[TAHAP REVISI] [UPDATE 3 HARI SEKALI]
Elleta Clarissa Crassia, ia tahu bahwa nama belakangnya bukanlah hal yang harus di banggakan. Terlahir dari keluarga pengusaha sukses membuatnya menahan beban yang tak seharusnya ia pikul. Keputusan sang ayah membuatnya tak memiliki pilihan, sebuah perjanjian bisnis dengan kata "pernikahan."
Elleta di jodohkan dengan laki-laki, pewaris utama keluarga Danendra. Steve Athariz Danendra, laki-laki dingin yang katanya tak pernah tersentuh. Dan semuanya berawal dari sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lovelyiaca, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Sisi lain yang Tak Terlihat
Pantulan cahaya biru dari layar laptop memancarkan warna dingin di sepasang mata Steve. Malam itu, ruang kerjanya begitu senyap. Hanya ada bunyi tik-tik dari ketukan jemarinya di atas keyboard, bersahutan tipis dengan detak jarum jam dinding yang bergerak lambat.
Di balik jendela besar yang menghadap ke halaman belakang, dahan-dahan pohon oak tua bergerak pelan ditiup angin malam, menciptakan bayangan besar yang samar dan muram.
Steve menyandarkan punggungnya ke kursi mahoni. Cangkir porselen yang hendak ia angkat mendadak tertahan di udara. Matanya menyipit, membaca baris demi baris dokumen PDF yang baru saja masuk ke email pribadinya dari Theo.
Daniel Alvarez (27 tahun)
Lahir di Medan, besar di San Jose, Amerika Serikat. Yatim piatu sejak usia 10 tahun setelah kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan. Tumbuh di panti asuhan. Lulusan terbaik dengan beasiswa penuh dari Stanford University, jurusan Ekonomi Finansial. Rekam jejak bersih tanpa cela. Saat ini memimpin proyek sistem data ekonomi di California.
Dada Steve tiba-tiba terasa sesak, sebuah rasa tidak nyaman yang sudah sangat lama tidak ia rasakan. Frasa jatim piatu di layar itu menyentak sesuatu di dalam kepalanya, menyeret paksa ingatan tentang Katrina kembali ke permukaan.
Mendiang istrinya juga tumbuh tanpa orang tua, harus berjuang sendirian di dunia yang keras demi mempertahankan harga diri, sebelum akhirnya takdir mempertemukan mereka.
Namun, ada hal lain dalam dokumen itu yang membuat rahang Steve mengeras.
Theo melampirkan beberapa foto Daniel hasil jepretan orang suruhannya. Salah satu foto memperlihatkan Daniel yang sedang tertawa lepas sambil menatap Elleta di sudut sebuah kedai kopi kecil.
Tatapannya begitu murni dan tulus. Jenis tatapan yang tidak akan pernah bisa Steve miliki, seberapa kaya pun dirinya, atau seberapa besar kekuasaan yang ada di genggamannya.
Steve tahu persis, setiap kali ia menatap Elleta, yang ada di matanya hanyalah obsesi, keinginan untuk mengontrol, dan ketakutan akut akan kehilangan.
Rasa tidak aman yang asing dan pahit perlahan merayapi hati Steve. Pria di California itu memiliki sesuatu yang tidak akan pernah ia bisa dibeli dengan seluruh kekayaan bisnisnya, sebuah ketulusan yang membebaskan.
"Sekarang aku tahu, kenapa Elleta begitu mencintaimu, Daniel," bisik Steve dengan senyum getir.
Merasa terganggu oleh isi pikirannya sendiri, Steve meletakkan cangkirnya dengan sedikit hentakan, lalu menyambar ponselnya. Ia langsung menghubungi Theo. Hanya butuh dua kali nada sambung sebelum suara asistennya itu terdengar di seberang sana.
"Theo," suara Steve melunak, kehilangan nada dingin yang biasanya selalu ada.
"Awasi Daniel. Tapi kali ini, pastikan enggak ada satu orang pun dari pihak ayah Elleta, atau siapa pun dari relasi bisnis kita, yang mengusik atau mencelakainya di California. Jaga dia tetap aman."
