Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 2 - Pernikahan yang Tak Pernah Kubayangkan
“Apa maksud Anda... menggantikan pengantin pria?"
Suara Ayah Alea terdengar berat. Tatapannya tak lepas dari pria asing yang berdiri dengan tenang di tengah ruang rias.
Raka tidak langsung menjawab. Ia justru menatap Alea beberapa saat, seolah sedang memastikan sesuatu.
"Aku serius."
Dua kata itu terdengar mantap.
Ruangan kembali sunyi.
Alea mengusap air mata yang masih membasahi pipinya. Hari ini hidupnya sudah jungkir balik. Rasanya sulit percaya ada orang asing yang tiba-tiba menawarkan diri menikahinya.
"Maaf," ucap Alea pelan. "Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Raka menggeleng.
"Belum."
"Lalu kenapa Anda mau melakukan ini?"
"Kalian sedang membutuhkan jalan keluar."
"Itu bukan jawaban."
Untuk pertama kalinya, sudut bibir Raka terangkat membentuk senyum tipis.
"Aku memang tidak berniat menjawab semuanya hari ini."
Jawaban itu justru membuat Alea semakin curiga.
Ayahnya melangkah mendekat.
"Tuan Raka, saya menghargai niat baik Anda. Tapi menikah bukan perkara sederhana. Saya bahkan tidak tahu siapa Anda."
"Ayah benar." Alea mengangguk. "Aku tidak mungkin menikah dengan orang yang baru kutemui."
Raka mengeluarkan dompet kulit dari saku jasnya. Ia menyerahkan kartu identitas, kartu advokat, dan beberapa dokumen lain.
"Silakan diperiksa."
Ayah Alea membaca satu per satu dengan saksama.
"Raka Arvin..."
"Konsultan hukum."
Semua data terlihat asli.
Tidak ada yang janggal.
Namun justru itulah yang membuat keadaan terasa semakin aneh.
"Apa keuntungan yang Anda dapat?" tanya Ayah Alea.
"Karena tidak ada orang yang membantu tanpa alasan."
Raka terdiam beberapa detik.
"Aku memang punya alasan."
"Apa itu?"
"Aku membutuhkan seorang istri."
Jawaban singkat itu membuat semua orang saling berpandangan.
"Maksud Anda?" tanya Alea.
"Pernikahan ini hanya berlangsung satu tahun."
"Aku tidak akan mencampuri kehidupanmu."
"Aku tidak akan menuntut apa pun setelah kontrak berakhir."
"Kau tetap bebas bekerja, bebas menentukan hidupmu."
"Aku hanya meminta satu hal."
"Apa?"
"Selama satu tahun, jalankan peranmu sebagai istriku di depan semua orang."
Alea menatap pria itu tanpa berkedip.
Permintaan itu terdengar sederhana.
Terlalu sederhana.
"Kenapa harus aku?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Raka menarik napas pelan.
"Karena hanya kamu yang bisa membantuku."
Jawaban itu menggantung.
Tak ada penjelasan lain.
Belum sempat suasana berubah, suara gaduh kembali terdengar dari luar ballroom.
"Pak Pram!"
Seorang staf hotel berlari menghampiri.
"Wartawan sudah ada di lobi. Mereka mulai bertanya kenapa akad belum dimulai."
Wajah Ayah Alea memucat.
Ia menoleh ke arah jam dinding.
Sudah lewat hampir satu jam dari jadwal.
Tak mungkin lagi menunda.
Jika pesta dibatalkan, bukan hanya nama keluarga mereka yang hancur.
Para klien perusahaan juga akan kehilangan kepercayaan.
Di tengah kebimbangan itu, Alea memandang gaun putih yang dikenakannya.
Gaun ini dipilih bersama ibunya enam bulan lalu.
Ia masih ingat bagaimana mereka tertawa saat mencoba berbagai model.
Ibunya berkata,
*"Suatu hari nanti, Ayah pasti bakal nangis lihat kamu jadi pengantin."*
Benar saja.
Hari ini ayahnya memang hampir menangis.
Bedanya...
Bukan karena bahagia.
Melainkan karena merasa gagal melindungi putrinya.
Hati Alea terasa diremas.
Ia menoleh kepada kedua orang tuanya.
"Kalau aku menolak..."
"Semua ini akan semakin buruk, ya?"
Tak ada yang menjawab.
Keheningan itu sudah cukup menjadi jawaban.
Alea menatap Raka.
"Aku punya syarat."
Raka mengangguk.
"Katakan."
"Jangan pernah membohongiku."
Kalimat itu meluncur tanpa berpikir.
Setelah dikhianati Arga dan Nadira, satu hal yang paling ia benci adalah kebohongan.
Raka menatapnya cukup lama.
Ada sesuatu yang berkelebat di matanya.
Rasa bersalah.
Hanya sesaat.
Lalu ia kembali memasang wajah datar.
"Aku akan berusaha."
Berusaha.
Bukan berjanji.
Entah mengapa, jawaban itu membuat hati Alea sedikit tidak nyaman.
Namun waktu mereka sudah habis.
Alea mengambil pena yang disodorkan Raka.
Tangannya gemetar saat menandatangani kontrak itu.
Begitu tinta terakhir mengering, ponsel di saku jas Raka bergetar pelan.
Ia melirik layar sekilas.
**Nomor Tak Dikenal**
> **Target sudah menjadi istrimu. Jangan lupa tujuanmu. Jangan sampai perasaan mengacaukan semuanya.**
Rahang Raka mengeras.
Tanpa membalas pesan itu, ia langsung mengunci layar.
"Ada masalah?" tanya Alea.
Raka memasukkan ponselnya kembali.
"Tidak."
Ia berbohong.
Dan itu adalah kebohongan pertama yang baru saja ia lakukan kepada istrinya.
Beberapa menit kemudian, pintu ballroom perlahan dibuka.
Musik pernikahan mulai mengalun.
Ratusan tamu berdiri menyambut kedua mempelai.
Tak seorang pun tahu bahwa pengantin pria yang berjalan di samping Alea bukanlah pria yang ia cintai.
Dan tak seorang pun tahu...
bahwa pernikahan yang baru saja dimulai itu adalah awal dari rahasia terbesar yang akan menghancurkan banyak kehidupan.
Sementara di sudut ballroom, seorang pria berkacamata hitam menatap mereka dari kejauhan.
Ia mengangkat ponselnya, mengambil satu foto, lalu mengirimkannya kepada seseorang.
> **"Mereka resmi menikah."**
Balasan datang hanya beberapa detik kemudian.
> **"Bagus. Sekarang permainan kita dimulai."**
**Bersambung...**