,” Ravin tertawa kecil pelan. “Padahal biasanya hidupku berisik sekali.”
Arum merasakan pipinya memanas.
“Kalau bersamamu… semuanya terasa nyaman.”
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Ravin mengucapkan perasaannya sejujur itu pada seseorang.
Dan Arum…
tidak bisa menyembunyikan senyum bahagianya lagi.
Ravin perlahan menggenggam tangan Arum lalu memasangkan cincin itu di jarinya.
Pas sekali.
Arum langsung tertawa kecil haru sambil menatap cincin itu berkali-kali.
“Aku suka…”
Suaranya hampir seperti bisikan malu.
Ravin tersenyum kecil melihat reaksi Arum.
Di bawah langit penuh bintang malam itu…
untuk sesaat mereka lupa bahwa takdir besar dan bahaya perlahan sedang mendekati keduanya.
Lorong istana malam itu begitu sunyi. Cahaya obor di dinding bergerak pelan tertiup angin malam sementara langkah seorang wanita berjubah gelap berjalan tanpa suara menuju paviliun utama ratu.
Cenayang Wu.
Wanita tua itu memastikan tidak ada penjaga yang memperhatikan sebelum akhirnya masuk diam-diam ke dalam ruangan pribadi ratu.
Pintu tertutup perlahan.
Di dalam, Ratu Shima sudah duduk menunggu sambil menikmati teh hangat. Wajahnya terlihat tenang, namun sorot matanya selalu memberi tekanan pada siapa pun yang berada di dekatnya.
“Aku mulai berpikir kau tidak akan datang,” ucap ratu pelan.
Cenayang Wu langsung membungkuk hormat.
“Hamba tidak mungkin mengabaikan panggilan Yang Mulia.”
Ratu tersenyum kecil tipis.
“Aku ingin pernikahan Putra Mahkota dan Ajeng dipercepat.”
Suasana ruangan langsung terasa berat.
Cenayang Wu sedikit menunduk lebih dalam sebelum menjawab hati-hati.
“Untuk saat ini… itu tidak baik dilakukan.”
Tatapan ratu langsung berubah tajam.
“Kenapa?”
Cenayang Wu menggenggam tongkat kayunya perlahan.
“Energi istana sedang tidak stabil.”
Angin malam masuk dari jendela besar membuat api lilin bergerak pelan.
“Para leluhur belum memberikan pertanda baik.”
Ratu tampak tidak suka mendengar itu.
“Aku tidak ingin menunggu terlalu lama.”
Cenayang Wu mengangkat pandangannya perlahan.
“Pada malam bulan sabit nanti… energi kerajaan akan jauh lebih baik.”
Nada suaranya terdengar tenang namun serius.
“Mohon Yang Mulia bersabar sedikit lagi.”
“Hamba menjamin semua akan berjalan sesuai harapan.”
Ruangan kembali hening beberapa detik.
Ratu akhirnya menyandarkan tubuhnya perlahan sambil memandang Cenayang Wu lebih dalam.
Sejak dulu…
ia selalu mempercayai wanita tua itu.
Karena bertahun-tahun lalu, saat para cenayang kerajaan dihukum dan diburu, hanya dirinya yang membantu mereka bertahan hidup.
Memberikan tempat tinggal.
Makanan.
Dan perlindungan.
Karena itulah Ratu Shima yakin…
Cenayang Wu tidak mungkin mengkhianatinya.
Tatapan ratu perlahan berubah dingin mengingat masa lalu.
Dulu…
Ratu Ratih masih menjadi ratu utama kerajaan.
Dicintai rakyat.
Dihormati bangsawan.
Bahkan Raja terlalu mencintainya.
Sementara dirinya…
hanya seorang selir yang hidup dalam bayang-bayang Ratih.
Namun semuanya berubah saat tuduhan pengkhianatan muncul di istana.
Ratu Ratih dituduh berkhianat pada kerajaan.
Para cenayang juga dituduh membantu pengkhianatan itu.
Akibatnya…
Ratih dipaksa turun tahta menjadi selir.
Para cenayang dihukum berat.
Banyak cenayang muda hidup menderita di jalanan.
Dan tidak ada seorang pun tahu…
bahwa semua tuduhan itu berasal dari Ratu Shima sendiri.
Wanita itu perlahan tersenyum kecil penuh kepuasan tersembunyi.
“Kerajaan ini tidak pernah dimenangkan oleh orang baik,” gumamnya pelan.
Sementara Cenayang Wu hanya diam.
Tangannya perlahan mengepal di balik lengan jubahnya.
Ia masih mengingat jelas bagaimana para cenayang muda menangis kelaparan saat itu.
Mengingat bagaimana dirinya dipermalukan kerajaan.
Dan demi menyelamatkan mereka semua…
ia akhirnya menerima tawaran Ratu Shima.
Kembali menjadi cenayang kerajaan.
Namun sejak hari itu…
hidupnya bukan lagi miliknya sendiri.
Ia hanyalah boneka ratu.
Ratu Shima menatap Cenayang Wu tajam.
“Pastikan tidak ada yang mengganggu pernikahan putra mahkota.”
Nada suaranya berubah dingin penuh ancaman tersembunyi.
“Aku tidak akan memaafkan kegagalan.”
