Nadia Tujuah tahun menikah dengan Raka
mengurus Ibu mertuanya dengan baik
mengurus anak adopsi dengan baik
selalu bersabar karena dia hanyalah anak yatim piatu
Namun tepat di usia pernikahannya yang ke tujuh
Raka malam menikah lagi Dengan Ratna Sepupunya sendiri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bukti
Nadia membuka tablet miliknya, lalu memasukkan flashdisk berkapasitas delapan gigabita itu.
Layar menampilkan beberapa folder.
Sebagian besar hanya berisi foto-foto Ratna.
Nadia hampir menutupnya kembali ketika matanya menangkap sebuah folder bernama "Raka Nanda".
Jantungnya langsung berdegup lebih cepat.
Entah kenapa, perasaannya mendadak tidak nyaman.
Dengan jemari yang mulai dingin, Nadia mengklik folder tersebut.
Isinya berupa foto, video, dan tangkapan layar percakapan.
File paling atas bertanggal 15 Agustus 2017.
Nadia membukanya.
** Ratna**:Mas, aku hamil.
Raka:Tidak mungkin.
Deg.
Dada Nadia seakan dihantam sesuatu.
Napasnya tertahan.
Bukankah ia menikah dengan Raka pada 15 Juni 2017?
Matanya kembali membaca tanggal di layar.
15 Agustus 2017.
Dua bulan setelah pernikahannya.
Perlahan wajah Nadia memucat.
"Jadi... mereka sudah berselingkuh sebelum aku menikah dengan Mas Raka?"
Bibirnya bergetar.
"jadi mereka melakukan hubungan sebelum aku dan raka menikah" Bibir Nadia gemetar
Kenyataan ini lebih pahit dari yang dia perkirakan.
"Kalau Ratna sudah hamil saat itu... lalu anak yang dikandungnya.?.."
Tangannya tanpa sadar menekan dada.
Semakin sesak.
Semakin sulit bernapas.
Dengan gemetar ia membuka gambar berikutnya.
Masih percakapan pada tanggal yang sama.
Raka:Tidak mungkin, Ratna. Aku hanya sekali melakukannya dengan kamu. Kamu menjebakku.
Ratna:Kalau begitu kita lakukan tes DNA.
Nadia memejamkan mata sesaat.
Lalu membuka file berikutnya.
Tanggal 11 November 2017.
Ratna:Ini sudah ada hasil tes DNA. Ini anak kamu.
**Raka:**Baik. Aku akan tanggung jawab, tapi aku enggak bisa menceraikan Nadia.
Ratna:Aku juga enggak akan menghancurkan rumah tangga Kak Nadia.
**Raka:**Kamu harus merahasiakan ini.
Nadia tertawa kecil.
Tawa yang terdengar lebih menyedihkan daripada tangisan.
"Enggak akan menghancurkan rumah tangga?"
Air mata mulai menggenang.
Tangannya semakin gemetar.
Ia beralih ke foto berikutnya.
Lalu tubuhnya membeku.
Foto itu menampilkan Yuni, Raka, dan Ratna.
Ratna sedang menggendong seorang bayi yang masih sangat kecil.
Di sudut foto tertulis tanggal.
15 Maret 2018.
Nadia merasa dunia di sekelilingnya berhenti berputar.
Matanya membesar.
Bibirnya terbuka tanpa suara.
"15 Maret 2018..."
Suaranya nyaris tak terdengar.
"Itu tanggal lahir Nanda..."
Air mata langsung jatuh.
Satu.
Dua.
Lalu semakin banyak.
Namun Nadia masih memaksa dirinya untuk berpikir jernih.
"Belum tentu..."
"Belum tentu itu Nanda..."
Ia membuka file berikutnya.
Mencari alasan.
Mencari harapan.
Mencari apa pun yang bisa menyangkal kenyataan di hadapannya.
Lalu muncul percakapan lain.
Tanggal 20 Mei 2018.
Ratna:Mas, aku capek ngurus anak. Aku juga harus kerja.
Raka:Terus gimana?
Ratna:Suruh Nadia saja yang urus bayi ini.
Nadia membeku.
Matanya tak berkedip.
Ia terus membaca.
