NovelToon NovelToon
SISTEM PANGERAN AUTO PILOT

SISTEM PANGERAN AUTO PILOT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Sistem
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

"Saat pedang musuh hampir mencabut nyawaku, sebuah suara mekanis mengambil alih kendali tubuhku dan mengubahku menjadi mesin pembunuh yang sempurna."

​​Jacob adalah pangeran kedua kerajaan Helios yang selalu berlindung di balik punggung kakaknya, George. Namun, sebuah pengkhianatan di medan perang membuat George lumpuh dan pasukan mereka terbantai. Di tengah keputusasaan, sebuah Sistem Auto Pilot aktif di dalam kesadaran Jacob. Sistem ini tidak memberikan misi atau hadiah cuma-cuma, melainkan mengambil alih kendali saraf otot Jacob untuk melakukan gerakan bertarung yang mustahil dilakukan manusia biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21: Jeritan dari Tanah Kering

​"Pasukan Nightmare ini harus terus bergerak menyapu sisa musuh, Veldora. Jangan biarkan insting membunuh mereka tumpul hanya karena berdiam diri di barak istana," perintah Jacob dengan nada suara yang sangat dingin.

​"Kami siap mengirim mereka ke perbatasan timur sekarang juga, Baginda. Beberapa kelompok bandit mencoba memanfaatkan masa transisi kekuasaan kita untuk membuat kekacauan bersenjata," jawab Veldora sambil menunduk hormat.

​"Bantai mereka semua tanpa sisa sedikit pun. Jadikan kelompok bandit itu sebagai pemanasan pertama bagi Nightmare sebelum kita menghadapi kerajaan lain," tegas Jacob sambil menatap tajam ke arah peta strategi di atas mejanya.

​{Aku tidak akan menoleransi satu pun ancaman di wilayahku, sekecil apa pun itu ancamannya. Helios harus benar-benar bersih dari sampah perusuh.}

​"Sesuai perintahmu, Baginda Raja. Tidak akan ada yang selamat dari tebasan senjata para pasukan baru kita," ucap Veldora dengan seringai kejam di wajahnya.

​"Pastikan ramuan pemulihan herbal itu selalu didistribusikan tanpa henti kepada mereka. Tubuh pasukan Nightmare butuh asupan nutrisi terus-menerus untuk menjaga stamina di titik maksimal," tambah Jacob.

​"Pasokan herbal kita sangat aman dan melimpah, Baginda. Tabib istana bekerja siang dan malam memproduksi ramuan tersebut di bawah pengawasan ketat prajurit terpercaya," lapor Veldora dengan penuh keyakinan.

​"Bagus. Berangkatlah sekarang juga dan bawa kepala pemimpin bandit itu ke hadapanku esok pagi," perintah Jacob tanpa mengalihkan pandangannya dari tumpukan perkamen.

​"Saya mohon undur diri, Baginda," pamit Veldora sebelum memutar tubuhnya dan melangkah keluar dari ruang kerja raja.

​||||||||||||||

​"Natali, siapkan dua ekor kuda dan pakaian rakyat biasa untuk kita berdua hari ini," pinta Jacob secara tiba-tiba sambil menyarungkan pedang pendek ke pinggangnya.

​Natali mengerutkan dahi karena kebingungan mendengar perintah rajanya yang terkesan sangat mendadak tersebut.

​"Pakaian biasa, Tuanku? Apakah Anda merencanakan misi penyusupan rahasia ke wilayah musuh lagi hari ini?" tanya Natali dengan penuh kewaspadaan.

​"Bukan penyusupan ke wilayah musuh. Aku ingin berjalan-jalan ke sebuah desa di luar ibu kota untuk melihat kondisi rakyatku secara langsung," jawab Jacob dengan tatapan yang sangat fokus.

​{Selama ini aku hanya melihat data panen dan angka pajak dari laporan para menteri istana. Aku harus tahu apakah kedamaian yang Kak George impikan benar-benar sudah dirasakan oleh rakyat kecil.}

​"Ini terlalu berisiko, Baginda. Masih banyak sisa pengkhianat yang mungkin bersembunyi di pelosok desa setelah eksekusi massal tempo hari," protes Natali dengan wajah yang memancarkan ketegangan.

​"Aku tidak butuh penjagaan berlebihan dari barisan prajurit berzirah emas. Kau cukup menemaniku, dan pasukan bayanganmu bisa mengawasi kita dari jarak jauh," perintah Jacob tanpa memberikan ruang sedikit pun untuk perdebatan.

​"Saya mengerti kekhawatiran Anda, Tuanku. Saya akan memastikan rute perjalanan kita aman dari segala bentuk ancaman yang mungkin mengincar nyawa Anda," ucap Natali akhirnya sambil menunduk patuh.

​"Kita berangkat lewat pintu rahasia di sayap barat istana sekarang juga. Jangan biarkan pelayan atau menteri mana pun tahu bahwa aku meninggalkan ruangan ini," instruksi Jacob sambil meraih jubah cokelat kusam dari dalam lemarinya.

