Eloise Morgan, mantan tentara yang dikhianati, terbangun menjadi Bellatrix Alexandra Volkov putri Duke Volkov yang sombong, terobsesi, dan memaksakan pertunangan dengan Putra Mahkota Thiago Felipe Albarado. Awalnya Thiago sangat tidak menyukainya dan merasa terganggu. Namun setelah jiwa baru hadir, Bellatrix membuang segala sifatnya yang dulu, menguasai sihir air, memiliki cincin dimensi dan bertekad hidup mandiri. Ia bahkan berniat memutuskan pertunangan itu. Tapi justru saat Bellatrix mulai menjauh dan tidak lagi mengejarnya, Thiago malah merasa tidak senang dan tidak terima. Sikap dingin dan percaya diri Bellatrix membuatnya penasaran, hingga sang pangeran yang menguasai sihir api itu justru berusaha mempertahankan ikatan yang dulunya ia benci.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeje Jennifer, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Abu-abu
Saat malam kembali tiba, Bellatrix duduk di dekat jendela, memandangi langit yang gelap berbintang. Ia masih mempertahankan penutupan koneksi batinnya dengan Thiago. Kadang ia teringat pada pria itu.
Perasaannya masih abu-abu. Ia belum tahu apakah itu cinta, rasa terikat takdir, atau sekadar rasa ingin tahu yang besar. Namun saat ia siap menghadapi perasaannya nanti, ia akan melakukannya dengan jujur, tanpa menyembunyikan siapa dirinya dan apa yang telah ia lakukan.
Ia menatap ke arah utara, tempat pertempuran sedang berlangsung.
"Semoga kau tetap selamat," bisiknya pelan ke angin malam. "Aku akan menunggumu pulang. Dan saat itu tiba... mungkin aku akan berani membuka pintu itu kembali."
Beberapa hari berlalu dengan tenang di permukaan, namun di dalam hati Bellatrix ada sesuatu yang berubah. Ia tidak lagi menghabiskan waktu dengan duduk diam merenung atau merasa cemas akan kekuatannya sendiri.
Setiap pagi, ia bangun lebih awal, turun ke taman belakang paviliun, dan berlatih mengendalikan aliran air dengan cara yang berbeda. Dulu ia berusaha menekan atau menahan kekuatannya agar tidak meluap, kini ia belajar membiarkannya mengalir tenang namun menyapu bersih segala kotoran persis seperti yang ia lakukan saat menyembuhkan warga pinggiran kota.
Ia menyadari kekuatan airnya bukan senjata untuk ditakuti, bukan juga beban yang harus disembunyikan. Ia adalah tangan pelindung yang bisa merangkul yang lemah, membersihkan yang ternoda, dan menghidupkan yang hampir mati. Kesadaran ini membuat postur tubuhnya berubah, tatapannya menjadi lebih tegas, dan senyumnya lebih sering muncul tulus di bibirnya.
Namun rahasianya tetap utuh. Ia tidak pernah menceritakannya pada Ayah, Bunda, atau siapa pun. Ia merasa hal itu adalah janji kecil antara dirinya dan rakyat yang ia lindungi bahwa ia akan selalu ada di saat mereka butuh, bahkan jika mereka tidak pernah tahu siapa sosok yang menolong mereka.
Satu hal lain yang ia pertahankan. Penutupan koneksi batin dengan Thiago. Ia kadang tergoda untuk membukanya kembali, ingin tahu apakah pria itu terluka, apakah ia baik-baik saja di medan perang.
Tapi setiap kali keinginan itu muncul, ia kembali menegaskan pada dirinya sendiri bahwa belum saatnya. Ia ingin tumbuh menjadi dirinya sendiri dulu, sebelum kembali terhubung sepenuhnya dengan takdir yang mempersatukan mereka.
Pada hari keempat, suasana tenang di istana sedikit terganggu. Seorang utusan khusus dari wilayah pinggiran ibu kota datang menemui Kaisar, membawa kabar yang sangat aneh namun menggembirakan.
Duke Leonidas datang ke paviliun dengan wajah penuh kebingungan sekaligus rasa heran. Ia duduk di hadapan Bellatrix, lalu bercerita dengan nada yang masih sulit dipercaya.
"Bella, ada hal yang tidak masuk akal namun benar-benar terjadi," ucapnya pelan. "Para kepala desa di tiga pemukiman terpadat pinggiran kota melaporkan bahwa wabah penyakit aneh yang menyerang mereka yang diduga berasal dari sisa sihir hitam tiba-tiba lenyap begitu saja dalam satu malam. Orang-orang yang seharusnya sudah tak tertolong sembuh total, rumah-rumah yang dulu terasa dingin dan menyeramkan kini terasa hangat kembali, dan tanah yang tandus mulai bisa ditanami lagi."
Bellatrix menunduk, memainkan ujung jubahnya agar senyum bangganya tidak terlihat. "Apakah tidak ada penjelasannya, Ayah?"
"Kata mereka ada sosok misterius bercadar yang berkeliling malam itu," jawab Leonidas sambil mengerutkan kening.
"Sosok itu tidak bicara banyak, tidak meminta balas jasa, hanya menyembuhkan dan pergi. Ada yang bilang melihat cahaya biru samar, ada yang bilang seolah angin air sejuk menyapu tubuh mereka. Kaisar sudah memerintahkan penyelidikan untuk mencari tahu siapa pelindung misterius itu, tapi sampai sekarang belum ada petunjuk sedikit pun."
Ia menatap putrinya lekat-lekat. "Kamu tidak tahu apa-apa soal ini kan, Bella?"
