"Dedikasi Aruna Pradipta adalah mahasiswa Teknik yang jago musik dengan otak serupa prosesor komputer. Baginya, cinta adalah variabel yang tidak logis. Namun, dunianya yang presisi hancur berantakan saat bertemu Reyna Salsabila, mahasiswa Akutansi yang kebanyakan tugasnya sebagai auditor keuangan bar-bar yang hobi makan seblak dan punya suara frekuensi tinggi.
Dari lab riset di Desa Pinus hingga drama sosialita di Singapura, mereka terjebak dalam audit perasaan yang penuh sabotase saus sambal dan teror terasi. Apakah logika Dedik sanggup menghitung besarnya cinta untuk partner sialannya? Atau justru Reyna yang akan meng-audit hati sang Robot Aquarius?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dedik Januari Purnomo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34: Bahasa Inggris "SAKIT GIGI"
Gue pikir tantangan terbesar di Singapura adalah sistem MRT yang jalannya kayak dikejar setan. Ternyata gue salah besar. Tantangan sesungguhnya adalah... Bahasa Inggris.
Gue emang dapet nilai B pas mata kuliah Bahasa Inggris Bisnis di kampus, tapi masalahnya, bahasa Inggris yang gue pelajarin itu isinya cuma "The debit and credit must be balanced" atau "The financial report is ready".
Sementara di kantor riset ini, orang-orang ngomong pake logat Singlish yang ujungnya selalu ada "Lah", "Meh", atau "Can" yang dipake buat segala situasi.
Pagi ini, Mr. Tan, si bos yang kemarin gue panggil "Uncle" ngundang kita buat rapat anggaran riset.
Di ruangan itu ada Clarissa yang udah duduk manis dengan gaya *lady*boss-nya, dan beberapa peneliti bule yang mukanya serius banget kayak lagi mikirin cara pindah ke Mars.
"Rey," bisik Dedik pas kita masuk ke ruang rapat yang dinginnya udah kayak di dalem kulkas daging.
"Inget, kalau lo nggak tau mau ngomong apa, diem aja. Biar gua yang urus logikanya. Lo cukup manggut-manggut kayak maneki-neko di kasir toko."
"Tenang, Ded. Gue udah belajar semalem pake aplikasi. Trust me, I am professional," jawab gue pede, meski lutut gue sebenernya gemeteran.
Rapat dimulai. Mr. Tan mulai ngebahas soal alokasi dana buat pengadaan bambu kuning tambahan dari Indonesia.
"The logistics cost for importing the yellow bamboo from Desa Pinus is quite high. We need to justify the numbers," kata Mr. Tan sambil ngelihat ke arah gue, karena secara teknis gue adalah "Asisten Audit" Dedik.
Gue langsung tegak. Ini saatnya gue beraksi. Gue buka buku catatan akuntansi gue yang covernya gambar kucing lucu.
"Yes, Uncle... eh, Sir," gue mulai. "Actually, the price of bamboo is cheap-cheap only in the village. But, the shipping is very... how to say... expensive-expensive! Because the bamboo is very long-long, so the truck must be big-big!"
Hening.
Satu ruangan diem. Si peneliti bule di pojokan sampe ngerutin dahi, mungkin dia lagi nyari arti kata "long-long" di kamus otaknya.
Clarissa langsung nutup mukanya pake tangan, sementara Dedik narik napas panjang sampe bunyi ngiiik di paru-parunya.
"What she means," Dedik langsung masuk mode penyelamat, "is that the volumetric weight of the bamboo increases the shipping cost exponentially."
"Due to its length, we require specialized logistics handling to maintain the fiber integrity of the 'Bambusa Vulgaris' to ensure the acoustic resonance remains stable."
Mr. Tan mangut-manggut. "Ah, I see. Volumetric weight. Logical."
Gue nyengir ke arah Dedik. See? Gue kasih umpan, dia yang cetak gol. Kerjasama tim yang bagus kan?
Tapi Clarissa nggak mau tinggal diem. "But Sir, I think the assistant's calculation is a bit... messy. Look at her notes. Is that a drawing of a meatball?"