​"Saya akan menempatkan boneka umpan di ranjang Anda untuk mengelabui pelayan istana yang bertugas membersihkan kamar, Baginda," usul Natali dengan gerakan tangan yang sangat cepat.

​"Kerja bagus. Pastikan tidak ada yang curiga sampai aku kembali menduduki singgasana nanti malam," tanggap Jacob sambil memakai jubah tersebut menutupi pakaian ringannya.

​"Apakah Anda tidak ingin membawa pedang panjang Anda, Tuanku? Sebuah pedang pendek mungkin tidak akan cukup jika kita diserang pasukan pembunuh dalam jumlah besar," tanya Natali dengan raut wajah yang masih cemas.

​"Pedang pendek ini sudah lebih dari cukup untuk menebas leher pengkhianat mana pun yang berani mendekatiku hari ini. Aku bukan lagi pangeran manja yang butuh perlindungan penuh dari kakaknya," jawab Jacob dengan nada yang dipenuhi rasa percaya diri absolut.

​"Kekuatan fisik Anda memang sudah berada di luar batas ketahanan manusia normal, Baginda. Namun, kehati-hatian tetap menjadi kunci utama dalam setiap perjalanan rahasia," saran Natali sambil menyarungkan belati peraknya ke balik sepatu bot.

​"Aku mengingat semua peringatanmu dengan baik, Natali. Sekarang ikuti langkahku dan jangan buat gerakan yang mencolok saat kita berada di tengah desa nanti," perintah Jacob.

​"Sesuai perintahmu, Baginda Raja. Pasukan bayangan sudah menyebar di titik-titik krusial sepanjang jalan desa sejak fajar tadi," lapor Natali dengan suara yang mantap.

​"Sangat efisien seperti biasa. Ayo kita memacu kuda kita sekarang juga," ajak Jacob sambil membuka panel kayu rahasia di dinding ruang kerjanya.

​||||||||||||||

​Jacob berjalan menuntun kudanya memasuki sebuah desa pertanian pinggiran yang jaraknya cukup jauh dari kemegahan dinding ibu kota Helios.

​Matanya bergerak sangat cepat memindai setiap wajah penduduk, ladang yang mengering, dan kondisi bangunan kayu yang dilewatinya siang itu.

​Dia melihat raut kelelahan dan rasa frustrasi yang sangat jelas terpampang di wajah rakyatnya, sebuah pemandangan yang langsung memukul telak batin sang penguasa muda.

​{Semua kemenangan militer besar yang kuraih ternyata tidak otomatis membawa kesejahteraan melimpah bagi mereka. Ada sistem yang membusuk di bawah yurisdiksiku.}

​"Gandum kita mati semua hari ini! Bagaimana kita bisa membayar pajak istana jika tanah ini terus mengeras seperti batu?" teriak seorang petani muda dengan nada frustrasi tingkat tinggi sambil melempar cangkulnya.

​"Sumur di belakang rumahku juga sudah tidak mengeluarkan air sama sekali sejak matahari terbit tadi!" sahut petani lain dengan wajah yang sangat putus asa dan dipenuhi keringat kotor.

​"Bahkan harga air bersih juga dinaikkan tiga kali lipat oleh para pedagang keliling pagi ini!" keluh seorang ibu muda yang sedang menggendong anaknya yang menangis karena kehausan.

​Jacob menghentikan langkahnya sejenak di dekat sebuah kedai kayu, mendengarkan keluhan rakyatnya dengan perasaan amarah yang mulai bergejolak hebat di dalam dadanya.

​{Tanah tandus dan krisis air? Bukankah menteri pertanian melaporkan minggu lalu bahwa irigasi desa perbatasan ini berfungsi dengan sangat baik?}

​"Berikan aku dua kendi air minum itu," ucap Jacob sambil menyodorkan beberapa keping tembaga kepada seorang pedagang tua di sudut jalanan berdebu.

​"Terima kasih banyak, Tuan. Anda sangat dermawan hari ini di tengah kesulitan luar biasa yang menimpa kami," jawab pedagang itu dengan senyum yang sangat dipaksakan akibat beban hidup.

​"Mengapa desa pertanian sebesar ini bisa mengalami kekeringan mendadak seperti ini?" pancing Jacob untuk mendapatkan informasi yang lebih akurat dari warga setempat.

​"Aliran sungai dari pegunungan tiba-tiba terhenti secara misterius, Tuan! Kami rakyat kecil hanya bisa kebingungan tanpa tahu harus mengadu kepada siapa," bisik pedagang tua itu dengan ekspresi yang sangat ketakutan seolah ada yang mengawasinya.

​"Siapa pejabat yang bertanggung jawab atas pengairan desa ini sekarang?" selidik Jacob dengan tatapan mata biru yang semakin menajam tajam.

​"Tuan tanah baru yang konon menyewa banyak prajurit bayaran, Tuan. Dia membawa puluhan pengawal bersenjata yang tidak segan memukul warga jika kami banyak bertanya," jelas pedagang tua itu sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam karena takut.

