NovelToon NovelToon
Please, Menikahlah Denganku!

Please, Menikahlah Denganku!

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta
Popularitas:246
Nilai: 5
Nama Author: Nona Khansa

Aku tidak meminta banyak padamu, hanya satu hal. Menikahlah Denganku!

Cinta yang terpaut 2 tahun lebih tua dari Arhan, siapa bilang ia tidak bisa mendapatkannya? Ia bertekad pada dirinya, apapun yang terjadi Lula Khansa hanyalah miliknya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Khansa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11-Kompresan Lula

Wajahnya yang babak belur, mata yang sembab dan tatapan yang begitu kosong membuat Lula menjadi panik karena Aska seperti mayit hidup. "Aska? Are you okay?" Tanyanya yang masih berada diluar mobil.

Aska menatap lurus kedepan dengan tatapan kosong namun air mata itu tidak pernah berhenti mengalir.

Ini adalah momen pertama kalinya bagi Lula melihat cowok seperti Aska yang ia kenal jahat dan suka membully nya ternyata bisa serapuh dan sehancur ini.

"Bokap gue selingkuh." Ucapnya tiba-tiba, namun pandangannya tidak berubah, masih lurus kedepan.

Lula terdiam karena perkataan Aska barusan. Ia tidak tau harus berbuat apa dan bagaimana dengan cowok itu. "Mau mampir dulu? Biar gue obatin luka diwajah Lo." Tidak menjawab ajakan Lula, Lula pun menghela nafasnya. Tanpa izin dari pemilik mobilnya, Lula langsung saja membuka pintu mobil Aska yang tidak terkunci, melepaskan sabuk pengaman yang masih terpasang ditubuh Aska.

"Ayo Aska." Ajaknya dengan menyodorkan sebuah tangan mungil milik Lula pada Aska.

Aska beralih menatap Lula dengan pelan. Melihat tangan Lula yang sudah siap untuk membantunya. Aska terdiam sejenak menatap tangan mungil itu. "Kenapa Lo baik sama gue? Gue jahat sama Lo selama ini." Timpalnya dengan suara serak basah.

Lula tersenyum tipis. "Seseorang udah pernah ngajarin ke gue, kalo menolong orang itu enggak harus dilihat dari ada apanya, tapi dilihat dari seberapa menderitanya seseorang tersebut hingga perlu pertolongan."

Aska tertegun dengan jawaban Lula. Ia menerima tangan Lula dengan lengan yang masih gemetar dan dingin. "Enggak papa gue kerumah Lo?" Tanyanya memastikan apakah Lula keberatan atau tidak.

"Gue seneng bisa nolong orang kaya Lo." Jelasnya kemudian.

Sebelum mereka pergi, Aska lebih dulu mengunci mobilnya agar tidak terjadi yang tidak diinginkan olehnya.

Selama perjalanan menuju rumah Lula yang Aska rasa ini lorong sangat sempit itu Aska tidak hentinya menatap tangannya yang masih digenggam kuat oleh cewek itu. Hatinya menghangat mendapatkan perlakuan seperti itu. Selama ini tidak ada yang peduli dengan kerapuhan dan kesedihannya, tapi untuk malam ini Lula begitu baik padanya, padahal dirinya dulu sangat jahat pada cewek itu.

Hingga pada akhirnya sampailah disebuah rumah kayu yang terkesan begitu sangat sederhana dan terbilang kecil juga. Rumah gelap bagaikan tidak berpenghuni.

"Apa enggak ada orang disini?" Tanya Aska yang ngeri melihat rumah Lula karena begitu gelap.

Lula mengeluarkan kunci rumahnya yang berada didalam tas. Kemudian membuka gembok itu. "Gue yatim piatu Aska, gue ini sebatang kara." Timpal Lula yang dibarengi oleh terbukanya pintu rumahnya itu.

Degh...

Pernyataan Lula barusan mampu membuat hatinya memanas dan perasaan bersalah itu tiba-tiba saja muncul dari dalam hatinya. Ternyata di kehidupannya yang sudah terbilang paling sulit, masih ada yang lebih sulit lagi darinya. Bodoh sekali dirinya, kenapa dulu begitu jahat pada Lula sampai ia selalu mengeluarkan kata-kata yang mungkin Lula sudah banyak sakit hati karena nya. Walaupun dibalik itu semua, ada maksud tersendiri bagi Aska.

"Ayo masuk." Ajaknya pada Aska yang masih mematung didepan pintu. "Lo masih bisa liat kan? Takutnya nabrak pintu soalnya gak pake kacamata sih." Lanjut Lula yang mampu membuat ekspresi Aska jadi terbelak.

