"Buang mayatnya! Jangan sampai bau busuk anak angkat ini merusak pesta putri kandungku."
Sepuluh tahun menjadi "boneka" sempurna keluarga Lynn, Nerina Aralynn justru mati dikhianati di gudang lembap demi memberi tempat bagi si putri asli, Elysia. Namun, maut memberinya kesempatan kedua. Nerina terbangun di masa lalu, kali ini dengan duri mawar hitam yang mematikan.
Satu per satu kekayaan keluarga Lynn ia preteli. Namun di balik balas dendamnya, Nerina menemukan satu rahasia: Satu-satunya pria yang menangisi kematiannya adalah Ergino Aldrich Leif—kepala pelayan misterius yang aslinya adalah penguasa dunia bawah.
"Aku adalah pedangmu, Nerina. Katakan, siapa yang ingin kau hancurkan lebih dulu?"
Saat sang putri terbuang mulai berkuasa, mampukah ia menuntaskan dendamnya, atau justru terjerat obsesi gelap sang pelayan yang melindunginya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10: CURIGA DI BALIK SERAGAM HITAM
Pagi di kediaman Lynn biasanya dipenuhi dengan aroma kopi mahal dan keheningan yang kaku. Namun hari ini, atmosfer di ruang makan terasa seberat mendung yang siap menumpahkan badai. Di atas meja, koran-koran pagi menampilkan tajuk utama yang memalukan: “Skandal Pesta Penyambutan: Putri Kandung dan Calon Menantu Lynn Berkhianat?”
Nerina duduk dengan anggun, menyesap teh kamomilnya seolah-olah dunia di luar sana sedang tidak terbakar. Di sudut ruangan, Ergino berdiri tegak dengan posisi istirahat sempurna. Wajahnya sedatar air di dalam sumur, tak terbaca.
"Kak Nerina..."
Suara parau itu memecah kesunyian. Elysia melangkah masuk dengan gaun tidur sutra berwarna merah muda pucat. Matanya bengkak, wajahnya sembab, dan ia tampak sangat rapuh—akting yang biasa ia gunakan untuk meluluhkan hati semua orang.
Nerina meletakkan cangkirnya dengan dentingan halus. "Sudah bangun, Elysia? Kupikir kamu butuh waktu lebih lama untuk memikirkan skenario baru."
"Kak, tolong dengarkan aku..." Elysia jatuh berlutut di samping kursi Nerina, persis seperti yang sering ia lakukan di kehidupan sebelumnya untuk memancing iba. "Kejadian semalam... aku benar-benar tidak tahu kalau Andrew punya niat sebusuk itu. Dia menghasutku, Kak! Dia bilang Kakak ingin menyingkirkanku karena aku hanya anak haram yang baru kembali. Aku takut... aku hanya ingin diakui oleh Ayah dan Ibu."
Anora Lynn yang duduk di ujung meja tampak tersentuh, namun Elyas Lynn tetap diam dengan wajah mengeras.
"Oh? Jadi Andrew yang salah?" Nerina memiringkan kepalanya, menatap Elysia dengan senyum sinis. "Lalu bagaimana dengan bagian di mana kamu menyebut Ayah dan Ibu 'bodoh'? Apakah Andrew juga yang menaruh kata-kata itu di mulutmu?"
Elysia tersedak tangisnya sendiri. "Itu... itu karena aku sangat marah! Andrew bilang Ayah sengaja menjauhkanku agar aku tidak bisa mengambil warisan. Aku merasa tidak dicintai, Kak! Aku hanya anak yang tersesat..."
"Cukup, Elysia," potong Elyas Lynn dengan suara berat. Ia tidak menatap putrinya, melainkan menatap lurus ke arah Ergino yang berdiri di belakang Nerina. "Gino."
Ergino membungkuk sedikit. "Ya, Tuan Lynn?"
