NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Nikah Kontrak
Popularitas:812
Nilai: 5
Nama Author: Royo Ekek

Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Undangan Merah dari Zurich

Pukul sebelas siang, Devan sudah kembali berada di penthouse. Sisi CEO yang tak kenal ampun runtuh sepenuhnya begitu ia melangkah masuk ke dalam kamar utama. Di sana, Anya sedang bersandar di tumpukan bantal, wajahnya yang tadi pucat kini mulai dihiasi rona merah samar setelah meminum teh jahe hangat.

Devan berjalan sangat perlahan, seolah-olah setiap langkah kasarnya bisa mengusik ketenangan udara di sekitar Anya. Ia duduk di tepi ranjang, lalu meraih tangan Anya dan mengecup punggung tangannya lama, sebelum beralih menempelkan telapak tangan besarnya di atas perut Anya yang masih rata dengan kelembutan yang luar biasa.

"Kau sudah tahu?" bisik Devan, matanya menatap Anya dengan binar emosi yang begitu pekat. Ada binar kebahagiaan murni yang belum pernah Anya lihat sebelumnya.

Anya tersenyum manis, air mata haru menggenang di sudut matanya. Ia mengangguk pelan. "Dokter sudah memberi tahuku sebelum meneleponmu. Maaf membuatmu panik pagi ini, Devan."

"Jangan pernah meminta maaf untuk hal seindah ini, Anya," Devan membungkuk, mengecup kening istrinya dengan takzim, menyalurkan seluruh rasa syukur yang membuncah di dadanya. "Ada pewaris Alfarezel di dalam sini. Mulai hari ini, aku tidak akan membiarkanmu kelelahan, bahkan untuk sekadar memikirkan laporan bursa saham."

"Tapi, Devan... laporan Randi tentang Vanguard Holdings tadi pagi"

"Serahkan itu padaku," potong Devan cepat, nadanya melembut namun menyiratkan ketegasan yang tak terbantahkan. "Tugasmu sekarang hanya satu: menjaga dirimu dan anak kita tetap sehat. Biarkan aku yang menghadapi serigala apa pun yang mencoba mendekati rumah kita."

Kedamaian di penthouse tidak berlangsung lama. Pukul dua siang, Randi tiba di kediaman dengan membawa sebuah kotak beludru berwarna merah darah yang dikirimkan melalui kurir diplomatik khusus. Tidak ada nama pengirim, hanya ada sebuah stempel lilin dengan logo huruf 'V' emas yang sangat akrab.

Devan menerima kotak itu di ruang kerja pribadinya, sementara Anya sedang tertidur pulas di kamar utama bawah pengaruh vitamin kehamilan.

Saat kotak dibuka, di dalamnya terdapat sebuah kartu undangan berbahan kertas premium beraroma kayu pinus Eropa, bersama dengan sebuah jam saku antik berlapis emas murni. Di bagian dalam penutup jam saku tersebut, terukir sebuah nama. Bramanta Vance, 1976.

"Kurir itu menitipkan pesan, Pak," ucap Randi dengan dahi berkerut dalam. "Tuan Maximilian Vance mengundang Anda dan Kakek Bramanta untuk menghadiri makan malam privat di salah satu restoran fine dining tertinggi di Jakarta malam ini pukul delapan. Beliau menegaskan... jika Anda atau Kakek menolak hadir, Vanguard Holdings akan memulai perang dumping saham untuk menjatuhkan nilai Alfarezel Group di bursa London besok pagi."

Devan menatap jam saku antik itu dengan mata menyipit berbahaya. Rahangnya mengeras sempurna. "Dia menggunakan taktik pemerasan finansial skala global. Tipikal serigala Zurich."

Pintu ruang kerja terbuka, dan Kakek Bramanta melangkah masuk dengan tongkat berkepala peraknya. Wajah tua sang patriark tampak sangat kuyu, seolah-olah kehadiran jam saku itu telah membangkitkan kembali hantu-hantu masa muda yang sudah lama ia kubur.

"Kakek harus datang, Devan," suara Kakek Bramanta terdengar berat dan parau. "Jam saku itu... itu adalah milik mendiang adikku, kakek dari Maximilian. Ini bukan sekadar ancaman bisnis. Ini adalah urusan darah yang belum selesai dari lima puluh tahun yang lalu."

