Alya Gabrielsen terpaksa menikah dengan pria asing demi menyelamatkan status keluarganya. ayahnya, Tyo, bangkrut dan terlilit hutang yang membuatnya hampir masuk penjara. Dengan paksaan sang ibu, Alya mau tak mau rela menikah di usia muda dengan pria yang sama sekali tak ia kenali. Bagaimana kisah Alya? saksikan hanya disini!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DinaSafitri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CDK. 27
Alya menelan ludah gugup.
“Ya terus tinggal bilang aja,” bisik Widya pelan.
“Bilang apaan?” Alya makin panik. “Masa gue ngomong kalau duitnya diambil nyokap gue semua? Malu banget, sumpah.”
Ayi mengangkat bahu santai.
“Daripada lo bohong terus ketahuan belakangan.”
Belum sempat Alya membalas, suara motor besar terdengar memasuki area parkiran fakultas. Beberapa mahasiswa langsung menoleh penasaran.
Widya dan Ayi ikut melirik keluar jendela, lalu mata keduanya langsung membesar.
“Itu... suami lo?” gumam Widya.
Alya refleks ikut menoleh.
Dan benar saja.
Mobil hitam milik Max sudah berhenti tepat di depan gedung fakultas.
Pria itu keluar dengan penampilan rapi seperti biasa. Kemeja gelap berlengan panjang yang digulung sampai siku membuat sosoknya terlihat semakin mencolok di antara mahasiswa lain.
Beberapa mahasiswi bahkan langsung berbisik-bisik sambil menatap ke arah Max diam-diam.
“Buset...” Ayi sampai melongo. “Aura orang kayanya nyala banget.”
Alya buru-buru berdiri sambil merapikan tasnya.
“Gue duluan ya.”
Widya menahan senyum.
“Hati-hati, Bu Istri.”
“Najis lo,” gerutu Alya pelan sebelum berjalan cepat keluar kelas.
Begitu sampai di depan gedung, langkah Alya melambat. Jantungnya masih berdebar tidak karuan.
Max yang sejak tadi berdiri di samping mobil langsung menoleh saat melihatnya.
“Kau sudah selesai?” tanyanya tenang.
“Iya...”
Max membuka pintu mobil untuk Alya tanpa banyak bicara.
Alya masuk dengan perasaan tidak nyaman sejak tadi. Selama perjalanan, suasana di dalam mobil cenderung hening. Hanya suara pendingin udara dan musik instrumental pelan yang terdengar samar.
Alya berkali-kali ingin membuka pembicaraan soal uang itu, tetapi keberaniannya selalu menghilang sebelum kata-kata berhasil keluar.
Sementara Max tampak fokus menyetir.
“Lo—eh...” Alya langsung salah tingkah sendiri. “Maksud gue... kamu langsung ke bank?”
“Iya,” jawab Max singkat. “Lebih cepat diselesaikan hari ini.”
Alya mengangguk kecil lagi.
Tidak ada percakapan berarti setelah itu sampai mobil mereka berhenti di depan sebuah bank swasta besar di pusat kota.
Max turun lebih dulu lalu berjalan memutari mobil untuk membukakan pintu Alya.
“Turunlah.”
Alya menurut sambil menggenggam tasnya gugup.
Begitu masuk ke dalam bank, beberapa pegawai langsung menyambut Max dengan sopan seolah sudah mengenalnya.
“Selamat siang, Pak Max.”
“Siang.”
Max hanya membalas singkat sebelum mengajak Alya menuju meja customer service.
Proses pembukaan rekening berjalan cukup cepat karena hampir semua dokumen sudah disiapkan oleh Max sebelumnya. Alya bahkan cuma diminta mengisi beberapa tanda tangan dan menyerahkan kartu identitas.
Selama itu pula Alya masih dihantui rasa bersalah.
Tangannya sampai terasa dingin sendiri.
Setelah semuanya selesai, petugas bank memberikan buku tabungan serta kartu ATM baru atas nama Alya.
“Rekeningnya sudah aktif, Kak,” ujar petugas ramah.
Alya menerima benda itu pelan, masih agak linglung.
Mereka kemudian keluar dari bank bersama.
Baru saja Alya ingin memberanikan diri menjelaskan soal uang tadi pagi, Max lebih dulu bicara.
“Mulai bulan ini, uang bulananmu akan kutambah.”
Langkah Alya langsung berhenti.
“Hah?”
Max menatapnya datar seperti biasa.
“Aku rasa nominal sebelumnya kurang.”
Alya sampai bengong beberapa detik.
“Kurang gimana? Itu aja udah banyak banget.”
“Kebutuhanmu pasti lebih banyak dari itu.”
“Tapi—”
“Aku juga sudah meminta pihak bank mengatur limit transfer otomatis tiap bulan ke rekening barumu,” lanjut Max tenang. “Jadi kau tidak perlu repot lagi.”
Mata Alya membulat sempurna.
Ia benar-benar tidak menyangka arah pembicaraan ini akan jadi seperti ini.
Bukannya marah atau curiga soal uang yang habis, Max malah menambah jumlah uang bulanannya.
“Mas...” Alya menatap pria itu tidak percaya. “Serius?”
“Aku tidak suka bercanda soal keuangan.”
Jawaban datar itu justru membuat Alya makin bingung harus bereaksi bagaimana.
Dadanya terasa aneh.
Antara lega... dan tidak enak sekaligus.
Karena semakin Max bersikap baik seperti ini, semakin besar rasa bersalah yang menekan hatinya.
Sementara Max terlihat biasa saja seolah apa yang ia lakukan tadi merupakan hal wajar. "ini baru benar-benar uang yang khusus kuberikan untukmu, sedangkan yang tadi pagi itu hanyalah pancingan semata." batin Max yang diam-diam mengerti kegelisahan Alya sejak tadi hanya saja pria itu memilih untuk diam dan berpura-pura tidak tahu
“Sudah selesai?” tanyanya kemudian.
Alya masih menatap buku tabungan di tangannya sebelum akhirnya mengangguk pelan.
“Iya... selesai.”
“Kalau begitu kita pulang.”
Dan entah kenapa, sepanjang perjalanan kembali nanti, pikiran Alya justru semakin kacau dari sebelumnya.