NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 14

Angin sore berembus cukup kencang di atas rooftop butik Tante Silvi, membawa aroma kain baru dan wangi teh melati yang tersaji di meja kecil. Setelah sesi fiting baju pengantin yang menguras emosi, Syifa sengaja menyusul Fadhlan yang sedang berdiri menatap jalanan kota dari ketinggian.

Syifa meremas ujung khimarnya. Langkah kakinya terasa berat, namun ada satu ganjalan di dadanya yang harus segera dia tumpahkan sebelum segalanya terlambat. Jantungnya berdegup kencang, menyuarakan rasa gugup yang teramat sangat karena sore ini mereka hanya berdua.

​"Maaf Pak ... ada yang mau saya bicarakan." Ucap Syifa, suaranya hampir tenggelam oleh deru angin.

​Menoleh perlahan, lalu mengambil posisi duduk santai di kursi rotan sambil menikmati pemandangan "Ya, bicaralah."

​Melangkah lebih dekat, namun tetap menjaga jarak aman "Boleh tidak... kalau saya mengajukan satu permintaan?"

​Menatap Syifa lekat-lekat, melipat tangannya di dada "Tentang?"

​"Ehm... pernikahan kita. Saya ingin... pernikahan ini dirahasiakan dari teman-teman di kampus, Pak."

Deg! Gerakan tangan Fadhlan terhenti. Sorot matanya yang semula tenang mendadak berubah redup, menyiratkan rasa kecewa yang mendalam. Ada denyut perih yang asing saat mendengar kalimat itu keluar dari bibir calon istrinya.

Fadhlan menarik napas panjang, berusaha sekuat tenaga mempertahankan topeng datarnya demi mendengarkan alasan gadis di hadapannya.

​"Kenapa? Apa kamu malu menikah dengan dosenmu sendiri?" Tanya Fadhlan, nadanya sedikit lebih rendah, menyembunyikan luka di egonya.

​"Bukan malu, Pak! Tapi... s-saya takut." Syifa menunduk, meremas jemarinya lebih erat. "Saya takut jadi bahan gosip teman-teman kampus. Apalagi... Pak Fadhlan itu banyak dikagumi mayoritas mahasiswi. Saya tidak siap menghadapi tekanan atau pandangan mereka jika tahu mahasiswi biasa seperti saya tiba-tiba menikah dengan Anda."

Fadhlan diam. Dia mengalihkan pandangannya kembali ke arah jalanan raya. Keheningan pria itu terasa mencekam bagi Syifa.

​'Apa dia marah? Atau dia tersinggung dengan permintaanku?' tanya Syifa cemas pada dirinya sendiri, merutuki keberaniannya yang mungkin salah tempat.

......................

​Setelah beberapa saat yang terasa seperti berjam-jam bagi Syifa, Fadhlan akhirnya berdehem kecil.

​"Ekhem. Kalau untuk di lingkungan dalam kampus, saya bisa memaklumi demi kenyamanan belajar kamu. Tapi... di luar kampus, saya akan tetap mengumumkan kabar pernikahan kita."

"Tapi Pak, kalau kabar pernikahan ini tidak sengaja menyebar di kampus dari orang luar, bukannya sama saja? Lambat laun mereka pasti akan tahu."

​Menyipitkan mata, menatap Syifa dengan tatapan menyelidik yang tajam "Kamu ini sebenarnya takut jadi bahan gosip... atau kamu takut kekasihmu tahu kalau kamu akan menikah, hm?" Sindir Fadhlan telak.

​Syifa sontak mendongak, matanya membulat "Ck! Saya tidak punya kekasih!" Dengusnya sebal, refleks menghentakkan kakinya ke lantai pualam rooftop karena merasa dituduh sembarangan.

​"Jadi maksudmu, pernikahan ini lebih baik dirahasiakan dari semua orang? Saya tidak setuju, Asyifa Humaira!" Fadhlan berdiri, menatap Syifa dengan wibawa penuh yang mengintimidasi.

Syifa hanya bisa menghela napas pasrah. Dia merasa Fadhlan sama sekali tidak mau memahami posisi dirinya yang rentan menjadi sasaran kecemburuan sosial di kampus. Namun, sebelum Syifa sempat membela diri lagi, suara berat Fadhlan kembali terdengar, kali ini dengan nada yang begitu runtut dan penuh penekanan syariat.

​"Terdapat satu hadits dari Ahmad bin Abdullah bin Zubair radhiyallahu 'anhu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, 'Umumkanlah pernikahan…' Menurut jumhur ulama, perintah dalam hadits ini dipahami sebagai hal yang wajib. Apabila kita kaji lebih mendalam, mengumumkan pernikahan masuk dalam syarat sahnya suatu hubungan."

