Zea pernah diam-diam mencintai Bara, sang kakak kelas di SMA . Namun sebuah kejadian memaksanya pergi, meninggalkan perasaan itu tanpa sempat terungkap.
Sepuluh tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali dalam posisi yang berbeda yaitu Bara sebagai atasan dan Zea sebagai bawahan.
Perasaan lama yang Zea kira telah hilang, ternyata masih tersimpan rapi. Tanpa ia sadari, Bara pun menyimpan hal yang sama selama ini.
Namun waktu telah mengubah banyak hal. Rahasia masa lalu, jarak yang dulu tercipta, dan keadaan sekarang menjadi penghalang yang tak mudah dilewati.
Kini, keduanya harus memilih bertahan dalam diam, atau akhirnya memperjuangkan cinta yang sempat tertinggal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Abu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arti dari Sahabat Sejati
Suasana kantin cukup ramai. Di satu meja, terlihat Bara dan Rega sedang duduk santai menikmati makan siang mereka. Rega terlihat sering mencuri pandang ke arah meja Naya yang tidak jauh dari situ.
"Bro, gue serius deh," kata Rega sambil menghela napas panjang, matanya tak lepas dari Naya. "Gue ngerasa Naya itu cocok banget sama gue. Cantik, kalem, satu angkatan pula. Kayaknya dia juga baik orangnya."
Bara hanya tersenyum tipis sambil membuka tutup air mineralnya. "Iya, kalau lo suka ya tembak aja, Ga. Gue dukung kok."
"Rencana sih mau nembak minggu depan pas ulang tahun dia." Sahut Rega bersemangat. "Doain ya Bro!" Lanjutnya.
“Sedetail itu?” Bara menatapnya heran. “Lo nembak atau bikin proposal nikah?”
Namun, semangat Rega seketika pudar saat melihat apa yang terjadi di hadapan mereka.
Naya yang sedang berbincang dengan teman-temannya, tiba-tiba berhenti bicara. Matanya tidak melihat ke arah Rega yang sedang memandangnya, melainkan menatap lurus ke arah Bara dengan tatapan yang sangat berbeda. Tatapan yang penuh harap dan binar cinta yang begitu jelas.
Bahkan saat Bara tertawa kecil mendengar cerita teman lainnya, Naya ikut tersenyum lebar seolah dia yang sedang diajak bicara.
Wajah Rega perlahan berubah pucat. Dia menurunkan pandangannya, menyadari kenyataan yang pahit.
"Ga..." panggil Bara menyadari perubahan wajah sahabatnya. "Lo kenapa?"
Rega tertawa kecil, tapi tawanya terdengar hambar dan penuh kekecewaan. Dia menggeleng pelan lalu menatap Bara.
“Nggak jadi, Bro…” gumam Rega pelan, pandangannya jatuh ke lantai.
“Hah? Maksud lo apa?” Bara langsung menoleh, keningnya berkerut.
“Gue nggak perlu nembak Naya minggu depan,” lanjut Arga pelan. Suaranya terdengar tegas, tapi ada yang patah di dalamnya.
Rega tertawa hambar. “Karena gue baru sadar… cewek yang gue taksir itu ternyata nggak pernah lihat gue sama sekali.”
Bara mengernyit bingung. “Maksud lo?”
“Dia liatnya lo, Bar… bukan gue,” ucap Rega pelan, tapi tegas.
Ia menghela napas panjang. “Dari tadi gue perhatiin. Selama lo di sini, matanya nggak pernah geser dari wajah lo.”
Senyumnya terbit tipis, nyaris dipaksakan. “Gue berdiri di sebelah lo aja… dia nggak sadar.”
Bara terkejut mendengarnya. Dia spontan menoleh ke arah Naya.
Mendadak tatapan mereka bertemu. Naya yang ketahuan mengintip langsung tersipu malu dan tersenyum manis ke arah Bara, seolah memberi kode.
Bara langsung membuang muka dengan wajah datar, tidak ada senyum sedikitpun.
“Gila ya…” gumam Bara pelan, lalu menatap sahabatnya. “Maaf ya, Ga.”
