NovelToon NovelToon
Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Sistem Istri Ideal Untuk Istri Kedua Pemilik Pabrik Kretek

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir / Balas Dendam
Popularitas:36.4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Bagaimana kalau istri kedua yang diracun… justru mendapat sistem yang membuatnya mustahil diinjak lagi?

Sumarni seharusnya mati sebagai istri kedua yang bodoh, penurut, dan tak pernah dianggap ada.

Namun, setelah Ratna Dewi, seorang editor dari tahun 2026 bereinkarnasi ke tubuhnya, semuanya berubah.

Dengan bantuan Sistem Istri Ideal, Sumarni bisa mendapatkan poin dari setiap penghinaan yang berhasil ia balas dengan elegan.

Poin itu bisa ditukar dengan skill, informasi masa depan, bahkan antidot racun.

Sedikit demi sedikit, Sumarni merebut perhatian, uang, koneksi, bahkan hati pria yang dulu tak pernah melihatnya.

Tapi semakin ia bersinar, semakin berbahaya permainan yang harus ia hadapi.

Karena di rumah itu… hanya ada satu perempuan yang boleh menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31. Para Wanita Akar Rumput

Udara subuh yang basah membawa aroma tajam tanah basah dan sisa pembakaran kayu dari arah dapur. Tulang punggungnya terasa kaku bagaikan papan kayu jati akibat kurang tidur semalaman penuh.

Tumpukan uang kertas pecahan besar di bawah bantal kasur kapuknya adalah beban nyata yang menekan dada kirinya. Uang itu adalah pembayaran tunai di muka untuk puluhan potong seragam batik dari Nyonya Wardoyo.

Sumarni segera menyapu wajahnya dengan air sumur yang sedingin es untuk menajamkan akal sehatnya.

Ia tidak mungkin mencanting dan menjahit puluhan potong kain sutra itu sendirian. Mesin jahit Singer miliknya dan sepasang tangannya akan hancur lebur jika dipaksa bekerja tanpa henti. Sumarni segera merapikan gulungan rambutnya dan mengikatkan selendang batik usang di pinggang.

Matahari pagi baru saja mengintip di ufuk timur saat Sumarni melangkah keluar dari gerbang belakang. Ia berjalan kaki menyusuri jalan setapak berbatu menuju perkampungan padat penduduk di bantaran sungai. Hawa pagi di sana dipenuhi bau keringat asam, asap tungku kayu bakar, dan aroma tajam jamu gendong.

Di pelataran sumur umum berlantai semen kasar, sekelompok ibu-ibu berdaster pudar sedang mengucek gunungan pakaian kotor. Tangan-tangan mereka kasar, memerah, dan pecah-pecah akibat terus merendam kulit dalam air sabun yang keras. Sumarni menghentikan langkahnya tepat di depan genangan air cucian tersebut.

Kedatangan Sumarni membuat suara pukulan cucian pada batu kali terhenti seketika. Yu Inem, seorang wanita bertubuh gempal dengan handuk kecil melingkar di leher, menatapnya penuh curiga. Reputasi Sumarni sebagai istri kedua yang tertindas di rumah besar itu sudah menjadi rahasia umum.

"Ada perlu apa Nyonya Sumarni datang ke tempat kotor begini?" tegur Yu Inem dengan nada ketus tanpa senyum.

Sumarni sama sekali tidak tersinggung oleh sambutan kasar tersebut. Ia tahu persis cara menaklukkan hati para pekerja keras di jalanan kota ini. Ia mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal dari balik selendangnya dengan gerakan perlahan.

"Saya datang membawa pekerjaan untuk kalian semua," ucap Sumarni dengan suara lantang dan tegas. "Saya membutuhkan tenaga terampil untuk membatik dan menjahit pesanan Nyonya Walikota."

Ibu-ibu kampung itu saling berpandangan dengan tatapan ragu. Yu Inem memeras baju basah di tangannya dengan kuat hingga urat lengannya menonjol.