Gua melotot. Sialan, dia liat gambar bakso yang gue gambar pas bosen tadi malem!
"It's not meatball, Clarissa!" seru gue spontan. "It's... it's a bubble chart! For the risk management! The bigger the meatball... eh, the bubble, the bigger the risk!"
"A meatball bubble chart?" Mr. Tan kelihatan tertarik. "Interesting concept. Very creative approach to financial risk."
Dedik langsung nendang kaki gue di bawah meja.
"Yes, Sir. It's a localized visualization of budget leakage. We call it the 'Bakso Theory'. When the soup, the budget is too thin, the meatball, the primary asset doesn't taste good. We need a balance."
Gua hampir pengen tepuk tangan buat Dedik. Dia bisa-bisanya nge-convert gambar bakso jadi teori manajemen risiko yang masuk akal!
***
Selesai rapat, kita keluar menuju pantry buat ambil kopi. Clarissa langsung nyegat kita di lorong.
"Reyna, stop it," kata Clarissa ketus. "You're making Dedik look like a joke. 'Long-long'? 'Big-big'? You are in Singapore, not in a traditional market."
"Kalau kamu nggak bisa bahasa Inggris yang bener, mending kamu balik ke Indo deh. Malu-maluin!"
Gue udah mau meledak, tapi gue inget pesan Dedik, gunakan logika, jangan emosi.
"Eh, Sis Clarissa," kata gue pake bahasa Indonesia biar dia makin panas. "Bahasa Inggris gue emang 'sakit gigi', tapi buktinya Uncle Tan paham tuh."
"Daripada lo, bahasa Inggris lo lancar tapi idenya... kering kerontang kayak dompet mahasiswa akhir bulan. Mending 'long-long' tapi bambunya nyampe, daripada lo 'bla bla bla' tapi cuma mau deketin cowok orang."
"You...!" Clarissa udah mau teriak, tapi Mr. Tan lewat di belakang kita.
"Clarissa, please send me the meatball bubble chart report by this afternoon. I want to show it to the investors. It's very fresh!" kata Mr. Tan sambil jalan santai.
Gua melet ke arah Clarissa. Dia langsung jalan hentak-hentak kaki masuk ke ruangannya.
"Rey," panggil Dedik pas kita udah berdua di pantry.
"Apa?"
"Lo beneran mau bikin laporan 'Bakso Theory' itu?"
"Ya iyalah! Gue kan mahasiswi Akuntansi! Ngitung kerugian mah kecil bagi gue," jawab gue bangga.
"Oke, tapi logikanya, lo harus pake istilah yang bener. Jangan tulis 'The meatball is disappearing'. Tulis 'The asset is depreciating'. Paham?"
"Siap, Bos Robot!"
***
Sore harinya, tantangan bahasa Inggris gue makin menjadi-jadi. Kita kedatengan tamu dari Jerman, namanya Dr. Hans.
Dia ini ahli fisika yang badannya gede banget kayak pohon beringin. Dia mau nanya-nanya soal gimana perasaan gue pas nyanyi bisa ngebuka resonansi bambu.
"So, Miss Reyna, what is the emotional trigger that you use to synchronize with the frequency?" tanya Dr. Hans dengan suara bass-nya yang menggelegar.
Gua nengok ke Dedik. Dedik lagi sibuk benerin kabel di ujung lab. Sial, gue harus jawab sendiri!
"Trigger? Oh... it is about heart, Mister," gue mulai sambil megang dada. "When I sing, I feel like... like my heart is jumping-jumping! Because I think about my boyfriend, the robot over there."
"When I am angry to him, the sound is 'grrrr'. When I am happy, the sound is 'la la la'. It is a mix of... of... soto and chocolate!"
Dr. Hans ngerutin dahi. "Soto and chocolate? An acidic-savory tension with a sweet finish? Remarkable! A complex emotional spectrum!"
Gua makin semangat. "Yes! If I am sad, I feel like... broken heart, Sir. The money is not matching! Debt is everywhere! That's why the bamboo is shaking-shaking!"
Dr. Hans langsung nyatet di buku kecilnya. "Financial anxiety as a catalyst for high-frequency resonance. I never thought of that. Dedik! Your assistant is a philosopher!"