Bellatrix mengangkat wajah perlahan, menatap mata ayahnya dengan tenang.
"Aku hanya berharap ada orang baik yang melindungi mereka, Ayah. Sama seperti Ayah dan Bunda selalu melindungiku."
Leonidas menghela napas panjang, lalu tersenyum tipis. "Mungkin kamu benar. Siapa pun orang itu, ia telah menyelamatkan ratusan nyawa dan meringankan beban pasukan kita di garis depan. Karena wabah berhenti menyebar, pasukan musuh tidak lagi mendapatkan pasokan tenaga dari penderitaan rakyat di sini."
Bellatrix merasa lega mendengarnya. Tindakannya bukan hanya menyembuhkan orang sakit, tapi juga melemahkan sumber kekuatan sihir hitam yang bergantung pada rasa sakit dan keputusasaan.
Malam itu, saat bulan purnama bersinar terang namun diselimuti awan gelap yang bergerak cepat, Bellatrix terbangun karena merasakan sesuatu yang salah. Bukan suara gaduh, bukan juga langkah kaki melainkan rasa dingin yang menusuk tulang, bau busuk yang samar, dan getaran energi gelap yang sangat lemah namun jahat.
Ia bangkit dari tempat tidur perlahan, berjalan mendekati jendela yang terbuka sedikit. Di sana, di sudut halaman paviliun yang gelap, tersembunyi di balik semak-semak tinggi, ada sosok bayangan yang tidak berwujud jelas. Ia bukan manusia, bukan pula hewan hanya kumpulan kegelapan yang bergerak merayap, mencoba menyusup masuk ke dalam perlindungan sihir yang melingkupi paviliun.
Bellatrix tahu betul apa itu. Itu adalah utusan sihir hitam, makhluk ciptaan energi jahat yang dikirim untuk mencari tahu sumber energi murni yang tiba-tiba membersihkan wilayah itu yaitu dirinya.
Ia tidak memanggil penjaga. Ia tahu jika prajurit datang, makhluk itu akan lari dan menyebarkan informasi ke pemimpin pemberontak. Sebaliknya, ia perlahan membuka sedikit perlindungan sihir di sekelilingnya, membiarkan jejak energi airnya tercium samar, lalu berdiri diam menunggu.
Sosok bayangan itu perlahan merayap mendekat, seolah terpesona oleh cahaya murni yang ia cari. Saat sudah cukup dekat, Bellatrix mengangkat tangan kanannya perlahan. Tanpa suara, tanpa gerakan berlebihan, ia memerintahkan semua uap air di udara berkumpul menjadi benang-benang halus yang tak terlihat. Dalam sekejap, benang-benang itu melilit makhluk bayangan itu erat, mengikatnya hingga tidak bisa bergerak sedikit pun.
Makhluk itu meraung kesakitan, mengeluarkan asap hitam saat bersentuhan dengan energi air murni. Bellatrix tidak membunuhnya, tapi ia menyedot semua informasi yang tersimpan di dalam kesadarannya siapa yang mengirimnya, apa tujuan mereka, dan seberapa dalam sihir hitam itu sudah menyusup ke istana.
Setelah mendapatkan apa yang ia butuhkan, ia membiarkan benang air itu menghancurkan inti makhluk itu perlahan, hingga bayangan itu lenyap sepenuhnya menjadi debu tak kasat mata. Tidak ada jejak yang tertinggal, tidak ada suara yang terdengar.
Bellatrix berdiri diam di tempatnya cukup lama, hatinya kini mengetahui hal yang jauh lebih mengkhawatirkan. Pemimpin pemberontak bukan sekadar orang yang ambisius kekuasaan. Ia adalah seseorang yang dulu pernah menjadi bagian dari pelindung elemen air, namun berkhianat karena iri pada kekuatan murni keluarga Volkov. Dan orang itu tahu persis bahwa keberadaan Bellatrix adalah satu-satunya penghalang terbesar bagi rencananya.
Saat duduk kembali di tepi tempat tidur, pikirannya kembali melayang ke arah utara ke arah Thiago. Jika musuh sudah tahu keberadaannya, bahaya kini mengancam tidak hanya dirinya, tapi juga semua orang yang ia sayangi, termasuk pria itu.
Ia sempat tergoda untuk membuka penutup koneksi batin itu. Ia ingin memberi tahu Thiago agar berhati-hati, ingin berbagi beban pengetahuan yang baru ia dapatkan. Namun tangannya berhenti di udara.
Ia juga belum tahu bagaimana posisinya di hati Thiago, belum tahu apakah pria itu akan menerimanya dengan segala rahasia dan kekuatannya yang besar ini, atau justru menjauh karena takut. Ia tidak ingin membebani ikatan yang belum tentu kokoh ini dengan ketakutan dan bahaya yang belum sepenuhnya ia pahami.
"Maafkan aku, Thiago," bisiknya pelan pada kesunyian kamar. "Aku belum siap berbagi segalanya. Biarkan aku yang menghadapi bayangan ini dulu dari sini, sampai aku benar-benar yakin akan apa yang kurasakan dan apa yang harus kulakukan."
Ia kembali menutup rapat pintu kesadarannya, menjaga rahasianya, menjaga kekuatannya, dan menyiapkan diri. Ia tahu perang sesungguhnya bukan lagi di medan perang utara. Tapi di sini, di antara cahaya air murni dan kegelapan yang ingin mencemarinya. Dan kali ini, ia tidak akan lagi berdiri diam menunggu dilindungi. Ia akan menjadi pelindung yang berdiri di garis paling depan.
lagian mereka kyk gk ad kerjaan ngintipin 🤣🤣🤣🤣