“Ngapain minta maaf? Bukan salah lo.” Rega menghela napas, berusaha terdengar santai.
Ia tersenyum tipis. “Ya udahlah… gue sadar diri. Posisi gue sama lo kan beda jauh.”
Tatapannya kosong sejenak. “Wajar kalau cewek secantik dia lebih milih lo---yang ganteng, ketua OSIS, kapten basket lagi”
Lalu rega terkekeh pelan, hambar. “Daripada gue… yang cuma penumpang kereta api.”
"Jangan gitu dong, lo juga ganteng kok," kata Bara mencoba menghibur.
" Yaelahhh, stop. Gue udah ikhlas kok," Rega mencoba tersenyum walau terpaksa. "Cuma ya... gue nggak nyangka bakal sejelas ini sih. Sakit juga bro, tapi ya udah lah."
Melihat Rega yang sudah pasrah, Bara pun mengambil keputusan. Dia tidak ingin sahabatnya sedih, dan dia juga tidak ingin memberi harapan palsu pada siapa pun.
Tiba-tiba Bara berdiri, membuat Rega kaget.
"Eh lo mau ke mana?"
Bara tidak menjawab, dia justru berjalan mendekati meja Naya. Jantung semua orang yang melihat berdegup kencang. Naya terlihat sangat senang dan salah tingkah menyambut kedatangan kakak kelas idamannya itu.
"Ka-Kak Bara..." sapa Naya lembut.
Bara berdiri tegap di hadapan mereka, wajahnya terlihat serius dan dingin.
"Naya," panggil Bara dengan suara tegas. "Boleh ngomong sebentar?"
"Iya Kak, boleh banget!" jawab Naya antusias.
“Saya cuma mau meluruskan satu hal di sini,” ucap Bara lantang, tapi tetap sopan—cukup agar Rega dan teman-temannya mendengar.
“Mungkin ada kesalahpahaman. Tapi… jangan sampai ada yang memberi atau menerima harapan yang salah.”
Naya terlihat bingung. “Maksud Kak Bara?”
Bara menatapnya tenang. “Rega, sahabat saya, dia orangnya baik dan serius sama kamu.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan nada lebih tegas.
“Tapi kalau ternyata kamu lebih tertarik ke saya… saya minta maaf.”
Tatapannya lurus, tanpa ragu. “Karena sampai saat ini, saya tidak memiliki perasaan apa pun ke kamu. Dan saya tidak bisa membalas perasaan itu.”
JLEB!
Wajah Naya langsung memerah padam karena malu dan kaget. Teman-temannya pun ikut terdiam.
"Jadi, tolong jangan melihat saya seperti itu lagi. Karena yang pantas dapat senyum kamu itu dia, bukan saya. Saya tidak tertarik," tegas Bara lagi tanpa ragu.
Setelah mengatakan itu semua, Bara pun berbalik badan dan kembali berjalan menuju tempat dimana Rega berdiri, dia meninggalkan Naya yang terpaku menahan malu.
Bara duduk kembali di hadapan Rega yang masih melongo tak percaya.
"Bro... lo..." Rega terlihat bingung antara sedih atau terharu.
"Udah gue bilang kan?" Bara menepuk bahu Rega kuat-kuat. "Gue nggak suka dia. Dan gue nggak mau sahabat gue sakit hati cuma karena hal kayak gini. Anggap aja urusan selesai, ya."
Rega tersenyum lebar kali ini, rasa kecewanya perlahan hilang digantikan rasa bangga punya sahabat seperti Bara.
“Makasih ya, Bar. Lo emang the best!”
Bara terkekeh kecil. “Santai aja, lebay.”
Di sudut lain, Zea yang menyaksikan seluruh kejadian itu dari awal sampai akhir ikut terpaku.
Kak Bara menolaknya... batin Zea tak percaya. Padahal Naya kan cantik dan populer... tapi Kak Bara bilang tidak tertarik?
Hati kecil Zea tiba-tiba merasakan sesuatu yang aneh. Ada rasa lega, tapi sekaligus makin penasaran dengan sosok kakak kelas yang satu itu.