"Lo pikir gue buta apa? Gue cuman minus Lula kali bukan buta!." Cetusnya dengan wajah jengkel pada Lula. Ia pun melangkahkan kakinya memasuki rumah yang sangat sederhana itu.

"Siapa tau kan mau buta." Timpal Lula kemudian.

"Omongan Lo dijaga woi!"

"Kan Lo yang ngajarin gue buat ngomong pedes kaya gitu. Bahkan dari kelas sepuluh Lo udah sering banget ngajarin gue." Jelasnya kemudian.

Aska hanya diam saja mendengar Lula yang sedang menyindir dirinya. Ya karena yang diucapkan Lula itu benar adanya, sedari awal masuk ke SMA, Aska sudah ahli membully Lula, bahkan sering melontarkan kata-kata pedasnya didepan Lula tanpa berpikir dengan kondisi hati Lula bagaimana.

Setelah beberapa menit berlalu, Lula kembali datang dengan sebuah alat kompres dimangkuk yang sudah ia bawa dari belakang. Lula duduk berdampingan disebelah Aska. Memeras kain yang sebelumnya ia basahi dengan air hangat. "Ini paling agak sakit, tapi kalo buat Lo kayaknya enggak bakal sakit deh, soalnya kan sekelas pembullyan kaya Lo masa sakit cuman gini doang."

"Biar gue sendiri aja deh." Titah Aska yang ingin merebut kain itu dari tangan Lula. Namun Lula lebih dulu menghindar dan menjauhkan kain itu.

"Gak mau, gue maunya gue sendiri yang obatin."

"Gue enggak yakin sama Lo." Aska menatap gerak gerik Lula yang sepertinya begitu mencurigakan. Ada tatapan dendam dimata cewek itu. Aska yakin sekali jika Lula saat ini sedang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan untuk membalaskan dendam padanya.

"Terserah deh." Ucap Lula yang bodo amat dengan apa yang Aska katakan padanya. Lula kemudian menyuruh Aska untuk diam dan menurut dengan apa yang dilakukan olehnya. Dengan pelan dan telaten Lula mengompres luka lebam yang berasa di pinggir mata, dekat mulut dan pipi.

"Ssshhh..." Desis Aska saat merasakan linu pada lukanya yang sedang dikompres. Berulang kali Aska sampai menutup matanya untuk menahan rasa sakit tersebut.

"Alay banget sih Lo." Tukas Lula saat mendengar suara Aska yang kesakitan. "Masa luka gini doang sakit, enggak sebanding sama mental Lo yang suka bully orang." Lanjutnya kemudian. Selesai dengan kompresannya, Lula pun meletakkan kain itu kedalam wadah yang sebelumnya sudah diisi dengan air hangat. "Jadi, kenapa Lo tadi kaya gitu? Apa ada masalah?"

Aska menghela nafasnya berat. Ia menundukkan kepalanya, kembali teringat dengan masalah yang sedang dihadapinya beberapa jam yang lalu. "Gue mergokin bokap selingkuh di hotel yang memang udah milik dia sendiri. Apa salah kalo gue sebagai anak itu marahin ayahnya? Kalo bukan karena bokap gue yang hobinya selingkuh, enggak mungkin nyokap gue bisa sampe masuk rumah sakit jiwa."

Lula tertegun dengan apa yang Aska ceritakan tentang keluarganya yang ternyata memiliki masalah cukup besar. "Rumah sakit jiwa?" Tanya Lula memastikan seolah tak percaya jika ibu dari orang yang sering membully nya itu masuk ke rumah sakit jiwa.

Aska mengangguk pelan. Ia kembali terdiam beberapa saat karena kembali mengingat ibunya yang saat ini berada dalam gangguan jiwa. Wajah yang begitu menyedihkan dengan emosional yang terkandang sulit untuk dikendalikan. "Kalo bukan karena bokap, dia enggak akan kaya gini..." Ucap Aska dengan nada lirih. Tak disangka, air matanya kembali terjatuh membasahi pipinya.

Lula yang melihatnya merasa begitu iba dengan Aska yang sedang rapuh saat ini. Ia memang benci pada Aska dulu karena sering sekali mengganggu dan mengolok-olok dirinya. Tapi, melihat kondisi Aska yang sedang rapuh seperti sekarang, membuat Lula ingin sekali menjadi sandaran Aska untuk malam ini saja. Mungkin ini adalah sebuah sifat manusiawi nya yang ada didalam hati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!