NovelToon NovelToon
BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

BANGKITNYA SANG SATRIA PININGIT

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Kebangkitan pecundang / Ahli Bela Diri Kuno / Balas Dendam
Popularitas:804
Nilai: 5
Nama Author: Dedik Januari Purnomo

"Dulu aku adalah debu di bawah kakimu, kini aku adalah badai yang akan menghancurkan istanamu!"

Arka Nirwana hanyalah menantu "sampah" yang dihina dan dipaksa mencuci sepatu keluarga Adiningrat. Kehilangan anak, dikhianati istri, dan dianggap gila adalah makanan sehari-harinya. Namun, mereka tidak tahu bahwa selama empat tahun, Arka sedang melakukan tirakat suci untuk membuka Segel Nusantara.

Saat guntur menyambar dan Jenderal tertinggi bersujud di kakinya, dunia sadar bahwa Sang Satria Piningit telah bangkit. Masa perbudakan telah usai, kini saatnya Arka menjemput kembali miliknya dan meratakan siapa pun yang menghalanginya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: TITIK NOL DI LEMBAH KEABADIAN

Matahari mulai condong ke barat di lereng Gunung Banyak, Kota Batu. Arka Nirwana sedang duduk di bangku kayu di depan toko buku tuanya, "Pustaka Senyap".

Di tangannya, ia memegang sebuah buku tua berjudul Jangka Jayabaya. Sesekali ia menyapa tetangga yang lewat dengan anggukan ramah.

Tidak ada yang tahu bahwa pria yang sedang menyesap kopi tubruk dalam gelas plastik itu baru saja melipat ruang dimensi di Borobudur.

Namun, ketenangan itu terusik saat sebuah getaran halus terasa di saku celananya. DZZZT... DZZZT...  Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel satelit rahasianya dari Jenderal Wironegoro:

"Gusti, mereka bergerak. Bukan ke arah Anda, tapi ke arah Dafa. Titik koordinat: Puncak Paralayang. Waktu tersisa: 15 menit sebelum 'Kala' membeku."

Arka menutup bukunya perlahan. Ia tidak melompat, tidak berteriak. Ia hanya berdiri, merapikan letak kursi rotannya, dan menoleh ke dalam toko.

"Reyna, jaga toko sebentar. Aku harus menjemput Dafa," ucap Arka dengan nada yang sangat biasa, seolah ia hanya pamit ke pasar.

Reyna Viyanita muncul dari balik rak buku. Wajahnya pucat. Sebagai pemilik kemampuan sasmita, ia merasakan apa yang Arka rasakan, sebuah lubang hitam besar yang sedang menganga di garis waktu.

"Arka... hati-hati. Segel Ketujuh bukan untuk diambil, tapi untuk dilepaskan. Jangan biarkan dirimu terjebak dalam penyesalan yang belum terjadi."

Arka tidak menjawab. Ia hanya mengangguk, lalu menaiki motor Honda CB tuanya. TRENG... TENG... TENG...  Saat gas diputar, motor itu melesat. WHUUUUUUSSSHHHH!  Meninggalkan jejak uap ungu yang lenyap seketika.

Di Puncak Paralayang, suasana sangat mencekam. Tempat yang biasanya ramai oleh turis itu kini sepi, diselimuti kabut tebal yang tidak wajar.

Di bibir tebing, Dafa sedang berdiri mematung, matanya kosong karena pengaruh hipnotis frekuensi rendah.

Di depannya berdiri seorang pria jangkung dengan jubah abu-abu yang tampak seperti menyatu dengan kabut. Ia adalah The Chronos, petinggi dari organisasi The Architect yang memegang kendali atas teknologi manipulasi waktu.

"Anak ini adalah kunci terakhir, Arka," suara Chronos menggema, seolah datang dari masa depan dan masa lalu secara bersamaan.

Arka mendaratkan motornya di tepi jalan, sekitar sepuluh meter dari mereka. Ia turun, melepaskan helm kusamnya, dan berjalan tenang. TAP. TAP. TAP.

Penampilannya masih tetap "Mas Arka", jaket jin lusuh dan celana cargo. Tapi setiap langkahnya membuat kabut di sekitarnya tersibak, seolah-olah udara pun segan menyentuhnya.

"Lepaskan anakku, Chronos," ucap Arka. Suaranya tidak keras, tapi getarannya membuat burung-burung di hutan sekitar jatuh pingsan.

"Kau memiliki enam segel, Arka Nirwana. Kau adalah Poros Dunia. Tapi kau tetaplah manusia yang terikat oleh waktu," Chronos mengangkat sebuah alat berbentuk jam pasir digital yang berpendar hitam.

"Dalam sepuluh detik, aku akan mengirim anak ini ke masa lalu, ke titik di mana kau belum lahir. Kau akan memiliki seluruh kekuatan elemen."