"Sejak kapan kamu menjadi begitu pintar dengan teknologi audio dan sistem keamanan?" tanya Elyas. Matanya menyipit, penuh selidik. "Kamu hanyalah kepala pelayan. Tugasmu mengatur jadwal makan dan kebersihan rumah, bukan melakukan spionase di dalam ballroom."
Nerina merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, namun ia tetap mempertahankan wajah datarnya.
Ergino tidak sedikit pun tampak goyah. "Saya hanya menjalankan instruksi Nona Nerina untuk memastikan keamanan tamu VIP, Tuan. Sebagai kepala pelayan, menjaga privasi dan keamanan majikan adalah prioritas saya. Jika sistem yang saya pasang menangkap sesuatu yang... tidak menyenangkan, itu murni karena kebetulan yang buruk."
"Kebetulan yang buruk?" Nero menyela, ia menatap Ergino dengan rasa benci yang kentara. "Ayah, lihat pria ini. Dia tidak terlihat seperti pelayan. Cara dia bicara, cara dia menatap... dia terlalu lancang. Dan dia selalu mengekor di belakang Nerina seperti anjing penjaga."
Elyas mengangguk setuju, ia memutar gelas kristalnya. "Nerina, sejak kapan kamu begitu dekat dengan pelayan ini? Kamu bahkan memberinya akses ke sistem keuangan untuk audit sementara. Apa yang sedang kalian rencanakan di belakangku?"
"Ayah mencurigaiku?" Nerina tertawa hambar. "Setelah apa yang Andrew dan Elysia lakukan, Ayah justru mencurigai anak yang selama sepuluh tahun ini menjaga nama baik keluarga? Gino hanya melakukan apa yang tidak bisa dilakukan oleh asisten-asisten Ayah yang lamban."
"Atau mungkin," Elysia tiba-tiba menimpali, suaranya kini terdengar licik di balik sisa tangisnya, "Gino punya hubungan khusus dengan Kak Nerina? Aku sering melihat mereka berbisik-bisik di perpustakaan saat malam hari. Ayah, mungkin itulah sebabnya Gino begitu berani menentang perintahmu semalam."
Suasana mendadak membeku. Tuduhan itu adalah penghinaan besar bagi wanita bangsawan seperti Nerina—menjalin hubungan dengan seorang pelayan.
Elyas Lynn berdiri, ia melangkah mendekati Ergino. Ia jauh lebih pendek dari Ergino, namun ia mencoba mengintimidasi dengan statusnya. "Gino, benarkah kamu punya perasaan khusus pada majikanmu? Atau kamu hanya memanfaatkan kekecewaan Nerina untuk merampok keluarga ini?"
Ergino menatap lurus ke depan, melewati bahu Elyas. Wajahnya tetap profesional, namun bagi Nerina yang mengenalnya, ada kilatan bahaya di matanya yang dalam.
"Tuan Lynn," suara Ergino rendah dan stabil. "Tugas saya adalah melayani. Kesetiaan saya adalah profesionalisme yang saya jual kepada siapa pun yang memegang kontrak saya. Jika Nona Nerina adalah orang yang memberikan perintah paling masuk akal di rumah ini, maka dia adalah orang yang akan saya ikuti."
"Jawaban yang sangat diplomatik untuk seorang pelayan," gerutu Nero.
"Nerina," Elyas beralih pada anak angkatnya. "Mulai hari ini, aku akan mencabut izin Gino sebagai asisten pribadimu. Dia akan kembali ke tugas dasarnya di rumah tangga atau dia bisa pergi dari sini. Aku tidak suka ada pria asing yang terlalu dekat dengan putriku, apalagi yang punya agenda tersembunyi."
Nerina mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia ingin berteriak bahwa Ergino adalah satu-satunya orang yang tidak akan mengkhianatinya, tapi ia tahu ia harus bermain cantik.