Di seberang telepon, Theo sempat hening sejenak, bingung. "Maaf, Tuan Steve? Maksud anda, kita membatalkan rencana awal untuk menekan finansial atau memboikot proyeknya?"
"Enggak perlu," jawab Steve datar, matanya masih terpaku pada foto Daniel di layar. "Cukup pastikan dia enggak terluka. Lindungi dia dari siapa pun yang berniat buruk. Jaga pria itu tetap aman."
Sementara itu, di balik celah pintu ruang kerja yang sedikit terbuka, Elleta berdiri mematung. Telapak tangannya yang dingin membekap mulutnya sendiri, menahan napas agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun.
Tadinya, ia hanya ingin menyelinap keluar dari kamar utama untuk mengambil segelas air ke dapur bawah. Namun, langkah kakinya mendadak lumpuh saat mendengar suara bariton Steve menggema dari dalam ruang kerja. Kamar mewah tempatnya dikurung memang terletak tak jauh dari sana.
Mendengar nama Daniel disebut, jantung Elleta serasa berhenti berdetak. Rasa dingin menjalar cepat hingga ke ujung-ujung jarinya. Jaga pria itu tetap aman?
Bagi Elleta yang sudah telanjur trauma akibat penculikan sepihak ini, kalimat Steve langsung diterjemahkan sebagai ancaman. Di matanya, Steve adalah sosok manipulatif yang tidak bisa diprediksi. Kalimat jaga tetap aman justru terdengar seperti sebuah peringatan.
Daniel kini berada dalam pengawasannya, dan nyawanya bisa terancam kapan saja jika Elleta berani memberontak atau mencoba kabur lagi.
Dia mau mencelakai Kak Daniel... Dia menjadikan Daniel sebagai sandera untuk mengancamku, batin Elleta dengan napas yang mulai tidak beraturan.
Namun, ketakutan yang luar biasa itu mendadak memicu sesuatu yang lain dalam diri Elleta, sesuatu yang selama ini padam oleh air mata dan rasa putus asa. Ingatan tentang Daniel yang menunggunya di California, juga janji sepuluh tahun yang pernah mereka ikat, membuat Elleta mengepalkan tinjunya erat-erat.
Aku enggak bisa cuma diam dan menangis di kamar itu. Kalau aku lemah, Kak Daniel yang akan menanggung akibatnya. Aku harus tahu apa yang sebenarnya direncanakan bajingan ini, tekadnya dalam hati.
Tanpa alas kaki, Elleta melangkah seringan mungkin, berbalik arah menyusuri koridor yang remang-remang menuju perpustakaan besar di sayap barat mansion.
Tempat itu adalah satu-satunya ruangan yang jarang dikunci dan menyimpan banyak informasi pribadi Steve di luar kantor perusahaannya. Jika ingin menyelamatkan Daniel dan dirinya sendiri, ia harus menemukan sesuatu, entah itu dokumen rahasia atau apa pun yang bisa dijadikan kartu as untuk menekan Steve.
Perpustakaan itu terasa luas dan sunyi, membawa aroma khas kayu tua, karpet tebal, dan tumpukan kertas. Elleta bergerak cepat di antara deretan rak tinggi yang menjulang hingga ke langit-langit, memanfaatkan temaram cahaya bulan yang menerobos masuk dari jendela kaca besar.
Dengan tangan gemetar, ia memeriksa laci-laci meja kerja yang untungnya tidak dikunci. Ia memeriksa satu per satu map dokumen, membaca cepat lembar demi lembar di bawah cahaya minim. Namun, isinya sejauh ini hanya laporan bisnis, pergerakan saham, dan audit tahunan yang tidak ia pahami.
Hingga akhirnya, saat memeriksa rak buku pribadi di sudut ruangan, mata Elleta tertuju pada sebuah buku bersampul kulit marun usang. Buku itu terselip agak dalam di antara deretan buku hukum yang tebal, tampak menonjol dan tidak selaras dengan interior ruangan yang serba modern.
Didorong rasa penasaran, Elleta menarik buku itu keluar. Begitu membuka halaman pertama, napasnya langsung tertahan. Ada sebuah nama yang ditulis dengan tinta emas yang mulai pudar di sana, Katrina.