**Raka:**Gila kamu. Kita sudah mengkhianatinya. Masa dia disuruh mengasuh anak kita?
Ratna:Terserah. Yang jelas aku harus kerja. Aku enggak mau bayi kita diurus babysitter.
Raka:Ya sama kamu dong asuh
**Ratna***:Enggak bisa....kalau kamu enggak mau aku aka bilang rahasia ini sama Nadia*
Raka:Jangan gila kamu. Baik. Aku akan bawa Nanda sebagai anak adopsi.
Brak.
Tablet itu terlepas dari tangan Nadia dan jatuh ke atas kasur.
Tangis yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.
Tubuhnya gemetar hebat.
Seolah seluruh tenaga dalam tubuhnya lenyap dalam sekejap.
"Kenapa aku bodoh sekali..."
Isaknya pecah.
Ia menutup mulut dengan kedua tangan.
Namun suara tangisnya tetap lolos.
Selama enam tahun.
Enam tahun.
Ia mengira sedang membesarkan anak yang membutuhkan kasih sayang.
Ternyata selama ini ia hanya dijadikan tempat penitipan.
Dijadikan alat.
Dijadikan solusi atas masalah yang mereka ciptakan sendiri.
Membayangkan wajah Raka.
Membayangkan Ratna.
Membayangkan Yuni.
Rahang Nadia mengeras.
Amarah, kecewa, dan sakit hati bercampur menjadi satu.
Dadanya terasa seperti diremas dari segala arah.
Napasnya memburu.
Tangannya beberapa kali menepuk-nepuk dada sendiri.
Berusaha mengurangi sesak yang tak kunjung hilang.
"Ya Allah..."
Suaranya pecah.
"Sakit..."
Air mata terus mengalir.
"Kalian jahat..."
Ia menunduk.
Jilbab bagian depan sudah basah oleh Air mata
Lalu bayangan wajah Nanda muncul di kepalanya.
Wajah kecil yang selalu menyambutnya setiap pagi.
Wajah yang memanggilnya Bunda.
Wajah yang selalu memeluknya sepulang sekolah.
Dan saat itulah hati Nadia benar-benar hancur.
"Ya Allah..."
Tubuhnya merosot ke lantai.
Ia memeluk lututnya sendiri.
Menangis tanpa mampu ditahan lagi.
"Kenapa Engkau hadirkan Nanda dalam hidupku, Ya Allah..."
Tangisnya semakin keras.
"Aku yang mengurus dia sejak bayi..."
"Aku yang begadang saat dia demam..."
"Aku yang menemaninya belajar berjalan..."
"Aku yang menghafal semua makanan yang boleh dan tidak boleh dia makan..."
Nadia menggigit ujung bajunya agar tidak berteriak.
Namun rasa sakit itu tetap meluap.
"Kenapa harus seperti ini, Ya Allah..."
Isaknya pecah.
"Sakit..."
"Sakit sekali..."
Nadia terus menangis dikhianti suami, saudara dan ibu mertua sungguh nadia membenci mereka saat ini namun yang lebih memilukan adalah nanda.
Nadia melangkah masuk ke kamar mandi.
Ia memutar keran shower hingga air mengalir deras, lalu berdiri diam di bawah guyuran air itu.
Air membasahi rambut, wajah, hingga seluruh tubuhnya.
Namun sesak di dadanya tidak juga berkurang.
Nadia memejamkan mata.
Untuk sesaat, ia berharap bisa menghilang bersama derasnya air yang jatuh dari atas kepalanya.
Kenyataan yang baru saja ia ketahui terasa terlalu berat.
Terlalu kejam.
Terlalu menyakitkan untuk diterima dalam satu hari.
Bibirnya bergetar.
Namun kali ini tak ada lagi tangisan.
Seolah seluruh air matanya telah habis terkuras.
Ia hanya berdiri mematung.
Membiarkan air mengalir tanpa henti.
Waktu berlalu begitu lama.
Sampai akhirnya suara azan Zuhur terdengar samar dari masjid di kejauhan.
Nadia membuka mata.
Ia mematikan shower.
Kemudian mandi dengan perlahan dan mengambil wudu.
Gerakannya tenang.
Meski di dalam hati, ribuan luka masih menganga.
Setelah selesai, Nadia keluar dari kamar mandi.
Ia mengenakan pakaian bersih, lalu mengambil mukena.
