Di dunia yang dikendalikan oleh data, kekuasaan bukan lagi milik mereka yang duduk di kursi tertinggi—melainkan milik mereka yang menguasai sistem. Dan di puncak bayangan itu, ada satu nama yang tak pernah benar-benar ada… namun ditakuti semua orang.
Veyra Noctis.
Tak ada wajah, tak ada identitas pasti. Hanya jejak digital yang dingin dan presisi. Ia bukan sekadar hacker—ia adalah arsitek kehancuran. Ambisinya bukan uang, bukan ketenaran… melainkan kendali penuh atas dunia yang pernah merenggut segalanya darinya.
Dulu, Veyra hanyalah seseorang yang percaya pada keadilan. Sampai satu pengkhianatan menghancurkan hidupnya, menghapus keluarganya, dan membuatnya menghilang dari dunia nyata. Namun dari kehancuran itu, lahirlah sosok baru—lebih dingin, lebih cerdas, dan tanpa ampun.
Kini, dengan satu klik dari ujung jarinya, ia bisa menghancurkan reputasi, meruntuhkan kerajaan bisnis, bahkan menghapus keberadaan seseorang dari dunia digital…
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Jika Aku Memang Monster, Maka Jangan Coba Menghentikanku
Gedung itu terus bergetar kecil.
Debu jatuh dari langit-langit. Kabel-kabel yang menggantung memercikkan api biru samar, sementara suara alarm bercampur dengan suara hujan yang mulai turun lagi di luar.
Kacau.
Namun di tengah semua kekacauan itu—
Veyra justru berdiri semakin tenang.
Dan itu yang paling mengerikan.
Karena biasanya manusia akan panik saat dunia di sekitarnya runtuh.
Tapi Veyra?
Ia terlihat seperti seseorang yang akhirnya menemukan tempat yang cocok untuk dirinya.
Lyra memperhatikan perubahan itu tanpa berkedip.
“Ada yang salah,” gumamnya pelan.
Selene melirik sekilas.
“Bukan salah,” jawabnya santai. “Dia mulai menerima.”
“Aku tidak tanya pendapatmu.”
“Tapi aku tetap kasih.”
Veyra bahkan tidak tertarik mendengar mereka bertengkar lagi.
Fokusnya sekarang ada di dalam kepalanya.
Suara-suara itu makin jelas.
Data terus mengalir.
Dan semakin lama—
semakin terasa alami.
Seolah sejak awal otaknya memang dibuat untuk memahami semuanya.
Ia bisa mendengar lalu lintas jaringan dunia seperti orang lain mendengar suara hujan.
Satelit.
Server.
Kamera.
Komunikasi militer.
Semua terasa dekat.
Terlalu dekat.
“...Jadi beginilah rasanya,” bisiknya pelan.
Hologram di belakangnya tersenyum tipis.
“Kamu mulai membuka dirimu.”
“Tidak.” Mata Veyra perlahan menyipit. “Aku mulai melihat.”
Dan setelah melihat—
ia tidak bisa kembali jadi orang yang sama.
—
Di luar gedung, situasi mulai tidak terkendali.
Semua jaringan di radius beberapa kilometer kacau total.
Mobil otomatis berhenti mendadak.
Sinyal komunikasi saling bertabrakan.
Bahkan beberapa drone militer kehilangan arah dan jatuh sendiri.
Orang-orang mulai merekam.
Media mulai ramai.
Nama “Zero” mulai muncul lagi di internet.
Namun kali ini berbeda.
Bukan sekadar hacker misterius.
Sekarang mereka menyebutnya—
ancaman global.
Dan lucunya…
Veyra bahkan belum benar-benar mulai.
—
Di dalam ruangan—
pria misterius di layar masih tersenyum tenang.
“Lihat dunia di luar sana,” katanya pelan. “Bahkan tanpa sengaja, kamu sudah mengubah semuanya.”