"Kami ini cuma buruh cuci kasar, Nyonya," tolak Yu Inem dengan nada dingin. "Lagi pula, kami tidak berani berurusan dengan bisnis keluarga Tuan Harjono. Nanti Nyonya Sulastri bisa mengamuk dan mengusir kami dari kampung ini."

Sumarni melangkah maju ke depan, mengabaikan cipratan air sabun kotor yang mengenai ujung sepatu pantofelnya. Ia membuka amplop cokelat itu dan mengeluarkan lembaran uang kertas yang masih kaku. Bau khas uang kertas baru itu langsung menyapu hidung para buruh cuci yang mulai kelaparan.

"Ini bukan bisnis Tuan Harjono, ini bisnis murni milik saya," tegas Sumarni sambil menatap tajam mata Yu Inem. "Saya akan membayar upah harian kalian dua kali lipat lebih besar dari hasil mencuci pakaian ini. Uang makan siang juga saya tanggung penuh setiap harinya."

Layar transparan berwarna hijau mendadak berkedip di sudut pandangan mata Sumarni.

[Pemindaian Tenaga Kerja Aktif. Loyalitas awal: 40 persen. Potensi Keterampilan Fisik: 95 persen.]

[Saran Sistem: Gunakan pendekatan emosional untuk mengikat kesetiaan mereka secara permanen.]

Insting editor dari masa lalunya membuat Sumarni sangat peka terhadap kebutuhan psikologis calon pekerjanya. Ia menyentuh tangan Yu Inem yang basah dan kasar dengan kedua tangannya yang bersih. Hawa dingin dari genangan air sumur terasa kontras dengan suhu tubuh Sumarni yang hangat.

"Kalian tidak akan direndahkan atau dibentak di tempat saya," bujuk Sumarni dengan suara bariton yang melembut. "Kita sama-sama perempuan yang mencoba bertahan hidup. Bantu saya membangun Sekar Malam, dan saya jamin perut anak-anak kalian tidak akan pernah kosong lagi."

Tenggorokan Yu Inem naik turun menelan ludah dengan susah payah. Janji jaminan makan untuk anak-anak adalah titik kelemahan terbesar bagi setiap ibu di kampung miskin tersebut. Wanita gempal itu menatap tumpukan uang di tangan Sumarni, lalu menoleh ke arah teman-temannya.

Ibu-ibu yang lain menganggukkan kepala mereka dengan mata berkaca-kaca penuh harap.

"Baiklah, Nyonya," putus Yu Inem akhirnya, suaranya terdengar bergetar menahan luapan emosi haru. "Kami akan ikut Nyonya hari ini juga. Tapi kalau Nyonya Sulastri berani menyentuh kami, kami akan langsung pergi."

"Saya yang akan berdiri paling depan untuk menghadapi wanita itu," janji Sumarni tanpa keraguan sedikit pun.

Tepat pukul sepuluh pagi, halaman belakang paviliun tua itu berubah wujud menjadi sebuah bengkel kerja dadakan. Sepuluh orang ibu-ibu kampung sudah mandi bersih dan duduk bersila di atas tikar pandan. Tangan-tangan mereka yang biasa memegang sikat cuci kini memegang canting tembaga mungil.

Sumarni berdiri di tengah-tengah mereka dengan wibawa seorang pemimpin sejati. Aroma wangi lilin malam yang dipanaskan di atas wajan tembaga kecil kembali mendominasi udara. Bau tajam kemenyan sisa dari fitnah Sulastri pagi tadi sudah lenyap tidak bersisa disapu angin.

"Jangan ragu saat menorehkan malam ke atas kain mori," instruksi Sumarni dengan sangat sabar. Ia membungkuk perlahan, menuntun tangan Yu Inem yang gemetar memegang gagang canting. "Tarik napas panjang, lalu alirkan malamnya mengikuti garis pola ini dengan gerakan lembut."