Itu adalah buku harian mendiang istri Steve.
Elleta segera membawa buku itu ke sudut tergelap di balik rak besar. Ia menyalakan layar ponsel lamanya, ponsel darurat yang berhasil ia sembunyikan di balik lipatan baju saat diculik waktu itu.
Halaman-halaman awal memperlihatkan tulisan tangan yang anggun dan rapi. Katrina menceritakan awal mula mereka bertemu di sebuah galeri seni kecil, bagaimana kaku dan canggungnya Steve saat mencoba mendekatinya, hingga bagaimana pria itu memperlakukannya dengan penuh perhatian.
Namun, semakin lembarannya dibalik ke belakang, goresan pena itu mulai berubah. Tulisannya tampak agak bergetar dan melemah ditulis pada masa-masa saat penyakit parah mulai mengambil alih tubuh Katrina.
Hingga akhirnya, Elleta tiba di halaman paling terakhir. Di sana terselip sebuah foto kecil berbingkai kertas tipis. Foto Katrina yang tengah tersenyum pucat di atas kursi roda, menatap hangat ke arah kamera dengan latar belakang taman mansion ini. Saat ujung jari Elleta menyentuh foto itu, ia merasakan ada bagian yang sedikit mengganjal di sisi belakangnya.
Dengan sangat hati-hati agar tidak merobek kertas yang sudah rapuh, Elleta membalik foto yang direkatkan dengan selotip yang telah menguning tersebut. Di baliknya, ada tulisan tangan Katrina yang sengaja ditulis dengan tinta hitam tebal, sebuah pesan yang ia tinggalkan untuk siapa saja yang kelak tinggal di rumah ini.
"Untuk siapa pun kamu yang mendiami rumah ini setelah aku pergi... Jangan takut pada Steve. Dia tidak sejahat yang terlihat dari luar. Dia hanya seorang anak kecil yang trauma karena kehilangan seluruh dunianya di masa lalu secara tiba-tiba. Dia tidak pernah berniat menyakiti dengan sengaja, hanya saja... caranya mencintai selalu salah. Dia mengurung karena dia terlalu takut kehilangan untuk yang kedua kalinya. Ajari dia cara melepaskan, sebelum obsesinya itu menghancurkan dirinya sendiri dan orang lain."
Elleta terkesiap. Buku di tangannya nyaris terlepas. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh begitu saja, membasahi tulisan tangan Katrina.
Dadanya terasa sesak oleh perasaan yang campur aduk. Monster kejam tanpa hati yang selama ini ia benci setengah mati, pria yang telah memisahkannya dari Daniel, ternyata hanyalah seorang pria yang jiwanya patah. Seseorang yang kesepian dan tidak pernah tahu cara mencintai dengan benar tanpa harus mengurung objek cintanya.
Caranya mencintai selalu salah, kalimat itu terus berputar di kepala Elleta seperti kaset rusak.
KLIK!
Keheningan malam itu pecah seketika, suara tajam dari gagang pintu perpustakaan yang diputar dari luar. Jantung Elleta rasanya mencelos. Seluruh badannya kaku, dan ia seketika lupa bagaimana caranya bernapas.
Bersamaan dengan itu, sakelar utama ditekan.
Lampu gantung kristal di langit-langit langsung menyala serentak, membuat ruangan yang tadinya gelap gulita seketika terang benderang. Posisi Elleta yang berdiri gemetar di sudut rak kini terekspos sepenuhnya.
Elleta tidak bisa bergerak. Buku harian milik Katrina masih terbuka lebar dalam dekapan tangannya yang gemetar.
Di ambang pintu, Steve berdiri tegak dengan kemeja rumahan hitam yang kancing atasnya terbuka. Tatapan matanya yang tajam langsung menyapu ruangan, melewati deretan rak, sebelum akhirnya terkunci tepat pada sosok Elleta dan pada buku marun usang yang didekap erat di dada gadis itu.
Suasana mendadak mencekam. Hanya ada deru napas Elleta yang memburu di tengah keheningan yang mematikan.