Araya Lin dipaksa menjadi pengantin
pengganti bagi kakak tirinya. la dinikahkan dengan Arkanza Aditama, seorang CEO miliarder yang dirumorkan kejam, dingin, dan cacat akibat sebuah kecelakaan tragis. Keluarga Araya tertawa, mengira mereka telah membuang anak tak berguna ke dalam 'neraka'.
Namun, di malam pertama pernikahan mereka, Araya terkejut saat melihat pria jangkung dengan tatapan setajam elang berdiri sempurna di hadapannya-tidak cacat sedikit pun. Di sisi lain, Arkanza mengira ia hanya menikahi gadis udik yang bisa ia kendalikan. la tidak tahu bahwa istri kecilnya yang terlihat lugu ini adalah "Z", seorang peretas jenius misterius yang selama ini dicari-cari oleh perusahaannya sendiri.
Ketika dua pembohong ulung terjebak dalam satu atap, akankah pernikahan kontrak ini berakhir dengan pertumpahan darah, atau justru memicu romansa yang tak terhentikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Orang_Cuman_Cerita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 10: Topeng di Balik Layar Gelap
Detik waktu seolah berhenti berputar. Udara di dalam kamar mewah itu mendadak menjadi sangat tipis hingga paru-paru Araya terasa terjepit. Arkanza berdiri tegak di ambang pintu, bayangannya yang tinggi besar menyelimuti lantai, memberikan tekanan intimidasi yang luar biasa tanpa perlu mengucapkan sepatah kata pun.
Mata tajam Arkanza tertuju pada benda hitam pekat di tangan Araya. Ponsel itu tidak seperti ponsel pada umumnya; bodinya lebih tipis, layarnya memiliki resolusi yang terlalu tajam, dan sama sekali tidak ada logo merek apa pun di sana.
"Ponsel siapa itu?" Arkanza mengulangi pertanyaannya. Kali ini suaranya lebih rendah, menyerupai geraman predator yang siap menerkam.
Araya mematung. Pikirannya berputar secepat prosesor superkomputer. Jika ia menyembunyikannya sekarang, Arkanza pasti akan merampasnya dengan paksa. Ia harus bertaruh. Dengan gerakan yang sengaja dibuat gemetar, Araya mematikan layar ponselnya dan memeluk benda itu di dadanya, seolah-olah itu adalah harta paling berharga sekaligus rapuh.
"I-ini... ini milik ibuku," cicit Araya. Suaranya serak, matanya yang mulai berkaca-kaca menatap Arkanza dengan ketakutan yang murni. "Hanya ini satu-satunya benda yang tersisa dari beliau. Aku... aku menyembunyikannya karena aku takut Bibi Siska akan mengambil dan menjualnya, seperti mereka menjual barang-barang nenekku."
Arkanza melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan dentuman pelan namun tegas. Ia berjalan mendekati Araya yang masih duduk bersimpuh di lantai. Setiap langkah sepatu kulitnya terdengar seperti lonceng kematian bagi penyamaran Araya.
"Berikan padaku," perintah Arkanza, mengulurkan tangannya yang besar.
"T-tapi Tuan... ini privasiku..."
"Di rumah ini, tidak ada yang namanya privasi bagimu," potong Arkanza dingin. "Berikan, atau aku akan menyuruh Leon membongkar seluruh kamar ini dan membuang semua barangmu, termasuk boneka beruang itu."
Araya menggigit bibir bawahnya, tampak ragu dan hancur. Dengan tangan gemetar, ia menyerahkan ponsel itu kepada Arkanza. Di dalam hatinya, Araya sudah mengaktifkan decoy mode (mode umpan) melalui sensor sidik jari rahasianya. Jika Arkanza membukanya, ia hanya akan melihat galeri berisi foto-foto lama yang buram dan aplikasi pesan standar.
Arkanza menerima ponsel itu. Ia mengerutkan kening saat merasakan material ponsel yang terasa aneh dan berat di tangannya. Ia mencoba menyalakan layarnya. Karena Araya sudah membuka kuncinya dengan "sidik jari palsu", Arkanza langsung disambut oleh foto latar belakang seorang wanita cantik yang menggendong bayi kecil—itu adalah foto asli ibu Araya yang sudah ia edit agar terlihat tua.
Pria itu menggeser layar, memeriksa aplikasi di dalamnya. Hanya ada folder foto, pemutar musik dengan lagu-lagu lama, dan catatan harian yang berisi keluhan seorang gadis remaja tentang betapa rindunya ia pada orang tuanya.
Tidak ada aplikasi peretasan. Tidak ada data Project 1998. Semuanya terkubur di dalam partisi terenkripsi yang hanya bisa diakses dengan pola gestur yang rumit.
Arkanza menatap Araya yang kini sudah menunduk dan mulai terisak pelan. "Mengapa ponsel ini tidak memiliki merek? Bentuknya sangat aneh."
Araya menyeka air matanya. "Ayahku dulu seorang teknisi elektronik amatir di desa. Dia merakitnya sendiri untuk Ibu sebagai hadiah ulang tahun terakhir sebelum... sebelum kecelakaan itu. Makanya bentuknya kasar dan aneh. Bagiku, ini bukan sekadar ponsel, Tuan... ini bagian dari jiwa orang tuaku."
Keheningan kembali melanda. Arkanza menatap ponsel itu, lalu menatap wanita di depannya. Ada secercah keraguan di mata elangnya. Apakah ia terlalu paranoid? Ataukah wanita ini benar-benar seekor rubah yang sangat pandai bersandiwara?
Arkanza melemparkan ponsel itu kembali ke pangkuan Araya. "Simpan benda sampah ini baik-baik. Jika aku melihatmu melakukan hal mencurigakan lagi dengannya, aku sendiri yang akan menghancurkannya."
"T-terima kasih, Tuan..." isak Araya, memeluk ponsel itu erat-erat.
Arkanza berbalik dan berjalan menuju pintu. Namun, tepat sebelum ia keluar, ia berhenti dan menoleh sedikit. "Jangan terlalu banyak menangis. Wajahmu terlihat semakin bodoh saat bengkak. Tidurlah, besok pagi kau harus menyiapkan sarapan untukku. Aku tidak ingin ada alasan 'tersesat' atau 'sakit' lagi."
Begitu pintu tertutup dan suara langkah Arkanza menjauh, Araya perlahan mengangkat wajahnya. Tidak ada lagi sisa-sisa isak tangis. Matanya berubah menjadi sedingin es. Ia segera menyalakan kembali ponselnya, memasukkan kode rahasia, dan layar pun berubah menjadi barisan data mentah hasil curiannya dari ruang arsip.
"Hampir saja," bisik Araya. Napasnya kini sudah teratur kembali. "Kau hampir menang, Arkanza. Tapi kau meremehkan satu hal... seorang putri yang haus akan kebenaran tidak akan pernah membiarkan dirinya tertangkap sebelum musuhnya hancur."
Ia membuka kembali file Project 1998. Di sana, tertulis sebuah alamat lama di pinggiran kota, tempat yang diduga menjadi lokasi pertemuan terakhir ayahnya dengan kakek Arkanza.
"Besok," gumam Araya dengan seringai miring. "Besok aku akan menemukan sisa kepingan puzzle itu, tepat di bawah hidungmu."