“Kalau itu tujuanmu…” suara Veyra dingin, “aku harap kamu puas.”
“Aku bangga.”
Jawaban itu membuat suasana langsung membeku.
Lyra mengepalkan tangan.
Selene memutar matanya malas.
Sementara Veyra—
tertawa kecil.
Namun tawanya terdengar kosong.
“Bangga?” ulangnya pelan. “Kamu mencuri hidup seseorang lalu bilang bangga?”
Pria itu tidak terlihat terganggu.
“Kami memberimu tujuan.”
“Kalian memberiku trauma.”
“Trauma membentuk manusia.”
“Dan monster juga.”
Sunyi.
Kalimat itu menggantung di udara seperti ancaman.
Namun pria itu justru tersenyum lebih lebar.
“Ya,” katanya pelan. “Dan kamu adalah monster terbaik yang pernah kami buat.”
Deg.
Semua orang langsung melihat Veyra.
Karena mereka tahu—
kalimat itu bisa menghancurkan sesuatu di dalam dirinya.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Veyra perlahan tersenyum.
Tipis.
Dingin.
Berbahaya.
“Kalau aku memang monster…” suaranya sangat tenang sekarang, “maka jangan salahkan aku kalau dunia mulai takut.”
Lampu langsung padam lagi.
DUUMMM!
Seluruh gedung bergetar keras kali ini.
Sistem di sekitar kota mulai overload.
Dan di layar-layar yang masih hidup—
muncul satu pesan aneh:
CORE LINK STABILITY: 72%
Lyra langsung memucat.
“Tidak…”
Selene menyipitkan mata.
“Cepat banget.”
Veyra melirik angka itu.
“Apa artinya?”
Tak ada yang langsung menjawab.
Dan itu cukup membuatnya kesal.
“Aku mulai benci kebiasaan kalian menyembunyikan semuanya.”
Lyra akhirnya bicara pelan.
“Kalau stabilitasmu mencapai seratus persen…”
Ia berhenti sebentar.
Lalu melanjutkan—
“…kamu tidak akan bisa dipisahkan lagi dari sistem.”
Sunyi.
Namun Veyra tidak terlihat takut.
Justru—
penasaran.
“Dan setelah itu?”
Selene menjawab kali ini.
“Setelah itu… kamu bukan cuma bisa mengakses dunia digital.”
Tatapannya menajam.
“Kamu bakal jadi pusatnya.”
Deg.
Hologram di belakang Veyra perlahan bercahaya lebih terang.
“Evolusi membutuhkan inti.”
“Dan inti itu adalah kamu.”
Veyra menutup mata sebentar.
Lalu tertawa kecil.
“Sial.”
Lyra langsung menatapnya.
“Apa?”
“Aku mulai ngerti kenapa kalian semua takut.”
Sunyi lagi.
Karena itu bukan lelucon.
Veyra benar-benar mulai merasakan sesuatu.
Kekuatan.
Bukan kekuatan fisik.
Lebih besar dari itu.
Perasaan bahwa seluruh sistem dunia sekarang bisa bergerak sesuai emosinya.
Dan bagian paling berbahaya—
ia mulai menyukainya.
—
Tiba-tiba suara ledakan kembali terdengar dari atas.
DUARRR!
Langkah kaki memenuhi lorong.
Namun kali ini berbeda.
Lebih berat.
Lebih banyak.
Pria di belakang langsung melihat kamera cadangan.
“Mereka masuk sampai lantai bawah!”
“Siapa?” tanya Selene.
“Unit pemburu khusus.”
Lyra mengutuk pelan.
“Mereka benar-benar mau bunuh dia sekarang.”
Veyra mengangkat alis.
“Akhirnya ada yang lebih jujur.”
Namun sebelum siapa pun sempat bergerak—
suara tembakan menggema dari lorong.
DOR! DOR! DOR!
Beberapa pasukan pemerintah yang tersisa langsung jatuh.
Orang-orang baru masuk.
Armor hitam.