Dedik nyamperin kita sambil bawa tang. Dia ngelihat gue dengan tatapan 'Lo-Ngomong-Apa-Sih-Tadi'.
"Dr. Hans, what she means is the cognitive dissonance caused by financial stressors creates a unique vocal timbre that interacts with the cellulose structure of the bamboo," jelas Dedik dengan muka datar.
"No, no, Dedik! I like her explanation better!" Dr. Hans ketawa kenceng banget. "Soto and Chocolate! The perfect metaphor for chaotic harmony!"
Setelah Dr. Hans pergi, Dedik langsung nyandarin badannya ke meja riset. Dia ngehela napas panjang banget sampe kacamatanya berembun.
"Rey... lo tau nggak, gara-gara lo, riset kita sekarang dianggap sebagai riset tentang kecemasan finansial dan makanan tradisional Indonesia?"
"Loh, kan bagus! Berarti unik!" jawab gue santai sambil makan kerupuk yang gue bawa di saku blazer.
"Daripada riset lo isinya cuma angka semua. Orang bosen, Ded. Tapi kalau ada baksonya, ada sotonya, orang jadi laper... eh, maksud gue, jadi tertarik!"
"Logikanya, lo itu bikin gua kerja dua kali buat ngejelasin ke mereka," kata Dedik, tapi dia ngambil kerupuk yang gue tawarin.
"Tapi ya sudahlah. Selama mereka kasih dana tambahan gara-gara 'Bakso Theory' lo, gua nggak bakal protes."
"Nah, gitu dong! Makanya, jangan pusing sama bahasa Inggris gue. Yang penting... The goal is reach-reach only!"
Dedik hampir keselek kerupuk. "'The goal is reach-reach only?' Maksud lo 'The goal is reached?'"
"Iya, itu maksud gue! Ribet amat sih lo jadi cowok!"
Kita akhirnya ketawa bareng di tengah lab yang dingin itu. Di sudut lab, gue liat Clarissa lagi ngintip lewat kaca pintu dengan muka yang makin asem.
Kayaknya dia sadar kalau strategi "Bahasa Inggris Sempurna"-nya nggak mempan lawan "Bahasa Kalbu Soto Cokelat" gue.
Malamnya, pas kita pulang naik bus (kali ini gue nggak nyasar karena gue megangin tas Dedik kenceng banget), Dedik tiba-tiba ngeluarin buku catatan kecil.
"Nih," dia nyodorin buku itu.
"Apaan?"
"Kamus istilah Inggris-Robot buat lo. Gua udah tulis istilah-istilah akuntansi yang sering lo pake, tapi versi Inggrisnya. Biar besok lo nggak ngomong 'The money is not matching' lagi ke investor.'"
Gua buka bukunya. Di halaman pertama tulisannya, "The balance is incorrect" = Duitnya nggak cocok. "Asset appreciation" = Barangnya makin mahal. "Emotional Jitter" = Perasaan gue lagi nggak karuan gara-gara lo, Dedik.
Gua ketawa pas baca baris terakhir. "Yang terakhir ini istilah resmi atau buatan lo sendiri?"
Dedik nggak jawab. Dia malah buang muka ke jendela bus, tapi gua bisa liat telinganya memerah. "Secara statistik, istilah itu perlu dimasukin buat variabel khusus."
Gua nyenderin kepala di bahunya. "Makasih ya, Ded. Biarpun bahasa Inggris gue sakit gigi, tapi lo selalu jadi dokter giginya."
"Logikanya, dokter gigi itu nyabut gigi yang sakit, Rey. Kalau gua, gua cuma nambal supaya lo nggak makin berisik."
Gua nyubit pinggangnya, dan kita pulang ke apartemen kotak korek api kita dengan perasaan seneng.
Singapura emang keras, bahasanya emang ribet, tapi selama ada Dedik yang mau bikinin kamus khusus buat gue, gue rasa gue siap buat naklukin dunia...
Atau minimal, siap buat pesen nasi lemak tanpa harus nunjuk-nunjuk menu kayak anak kecil lagi.