Para wanita akar rumput itu bekerja dalam diam, menyerap setiap ilmu baru dengan ketekunan yang luar biasa. Tangan-tangan kasar itu ternyata menyimpan bakat telaten yang selama ini terkubur oleh kemiskinan. Keringat panas mereka menetes membasahi kening, namun tidak ada satu pun yang mengeluh lelah.

Dimas, anak tiri Sumarni, mengintip malu-malu dari balik pintu kayu kamarnya. Mata bulat bocah lima tahun itu berkedip penuh rasa ingin tahu melihat keramaian asing di halaman paviliun. Sumarni memanggilnya mendekat dengan lambaian tangan yang hangat.

Ia memberikan sepiring ubi rebus beruap panas kepada Dimas untuk dibagikan kepada para pekerja. Sikap polos Dimas yang membagikan makanan itu sukses memecahkan kecanggungan di antara mereka. Para ibu-ibu itu tersenyum lebar, semakin menghormati kebaikan hati keibuan Sumarni.

Layar sistem kembali berkedip terang memberikan notifikasi yang memuaskan.

[Aliansi Pekerja berhasil dibentuk. Fondasi produksi Sekar Malam telah aman. Indikator Kepemimpinan meningkat drastis.]

Pabrik kecil Sekar Malam kini resmi bernapas dan beroperasi. Suara tawa pelan dan obrolan hangat ibu-ibu kampung sesekali memecah kesunyian paviliun tua tersebut. Sumarni tersenyum lega, merasakan beban berat di dadanya perlahan terangkat pergi.

Ia berhasil membangun pasukannya sendiri di tengah sarang musuh yang berbahaya. Namun, keamanan dan kehangatan yang dirasakan Sumarni saat ini hanyalah ketenangan palsu.

Dari balik celah sempit tembok pembatas rumah utama, sepasang mata mengawasi aktivitas di paviliun itu dengan penuh kebencian. Ningsih, pelayan setia Sulastri, berdiri mematung sambil meremas ujung kebayanya dengan rahang mengeras. Ia menatap lekat-lekat wajah salah satu buruh cuci termuda di kelompok itu yang terlihat gelisah.

Ningsih memundurkan langkahnya perlahan ke dalam bayangan gelap tembok berbata merah.

Tangan kanannya merogoh saku celemek, menggenggam erat sebuah amplop cokelat tebal berisi uang sogokan.

1
sukensri hardiati
aneh banget ni suryo....dia kan andil ngrusak lastri....
sukensri hardiati
klo sulastri lolos lagi....?
Dede Dedeh
d gantung........ /Scream/
sukensri hardiati: yg digantung ni ceritanya othor ato sulastri dek De....?
total 1 replies
sukensri hardiati
sulastri akhirnya divonis gila ...dan sekarang bebas?
sukensri hardiati
jangan php lah thor....
nanti tahu2 lastri bebas lagi....
sukensri hardiati
mbok berhenti manggil suamimu dengan anda to marnii.
sukensri hardiati
cinta buta rendra bener2 bikin dia nubras2....nunjang palang...eror parah...
sukensri hardiati
klo marni dah nyiapin cerutu ...berarti
dah niat nyelamitin bisnis suaminya...
gina altira
masih ada antek" Sulastri
Dwi Agustina
Boleh g sih berharap Sulastri cpt mati sajaaaaa tp novel ini g cpt tamat🥹🙏
INeeTha: trus antagonis nya siapa🤣🤣🙏
total 1 replies
gina altira
Harjono gercep,
gina altira
Masih ada kroco"Sulastri.
gina altira
nahhh,, gitu Hardjono,,
gina altira
untung sistemnya balik lagii
gina altira
Sulastri belom kapok
Dwi Agustina
Ih syukaaaaa bngt sama Sumarni 👍👍👍💪
SaRW
Yooo... yoooo..... Ratna bin Sumarni di lawan.... 😄
𝐀⃝🥀Weny
wiiih... jadi penasaran thor.. lanjut lagi dong😁
Siskasuryaningsih
👍, keren
Dede Dedeh
lanjuttttty
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!