"Tentu, Ayah," sahut Nerina dingin. "Jika Ayah merasa terancam oleh seorang pelayan, silakan saja. Tapi ingat satu hal, siapa yang akan mengurus kekacauan audit yang ditinggalkan Andrew? Jika Ayah membuang satu-satunya orang yang tahu celah keuangan itu, jangan salahkan aku jika besok pajak atau polisi datang mengetuk pintu."
Elyas terdiam. Ia baru sadar bahwa ia telah terjebak. Ia butuh kemampuan Ergino—atau setidaknya data yang dipegang pria itu—untuk membersihkan nama baik perusahaan setelah skandal semalam.
"Satu minggu," ujar Elyas akhirnya. "Setelah audit selesai, Gino harus pergi. Dan kamu, Elysia... kamu dikurung di rumah sampai aku memutuskan apa yang harus kulakukan padamu."
Elysia merengek, mencoba meraih tangan ayahnya, namun Elyas menepisnya dengan kasar.
Malam harinya, Nerina berdiri di balkon kamarnya, menatap ke arah taman yang gelap. Ia mendengar langkah kaki halus di belakangnya. Tanpa menoleh, ia tahu itu adalah pria yang sedang menjadi pusat kecurigaan ayahnya.
"Gino, kamu dengar apa yang mereka katakan tadi pagi?" tanya Nerina lirih.
"Saya mendengar setiap kata, Nona," jawab Ergino. Ia berdiri di belakang Nerina, menjaga jarak yang sangat sopan namun kehadirannya terasa sangat dominan.
"Mereka mencurigaimu. Mereka pikir kita punya hubungan... lebih dari sekadar majikan dan pelayan." Nerina menoleh, menatap mata hitam pria itu. "Kenapa kamu tidak membela dirimu lebih keras? Kamu bukan pelayan biasa, aku tahu itu sekarang."
Ergino menunduk sedikit, menatap jemari Nerina yang memegang pagar balkon. "Membela diri hanya akan memicu kecurigaan lebih lanjut, Nona. Biarkan mereka percaya pada apa yang ingin mereka percaya. Selama saya masih bisa berdiri di bayang-bayang Anda, identitas saya yang sebenarnya tidaklah penting."
"Siapa kamu sebenarnya, Ergino?" bisik Nerina. "Di kehidupan... di ingatanku, kamu adalah pria yang menangis untukku. Tapi sekarang, kamu begitu dingin."
Ergino tertegun sejenak. Ia tidak tahu apa yang dimaksud Nerina dengan 'ingatan', tapi ia merasakan getaran emosi yang kuat dari wanita itu.
"Identitas saya adalah apa pun yang Anda butuhkan saat ini," jawab Ergino perlahan. "Jika Anda butuh pelayan, saya adalah Gino. Jika Anda butuh pedang, saya adalah algojo. Dan jika Anda butuh perlindungan..." ia berhenti sebentar, menatap Nerina dengan tatapan yang nyaris posesif, "...saya adalah benteng yang tidak akan pernah runtuh."
"Ayah ingin membuangmu dalam seminggu," ujar Nerina.
"Tuan Lynn bisa mencoba," Ergino tersenyum tipis, sebuah senyuman yang terlihat sangat berbahaya namun menawan di bawah cahaya bulan. "Tapi dalam seminggu, bukan saya yang akan pergi dari sini. Melainkan orang-orang yang telah berani menyakiti Anda."
Nerina merasa merinding. Ia belum tahu siapa Ergino sebenarnya—bahwa pria di depannya ini adalah penguasa bisnis gelap yang bisa menghancurkan keluarga Lynn hanya dengan satu jentikan jari. Namun untuk saat ini, ia merasa aman.
"Jangan biarkan mereka memisahkan kita, Gino," bisik Nerina.
"Tidak akan pernah, Nerina," sahut Ergino, untuk pertama kalinya menyebut nama Nerina tanpa embel-embel 'Nona' saat tidak ada orang lain di sekitar mereka.
Pesta ulang tahun Elysia memang telah hancur, namun perang yang sesungguhnya baru saja dimulai di balik pintu-pintu tertutup kediaman Lynn.