"Tapi kau tidak akan pernah memiliki alasan untuk menggunakannya. Kau akan menjadi Tuhan yang kesepian."

Arka berhenti melangkah. Di matanya, ia melihat jutaan garis kemungkinan. Ia bisa saja menggunakan Segel Ruang untuk menarik Dafa sekarang.

Tapi Chronos akan memicu ledakan waktu yang menghancurkan seluruh Kota Batu. Ia bisa menggunakan Segel Api untuk membakar Chronos, tapi Dafa akan ikut hangus.

"Sepuluh... sembilan... delapan..." Chronos mulai menghitung mundur.

Arka memejamkan matanya. Ia tidak lagi memikirkan strategi militer. Ia tidak lagi menggunakan logikanya. Ia masuk ke dalam relung sukmanya yang paling dalam, ke titik nol di mana waktu tidak lagi memiliki makna.

“Waktu bukanlah garis lurus... Waktu adalah aku,” batin Arka.

Seketika, seluruh Segel di tubuh Arka bereaksi. Bumi, Air, Api, Udara, Welas Asih, dan Ruang menyatu di pusat jantungnya. VREEEUMMM!  Cahaya pelangi yang redup namun sangat padat mulai terpancar dari pori-pori kulitnya.

"Tiga... dua... satu... SEKARANG!" Chronos menekan tombol pada alatnya.

CRAAAKKKK-BOOM!

Ledakan energi hitam meluncur menuju Dafa, siap merobek jalinan waktu di sekitar anak itu. Namun...

ZAP! 

Dunia mendadak membeku.

Burung yang sedang jatuh di udara berhenti di tengah jalan. Daun yang tertiup angin mematung. Cahaya hitam dari alat Chronos berhenti hanya satu milimeter dari kening Dafa. Bahkan jantung Chronos berhenti berdetak di tengah dentuman.

SEP... (Hening total).

Hanya Arka yang bergerak. TAP... TAP...

Ia berjalan di antara partikel udara yang membeku. Langkahnya meninggalkan riak di atas realitas, seperti kaki yang melangkah di atas permukaan air tenang.

Arka sampai di depan Dafa. Ia mengusap pipi anaknya yang membeku dalam ekspresi takut.

"Maafkan Papa, Nak. Waktumu bukan milik mereka. Waktumu adalah milikmu sendiri," bisik Arka.

Arka menoleh ke arah Chronos. Ia mengambil alat jam pasir itu dari tangan Chronos yang kaku. Dengan satu remasan tangan yang dilapisi energi Segel Bumi, alat super canggih itu hancur menjadi debu atom.

KRETEK... PYARRR!

Arka kemudian berdiri di tengah Puncak Paralayang. Ia merentangkan tangannya lebar-lebar. Dari langit, sebuah pilar cahaya keemasan turun menyambar tubuh Arka.

Inilah Segel Ketujuh: Segel Waktu (Kala). Segel ini tidak berbentuk benda, melainkan kesadaran murni bahwa masa lalu, masa kini, dan masa depan adalah satu kesatuan yang utuh.

Seketika, tato tujuh cakra di punggung Arka menyala sempurna, membentuk pola Cakra Nusantara yang utuh. Arka Nirwana bukan lagi sekadar manusia, ia telah menjadi Satria Piningit yang sempurna.

DENG!

Waktu kembali bergerak.

BRUUK!

Chronos terjerembab ke belakang, ia terengah-engah, paru-parunya seperti terbakar karena baru saja merasakan waktu yang berhenti paksa.

Ia melihat alatnya sudah hancur. Ia melihat Arka berdiri di samping Dafa yang kini sudah sadar dan langsung memeluk kaki Arka.

"B-bagaimana... Bagaimana kau bisa menghentikan detik?" tanya Chronos dengan suara serak, ketakutan yang murni terpancar dari matanya.

Arka menggendong Dafa. Ia menatap Chronos dengan pandangan yang sangat tenang, namun Chronos merasa seolah-olah ia sedang menatap lubang hitam yang siap menelannya.

"Aku tidak menghentikan detik, Chronos. Aku hanya membiarkan detiku berjalan sesuai detak jantung Nusantara. Pergilah. Katakan pada 'The Architect', permainan kalian di tanah ini sudah berakhir."

Arka tidak membunuh Chronos. Ia hanya melambaikan tangan kanannya. SREEEEP!

Sebuah lubang dimensi terbuka di belakang Chronos, menyedot pria itu dan melemparnya langsung ke markas besarnya di Eropa dalam keadaan lumpuh total seluruh sirkuit otaknya. SUUUUTTT...

Arka turun dari puncak dengan menggendong Dafa. Di bawah, Jenderal Wironegoro sudah menunggu dengan barisan mobil hitam yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon pinus. Saat melihat Arka, Wironegoro segera turun dan bersujud di tanah.

DEGH!