​"Karena Rasulullah juga bersabda, 'Tidaklah sah pernikahan tanpa izin wali (perempuan), dan kehadiran dua saksi yang adil.' Hadirnya dua saksi itu, di antara tujuan pokoknya adalah supaya kabar pernikahan tersebar. Tidak boleh bagi pengantin, walinya, atau siapa pun, melarang para saksi mengabarkan pernikahan tersebut. Syekh Muhammad bin Mukhtar As-Syinqiti menegaskan para saksi tidak boleh menyembunyikan kabar pernikahan."

Syifa tertegun. Dia tidak menyangka permintaannya akan dibedah secara syariat sedalam ini oleh pria di depannya. Fadhlan melangkah satu tindakan lebih dekat, membuat aura kepemimpinannya semakin terasa.

​"Sayyidina Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu, jika dilaporkan ada pernikahan yang dilakukan secara tersembunyi, beliau bahkan akan menjatuhkan hukuman cambuk untuk wali dan para saksinya. Karena tindakan seperti itu menyalahi syariat Allah yang memerintahkan untuk mengumumkan pernikahan. Jadi kesimpulannya, mengumumkan pernikahan itu hukumnya wajib. Semakin menyebarkan kabar pernikahan lebih luas, hukumnya sunnah."

​Fadhlan menatap lekat manik mata Syifa yang mulai bergetar "Sekarang, saya yang bertanya padamu. Tujuan dari perintah itu semua untuk apa?"

​Syifa tercekat, lidahnya mendadak kelu ditanya secara tiba-tiba "Hmm...menjaga kesucian nasab, membedakan antara pernikahan dengan perzinahan... dan menjaga hak-hak pengantin, Pak."

​Fadhlan nengangguk pelan "Benar. Selain itu, supaya tidak muncul prasangka buruk di tengah masyarakat disebabkan seseorang sudah serumah dengan pasangannya, tetapi mereka tidak tahu bahwa keduanya sudah sah. Syekh Abdul Aziz bin Baz menerangkan, mengumumkan nikah itu wajib agar masyarakat tahu bahwa si fulan sudah menikah dengan si fulan. Karena menyembunyikan pernikahan, menjadikannya rawan fitnah seperti zina."

​"Imam Az-Zuhri juga berpendapat bahwa mengumumkan pernikahan adalah suatu yang fardhu. Meskipun sebuah pernikahan sudah terpenuhi syarat dan rukunnya, tetapi kalau sengaja dirahasiakan dari khalayak ramai, pernikahan itu harus dipisahkan. Begitu tegasnya agama mengatur ini, Asyifa."

......................

​Setiap untaian kalimat yang keluar dari lisan Fadhlan rasanya menohok langsung ke lubuk hati Syifa. Kalimatnya tidak diucapkan dengan bentakan, melainkan dengan ketegasan seorang pria yang tahu betul ke mana dia akan membawa arah rumah tangganya kelak.

Syifa menundukkan kepalanya dalam-dalam. Rasa malu, haru, dan takjub bercampur menjadi satu. Air matanya hampir saja menetes karena merasa sangat kecil di hadapan ilmu agama pria ini.

​'Ya Rabb... ampuni hamba yang fakir ilmu ini. Ternyata dia memanglah pria yang paham agama. Jikalau memang dia jodoh yang Engkau titipkan pada hamba... hamba ikhlas menerima perjodohan ini. Hamba rida menerimanya sebagai calon imam dalam rumah tangga kami nantikan,' batin Syifa berbisik dengan ketulusan yang murni, ego dan ketakutannya perlahan luruh.

​Suaranya melembut saat melihat Syifa terus saja menunduk khusyuk "Kamu tidak usah khawatir berlebihan. Setelah akad terucap, kamu sudah sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya. Saya tidak akan membiarkan orang lain menyakiti atau menyudutkan kamu, termasuk di kampus."

​Syifa mendongak sedikit, mencoba mengulas senyum tulus meski pandangannya masih menatap lurus ke depan menahan haru "Hmm, terima kasih. Terima kasih banyak sudah menyadarkan saya yang masih minim ilmu ini, Pak"

​Fadhlan menatap sudut bibir Syifa yang tersenyum, ada rasa lega di hatinya "Lantas, apa pernikahan kita masih perlu dirahasiakan?"

​Syifa kembali ke mode defensifnya yang menggemaskan, mencoba menutupi rasa salah tingkahnya"Y-ya sudah... Bapak bilang tadi, kalau untuk di kampus bisa memaklumi, tapi di luar kampus akan tetap mengumumkan. Begitu bukan?"

​Fadhlan mengangkat bahunya acuh tak acuh, lalu berbalik arah "Kita lihat saja nanti."

​Syifa menatap punggung Fadhlan yang berlalu begitu saja menuju pintu keluar rooftop "Huft... sikap dinginnya kumat lagi. Benar-benar seperti kulkas dua puluh pintu!" Gumam Syifa sedikit kesal, namun ada senyuman kecil yang diam-diam merekah di bibirnya.

...****************...

1
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!