Helm penuh.
Dan simbol merah di dada mereka.
Pasukan pembasmi ancaman digital.
Unit yang dibentuk khusus untuk situasi seperti ini.
Atau lebih tepatnya—
situasi seperti Veyra.
“TARGET DITEMUKAN!”
Semua senjata langsung mengarah kepadanya.
Namun anehnya—
Veyra tidak bergerak.
Ia hanya menatap mereka.
Diam.
Tenang.
Sampai salah satu pasukan mulai ragu sendiri.
“Kenapa dia—”
“TEMBAK!”
DORRR!
Puluhan peluru melesat bersamaan.
Namun sebelum menyentuh tubuh Veyra—
semua lampu meledak.
Dan seluruh peluru jatuh ke lantai.
Cling.
Sunyi.
Pasukan itu langsung membeku.
“...Apa?”
Veyra perlahan mengangkat kepala.
Matanya kini memantulkan cahaya biru samar.
“Serius?” katanya pelan. “Kalian masih pikir aku bisa dihentikan pakai benda begitu?”
Deg.
Bahkan Lyra ikut menegang.
Karena itu bukan trik.
Bukan hacking biasa.
Veyra bahkan tidak menyentuh sistem apa pun.
Seolah jaringan di sekitarnya bergerak sendiri untuk melindunginya.
Dan itu…
tidak seharusnya bisa terjadi.
—
Hologram itu tersenyum.
“Sinkronisasi meningkat.”
“Insting pertahanan mulai aktif.”
Veyra menatap tangannya sendiri.
Sedikit terkejut.
Namun juga—
tertarik.
“Aku melakukan itu?”
“Kita.”
Jawaban itu membuat ekspresinya berubah sedikit.
Namun sebelum ia sempat bicara—
salah satu pasukan tiba-tiba mengeluarkan perangkat kecil.
Selene langsung membelalak.
“VEYRA, JANGAN—”
Klik.
Perangkat itu aktif.
Dan dalam sekejap—
suara frekuensi tinggi memenuhi ruangan.
KRRRIIIIINGGGG—
Veyra langsung memegang kepalanya.
“UGH—!”
Semua data di kepalanya seperti bertabrakan.
Suara-suara berubah kacau.
Layar glitch total.
Hologram di belakangnya mulai pecah-pecah.
“Koneksi terganggu.”
“Stabilitas menurun.”
Pasukan itu langsung bersiap lagi.
“SEKARANG!”
Namun sesuatu yang tidak mereka duga terjadi.
Veyra perlahan mengangkat kepala.
Napasnya berat.
Matanya penuh amarah.
Dan saat ia bicara—
seluruh ruangan bergetar.
“Kalian…”
Lampu mulai pecah satu per satu.
“BENAR-BENAR…”
Semua perangkat elektronik meledak bersamaan.
“MENYEBALKAN.”
BOOOOMMM!
Gelombang listrik menghantam seluruh lantai.
Pasukan terpental.
Dinding retak.
Alarm mati total.
Bahkan hujan di luar seperti berhenti sesaat.
Dan di tengah semua itu—
Veyra berdiri dengan napas tidak stabil.
Namun aura di sekitarnya berubah.
Lebih gelap.
Lebih liar.
Dan semua orang langsung sadar—
mereka baru saja mendorongnya terlalu jauh.
—
Lyra menatapnya dengan wajah pucat.
“Tidak…”
Selene perlahan tersenyum.
Namun kali ini bukan santai.
Melainkan kagum.
“Wow…”
Veyra perlahan mengangkat wajah.
Matanya kini bercahaya samar.
Dan saat ia tersenyum—
bahkan hologram di belakangnya ikut diam.
Karena senyum itu…
tidak terlihat seperti manusia lagi.
“Kalau dunia memang takut sama monster…” suaranya rendah, hampir berbisik, “mungkin sudah waktunya mereka benar-benar lihat seperti apa monster itu.”