"Gusti... Anda sudah genap. Nusantara memiliki porosnya kembali," ucap Wironegoro dengan suara bergetar karena haru.

Arka mengisyaratkan Wironegoro untuk berdiri. "Jangan bersujud, Jenderal. Aku tetap Arka yang dulu. Simpan upacara ini untuk hari kemenangan yang sesungguhnya. Untuk sekarang, pastikan Dafa sampai di rumah dengan aman."

Arka memberikan Dafa kepada Reyna yang baru saja tiba dengan mobil jeep tua. Reyna menatap Arka, ia melihat aura yang begitu agung menyelimuti pria itu. "Kau sudah bukan 'Mas Arka' lagi, ya?" tanya Reyna dengan senyum sedih.

Arka tersenyum kecil, ia mengenakan helm kusamnya kembali. "Aku akan selalu menjadi Mas Arka yang menjual buku untukmu, Reyna. Kekuatan ini hanyalah amanah, bukan identitas."

***

Malam harinya, di toko "Pustaka Senyap", Arka duduk di meja kerjanya. Di depannya terdapat sebuah peta dunia yang sangat besar.

Melalui penglihatan barunya, ia melihat bahwa seluruh dunia sedang mengalami kegoncangan. Ekonomi global mulai runtuh, perang pecah di berbagai belahan dunia, dan krisis moral mencapai puncaknya.

Ia melihat bayangan mantan mertuanya, Papa Siska, yang kini mendekam di penjara dan sering berteriak gila menyebut nama "Arka".

Ia melihat Siska yang kini hidup luntang-lantung di pinggiran Jakarta, mencoba menjual sisa perhiasan palsunya demi sebungkus nasi. Ia melihat Maya yang dikabarkan depresi berat di panti rehabilitasi Singapura.

Semua itu terasa begitu jauh. Arka tidak merasakan kemenangan atas kehancuran mereka. Ia hanya merasakan tugas besar yang menanti.

Tiba-tiba... TOK... TOK... TOK....

Pintu toko bukunya diketuk pelan. Seorang pria tua dengan pakaian compang-camping namun memiliki tatapan mata yang sangat tajam masuk ke dalam. Arka segera berdiri. Ia mengenali pria ini, pria yang dulu ia temui di bioskop terbengkalai.

"Tugasmu mengumpulkan segel sudah selesai, Arka," ucap si tua itu.

"Sekarang, tugasmu adalah menjadi Paku Alam. Dunia di luar sana sedang hancur. Mereka akan mencari pemimpin, mereka akan mencari penyelamat. Tapi kau... kau harus tetap piningit (tersembunyi)."

"Apa yang harus kulakukan, Eyang?" tanya Arka dengan hormat.

"Tetaplah di sini. Jual bukumu. Berikan pengetahuan pada mereka yang datang mencari. Tapi saat kegelapan benar-benar menyelimuti Nusantara, cukup angkat tanganmu ke langit, dan biarkan tujuh elemen itu bekerja sebagai hukum alam yang tak terbantahkan."

Pria tua itu menghilang seperti uap.

Arka menarik napas panjang. Ia berjalan ke depan tokonya, membalik papan tanda menjadi "TUTUP". Ia menatap bintang-bintang di langit Batu yang begitu jernih. Ia tahu, di balik ketenangan malam ini, ia adalah pemegang kendali atas nasib jutaan orang.

Ia kembali ke dalam, mengambil sebuah buku cerita anak-anak dan berjalan ke kamar Dafa. Ia membacakan dongeng tentang seekor naga yang menyamar menjadi manusia agar bisa melindungi hutan dari para pemburu. Dafa tertidur dengan senyum di wajahnya.

Arka keluar dari kamar, menemukan Reyna sedang menyeduh teh di dapur. Mereka saling bertatapan dalam keheningan yang penuh makna.

Tidak perlu kata-kata cinta, karena jiwa mereka sudah terikat oleh garis takdir yang melampaui waktu.

"Tehnya, Mas Arka?" tanya Reyna dengan lembut.

"Terima kasih, Reyna," sahut Arka sambil duduk di kursi rotannya.

Di luar, dunia mungkin sedang menuju kehancuran, tapi di dalam ruko kecil di Kota Batu ini, poros dunia sedang beristirahat, bersiap untuk fajar baru yang akan mengubah sejarah manusia selamanya.

Sang Satria Piningit tetap bekerja dalam senyap, menjaga Nusantara dari balik rak-rak buku tua, menjadi pelindung yang tak terlihat namun terasa kehadirannya dalam setiap hembusan angin dan detak jantung bumi.

KEBANGKITAN SANG SATRIA PININGIT SELESAI UNTUK SEBUAH AWAL BARU.

***

Dukung perjalanan Arka Nirwana dengan Like dan Komen. Update setiap hati. Terima kasih.

1
anggita
ikut like👍iklan☝aja thor.
Dedik Januari: Terima kasih kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!