​{Ada lintah darat yang bermain kotor di belakangku. Berani sekali mereka menyengsarakan rakyat tepat di bawah kekuasaan mutlakku.}

​"Ini kejahatan yang tidak bisa dibiarkan begitu saja. Kepalanya harus segera dipisahkan dari lehernya," gumam Jacob dengan kepalan tangan yang sangat kuat hingga buku jarinya memutih.

​"Jangan bicara sembarangan, Tuan! Jika ada mata-mata tuan tanah yang mendengarnya, kepala Anda bisa dipenggal di tempat ini juga tanpa proses pengadilan!" peringat pedagang tua itu dengan wajah pucat panik.

​||||||||||||||

​Tiba-tiba, seorang pria tua berlari tergesa-gesa dari arah perempatan jalan tanah utama desa, menabrak beberapa keranjang kayu hingga isinya berserakan ke mana-mana.

​"Tolong! Siapa pun tolong kami segera!" teriak pria tua itu dengan napas yang tersengal-sengal dan wajah yang sangat pucat pasi menahan sakit.

​Pria tua itu tersandung tepat di depan kaki Jacob, tangannya yang gemetar parah mencengkeram ujung jubah cokelat sang raja dengan sangat kuat hingga urat-uratnya menonjol keluar.

​"Ada apa denganmu, Pak Tua? Bicaralah dengan jelas sekarang juga kepadaku," desak Jacob sambil menarik lengan pria itu agar berdiri tegak menghadapnya.

​"Air... kami benar-benar tidak bisa mendapatkan air setetes pun di daerah ladang timur!" teriak pria tua itu dengan air mata keputusasaan yang mengalir deras membasahi pipinya yang keriput.

​"Tenanglah dan tarik napasmu perlahan terlebih dahulu. Jelaskan padaku kenapa daerah kalian sangat sulit mendapatkan air secara tiba-tiba," pinta Jacob dengan nada suara yang berat dan penuh tuntutan.

​"Sungai utama kami mengering total sejak dua hari yang lalu! Sumur-sumur kami berubah menjadi tumpukan lumpur padat tanpa sisa air bersih sama sekali!" rintih pria tua itu dengan tubuh yang bergetar hebat menahan tangis dan dahaga.

​{Sungai utama bervolume besar tidak mungkin mengering dalam dua hari secara alami seperti itu. Pasti ada pihak lalim yang sengaja memutus aliran kehidupan desa ini demi kepentingan busuk mereka.}

​"Di mana letak hulu sungai daerahmu? Tunjukkan jalan ke sana padaku sekarang juga," perintah Jacob sambil menggenggam erat bahu pria tua tersebut untuk menyalurkan sedikit ketenangan.

​"Hulu sungai desa kami berada tepat di bawah bendungan timur pegunungan sana, Tuan! Bendungan raksasa itu seharusnya mengalirkan air ke sungai kami setiap hari tanpa henti!" jawab pria tua itu sambil menunjuk ke arah perbukitan berbatu di kejauhan dengan jari yang gemetar.

​"Jika struktur bendungan itu masih berdiri kokoh, maka air kalian seharusnya tidak pernah berhenti mengalir sedikit pun ke permukiman ini," ucap Jacob dengan tatapan mata yang menyiratkan amarah yang siap meledak kapan saja.

​"Para prajurit bayaran mengusir kami dengan ujung tombak saat kami mencoba mencari tahu penyebabnya ke sana! Mereka bilang air itu dialihkan paksa untuk keperluan proyek khusus tuan tanah baru!" jerit pria tua itu dengan penuh rasa tidak berdaya dan sakit hati.

​"Siapa yang berani mengalihkan sumber hajat hidup rakyat tanpa perintah resmi dari istana Helios?" geram Jacob dengan gigi yang bergemeretak menahan emosi yang meluap.

​"Kami tidak tahu nama pastinya, Tuan! Mereka mengenakan zirah hitam tanpa lambang dan tidak membawa panji kerajaan Helios yang resmi!" jawab pria tersebut dengan suara yang semakin melemah akibat kelelahan luar biasa yang menderanya.

​"Kalian sudah kehabisan air selama dua hari penuh dan tidak ada satu pun pejabat desa yang melaporkan krisis ini ke perwakilan ibu kota?" tanya Jacob dengan nada bicara yang semakin dingin membeku.

​"Kepala desa kami ditahan dan disiksa oleh para prajurit itu saat mencoba memprotes pengalihan air tersebut, Tuan! Tidak ada lagi warga yang berani melawan mereka setelah kejadian mengerikan itu," jelas sang pria tua sambil memegangi dadanya yang mulai sesak karena kehabisan napas.

​"Tetaplah di sini dan cari tempat berteduh di kedai itu. Aku sendiri yang akan pergi ke bendungan itu dan menyeret siapa pun yang bermain-main dengan nyawa rakyatku menuju tiang eksekusi," janji Jacob dengan suara yang menggelegar dipenuhi aura membunuh yang sangat pekat.

1
Dania
semangat tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!