Devan berdiri, memposisikan dirinya di depan kakeknya dengan wibawa seorang kepala dinasti yang baru. "Kakek tidak akan pergi sendirian. Saya yang akan memimpin pertemuan ini. Maximilian harus tahu bahwa Alfarezel Group hari ini tidak dipimpin oleh bayang-bayang masa lalu, melainkan oleh saya."

Pukul delapan malam tepat. Restoran mewah di lantai teratas salah satu gedung pencakar langit kuningan itu telah dikosongkan total untuk publik. Hanya ada alunan musik selo yang mengalun lambat, menciptakan atmosfer yang dingin dan megah.

Di meja bundar dekat dinding kaca yang menampilkan kerlip lampu kota Jakarta, duduk seorang pria paruh baya berambut perak yang tertata rapi. Ia mengenakan setelan jas buatan penjahit terbaik Savile Row, dipadukan dengan syal sutra tipis di lehernya. Wajahnya memiliki garis tegas keluarga Bramanta, namun matanya sedingin es di pegunungan Alpen.

Dialah Maximilian Vance.

Pintu lift terbuka, dan Devan Alfarezel melangkah keluar bersama Kakek Bramanta, dikawal oleh Randi dan dua orang pengawal elit.

Maximilian tidak berdiri dari kursinya. Ia hanya mengangkat gelas kristal berisi minuman amber miliknya, menyambut kedatangan dua penguasa Alfarezel dengan senyuman tipis yang penuh dengan racun manipulasi.

"Lama tidak berjumpa, Paman Bramanta," sapa Maximilian dengan bahasa Indonesia yang fasih namun beraksen Eropa yang kaku. Pandangannya kemudian beralih, mengunci sosok Devan dengan kilat penilaian yang tajam. "Dan kau... pasti Devan. Singa muda yang baru saja membersihkan kotoran di rumah ini. Harus kuakui, caramu melenyapkan faksi Karina sangat mengesankan."

Kakek Bramanta duduk di hadapan keponakannya dengan napas yang agak berat. "Apa maumu, Maximilian? Mengapa kau membawa sisa-sisa dendam kakekmu ke tanah ini?"

Maximilian terkekeh rendah, suara yang terdengar sangat manipulatif. "Dendam? Oh, Paman, aku adalah seorang bankir investasi dari Zurich. Aku tidak bergerak berdasarkan dendam, aku bergerak berdasarkan angka. Kakekku diasingkan dan dibuat miskin oleh keserakahanmu lima puluh tahun lalu. Dan sekarang, aku datang untuk mengambil kembali 30% aset Alfarezel Group yang seharusnya menjadi hak garis keturunanku."

"Kau tidak akan mendapatkan satu sen pun dari perusahaan ini, Tuan Vance," potong Devan, suaranya menggelegar dingin, memotong semua narasi masa lalu Maximilian. Ia condong ke depan, menatap langsung ke dalam mata pria perak itu. "Dumping saham atau ancaman finansial apa pun yang kau rencanakan di London sudah diantisipasi oleh tim siberku semenjak sore tadi. Jika kau mencoba menyentuh saham Alfarezel, aku akan memastikan seluruh aliran dana lindung nilai anonimmu di Kepulauan Cayman dibekukan oleh otoritas pencucian uang internasional."

Senyuman di wajah Maximilian perlahan memudar, digantikan oleh tatapan yang sangat tajam dan berbahaya. Ia meletakkan gelas kristalnya dengan bunyi dentingan yang keras di atas meja.

"Kau sangat percaya diri, Devan," bisik Maximilian, suaranya merendah menjadi sebuah ancaman yang pekat. "Tapi kau lupa satu hal. Seorang pria yang baru saja akan memiliki anak... biasanya memiliki terlalu banyak titik lemah yang bisa dihancurkan."

Deg!

Aura di sekitar Devan seketika berubah menjadi sangat mematikan. Jantungnya berdesir tajam. Bagaimana pria yang baru mendarat dari Swiss ini bisa mengetahui kabar kehamilan Anya yang baru berusia beberapa jam?

Maximilian kembali tersenyum penuh kemenangan melihat perubahan ekspresi Devan. "Aku tahu segalanya tentang rumahmu, Devan. Termasuk asisten pribadimu yang cantik yang sekarang sedang beristirahat di penthouse. Jadi, mari kita buat kesepakatan... serahkan 30% saham itu padaku, atau aku akan memastikan anak pertamamu tidak akan pernah melihat megahnya menara Alfarezel ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!