Cenayang Wu perlahan menundukkan kepala lebih dalam.
“Hamba mengerti.”
Namun di balik wajah tenangnya…
hati wanita tua itu mulai dipenuhi ketakutan.
Karena untuk pertama kalinya…
ia mencoba melawan takdir yang selama ini ia bantu ciptakan sendiri.
Malam di ruang kerja raja terasa jauh lebih sunyi dibanding biasanya. Hujan tipis turun di luar istana sementara suara petir samar terdengar dari kejauhan.
Raja sedang membaca gulungan kerajaan ketika penjaga membuka pintu perlahan.
“Yang Mulia, Putra Mahkota ingin bertemu.”
Raja sedikit terkejut namun tetap mengangguk.
“Biarkan masuk.”
Beberapa detik kemudian, Yudra masuk dengan pakaian sederhana tanpa atribut resmi putra mahkota. Tidak seperti biasanya, malam ini ia datang bukan sebagai pewaris tahta…
melainkan sebagai seorang anak.
Raja langsung menyadari ada sesuatu yang berbeda dari tatapan putranya.
“Ada apa?”
Yudra berdiri diam beberapa saat sebelum akhirnya bicara.
“Ayah…”
Suasana langsung berubah lebih pribadi.
Sudah lama Yudra tidak memanggilnya seperti itu.
Raja perlahan menurunkan gulungan di tangannya.
“Katakan.”
Yudra menarik napas pelan.
“Pemilihan calon putri mahkota…”
Tatapannya mulai tajam.
“…apakah benar dilakukan dengan adil?”
Raja langsung mengernyit heran.
“Maksudmu?”
“Aku tahu ibu pasti ikut campur.”
Ruangan langsung terasa tegang.
Raja memandang Yudra lekat.
“Berhati-hatilah dengan ucapanmu.”
Namun Yudra tidak mundur sedikit pun.
“Jika ibu ikut menentukan kandidat… maka itu bukan pilihan kerajaan.”
Nada suaranya terdengar dingin namun menyimpan emosi besar.
Raja mulai merasa tidak nyaman.
“Ajeng adalah pilihan terbaik.”
Yudra tersenyum tipis pahit.
“Bagi kerajaan mungkin.”
Tatapan raja berubah tajam.
“Lalu apa masalahmu sebenarnya?”
Yudra terdiam beberapa detik.
Dan untuk pertama kalinya…
ia memilih jujur.
“Aku tidak memiliki hati sedikit pun pada Ajeng.”
Kalimat itu langsung membuat raja membeku.
“Apa?”
“Aku tidak mencintainya.”
Suara hujan di luar terdengar semakin jelas memenuhi kesunyian ruangan.
Raja perlahan berdiri dari kursinya dengan wajah mulai dipenuhi kemarahan.
“Yudra.”
“Aku sudah mencoba menerima semuanya sebagai putra mahkota.”
Tatapan Yudra mulai terlihat lelah.
“Tapi aku tidak bisa membohongi diriku sendiri.”
Raja mengepalkan tangannya.
“Lalu siapa wanita yang kau inginkan?”
Untuk sesaat…
Yudra diam.
Namun bayangan Arum langsung muncul jelas di pikirannya.
Senyum gadis itu di festival.
Tatapan matanya.
Dan cara Arum tertawa bahagia di samping Aruna.
Yudra akhirnya mengangkat pandangannya perlahan.
“Arum.”
Raja langsung membeku.
“Putri pertama penasehat utama istana… Raden Wijaya.”
Ruangan mendadak terasa sangat dingin.
Tatapan raja berubah penuh keterkejutan sekaligus amarah.
“Tidak.”
Jawabannya keluar cepat dan keras.
Yudra tetap berdiri tenang meski rahangnya menegang.
“Ayah—”
“Tidak!”
Raja membanting meja keras hingga beberapa gulungan jatuh ke lantai.
“Kau tahu apa yang sedang terjadi sekarang?!”
Yudra mengernyit.
Raja menatap putranya penuh tekanan.
“Pangeran Aruna juga menyukai gadis itu.”
Kalimat itu membuat Yudra perlahan membeku.
Namun justru setelah mendengarnya…
dadanya terasa semakin sesak.
Karena ternyata apa yang ia lihat selama ini memang benar.
Aruna benar-benar memiliki hubungan khusus dengan Arum.
Raja berjalan mendekati Yudra dengan tatapan tajam.
“Aku tidak akan membiarkan kalian memperebutkan wanita yang sama.”
Nada suaranya mulai dipenuhi emosi.
“Kerajaan ini sudah cukup rumit tanpa masalah seperti ini.”
Namun Yudra justru menatap ayahnya balik untuk pertama kali tanpa mundur.
“Kalau begitu kenapa sejak awal Arum tidak dipilih?”
Pertanyaan itu membuat raja langsung diam.
Karena jauh di dalam hatinya…
ia tahu jawabannya.
Arum memang jauh lebih cocok mendampingi putra mahkota dibanding Ajeng.
Namun justru karena itu…
gadis itu akan terseret terlalu dalam ke permainan kekuasaan istana.
Dan sekarang…
dua putra kerajaan sama-sama menginginkan Arum.
Hal yang paling ditakuti raja akhirnya mulai terjadi.