Saat berdiri di depan cermin, langkahnya sempat terhenti.
Matanya sembap.
Kelopak matanya membengkak karena terlalu banyak menangis.
Nadia mengusap wajahnya pelan.
Lalu mengenakan mukena.
Tak lama kemudian ia berdiri menghadap kiblat.
Melaksanakan salat Zuhur.
Setiap bacaan mengalir perlahan dari bibirnya.
Setiap sujud terasa lebih lama dari biasanya.
Dan ketika tiba saat berdoa, Nadia menundukkan kepala.
Tangannya terangkat.
Namun pikirannya begitu penuh hingga ia kesulitan merangkai kalimat.
Dari sekian banyak doa yang ia hafal, hanya satu yang mampu keluar dari bibirnya.
"Ya Allah, berikan aku jalan yang terbaik."
Kalimat itu ia ulang berkali-kali.
Dengan suara yang hampir tak terdengar.
Dengan hati yang remuk.
Dengan harapan yang tersisa sedikit.
Setelah selesai salat, Nadia duduk beberapa saat.
Menenangkan dirinya.
Mengatur napas yang masih terasa berat.
Lalu ia bangkit.
Melipat mukena dengan rapi dan meletakkannya di tempat semula.
Beberapa kali ia menarik napas panjang.
Mengumpulkan kekuatan.
Kemudian melangkah menuju dapur.
Apa pun yang terjadi dalam hidupnya, satu hal tidak berubah.
Nanda akan segera pulang sekolah.
Dan Nanda harus makan siang.
Nadia mulai menyiapkan makanan.
Tangannya mengiris bawang.
Memotong sayuran.
Menyiapkan lauk kesukaan Nanda.
Namun setiap irisan pisau seolah menggores bagian lain di dalam hatinya.
"Sayang..."
Nadia menunduk.
"Semoga kamu selalu sehat."
Suaranya nyaris berupa bisikan.
Meski dadanya dipenuhi luka, tangannya tetap bekerja dengan telaten.
Setiap makanan disiapkan seperti biasa.
Tidak kurang sedikit pun.
Karena bagi Nadia, Nanda tidak pernah bersalah atas apa pun.
Tak lama kemudian suara mobil antar-jemput terdengar dari depan rumah.
Nadia refleks menoleh.
Jantungnya berdebar.
Lalu tanpa sadar ia melangkah keluar.
Seperti yang selalu ia lakukan setiap hari.
Pintu rumah terbuka.
Dan sesosok anak perempuan kecil berlari masuk dengan wajah cerah.
"Bunda!"
Nanda berlari secepat mungkin.
Nadia langsung merentangkan kedua tangannya.
Tubuh kecil itu menabrak pelukannya dengan penuh semangat.
Nadia memeluk Nanda erat.
Mungkin sedikit lebih erat daripada biasanya.
"Nanda kangen banget sama Bunda," ujar gadis kecil itu riang.
Hati Nadia terasa nyeri.
Namun senyum tetap ia paksakan muncul.
Tangannya mengusap punggung Nanda perlahan.
"Bunda juga kangen sama Nanda."
Nanda mendongak.
Wajahnya penuh keceriaan yang sama sekali tidak mengetahui badai yang sedang menghancurkan dunia Nadia.
"Kenapa mata Bunda merah?"
Nadia tersenyum kecil.
"Tadi kena bawang."
"Oh..."
Nanda langsung percaya.
Membuat dada Nadia semakin sesak.
"Nanda ganti baju dulu, terus makan siang, ya."
"Siap, Bunda!"
Nanda memberi hormat kecil yang membuat Nadia hampir tertawa.
"Anak pintar."
"Okay, Bund! I love you!"
Nanda mencium pipi Nadia sebelum berlari menuju kamarnya.
Nadia berdiri memandangi punggung kecil itu sampai menghilang di balik pintu.
Senyumnya perlahan memudar.
Matanya kembali terasa panas.
Namun kali ini ia berhasil menahannya.
Karena untuk beberapa saat lagi...
Ia hanya ingin menjadi Bunda Nanda seperti biasa.
raka tak bakal setuju cerai kan kamu
nadia terlalu bego sdh tau di jdi kan keluarga toxin jdi baby sister gratis tetap mau bertahan di dlm rmh demi nanda ank selingkuh raka/ ratna 🤭